AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Penghianat kecil



Sesuatu memotong jalur portal Lixe. Portal bayangan muncul di dekat pintu masuk. Tekanan di dalamnya mendorong tiga anak tersebut keluar. Lixe, Xiota, dan Zenith tersungkur ke lantai marmer yang mengkilap. Di sekitarnya para penjaga siap sudah bersiap dengan senapan masing-masing.


Zenith berdiri. Refleknya paling bagus di antara yang lain. Xiota dan Lixe ikut berdiri. Lixe mengingat masa dimana ibunya dikepung dan ditembak secara massal. Luka di hatinya terbuka. Lixe mengepalkan tangan. Yang dia lihat adalah orang-orang yang telah membunuh ibunya.


"Aku benci kalian!"


Lixe meraung. Dia lupa pada tujuannya mencari Xen'ah. Cahaya menyelimuti tubuhnya. Sebuah tongkat cahaya yang telah diajarkan Riyal padanya dulu muncul di tangan kanannya.


"Aaaaahh!!" Lixe melompat maju. Kecepatannya meningkat drastis. Selama dua setengah tahun, dia sudah mempersiapkan diri. Dia berjanji, tidak akan merengek dan kabur seperti yang terakhir kalinya.


Lixe memukul kepala tentara tersebut satu persatu.


Dor.


Peluru mulai di tembakkan. Zenith merangkul Xiota seraya melompat ke depan. Xiota tampak ketakutan. Tubuhnya gemetar. Di antara ketiganya, hanya dia yang belum pernah bertarung.


Zenith melompat saat seorang seorang musuh mengayunkan belati ke arahnya. Zenith balas mengirim tendangan. Membuat orang itu terpental dan mengenai temannya.


Dor


Dor


Dor


Peluru mulai menghujani mereka.


Lixe berteleportasi, muncul di dekat Zenith dan Xiota. Lixe mengangkat kedua tangan. Sebuah tameng cahaya yang tipis terbentuk. Menahan serangan lawan di luar sana.


Saat orang-orang itu fokus menembak. Tanpa sadar sebuah asap darah mengepul memenuhi ruangan. Orang-orang itu menghirupnya. Tak lama kemudian pingsan.


Aizla muncul dari lantai atas dengan sepasang tanduk dan sayap. Dia terbang ke arah Lixe dan kawan-kawan. Aizla menyedot kembali asap darahnya. Setelah tidak ada lagi asap darah yang tersisa, Lixe membuka tamengnya.


"Apa kalian mencari Kak Xen'ah?" tanya Aizla yang sekarang mengambang di samping Xiota.


Xiota mengangguk. Mulut Aizla bergeming. "Apa yang harus ku katakan?" batinnya.


Zenith menatapnya curiga. Setelah menangkap ekspresi gelisah dan isi hatinya yang tidak karuan, Zenith mencium bau-bau penghianatan.


Zenith melompat. Tanpa ampun memukul wajah Aizla.


"Uhuk," Aizla terbatuk. Rahangnya sepertinya jadi sedikit bermasalah. Tapi bukan masalah. Dia menerimanya. Bahkan saat Zenith menghampirinya hanya demi kembali memukul wajahnya. Aizla diam.


"Apa yang telah kau lakukan?! Penghianat!" Zenith berseru marah. Matanya berkaca-kaca. Mau tak mau dia harus mengakui. Dua tahun lebih dia berteman Aizla, berusaha akrab dengannya. Namun hari ini, saat dia sungguh menyayangi temannya itu, sesuatu terjadi.


Zenith menarik napas sedalam-dalamnya. Lixe dan Xiota menatap keduanya tidak mengerti.


"Aku yang sudah mengajak Kak Xen'ah kemari! Aku yang membujuknya! Aku berteman dengan kalian atas perintah ibuku! Hah..," kata Aizla terpotong isakan tangisnya. Dia terbang ke atas.


"Aku Aizla Abta. Orangtuaku pemilik proyek ini. Proyek yang bertujuan mengubah seseorang dan membuatnya terlihat seperti orang lain. Proyek ini dibuat khusus untuk menemukan orang pengganti Pangeran Riyal yang kabarnya penderita autoimun yang sangat parah. Juga....," ucapannya terpotong.


Dor.


Xiota menatapnya penuh kebencian. Setelah memungut sebuah pistol dari tangan salah satu penjaga yang tergeletak di dekatnya, Xiota menembakkan peluru itu ke kepala Aizla. Meleset.


Dor.


Kali ini Aizla terbang ke lebih tinggi. Peluru itu hampir melubangi perutnya. Dia bernapas lega. Tapi Xiota tak berhenti menembak. Aizla merasa kesulitan menghindarinya. Ditambah dengan terbatasnya ruang gerak karena atap yang terlalu rendah baginya. Juga Zenith yang memukulnya setiap dia mendarat. Aizla terpojok.


Dor.


Syut.


Peluru itu menghilang. Sebuah portal bayangan kecil muncul di depan Aizla. Peluru yang memasuki portal tersebut menghilang. Gusion kini muncul di depan Lixe. Entah sejak kapan. Tiba-tiba dia melayangkan pukulan. Lixe yang tak siaga terpental hingga menghantam dinding.


"Ugh." Lixe menggeram pelan.


Zenith berdecak. Dia berlari ke arah Gusion dan memukulnya.


Gusion mengayunkan tubuh ke belakang. Gerakan tangan Zenith berubah. Dia mengayunkan tangannya ke bawah. Gusion terpaksa menangkap lengan Zenith. Dia berputar dan membantingnya. Zenith mengaduh pelan. Langsung sadar dan menjepit leher Gusion. Zenith mengangkat dirinya ke atas sambil menarik tubuh Gusion untuk membungkuk.


Gusion melempar kaki Zenith yang ada di kedua pundaknya. Zenith berguling ke depan. Dia melirik ke belakang. Gusion siap kembali memukulnya.


Lixe menghela napas. Mengingat pelajaran dari Riyal tentang membentuk sebuah benda dengan imajinasi. Ya walau Lixe bukan pengendali pikiran. Setidaknya itu berguna. Kini di tangan kirinya sebuah bulan sabit dengan ujung lancip dan tampak keras juga tebal di bagian tengah. Lixe mengayunkan bulan itu pada Gusion dari belakang.


Gusion membatalkan serangannya pada Zenith. Dia berjongkok seraya berputar. Gusion menangkap lengan Lixe. Menariknya ke bawah. Lixe kini mencium lantai secara kasar.


"Nona Aizla, pulanglah ke tempatmu!" pinta Gusion.


Aizla menggeleng. "Apa kau juga ingin berkhianat dengan membiarkanku pergi?" tanya Aizla.


Gusion terdiam. Dia berdecak. Beberapa saat, Gusion kembali berdiri sembari mengangkat tangannya. Bayangan orang-orang di sekitarnya melilit tubuh masing-masing. Aizla mendarat. Membiarkan bayangannya melilit dirinya.


Sebuah portal bayangan kembali muncul. Gusion mengundang seseorang di seberang sana dengan portal bayangannya. Arian muncul dengan aura kuat yang gelap.


Zenith menatapnya tanpa berkedip. Biasanya dirinya akan merasa senang. Tapi kali ini berbeda. Gadis itu kini merasa takut hingga seluruh tubuhnya bergetar. Zenith terduduk setelah menatap mata Arian.


Aizla dan Gusion tanpa banyak lagak menunduk. Berbeda dengan Lixe dan Xiota yang harus berseru mengungkapkan betapa kesalnya mereka.


"Dimana Kak Xen'ah?! Apa yang telah Anda lakukan?! Apa yang Anda inginkan dari keluarga saya?!" Xiota berseru. Melupakan etika dan dengan siapa dia bicara.


Arian mengendalikan tubuhnya. Xiota membenturkan kepalanya ke lantai. Dia berseru tertahan. Tubuhnya tidak bisa bergerak. Bahkan kini napasnya dan aliran darahnya seolah tidak teratur.


Xiota memukul lantai. Berusaha mengangkat kepala dan kembali mengendalikan tubuhnya. Lixe melompat maju. Berteleportasi dan muncul di depan Arian.


Lixe mengayunkan tongkat cahaya di tangan kanannya. Dia membuka mulut, hendak berteriak.


Ctak.


Arian menjentikkan jari.


Mulut Lixe tertutup. Gerakannya terhenti. Dan justru berlutut di depan Arian.


"Bersujud lah. Minta maaf atas kekurangajaran mu!" Kalimat itu menusuk telinga Lixe. Tubuhnya seolah tidak mengikuti kehendak hatinya. Lixe bersujud dan mencium kaki Arian. Lixe berusaha lepas, melakukan gerakan-gerakan kecil. Tapi Arian mengabaikannya.


Arian menatap fokus Zenith. Gadis itu merinding dibuatnya.


"Kau yang pertama." Arian menunjuk Zenith. Zenith berseru tertahan.


"Maaf, Tuan," Gusion bergumam.


Bayangan di bawah kaki Arian mengikat pemiliknya. Kekuatan pengendaliannya hilang. Lixe dan Xiota terbebas.


"Kau berkhianat!"