AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Seelok patung



"Kamu siapa?" Seorang anak menatap bingung Tara. Dia menatap Tara dari bawah hingga atas. Mencoba mengenali gadis yang belum pernah ia temui.


Tara berdiri di samping Lixe. Di hadapan anak-anak seumurannya berdiri di depannya dengan kepala terangkat. Untuk pertama kalinya Tara bisa melihat wajah mereka dengan jelas. Orang-orang yang selalu ia lihat dari puncak gedung pencakar langit. Sekarang berdiri setara dengannya.


Jantung Tara berdetak kencang. Dia memberanikan diri. Dia bukan orang lemah.


"Namaku Ara. Salam kenal semua." Tara tersenyum sembari mengulurkan tangan.


Gadis itu membalas uluran tangan Tara dengan riang. Dia tidak tahu siapa Tara sebenarnya. Mereka tentu tidak tahu wajah Putri mereka, karena mereka selalu menunduk dan lebih banyak yang memejamkan mata. Tidak ada yang berani melihatnya.


Gadis itu menarik tangan Tara. Membawanya ke dalam rangkulan.


"Ayo mau!" Gadis itu tersenyum.


"Aku berjanji. Aku akan melindungi kalian. Hari dan esok hari," gumam Tara pelan. Dia menoleh. Lixe sudah tidak ada. Laki-laki itu benar-benar akan membuatnya mandiri di tengah masyarakat.


"Terimakasih, Kak."


Sebuah cahaya muncul di balik besar di dalam istana. Lixe keluar dari sana. Mengagetkan Biete.


"Aaaaahh!" wanita itu berteriak sesukanya. Dia tahu persis tidak akan ada yang menghiraukannya. Lixe menutup kedua telinganya rapat-rapat.


"Ayo temui Permaisuri!!" Biete menarik tangan Lixe. Dua orang itu memang belum menemui Permaisuri. Biete beralasan dia tidak pandai akting. Bal? Anak itu menawarkan ilusi mata untuk mereka gunakan. Biete tidak setuju.


"Aku pikir kalian sudah...,"


Kalimat Lixe berhenti saat Biete memandangnya tidak enak. Diam. Lixe mengangguk. Mengikuti langkah Biete. Dan akhirnya Lixe membuka pintu.


"Siapa yang mengizinkanmu masuk?" tanya wanita di dalamnya tegas.


Lixe menunjukkan sebuah hologram yang menampilkan ruangan dengan sebuah dekorasi indah. Itu karangan Bal. Memang sangat indah. Bal adalah seniman terbaik, versi Biete.


"Kalau Anda mau, kami bisa menghias ruangan pesta dengan sangat indah. Saya pastikan semua akan takjub," Biete mempromosikan jasanya. "Kami ahli dekorasi grafis!"


Ratu memiringkan kepala. Dia menatap Biete lamat-lamat dari bawah ke atas. Kembali ke bawah. Lalu menatap matanya. Ratu tampak tak senang dengan mata Biete yang berani menatapnya langsung. Dia memberi isyarat, tundukkan kepalamu. Tapi entah tahu atau tidak, Biete sama sekali tidak menekuk lehernya yang sangat tegak.


"Dekorasi grafis? Apa itu? Sangat tidak masuk akal." Ratu mengayunkan tubuhnya ke belakang. Lalu menepuk meja. "Aku menolak."


"Rakyat kurang ajar. Beraninya dia menatapku seperti itu."


"Fiyah sialan! Kau berhasil membesarkan gadis desa yang lugu ini menjadi wanita sombong ya, Astia." Biete menggertakkan gigi. Tatapan mereka bertemu. Seperti sebuah gunung meledak di sana.


"Prajurit! Bawa mereka pergi!" Fiyah menekan tombol di earphone-nya.


"Beraninya Kau. Pada pahlawan sepanjang 17 abad kerajaan ini," batin Biete. Dia mendengus kesal. Lalu berbalik tanpa memberi hormat. "Ayo pergi! Kita punya akal yang berfungsi. Jadi ayo pergi!"


Biete mengawali. Dia membuka pintu. Bal mengikuti.


"Maaf, Ratu." Lixe membungkuk memberi salam. Sejenak, lalu berdiri tegak dan berbalik menyusul sekutunya itu. Meninggalkan Fiyah yang menggembrak meja kesal.


Plak. Biete memukul kepala Lixe. Mata kirinya cedutan, sebal.


"Kenapa dan sejak kapan Suku Van mau menunduk pada warga desa yang beruntung seperti dia?!"


Lixe mengelus kepalanya. Dia melirik Biete. Bagaimana Biete tahu tentang dirinya. Lixe memberikan senyum sinis.


"Sejak seorang Loam Van jatuh cinta pada Lia Lyde, dan seorang Lixe Van lahir. Juga sejak seorang Wist menjadi raja."


Biete menelan perkataan Lixe perlahan. Lalu tersenyum. "Hahaha! Tuhan benar! Roda kehidupan kini berputar. Aku membuktikan kepercayaanku nyata!!" Biete berseru bahagia. Dia lupa, bahwa dia masih berada di depan ruangan kerja Ratu Neland.


Beberapa prajurit yang tadi dipanggil Fiyah datang.


Biete mendatangi mereka dengan senyuman.


"Tidak perlu repot-repot. Kami punya kaki yang bisa jalan sendiri. Ayo pulang anak-anak!" Biete melambaikan tangan. Melewati orang-orang yang terlihat sedikit terganggu pikirannya dengan tenang.


"Aku sudah besar," Bal bergumam tidak terima.


Lixe dan Bal lagi-lagi hanya bisa mengikuti langkah Biete. Nenek ramah satu ini tidak bisa dirantai agar tidak berbuat seenaknya.


Mereka berjalan keluar gerbang dengan di buntuti prajurit. Tapi Biete bisa-bisanya melangkah sambil bersiul. Bal menutup mata, dia menoleh ke belakang. Matanya yang bercahaya terbuka. Pandangannya menyusuri istana, hingga sampai di ruang kerja Fiyah.


Di ruang kerjanya. Fiyah tersentak ke belakang. Kursinya terayun ke belakang menahan tubuhnya. Fiyah kaget, kesulitan bernapas untuk beberapa saat.


Bal menyeringai. Dia juga memasang raut senang. Hanya Lixe yang awut-awutan memikirkan keadaan Tara.


"Kalian semua! Cepat cari Tuan Putri! Seseorang menculiknya!" Seorang prajurit dengan pangkat tinggi berseru pada semua orang di dalam istana. Mereka meninggalkan pekerjaan. Semua panik mencari Tuan Putrinya. Tidak. Mereka panik menyelamatkan diri, hingga suara ribut terdengar dari luar.


"Apa mereka menganggap Tara sebagai tuan?" gumam Lixe sebal. Rasanya dia ingin meninju orang-orang yang bersembunyi di balik topeng itu.


Biete hendak menyahuti kemarahan Lixe. Tapi dia memilih diam. Biete menggandeng tangan Lixe.


Lixe menatapnya masih dalam mode sebal. Biete tersenyum. Nenek itu menarik tangannya. Sayangnya, sekarang giliran Bal yang tidak mau pergi. Anak itu bengong di jalan.


Lixe tidak menjawab meski dia tahu. Bal sekarang sedang membelah jiwanya ke dalam pikiran Fiyah. Lixe tiba-tiba mengangguk yakin. Biete spontan membuat ekspresi aneh. Ada apa dengan bocah-bocah ini?


Bal sadar dari lamunannya. Dia mendadak berjalan sesuai arah seperti mayat hidup. Biete melepaskan tangan Lixe, berlari kecil demi mensejajarkan langkah dengan Bal. Dia terus menatap anak itu. Tidak takut seandainya muncul tiang di depannya. Biete sangat tertarik dengan mata Bal yang bercahaya bagai lampu.


"Bukankah, matamu juga bisa bercahaya?" Dia menoleh. Lixe di sampingnya melompat terkejut. Dia merasa gugup.


Tiiin. Klakson dari sebuah mobil mewah tanpa atap berbunyi. Menyingkirkan penjaga gerbang dan para prajurit yang membuntuti tiga orang tidan jelas tadi.


Lixe menoleh. Itu, Tara. Ekspresinya datar sekali. Tatapannya sedingin kutub utara. Lixe hendak mengejar. Tapi Bal dan Biete serempak memegang tangan kanan dan kirinya. Biete menyeret Luxe pergi dari sana.


"Kita kembali nanti malam. Saat pesta itu berakhir. Saat bulan purnama menunjukkan wajahnya."


Tara yang duduk anggun bak patung yang dipahat elok melirik Lixe. Dia tersenyum. Jemari kakinya bergerak. Patung itu memberontak. Menghancurkan pahatan elok yang seniman. Tara mengangkat kaki kirinya. Lalu menyilangkannya di atas kaki kanan. Tangannya yang diajarkan untuk ditumpuk di atas paha dengan anggun, hari ini ia angkat. Tara juga menyilangkan tangannya yang terangkat di belakang kepala. Kepala dan lehernya yang tegak, hari ini bersandar pada tangan itu.


"Aku Tara Neland. Seorang gadis yang punya kebebasan."


"Putri! Apa yang terjadi padamu?" Fiyah berteriak melihat pose putrinya yang tidak sesuai model yang ia berikan. Mata Fiyah membulat. Asao seolah keluar dari kepalanya.


Tara hanya melirik. Dia turun dari mobil. Langsung menuju kamarnya tanpa basa-basi. Melewati Fiyah yang marah besar dengan santai, walau sesungguhnya di dalam hatinya muncul rasa takut yang mendalam. Tapi semua rasa takutnya hilang begitu dia berhasil melewati ibunya tanpa goresan sedikitpun. Nona mudah ini, tidak suka tubuhnya digores walau hanya 1 persekian milimeter.


Fiyah meremas jemari. Dia sadar. Dia tidak mungkin memukul Tara. Tidak bisa membentak Tara. Tidak bisa. Dia masih terlalu lemah untuk melakukannya.


"Kau pikir, kenapa aku menjadikanmu patung yang indah di musium?"


Tara melempar tubuhnya di atas ranjang. Dia menangis. Ini hari yang buruk. Sungguh buruk. Mungkin, dia tidak akan pergi keluar lagi. Tidak akan.


***


Tadinya, di lapangan bermain.


"Apa yang Anda lakukan di sini?" seseorang memanggil Tara.


Gadis itu berbalik. Matanya membulat. Badannya kaku. Itu Yase. Tara menutup mulutnya. Tatapan Yase begitu dingin.


"Apa Permaisuri tahu soal ini?" Yase menundukkan kepala. Beberapa anak saling bertanya saat mendengar Permaisuri dipanggil. Sedangkan Tara hanya menatap Yase datar. Kepalanya tidak diajarkan menunduk. Bibir itu juga tidak diajarkan mengatakan 'maaf'. Sulit sekali. Tara berusaha mengeluarkan kata itu. Tapi tenggorokannya tidak mau.


"Sebaiknya, Anda pulang Putri Tara," ucap Yase datar. Wajahnya seperti menunjukkan ekspresi kesedihan dan penyesalan. Tara mengerti. Tapi dia tidak ingin pulang. Beberapa anak yang mendengarnya mulai berlari menjauh. Hanya Tara, Yase, dan Bella yang masih di sana.


"Kakak sekarang tinggal dimana?" pertanyaan itu keluar dari mulut Tara. Yase mengangkat kepala.


"Saya rasa, Anda tidak perlu mengetahuinya."


"Bukankah kita saudara? Ratu..., bukan, ibu saya adalah bibi Kakak."


Yase diam. Dia tahu fakta itu. Kisah dimana Fiyah adalah bibi yang selalu baik padanya saat dia balita. Yang selalu tersenyum menghiburnya. Yase memalingkan wajah. Melihat Tara bisa membuat dia kembali mengingat hal-hal yang tidak ingin ia ingat.


Saat itu juga. Seseorang memukul Yase dengan tombaknya yang dialiri listrik. Tubuh. Yase ambruk Tara melangkah mundur. Sedang Bella menghampiri Yase, membantunya berdiri.


"Beraninya kau memalingkan wajah seperti itu pada Tuan Putri Tara! Aku akan memberimu pelajaran etika!" Orang itu kembali mengangkat tombaknya. Dia akan memukul lagi.


Tara mengeraskan rahang. Tidak lagi. Tidak. Dulu adalah salahnya. Salahnya. Karena hanya menjadi patung yang indah.


Tara menggenggam lengan prajuritnya, menghentikan gerakannya. Tara menatapnya tidak suka. Prajurit itu melempar tombaknya. Dia berlutut. Tidak mengucapkan apapun. Sebagaimana yang telah dia pelajari. Tidak ada kesalahan pada seorang keluarga kerajaan yang patut dimaafkan.


"Berdiri!"


Laki-laki itu berdiri. Setelah Tara amati, umurnya tidak jauh berbeda dengan Yase. Mungkin, mereka hanya berbeda dua atau tiga tahun. Saat itu, Yase dengan dibantu Bella sudah pergi. Tara menyuruh pasukannya yang protektif diam di tempat. Membiarkan keduanya pergi.


"Siapa namamu?"


"Elton," jawabnya singkat. Tara tersenyum. Mampu membuat tubuh Elton bergetar.


"Jadilah kepercayaanku," bisik Tara. Kali ini, seolah energi kedamaian yang berasal dari potongan permata naga langit putih yang membuatnya seperti makhluk hidup menghilang. Pikirannya kembali apa adanya.


Dalam hati, Tara khawatir dengan kondisi itu Elton akan menoleh.


"Perintah Anda, akan selalu saya laksanakan."


***


Energi yang keluar dari permata itu tidak berpengaruh di kamar Tara. Jadi Tara bisa menangis dan sakit hati, juga melampiaskan semua perasaannya sepuas hatinya.


"Ayah menyayangiku? Sungguh? Atau dia hanya membutuhkan kekuatanku untuk menetralisir pengaruh dari energi penjaga?"


Tara menatap dirinya di kaca.


"Mulai hari ini." Tara mengusap air mata di pipi. "Aku bukan lagi patung pahatan indah milik Kerajaan. Aku Tara. Gadis 15 calon penguasa tertinggi di seluruh negara ini. Yang penuh kebebasan seperti ekspektasi mereka."


Tara menatap bayangan dirinya yang begitu cantik, penuh percaya diri, dan keberanian. Serta tatapan bagai kapak yang menghancurkan patung indah nan anggun tanpa perasaan.