
Lixe membuat alat musik di kedua tangannya ke sembarang arah.
Buak. Lixe memukul wajah First. First diam, membiarkan pukulan itu mengenainya. First menguatkan kuda-kuda, dia tidak ingin tubuhnya tumbang hanya dalam satu kali pukulan. Dia mengukir senyum. "Mungkin sekarang saatnya aku menanggung dosa yang ku perbuat."
"Kenapa tersenyum?! Sampai kau mati, dosamu tidak akan ada habisnya!" Lixe kembali memukul wajah First. Orang itu masih diam. Senyumnya dihapus seperti permintaan. Tatapannya kosong, walau jauh di dalam lubuk hatinya sesuatu turut menyiksa dirinya. Perasaan sedih, menyesal, marah bercampur aduk meledakkan hatinya.
"Cukup!" Aizla menangkap tangan Lixe yang hendak memukul First. Lixe menoleh, juga First.
Aizla menarik Lixe. Menjauhkannya dari First. Sekarang Aizla berdiri di tengah-tengah keduanya. Biete menggigit jari melihat kelakuan cucunya. Wajah Biete pucat, cemas minta ampun. Apa yang dilakukan Aizla itu sungguh berbahaya.
"Aizla! Bahaya!" Biete mendekat, dia berbisik di telinga Aizla sambil berseru tertahan. Biete menarik tangan Aizla, menyuruhnya mundur. Tapi Aizla mengibaskan tangan. Melepaskan genggaman Biete begitu saja.
"Kisah hidup tidak bisa dihapus. Kalau kau tidak terima, kau yang harus mati!" Aizla menunjuk Lixe. Matanya berkaca-kaca. Sebuah kalimat yang juga ditunjukkan untuk dirinya. Sesuatu yang selalu ia katakan pada dirinya, akhirnya bisa ia sampaikan untuk orang lain.
Luxe menelan ludah. Dia memalingkan wajah. First meraih kedua tangan Lixe. Lalu menyatukannya.
"Apa masih ada yang bisa ku perbaiki?" tanyanya halus.
Dua pasang netra dari bentuk mata yang sama bertemu. Di mata itu Lixe bisa melihat bayangan seseorang. Seorang pria yang sepertinya pernah ia temui. Lixe mencoba mengingat pria tersebut.
"Dia orang terakhir yang membuang ku. Kalau kau tidak membuang ku juga. Namanya Lean Lyde. Hantu itu lebih tahu kalau kau penasaran." First melirik Biete. Biete langsung menundukkan kepala. Dia menggenggam erat lengan Aizla.
"Aku masih ada urusan." Lixe menarik tangannya. Dia mengabaikan First. Berjalan mendekati Zenith yang terkapar tidak berdaya. Lixe membopong gadis itu. Sebuah portal cahaya muncul di depannya. Lixe menoleh ke belakang.
"Nona Aizla?" panggil Lixe.
Aizla yang sibuk mendengar keluhan Biete yang tidak jelas menoleh. Dia berjalan sempoyongan dituntun Biete. Aizla menatap First penuh tanda tanya. Biete mencubitnya. Aizla langsung mengalihkan pandangan. Meninggalkan First mematung di tempat.
Lixe mempersilahkan Biete dan Aizla masuk lebih dulu. Lixe menatap First. Pria itu masih setia menundukkan wajahnya. Membuat poni panjangnya menutupi wajah.
"Aku berjanji tidak akan bernyanyi untukmu tanpa kau minta. Semoga kau selalu bahagia. Namamu?" ucap First tanpa menoleh sedikitpun.
"Lixe Van." Lixe memasuki portal. Sempurna meninggalkan First di ruangan terang nan luas.
First menyeringai. Ribuan jarum menusuk dadanya mendengar nama cucunya. First pikir, sudah tidak ada yang mengakuinya dalam hidup ini.
"Kak Zenith?!" Bal berlari menghampiri Zenith. Dia menatap Lixe. Oke, sekarang Lixe akan diintrogasi. Tapi Bal justru tersenyum. Tidak ada pertanyaan yang harus ia tanyakan selagi Bal bisa membaca pikiran Lixe.
Bal mengajak Lixe ke kamar Zenith. Lixe masih menggendong Zenith. Dia mengamati rahang Zenith yang bengkak. Juga beberapa memar di leher dan tangan. Bahkan telapak kaki Zenith tampak biru. Lixe yang menyalahkan diri. Bagaimanapun, dia yang membuka portal menuju tempat itu.
"Dia akan baik-baik saja," ucap seorang dokter setelah memasang perban di rahang Zenith yang masih tak sadarkan diri di kasurnya. Wanita tiga puluhan itu tampaknya sedikit canggung. Ini kali pertama dia datang ke sini.
Bal dan Zack mengangguk. Baiklah. Dokter itu tahu dua orang ini bisa membaca pikiran. "Harusnya, tidak kuberi tahu pun mereka sudah tahu," batinnya. Dokter itu menghela napas. Dia pamit undur diri. Zack mempersilahkan wanita itu bahkan sebelum sebuah kalimat indah keluar dari mulut wanita itu.
"Terimakasih, Dokter." Lixe membungkuk di hadapan dokter itu begitu dokter tersebut keluar dari gerbang Istana Dey. Sejenak dokter itu gugup. Lalu mengangguk dan berlari menjauh.
Lixe melihat Aizla duduk di depan pagar Istana Dey tidak jauh darinya. Mengingatkan Lixe pada Biete yang merasuki tubuhnya untuk mengejar seseorang di kafe tadi. Lixe yakin Biete di sana. Dia menghampiri Aizla ragu-ragu.
"Nek Biete?" tanya Lixe ragu-ragu
"Dia barusan kabur." Aizla menunjuk ke arah jam dua. Lixe berlari ke sana.
"Terimakasih," Biete yang berdiri di samping Aizla berbisik sambil bernapas lega. Aizla mengangguk polos.
Bruk.
Lixe tidak sengaja menabrak seseorang. Di samping orang itu berdiri dokter barusan. Dua orang itu menatap Lixe, sedikit kaget dan was-was. Lixe menangkap ekspresi aneh waspada itu.
"Siapa kalian?"
"Aku dokter Era. Kamu tahu sendiri kan?" wanita itu tersenyum ramah. Lixe tahu. Daripada wanita ini, Lixe lebih penasaran pada pria yang sudah meninggalkan mereka berdua. Orang itu, kapan Lixe pernah bertemu dengannya? Benar.
"Apa urusanmu dengan Nenek Biete?!" Lixe berseru. Dia ingat, orang itu pria yang dikejar Biete sehingga dia membuka portal ke tempat First.
"Jauh-jauhlah dari nenek itu. Dia hanya orang egois yang memanfaatkan setiap orang di dekatnya." Pria itu pergi tanpa menoleh.
Lixe menoleh pada Era. Dia yakin wanita ini tahu sesuatu tentang pria itu. Era mengangkat bahu. Dia menggeleng.
"Aku tidak percaya." Lixe bersikukuh. Era juga mengabaikannya. Terserah. Lixe membiarkan dua orang itu pergi. Tapi dia tetap mengikuti jejak pria itu hingga tiba di sebuah bangunan megah. Gelapnya malam membuat pengendapannya berhasil dengan mudah.
Pria itu berhenti di Kafe tadi siang tempat dirinya mengejar pria itu. Orang itu masuk. Lixe menyusul masuk. Para pelayan tunduk padanya. Seseorang memanggilnya tuan. Sepertinya dia benar-benar dihargai di sini.
Lixe duduk di salah satu kursi. Masih mengamati gerak-gerik pria itu diam-diam. Lixe tetap santai walau pria itu masuk ke dalam ruangan staf. Lixe berjalan, memasuki toilet dan menghilang. Lixe muncul belakang pria itu.
"Kau sungguh ingin tahu siapa aku?" Pria itu menyadari keberadaan Lixe. Dia berbalik. Akhirnya Lixe bisa melihat dengan jelas wajah orang itu. Wajahnya tidak asing. Orang itu duduk di sebuah kursi dekat dinding berlapis granit, menyilangkan kaki dan bersandar santai.
"Namaku Lean Lyde. Dan siapa kau?" Dia meneguk kopi dari gelas yang sejak tadi mengambang di sampingnya. "Aku harap kau tidak diperbudak Biete seperti yang lain."
"Dimana suku Lyde yang lain?"
Lean mengamati Lixe dari bawah ke atas. Dia tersenyum. "Portal cahaya? Suku Van? Kalian masih ingin membunuh kami?"
Lixe hanya menatap dingin.
"Sayangnya aku telah dibuang bersama adikku saat aku kanak-kanak. Bahkan sekarang aku tidak tahu keberadaan adik perempuanku itu." Lean memegangi kepalanya.
"Karena First Lyde?"
Lean mengangguk.
"Dan untuk mengontrolnya kau mengambil permata naga langit putih?"
Lean mengangguk.
"First Lyde sudah keluar dari tubuhmu. Sekarang kembalikan!" Lixe menjulurkan tangan. Lean menyengir. Dia menggeleng keras.
"Berani datang tanpa berpikir panjang. Apa IQ suku Van sudah anjlok?" Lean bertepuk tangan. Spiker di ruangan itu mulai menyanyikan sebuah lagu. Lixe menutup telinganya rapat-rapat. Dia tidak ingin menyayangi orang tidak tahu diri.
Lean berdiri. Mendekati Lixe. Dia menggenggam kedua lengan Lixe, menariknya. Lean memaksa Lixe mendengarkan lagunya.
Lixe menggertakkan gigi-giginya. Cukup menyebalkan mendengar nama Van dibawah-bawah. "Mereka tidak mengakui ku. Kalau kau bertanya ini iq siapa. Aku putra dari ibu seorang Lyde. Bagaimana?"
Dalam hatinya, Lixe sungguh tidak rela iq ibunya direndahkan. Tapi bagaimanapun, yang baru saja dia katakan memang benar adanya.
Lagu yang keluar dari speaker itu berhenti. Lean menyipitkan mata. Keningnya mengerut. "Lia?" gumamnya pelan. Lean melepaskan tangan Lixe.
Lixe mendengarnya. Sungguh. "Apa kau bilang?" Lixe manarik tangan Lean. Lean membuang muka.
"Penjaga! Bawah pergi penyusup di ruangan staf!" Lean berbicara melalui layar hologram. Beberapa penjaga segera memasuki ruangan. Mereka menyeret Lixe keluar.
"Katakan apa yang kau tahu soal ibuku!"
Lean membuka matanya lebar-lebar. Dia memijat kepalanya yang mendadak pusing.
Di luar kafe yang mulai ramai di malam hari, Lixe dilempar begitu saja. Dia menggeram sebal. Berseru sekencang-kencangnya. Menarik perhatian orang-orang yang berlalu lalang.