AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Tertangkap



"Kriiiing." Alarm keamanan dibunyikan. Sistem di dalam kerajaan mendeteksi adanya penyusup. Aizla mengeluarkan asap darah dari tangannya. Asap itu terbang ke arah lampu. Masuk ke dalam. Mulai menghancurkan segala sistem di seluru istana. Hal ini sama seperti yang pernah ia lakukan di Kerajaan Roila. Sistem di seluru wilayah kerajaan itu mati. Kekacauan di jalanan terjadi. Pemadaman total terjadi.


Slash.


Anak panah itu melesat ke arah Aizla. Xiota membuat anak panah itu melenceng. Berbalik dan terbang ke arah Riyal. Anak panah itu berubah menjadi debu. Riyal mengamati wajah Xiota dalam cahaya yang remang, hanya cahaya dari jendela yang menjadi penerangan.


"Apa kau ingin berkhianat?" tanya Riyal sekali lagi menarik tali busurnya. Kali ini sama sekali tidak memunculkan anak panah. Tapi begitu tali busur tersebut di lepas. Sebuah tekanan udara yang begitu kuat mendorong tubuh mereka ke belakang. Aizla terpental mundur. Dia keluar melalui jendela. Beruntung sayapnya langsung terbuka. Membuatnya terbang di luar bangunan. Yang lain menghantam dinding.


Bayangan di bawah Riyal timbul ke permukaan. Melilit dirinya. Riyal menembakkan anak panah ke bawah. Bayangan itu kembali normal. Saat dia mengalihkan pandangan. Zenith sudah berdiri di depannya. Lalu memukul wajahnya.


Riyal berputar. Tinju itu tidak terlalu berpengaruh padanya. Riyal berjongkok. Dia menendang kaki Zenith.


Zenith melompat. Riyal tiba-tiba melepaskan anak panah ke arahnya. Tubuh Zenith bergerak tanpa kendalinya. Dia melompat mundur. Xiota melakukan pengendalian terhadap dirinya. Anak panah itu mengenai atap ruangan. Membuat sebuah keretakan di sana.


"Cahaya bulan purnama, dua belas sabitan bulan."


Lixe mengabaikan keretakan itu. Balas menyerang Riyal. Riyal menarik napas. Dia mengangkat tangannya. Atap kamarnya hancur saat Riyal meremas tangannya. Dia mengayunkan tangan ke depan. Puing-puing tersebut terbang meladeni dua belas sabitan cahaya Lixe.


Asap mengepul di antara keduanya.


Riyal menutup mata. Zenith dengan matanya yang bisa menembus kepulan debu tersebut melempar vas yang berdiri di dekat jendela. Riyal mengendalikan vas itu. Membuatnya terbang kembali pada Zenith. Zenith menunduk. Vas itu terbang ke luar bangunan, jatuh ke bawah.


Pyar.


Aizla menggeram, belasan pasukan berlari mencari sumber keributan. Mereka mendapati seorang vampir yang terbang di bawah sinar mata hari. Aizla tidak bisa melawan, tubuhnya lemas. Dia buru-buru masuk kembali ke kamar Riyal. Sayangnya seorang pria, mirip Riyal, menangkapnya. Tubuhnya dikendalikan. Aizla terbang turun tanpa pemberontakan.


"Pangeran Roy..," ucap Cain yang datang menghampirinya.


"Bawa dia ke penjara."


Aizla berseru dalam hati. Roy'ah melihat ke jendela kamar Riyal yang mengeluarkan kepulan asap. Roy'ah mempercayakan Aizla pada Cain. Lalu terbang memasuki jendela kamar Riyal.


Cain memborgol kedua tangan Aizla di belakang.


"Kau pikir ini akan berhasil," gumam Aizla sinis. Asap darah menyelimuti dirinya. Cain menjepit hidupnya dengan satu tangan. Sedang tangan yang lain masih memegangi rantai borgol yang mengikat Aizla. Bau amis menyakiti penciumannya.


Aizla mengepakkan sayap. Tiga belas bola darah terbentuk di belakangnya. Bola-bola itu menghujani pasukan bersama Cain di belakangnya. Mereka berteriak. Roy'ah menoleh. Sial. Aizla sudah menghilang dari pandangannya.


Cahaya dan Bayangan tampak membuat mata sakit. Lixe terus melayangkan sabitan bulannya. Begitupun Gusion dengan burung bayangannya yang terbang menghalangi pandangan Riyal.


Ekspresi wajah Riyal yang datar sama sekali tidak berubah. Bahkan saat memar muncul pipi dan lengannya. Juga sayatan di tangan dan kakinya. Xiota mulai merasa simpati pada lawannya. Saat Lixe, Zenith, dan Gusion menghindari anak panah yang masing-masing melesat ke arah mereka. Seharusnya itu kesempatan bagus bagi Xiota menyerang. Tapi dia tidak melakukannya.


"Berhenti sekarang! Penghianat!"


Xiota menoleh ke belakang. Roy'ah berdiri tepat di belakangnya.


"Apa ayahmu tidak mengajarimu? Mantan Panglima Divisi utama, bagaimana bisa memiliki anak seperti...,"


Xiota memukul. "Katakan dimana Kakakku!"


Roy'ah menangkap pukulan lemah itu. Memitingnya, Sebuah puing-puing besar yang tersisa terbang ke arah Xiota.


Xiota mengangkat tangannya yang masih terbebas, mencoba menghentikan puing-puing itu. Berhasil, Roy'ah menyikut punggungnya.


Lixe tiba-tiba mengayunkan pedangnya pada Roy'ah. Dia menjentikkan jari, Tubuh Lixe kaku.


Bayangan di bawahnya timbul ke permukaan, Gusion membuat Roy'ah terlilit bayangannya sendiri.


Riyal kembali menarik anak panahnya. Gusion menghindar. Anak panah itu meledak di belakangnya. Kepulan asap lebih tebal memenuhi ruangan. Gusion merasa tidak aman, dia membuka portal. Muncul di belakang Riyal.


Hanya Zenith yang bisa melihat dalam kondisi ini. Zenith melompat ke luar dari kepulauan debu saat sekali lagi anak panah Riyal terarah padanya.


Roy'ah yang masih mengunci tangan Xiota menangkap tubuh Lixe dengan kekuatan kinetik-nya. Lixe tidak bisa melawan. Zenith yang melompat keluar melempar tali bingkai jendela. Zenith menarik tubuhnya agar bisa kembali masuk. Sayangnya, seseorang melempar belati, memutuskan tali tersebut. Zenith jatuh.


"Cain?" gumamnya. Dia tersenyum tipis. Mengayunkan tubuh. Memastikan bahwa dia akan mendarat tepat di atas Cain.


Cain menggenggam erat belati di tangan kanan. Zenith guling depan di udara. Kakinya telak mengenai kepala Cain. Tidak berhenti, Zenith berputar. Kaki kirinya menyentuh tanah, sedang kaki kanannya menendang wajah Cain dari samping. Zenith tersenyum penuh kemenangan. Cain mengaduh kesakitan.


"Masik mau melawanku?" Zenith memperbaiki kuda-kudanya


"Tentu saja." Cain bersiap.


"Berhenti!" Roy'ah berteriak pada Gusion. Masing-masing dari mereka membawa sandera. Gusion meletakkan pedangnya di bahu kiri Riyal. Sedang Roy'ah membuat Lixe dan Xiota mengacungkan pedang ke leher mereka sendiri. Kepulan debu menghilang. Kedua pasang mata itu bertemu.


Gusion menyadari sesuatu yang tidak jelas membuatnya tidak mampu menyakiti Riyal. Ditambah lagi, Roy'ah tidak bergeming. Sepertinya dia tidak peduli pada kakaknya. Sudahlah. Gusion melepaskan Riyal. Dia mengangkat tangan.


"Aku menyerah."


Tangan Xiota dan Lixe yang mengacungkan pedang ke leher masing-masing turun. Roy'ah menggiring dua tawanannya keluar dari kamar tersebut. Meninggalkan Riyal yang berdiri tanpa ekspresi.


"Ada apa denganmu?" bisik Gusion sebelum meninggalkan Riyal. Riyal tidak menjawab. Dia lebih para dari terakhir kali.


"Jaga baik-baik dirimu, dan teman-temanmu," balas Riyal. Dia mendorong Gusion yang berjalan sangat lambat.


"Bagaimana caranya kabur?" tanya Gusion berbisik. Jaraknya cukup jauh dari Roy'ah. Riyal menatap Roy'ah.


Gusion mengangguk. Mereka bertiga digiring memasuki penjara bawa tanah istana. Tangan mereka tidak di borgol. Tapi mereka cukup tahu penjara itu dilapisi listrik yang membuat mereka terpanggang saat menyentuhnya. Di dalam sana, sebuah meriam dan CCTV ai terpasang di dinding. Meriam itu akan menghancurkan segala portal yang muncul di dalamnya.


"Kita harus keluar dari sini!" Xiota berseru begitu penjaga meninggalkan mereka. Lixe mengangguk. Dia membuka sebuah portal. Benar saja, meriam itu menembakkan bola listrik yang meledakkan portal. Tempat bawah tanah itu sepertinya terlindungi dari asap darah Aizla yang menghancurkan alat-alat canggih di permukaan.


"Tunggu saja dengan dengan tenang. Karena kita masih punya sekutu yang dapat diandalkan." Gusion menyandarkan punggungnya ke dinding batu penjara tersebut.


Penjara berbentuk persegi dengan ketiga sisi terbuat dari jeruji besi yang memanjang dari atas ke bawah. Sedang satu sisi lainnya terbuat dari batu. Luasnya tidak lebih dari 4x4 meter. Sekarang sebuah asap beracun perlahan keluar dari dinding batu. Gusion menyingkir dari tempatnya.


"Ini berbahaya," gumam Lixe.


Di luar sana, Cain masih berduel dengan Zenith. Cain berhasil di kalahkan dalam empat serangan. Zenith berlari keluar dari istana. Kaki robotnya membuatnya semakin cepat. Dia berhenti di sebuah pasar ikan yang ramai, juga tidak jauh dari istana. Setidaknya baunya bisa tertutupi dengan bau amis ikan-ikan di sekitarnya.


Sebuah portal muncul tiga meter di depannya. Aizla keluar dalam keadaan loyo. Biete mengoceh di sampingnya.


"Sudah kubilang, berpindah dengan portal itu akan membuatmu ke sakitan!" ocehnya. Aizla tidak peduli. Tubuhnya sudah remuk. Lagipula tidak ada cara lain. Zenith berlari mendekat. Memeluk Aizla di tengah orang yang sibuk dengan urusannya.


"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Zenith cemas.


"Apa kita bisa istirahat sebentar?"


Zenith mengangguk. Tidak ada baiknya mereka melawan sekarang. Zenith dan Aizla memutuskan duduk di depan sebuah toko yang tutup. Aizla tidak keberatan dengan bau amis di sekitarnya. Baginya, darah lebih amis dan pekat ketimbang bau ikan.


"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"


"Menunggu Putri Aenmal datang. Jian bilang, dia akan bersedia membantu kita."


Aizla memasang wajah heran. Zenith menggeleng. Dia juga tidak tahu apa yang dipikirkan putri itu sehingga mau bekerjasama dengan Arian.


"Menurutmu, Putri itu bagaimana?" tanya Aizla penasaran. Zenith mengangkat bahu.


"Pasti lebih primitif daripada seorang Wist dan Van." Zenith tertawa kecil. Aizla pun ikut gertawa.


***


"Ayo pergi sekarang! Aku ingin kita cepat sampai!" Gueta Aenmal, Putri Mahkota kerajaan memerintahkan prajurit berkudanya berbaris.


"Putri, zaman sudah berubah. Semua orang menaiki mobil dan motor....,"


"Bodoh amat! cepat naik kuda kalian! Itu lebih anti polusi dan bentuk upaya melestarikan binatang!" Tidak ada yang bisa menolak perintahnya. Pasukannya menurut. Rombongan itu pergi dipimpin Gueta yang menunggangi kuda di barisan terdepan.


***


Racun di penjara bawah tanah Kerajaan Argio mengepul hingga keluar dari jeruji besi. Lixe, Gusion, dan Xiota menjepit hidung dan menutup mulut rapat-rapat.


Xiota memegang pundak Lixe. Kepalanya mulai pusing. Xiota terduduk. Menarik pundak Lixe dan membuatnya ikut terjatuh.


"Lakukan sesuatu!" ucap Xiota dengan dadanya yang sesak.


"Raja bayangan. Lubang hitam."


Sebuah bola besar muncul di sana. Bola itu menyerap semua gas beracun di dalam ruangan.


Dor.


Plop.


Ketiganya serempak menoleh. Meriam itu menghancurkan harapan ketiganya. Gusion menggeram sebal. Kembali menutup mulutnya.


"Kita butuh sesuatu yang bisa menghancurkan gas," Xiota memberi saran.


Xiota terbaring lemas di pangkuan Lixe. Lixe menatapnya sedih. Kemudia menyalahkan diri. Andai dia tidak berhenti. Andai dia menggunakan kesempatannya untuk menyerang Riyal dengan baik. Mereka tidak akan seperti ini, kan?


Lixe menggenggam erat tangan Xiota.


Laki-laki itu terkekeh belan. "Aku bukan orang lemah, Kawan."


Tidak. Lixe menggeleng. Memang bukan Xiota yang lemah. Selama ini yang lemah itu Lixe.


"Bulan Biru. Penurunan temperatur."


Cahaya memenuhi ruangan. Suhu di dalam sana menurun. Gas beracun mengembun menjadi butiran-butiran air.


Ketiganya serempak menutup wajah saat butiran air menghujani mereka.


"Kita bisa keluar sekarang?" tanya Lixe.


Lixe menunjuk meriam kecil yang menempel di dinding. "Bekukan."


Crack.


Meriam itu membeku. Arus listrik menyelimuti badan meriam. Tapi berkat suhu dingin di sekitar, arus listrik di sana padam. Meriam itu membeku seutuhnya.