AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Bantuan yang tak terduga



"Nona Aizla! Nona!" Box dari truk ugal-ugalan tadi bergetar hebat. Box itu hancur. Sebuah vampir raksasa, bersayap dengan tanduk yang hanya satu di sebelah kiri. Sopir di dalamnya berseru tertahan. Vampir itu meraung. Menarik perhatian drone-drone juga sibuk dengan para zombie di sekelilingnya.


Beberapa drone setelah menghabisi zombie di wilayahnya terbang menuju vampir itu. Mereka menembakkan sengatan listrik. Tidak mempan. Vampir itu melindungi dirinya dengan sayapnya.


"Kembalilah, Nona! Atau aku yang akan menjadi korbannya!" Vampir itu mengepakkan sayap. Terbang menyusuri jalanan. Membuat masyarakat yang panik karena zombie semakin menjadi-jadi.


Jiwa Aizla kembali ke kamar Zenith. Memasuki tubuhnya. Aizla bangun dari kematian sekejapnya. Saat hendak berdiri, Zenith menggenggam tangannya. Aizla menoleh.


"Aku.. mau.. ikut.," ucap Zenith terbata mengingat dagunya yang diperban. Aizla menggeleng. Dengan lembut melepas genggaman tangan Zenith.


"Aku pergi. Maaf, Teman." Aizla membuka jendela. Dia melompat keluar. Sayapnya muncul di punggungnya. Dia terbang mendekati vampir yang sudah membuat resah penduduk setempat.


Vampir itu menyadari kemunculan Aizla. Dia datang menghampiri gadis itu dengan damai. Tapi Aizla mengacungkan kuku-kuku panjangnya ke leher lawan.


"Mohon katakan pada Nyonya Aira. Nona Aizla tidak bersedia kembali ke laboratorium."


Vampir itu bergeming. Memiringkan kepala. "Anakku sayang akan meninggalkan ibunya? Kau yakin, Nona Aizla?"


Suara itu. Tubuh Aizla kaku. Vampir ini sedang dirasuki Aira. Tanpa dia pedulikan, vampir itu membuat sebuah bola asap darah yang memisahkan keduanya dengan dunia luar.


"Kenapa ibu tidak turun tangan sendiri?"


Vampir itu tersenyum, mengelus lembut pipi Aizla. Aizla melirik kuku-kuku panjang lawannya was-was. Lalu menangkap tangan itu. Aizla memiting tangan lawannya.


"Anakku yang lugu, sepertinya ada yang merasuki kam...," Aizla menendang dagu lawannya. Tidak peduli apa yang dikatakan jiwa Aira yang bersemayam di sana. Sekali lagi, Aizla menendang perut lawan. Vampir itu terpental keluar. Bola asap darah pecah menjadi butiran-butiran darah yang mengambang.


Butiran-butiran itu menempel di tubuh Aizla. Membuatnya tidak bisa bergerak. Darah yang menempel di tubuhnya terasa panas. Sayapnya terbakar. Aizla mengernyitkan dahi. Mencoba menahan rasa sakit, seakan sayapnya akan dicabut dari tubuhnya.


"Anak durhaka. Kalau kau tidak ingin kembali, ibumu ini akan mengambil segala yang telah diberikannya padamu."


Butiran air mata keluar dari sudut mata Aizla. Napasnya tidak teratur. Dia meronta.


"Aaaaahhhh!!" Sayap kirinya sempurna lepas. Keseimbangannya hilang. Aizla jatuh. Vampir Raksasa itu menatap kosong. Lalu secepat kilat terjun ke arah Aizla dengan kuku kaki tajamnya terarah pada Aizla.


Aizla melipat sayap kanannya. Mendarat dengan sempurna, lalu melompat menjauh. Membiarkan jalan aspal di depannya hancur terinjak sang lawan.


Dari tubuh lawannya, asap darah membumbung tinggi. Lalu membentuk sebuah anak panah lengkap dengan busurnya di udara. Anak panah itu di tembakkan ke arah Aizla.


Aizla berlari menjauh seraya memegangi punggung kirinya yang begitu sakit. Napasnya tidak lancar. Dia bisa merasakan darahnya tidak mengalir dengan sempurna.


Aizla melompat. Sebuah anak panah hampir mengenai kakinya. Dia menunduk, sebuah anak panah melewati kepalanya.


"Ini tidak akan ada habisnya." Aizla menoleh. Menghentikan langkahnya dan berbalik. Aizla meyakinkan diri. Mengangkat tangannya. Kepulan asap darah keluar dari tubuhnya. Berputar dan menyelimuti dirinya. Lima anak panah yang hendak menusuknya berhasil ditahan perisainya. Kelimanya melebur, kembali menjadi asap darah. Hilang begitu saja.


Raksasa itu terkekeh. Satu busur panah muncul. Keduanya bersamaan membidik Aizla. Aizla menggigit bibir. Sepuluh anak panah menghujaninya. Dia menoleh ke kanan-kiri. Berharap sesuatu dapat menolongnya.


Aizla sudah siap memalingkan wajah. Tepat saat kesepuluh anak panah itu menyentuh tamengnya, serangan itu terhenti. Aizla menoleh ke arah jam empat.


Xiota berdiri sepuluh meter darinya dengan kedua tangan terangkat. . Tangannya perlahan terkepal, Sepuluh anak panah itu perlahan luruh.


Raksasa di depan sana meraung. Sekarang dia membidik Xiota. Xiota melompat menghindar. Anak panah itu nyaris membunuhnya.


"Kalian berdua. Atau siapapun. Tidak akan kubiarkan hidup jika berhadapan denganku!" Raksasa berwajah seram itu tertawa dengan suara melengking. Asap darah yang keluar dari tubuhnya semakin kental. Aizla berlari mendekati Xiota. Keduanya merasakan darah di tubuh masing-masing mengalir dengan lambat. Tubuh Xiota lemas. Anak panah yang tertancap di sampingnya berubah menjadi asap darah yang lalu menyelimuti tubuhnya. Energinya serasa diserap habis.


Aizla hendak menolongnya. Tapi energinya pun terkuras habis demi menyembuhkan luka di punggungnya. Xiota mengukir senyum. Berkata bahwa dirinya baik-baik saja. Aizla diam. Justru merasa seolah dirinya adalah orang paling buruk di dunia.


Sebuah badai angin menerpa daerah itu. Asap darah yang menyelimuti tubuh Xiota menghilang diterpa angin. Raksasa itu pun hilang keseimbangan. Tubuh besarnya hampir terbawa angin. Angin itu berhenti, semua pandangan tertuju pada laki-laki yang mengambang dua meter persis di depan raksasa.


"Siapa kau? Nyalimu bagus juga," ucap raksasa itu setengah mengejek.


Dua pasang mata bertemu. Angin ****** beliung berputar di sekeliling Raksasa, menjadikannya sebagai pusat. Tekanan udara yang rendah di dalam sana membuat tubuhnya yang besar seolah terlilit rantai. Angin itu berputar lebih cepat. Memanas, membakar vampir di dalamnya hingga tetes darah terakhir.


Vampir itu berteriak untuk terakhir kalinya sekencang-kencangnya. Lalu lenyap seutuhnya. Aizla dan Xiota tidak percaya melihatnya. Pria itu terbang dengan cepat ke tempat. Dia dengan muda menyapu bersih zombie yang berkumpul di jalanan. Tiga tornado buatannya menyusuri jalanan. Drone-drone petarung menyingkir dari jalanan.


Kekacauan yang sesungguhnya terjadi di sisi timur ibu kota. Zecda membakar segala yang dilalui tornadonya tanpa terkecuali. Setengah wilayah ibu kota berantakan. Bahkan mobil-mobil yang terparkir rapi terbang dan mendarat ke sembarang arah.


"Bulan biru, cahaya salju."


Sepuluh zombie dengan jarak satu meter dari Lixe membeku. Lixe tersenyum bangga. Zombie-zombie itu hancur bak bongkahan es yang pecah setelah ditendang Lixe satu-persatu. Lixe bernapas lega. Tidak ada lagi zombie di sekitarnya. Malam ini dia berhasil membereskan para zombie dengan tangannya sendiri.


"Kau sudah puas? Valeina Van pernah membekukan seluruh pasukan lawan. Kau tahu siapa lawannya?"


Era tersenyum. Lalu menghilang dengan alat teleportasi yang melingkar di tangannya.


"Hei! Kau tahu siapa lawannya?" Biete mengulangi pertanyaannya. Lixe menggeleng tidak tertarik.


"Ah sudahlah kalau kau tidak tertarik." Biete menghembuskan napas sebal. Dia terbang meninggalkan Lixe. Mengejar Era.


"Aku tidak akan melepaskan mu!"


Di sebuah gang kecil yang sepi. Gadis pelayan kafe tadi bersandar pasrah di dinding lorong paling ujung. Jalan itu buntu. Padahal di depannya tiga zombie bersiap menelannya. Gadis itu menangis. Dia menutup matanya saat satu dari zombie itu melompat ke arahnya.


Krak.


Crash.


Gadis itu ragu-ragu membuka matanya. Seseorang menghabisi ketiga zombie yang mengincarnya. Orang itu memperlihatkan wajahnya. Gadis itu tahu siapa dia.


"Apa yang kau lakukan?"


Zenith tidak menjawab. Kepalanya pusing. Rahangnya juga terikat perban. Tidak bisa dan tak ingin bicara. Zenith merangkul anak itu. Dia menekan jam tangannya. Sebuah lingkaran portal muncul di bawahnya. Keduanya menghilang dan muncul di kamar Zenith.


Zenith memegangi kepalanya. Tidak bisa berdiri. Zenith berjalan perlahan menuju kasurnya. Tubuhnya kembali terkapar tak berdaya di kasurnya.


Anak itu menunduk. Tidak punya nyali menatap Zenith. Dia ingat ucapannya tadi Siang. Anak itu membenarkan posisi Zenith. Dia menarik napas. Lalu berkata.


"Kenapa Anda menyelamatkanku?"


Aizla dan Xiota menatap Zecda yang berdiri di depannya tak berkedip setelah menghancurkan kerajaannya sendiri.


"Tidak perlu berpikir macam-macam. Aku hanya menyelamatkan manusia. Kau lihat sendiri kan?" Zecda mengangkat bahu santai.


Ya, Aizla bisa melihat seberapa brutalnya lawan bicaranya itu. Zecda tidak peduli dengan barang berharga atau apapun. Tapi bagi Aizla dan Xiota, perlakuan ini sungguh tidak wajar. Zecda tidak peduli. Dia meninggalkan kedua pendatang itu dalam tanda tanya.


Di sebuah atap bangunan, Era berhenti di depan Gusion. Keduanya saling tatap..


"Apa urusan Tuan dengan saya?" tanya Era ramah.


"Bukan saya. Tapi dia." Gusion menunjuk ke belakang Era. Biete berdiri di sana.


Era menoleh, tidak ada siapapun. "Siapa?"


"Biete Abta."


Era menelan ludah. Tersenyum kecut. Wanita itu berjalan pelan mendekati pinggir atap bangunan itu. Era melompat tanpa pikir panjang.


"Anda tidak perlu khawatir. Dokter itu tidak akan mati begitu saja!" Biete mengejar Era. Dia terbang. Menangkap tubuh Era. Membuat Era bingung bagaimana dia bisa malah terbang kembali ke atas atap. Era menggoyangkan kaki. Pegangan Biete lepas. Era kembali terjun bebas.


Sebuah mobil berhenti tepat di bawahnya. Atap mobil itu terbuka. Era mendarat sempurna di kursi penumpang di belakang sopir. Atap itu tertutup. Mobil itu langsung berlari secepat kilat.


Biete berseru sebal sembari mengacak rambutnya. Dia kembali ke atas atap.


"Katakan, kenapa aku harus membantumu?"


Biete menoleh pada Gusion."Apa alasan itu sangat dibutuhkan?"


"Aku bukan Pangeran Neo, Xiota, ataupun Lixe yang akan menuruti ucapanmu dan menjadikanmu guru mereka."


Biete tersenyum kecut. Dia ingat siapa yang ada di hadapannya ini. Seseorang yang teguh pendirian dan tertutup. Sepertinya, laki-laki di depannya ini memang lebih jenius dari tiga orang lain yang dia sebutkan.


"Karena dia membawa potongan permata naga langit putih yang lain."


Gusion menghilang. Meninggalkan Biete yang mematung di tempat saking kagetnya. "Orang itu benar-benar tidak bisa diajak kompromi."


Gusion muncul di atas atap mobil Era. Era mendongak. Juga Lean yang mengendarai mobil itu. Lean menancap gas. Menaikan kecepatan mobilnya.


Gusion memasang kuda-kuda. Menjaga keseimbangan. Bayangan mobil tersebut timbul di permukaan. Bayangan itu menyelimuti mobil. Membuatnya berhenti.


Gusion melompat turun. Kaca mobil itu terbuka. Sial baginya. Dua pengemudi itu hilang.