
Dia mengerjapkan mata. Sebuah atap putih dengan lampu amat menyilaukan membuatnya sulit melihat sekitar. Perlu beberapa waktu hingga terbiasa dengan cahaya yang ada. Dia bangun dari ranjang besi. Dia melepaskan sebuah alat yang melingkar di lehernya.
"Uhuk," dia terbatuk. Meremas pegangan ujung ranjang itu sambil memegangi kepala. Kepalanya pusing. Pandangannya buram.
"Kamu baik-baik saja, Yase?" tanya seseorang dengan membawa tablet dan sibuk mencatat. Orang yang mengenakan jas lab dan bermasker itu mulai mengajukan pertanyaan.
Yase menjawabnya singkat. Apa adanya. Beberapa menit kemudian, dia dipersilahkan pulang. Dia bangkit dari ranjang itu.
Dalam perjalanan menuju pintu keluar. Ada sebuah ruangan kaca. Di dalamnya tidur seorang perempuan berwajah pucat, tubuhnya terkulai tidak bertenaga. Sebuah alat berbentuk helm menutupi kepalanya. Kabel-kabel menempel di tubuhnya.
"Sungguh malang sekali, Nona Aizla." Yase menggeleng, seorang ilmuan memasuki ruangan itu dan melihat dirinya dengan tatapan tidak nyaman. Dia pergi.
Dia memasuki bus umum. Duduk di pinggir jendela. Hanya melamun sepanjang jalan. Menikmati pemandangan pagi hari sore hari yang indah. Saat bis itu berhenti, dan orang-orang turun, dia tetap diam di tempat.
Begitu seterusnya, hingga di pemberhentian ke 7. Yase turun setelah membayar biaya bis dengan uang elektroniknya.
Yase memasuki sebuah panti asuhan. Beberapa anak berlarian ke arahnya dengan tersenyum lebar. "Kakak pulang!" seru mereka berlarian dan memeluk Yase.
"Dimana Nenek?" tanya Yase. Mereka dengan senang hati menuntun dan berjalan mengiringi Yase ke sebuah pintu kayu jati yang kokoh. Yase mengetuk pintu.
Seorang wanita paru baya membuka pintu dari dalam dengan senyum hangat. "Selamat datang Yase." Yase memeluknya. Dia menuntun nenek itu berjalan ke teras. Dimana anak-anak berlarian di sana.
Yase memberi kode. Anak-anak berhenti bermain. Mereka berkumpul bersama Sang Nenek.
Bal yang bersemayam di pikiran Yase menyaksikannya dari layar sihir. Bal duduk tenang di sana. Hatinya sesak. Tapi dia tersenyum.
Yase dan keluarga besarnya berbicara cukup banyak. Hal penting, tidak penting, bahkan semua gosip. Bal menikmati pemandangan itu dengan hati teriris pelan. "Mungkin aku tidak beruntung dalam hal keluarga," batin Bal.
"Kakak! Dua hari lagi acara ulang tahun Putri!"
"Iya! Apa Kakak tidak akan datang?"
"Kakak datang ya. Kami ingin datang bersama Kakak!"
Yase menggeleng pelan. "Kakak tidak bisa ikut."
Semua ekspresi berubah kecewa. Bal merasakan guncangan di dalam sana. Layar sihirnya bergetar. Suara dari luar sana pun terdengar tidak jelas.
Bal mencoba berkonsentrasi. Tapi dia justru mendengar suara hati Yase.
"Aku tidak akan pernah menemui Putri. Tidak akan. Seumur hidup." Suara itu nyaring sekali. Bal menutup telinganya. Keadaan di dalam pikiran Yase kacau.
"Aku harus kembali!" Bal berseru panik. Pikiran Yase benar-benar tidak stabil setelah mendengar 'putri' disebut.
"Dan datang lagi dengan tubuhku sekalian." Bal memejamkan mata. Tubuhnya diselimuti cahaya. Hilang dalam hidungan ke tiga.
***
Pukul 4.30
Di Istana Dey. Bal terbangun dari tidurnya. Matanya berputar cepat. Dia tidak melihat Zenith dan Lixe, itu berarti mereka pergi. Baguslah.
Bal beranjak dari ranjang itu. Dia membuka lemarinya, mengambil sebuah pin berbentuk lingkaran hitam. Bal menempelkannya di pergelangan lengan kanan. Jarum itu menusuk kulit logamnya yang tampak seperti kulit asli.
Pin itu memancarkan sinarnya ke depan. Sebuah portal terbuka. Bal langsung masuk. Tubuhnya menghilang dalam sepersekian detik. Tapi Zack menyadarinya.
"Mau kemana kau?" tanya Zack bertelepati pada Bal. Bal tidak bisa berbohong pada kepala sukunya. Akan sulit jika harus berurusan dengan Zack.
"Saya pergi ke Kerajaan Neland. Maaf,"
Koneksi telepati terputus. Bal menutup ruang pikirannya.
Zack yang sudah mengetahui tujuan Bal juga tidak lagi banyak khawatir dengan anak itu.
Bal muncul di belakang panti asuhan itu. Masih sepi. Belum ada satupun yang bangun. Bal berjalan santai ke depan. Dia kini berdiri di depan pintu kayu yang dilapisi sensor orang asing. Kalau Bal macam-macam, entah Bal tidak tahu apa yang akan terjadi.
Setelah berpikir lama. Tidak ada bel di sana. Akhirnya Bal mengetuk pintu. Bal bisa melihat saat nenek kemarin bersalam patah-patah hendak membuka pintu. Sebelum itu terjadi, Bal mengacak rambutnya. Juga meremas pakaiannya.
"Halo. Ada apa?" tanya Nenek sebelum melihat Bal.
Bal tiba-tiba memasang wajah melas. Membuat nenek itu merasa iba melihat pakaian dan rambut Bal yang kusut.
"Apa kamu punya orang tua, Nak?" tanyanya seraya menggandeng. tangan Bal dan mengajaknya masuk. Bal menggeleng. Itu nyata.
Saat itu, Bal melihat Yase. Yase merasa familiar dengan anak yang dibawa neneknya itu. Siapa? Lama berpikir. Lupakan saja. Dia tidak bertanya. Lalu berlalu lalang memasuki kamar nomer 1.
Nenek mendudukkan Bal di sofa sederhana nan tua. Bal duduk, dan Nenek duduk di sampingnya. "Kenapa keadaanmu bisa begini, Nak?" tanya Nenek itu kasihan. Seharusnya Bal bisa saja membuat ilusi mata untuk nenek itu. Agar baginya, Bal terlihat seperti orang yang sangat tidak beruntung. Tapi sebenarnya tidak. Tapi mungkin itu tidak akan sopan.
Bal diam. Semakin mendalami aktingnya.
"Rex," jawab Bal singkat. Tangan keriputnya mengelus lembut rambut Bal, merapikannya dengan jemari-jemari rapuhnya.
5 pintu kamar di bangunan satu lantai yang sangat luas itu terbuka. Anak-anak yatim piatu yang berada di dalam sana mengintip keluar. Sang Nenek pun memanggil mereka.
Tidak usah disuruh dua kali. Dari dalam kamar itu keluar setidaknya tiga anak. Bal menghitung, total mereka adalah 23 orang, anak-anak ataupun remaja.
Pakaian mereka sederhana. Semuanya tampak ramah dan polos. Bal bisa merasakan sedikit rasa takut pada orang asing di hati anak-anak kecil itu. "Apa aku harus menjadi seperti itu?" keluh Bal dalam hati. Astaga, itu bukan gayanya.
"Apa kau punya tempat tinggal, Nak?" Nenek itu mengangkat dagu Bal. Menatapnya lembut.
Bal mengangguk dengan wajah datar.
"Aku tinggal bersama Paman."
"Kalau begitu, dimana Pamanmu?" tanya anak seusianya tiba-tiba duduk di sampingnya. Mungkin hanya dia, anak yang tidak takut padaku. Bal melirik Yase yang duduk di barisan paling belakang. Dia cucu yang paling tua di sini.
Gawat, Bal tidak bisa membaca pikiran anak di sampingnya itu. Perempuan berambut coklat dengan beberapa rambut yang beruban dan bola matanya yang hijau. Bal sedikit panik.
'Bagaimana bisa, gadis itu punya aura kental ini. Pantas dia tidak takut.' Bal mengernyitkan dahi. seolah berpikir. Lalu mengangkat bahu dan menggeleng.
Nenek langsung memeluknya dengan tulus. Bal menikmatinya. Sudah berapa tahun sejak terakhir dia dipeluk ibunya? Kapan lagi hal seperti ini akan terjadi. Entahlah. Dia tidak mungkin minta Zenith melakukannya.
Perempuan aneh di sampingnya menepuk punggung Bal. Bal menoleh. Gadis itu tersenyum optimis walau wajah Bal terlihat suram.
"Aku akan bantu mencari pamanmu!"
"Kamu..., siapa?" tanya Bal ragu. Kali ini dia benar-benar bertanya. Untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia tidak bisa membaca nama orang yang terlihat tidak berdaya seperti itu.
"Oh. Perkenalkan, namaku Bella Neland," anak itu mengulurkan tangan. "Kamu?"
Bal menatapnya, "Neland? Keluarga Bangsawan yang dibuang? Atau bagaimana? Menyebalkan," dia mengumpat dalam hati. Bisa-bisanya kekuatannya tidak berguna bagi orang seperti itu. Bukan kesatria, bukan apa. Atau memang Bal yang belum mengenalnya.
Bukannya membalas jabatan tangannya, Bal justru menatapnya tanpa berkedip. "Anda Putri?"
Bella menggeleng keras. Raut wajahnya sedikit murung. Pertahanannya runtuh. Akhirnya Bal berhasil membaca isi pikiran Bella yang terguncang.
"Ah. Maaf. Aku Rex." Di tengah kepuasannya Bal langsung berpura-pura sedih dan menjabat tangan anak itu. Aku ini memang jahat.
"Putri ya? Aku bukan putri. Aku...., hanya darah biru yang dibuang," batin Bella berusaha menahan tangisnya.
Bal yang akting merasa bersalah menutup mata Bella dengan tangan kirinya. "Maaf. Jangan....,"
Bella menggeleng. "Aku tidak menangis. Aku paling kuat di sini," selah Bella.
"Setidak beruntung itukah dirimu?" batin Bal.
Di pikiran Bella muncul sebuah ingatan. Saat dirinya yang masih dua tahun diusir dari kerajaan bersama ratu kedua oleh seorang Permaisuri baru? Bal melirik sang nenek. Nenek itu, seorang ratu.
Bella menggenggam lembut tangan Bal yang menutupi matanya. Dia tersenyum. Kemudian menyingkirkannya.
"Ayo pergi!"
Bal mengangguk. Dia menoleh pada Nenek. Wanita paru baya itu kalau dilihat-lihat lagi, dia cantik walau wajah putihnya mulai keriput. Nenek memberi senyuman manis. Tanda mengizinkan Bal pergi bersama cucunya. Mereka berdua berlari keluar dari bangunan itu.
Tidak tinggal diam. Anak-anak yang lain ikut keluar. Mereka berlarian dan tertawa. Bal menoleh ke belakang. Ini kesempatan yang bagus baginya untuk menikmati masa kecil yang sesungguhnya. Bal tertawa bersama anak-anak yang juga tertawa di pagi yang indah.
Di sebuah gedung Neland. Seorang Putri, pewaris tunggal tahta Neland berdiri melihat keseruan anak-anak yang tertawa itu dengan rasa benci dari lantai paling atas bangunan pencakar langit. Dia Tara Neland. Pewaris segala kekayaan Neland.
"Beruntung sekali diriku," gumamnya dengan tawa kosong. "Apa aku, memang seberuntung yang mereka banyangkan?" Matanya berkaca-kaca. Dia menatap dirinya yang tidak bisa keluar dari pengawasan bodyguard yang berdiri di belakangnya di kaca.
"Seseorang, lepaskan mahkota ini dari kepalaku."
Bal menatap ke arah Tara. Meskipun dari kejauhan, Tara menangkap netra Bal.
"Matanya indah.Siapa dia?" gumam Tara langsung berbalik. Dia tidak suka ada yang melihatnya menangis.
Dia adalah Tara Neland. Gadis berambut coklat dengan netra hijau. Garis wajahnya tampak. Seorang putri tangguh yang berada di atas langit. Sayangnya, kebahagiaan ada di atas tanah, bukan di langit.
Bal tidak peduli pada anak itu. Memang apa yang perlu ia pedulikan dari kehidupan orang lain.
"Aku akan membawa penyelamat untukmu, Tara. Sepertinya dia akan dengan senang hati menyelamatkanmu," Bal melakukan telepati.
Tara membuka matanya lebar-lebar. Dia merasa sebuah wahyu turun untuknya. Matanya berbinar.
"Aku akan menantikan malaikatku."
"Lixe Van," batin Bal