AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Darah yang hilang



***


"Lihat dia! ?alang sekali."


"Dia orang yang membawa monster itu kan?"


"Kenapa tidak disingkirkan saja? Dia bisa mengundang masalah."


"Berhenti memaki Kakak! Kalian tidak tahu diri!"


Mereka menampar adikku, Lia kecil yang selalu berani membela kakaknya yang menyedihkan ini. Terimakasih, tapi aku tidak pernah bisa melindungi mu.


Sebuah kapal kayu besar berhenti di pesisir pantai Kerajaan Aenmal. Kakak beradik ini di diturunkan, lalu ditinggal begitu saja. Lean Lyde, yang dalam tubuhnya bersemayam seorang monster masa lalu. Dan Lia Lyde, gadis baik hati yang mengikuti kakaknya.


"Kau ingin memusnahkan monster dalam dirimu?" seseorang bertanya padaku tentang hal yang sudah pasti. Aku mengangguk.


"Datanglah ke kerajaan Dielus. Aku akan membuatmu berpisah dengannya."


Bodohnya, aku setujuh tanpa tahu siapa dan mengapa dia menawarkan semua itu padaku. Berpikir dia orang baik, tanpa memikirkan resiko yang akan ku terima.


Hari itu datang. Dimana First berhasil menguasai diriku. Dia sungguh menampakkan taring dan tanduknya. Aku menghabisi beberapa orang. Dengan diselimuti perasaan bersalah, akhirnya aku meninggalkan adikku. Tak peduli siksaan apa yang akan ditanggung Lia.


Aku datang ke tempat mereka mengundangku. Dia memberiku sebuah permata putih tidak tahu apa. Menyuruhku membawanya pergi. Sesuai perintah, aku pergi. Tapi nyatanya aku lagi-lagi dimanfaatkan. Hingga terlibat dalam masalah keluarga kerajaan.


***


"Apa kau tidak akan memberi tahu kisahmu pada anak itu?" tanya Era yang berdiri di samping Lean. Lean menggeleng.


"Kisahku tidak menarik untuk diceritakan."


"Ayolah. Anak itu pasti akan mendengarkannya dengan setia."


Lean berdiri. Keluar menuju salah satu balkon di kafe miliknya. Dia memandang langit mendung tanpa bintang ataupun bulan. Lean menghirup rokok elektriknya. Kepulan asap keluar dari mulutnya.


"Kalau kau ingin menemuinya, temui sendiri saja, Elen."


Era menggeleng. "Kau pamannya, kenapa aku yang harus menemuinya terlebih dahulu? Sudahlah. Kapanpun kamu mau menemuinya, aku bersedia menemanimu." Era duduk di kursi Lean tadi. Dia memejamkan mata. Menenggelamkan diri dalam mimpinya.


Lean memandang jalanan yang lengang. Sebuah truk tampak ngebut di jalan. Ukurannya yang besar dan gerakannya yang ugal-ugalan tentu membuat semua pengguna jalan resah. Beberapa kendaraan menepi. Bahkan truk itu terus berjalan saat lampu berwarna merah.


Bruak.


Drone dari catatan pemberian Arek kini berhasil diciptakan ilmuan Dielus. Drone itu berpatroli di sepanjang jalan. Dua drone yang berpatroli menangkap gerakan tidak beraturan dari truk tersebut. Mereka menyalakan lampu sorot ke arah truk tersebut. Mengikuti gerakan truk yang seperti keberatan muatan.


"Hancurkan truk itu. Lenyapkan!" Zack, yang bertugas memantau pekerjaan para drone penjaga memberi perintah pada kedua drone tersebut.


Drone-drone itu berdenyit, terbang rendah di samping kaca pintu kemudi. Mereka melihat seseorang berpakaian jas lab mengemudikan truk itu dengan susah payah.


"Orang-orang lab sialan. Nyonya Aira, dan semua. Aku membenci kalian," maki supir dengan hati ketakutan. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Tangannya terikat borgol. Rem juga tidak ada. Orang itu benar-benar mendapat paksaan untuk mengemudikan truk di malam hari.


Sang supir menoleh. Dia tersenyum melas. "Tolong aku!" pintanya pada drone yang terbang di sampingnya.


"Bawa keluar dia!" Zack memberi perintah.


Pyar.


Drone yang lain menghantam kaca depan truk hingga pecah. Keduanya memasuki truk. Drone-drone itu mengeluarkan belalainya, berusaha membebaskan tangan pengemudi itu dari borgol. Sang sopir berseru bahagia. Hingga lupa akan sesuatu yang ada di box belakang truknya.


"Kembalilah, Nona." Sebuah suara berat dari dalam box memanggil seseorang. Deru napas yang memburu, dan raungan susul menyusul terdengar hingga keluar. Tidak perlu diberi perintah. Semua pengemudi dan orang-orang yang memenuhi jalan menyingkir. Drone-drone lain terbang mengepung truk tersebut. Lampu jalan menjadi merah. Siren darurat berdering ke seluru ibu kota.


"Perasaanku tidak enak," gumam Aizla menatap kekacauan dari jendela kamar Zenith. Aizla menutup jendela dengan gorden. Berjalan mendekati Zenith yang hanya terlentang tanpa energi.


"Kamu tidak perlu khawatir." Aizla tersenyum manis, duduk di samping Zenith. Mengelus lembut rambutnya. Hingga Zenith kembali tertidur.


"Mereka datang. Nenek, tolong aku." Aizla memejamkan mata. Jiwanya keluar dari raganya. Melayang keluar, menembus jendela dan terbang bebas di luar sana. Tubuh Aizla tergeletak di samping Zenith.


"Mereka bilang, rumah adalah surga. Tapi tidak ingin kembali ke surga yang menyiksa itu." Aizla terbang mengelilingi halaman depan istana Dey. Lalu masuk. Mencari keberadaan Biete yang tidak tahu kemana. Tidak biasanya, arwa satu itu meninggalkannya sendiri.


Aizla menyusuri lorong. Tanpa ia sadari dia telah melewati Bal. Aizla tidak peduli, dia yakin tidak ada yang bisa melihatnya.


"Kakak, mencari seseorang?" Gerakan Aizla terhenti. Dia menoleh.


"Leluhur kakak, Biete tidak ada di istana ini. Dia takut pada Tuan Zack. Mungkin, juga padaku." Sesuatu menghantam dadanya. Aizla teringat pada Bal. Anak yang mengembalikan penglihatannya.


Aizla turun. Sejenak melupakan keberadaan Biete.


"Terimakasih waktu itu." Aizla membungkuk. Bal hanya mengangkat bahu.


"Itu untuk kepentinganku sendiri. Kakak mencari Biete karena menyadari kedatangan seorang tamu, bukan? Seseorang yang akan menjemput Kakak." Bal memalingkan wajah.


"Malam ini, aku menanti pilihan Kakak. Seberapa kuatnya hati Kakak, dan ketulusanmu pada Nonaku."


Aizla mencoba menelan pelan-pelan ucapan Bal. Sesuatu mendorongnya menemui Biete. Aizla terbang meninggalkan Bal dengan perasaan sebal. Dia menyakinkan dirinya. "Aku teguh pendirian. Tidak akan ada yang memperalatku lagi," ucapnya ragu dalam hati.


"Datangkan seluruh monster ciptaan Suku Abta. Aku akan melawan mereka!" Aizla berseru di lengangnya istana Dey. Tidak ada Biete. Aizla mulai mencari ke luar.


Aizla yang terbang cukup jauh dari Istana Dey terdiam. Sebuah peluru dengan mantra pengikat jiwa datang ke arahnya. Aizla menggigit bibir. Dia pergi menjauh. Tapi peluruh itu terus mengejarnya.


"Seseorang, tolong aku!" Aizla berseru panik. Sebuah portal bayangan muncul di antara Aizla dan peluru. Peluru itu hilang begitu memasuki portal bayangan yang langsung tertutup. Aizla bernapas lega. Dia menengok ke bawah. Biete berdiri di samping Gusion. Entah sejak kapan dia jadi pengikut Gusion yang setia. Aizla turun, mendarat di samping Biete.


Biete memeluk Aizla. Neneknya itu mulai mengoceh. Menanyakan banyak hal. Biete yang cerewet akhirnya kembali. Setidaknya Aizla cukup senang mengetahuinya.


Sebuah layar digital muncul dan melayang di depan Gusion. Menampilkan video Xiota yang tampak mengukir senyum bahagia.


"Kemana kau pergi? Sekumpulan Zombie menyerang lobi apartemen. Kau tidak ingin menyaksikan film aksi yang tayang perdana ini?"


"Kau dimana?"


"Ya. Aku duduk di tangga. Sedang menonton perkelahian monster-monster ini bersama para penjaga dan kesatria lainnya. Kau ingin lihat."


Video itu ganti menampilkan sekelompok zombie yang menghancurkan barang-barang di lobi apartemen. Perkelahian meledak. Beberapa anak-anak dan wanita yang terjebak di sana berteriak. Tangga ditutup. Hanya Lift dan kapsul-kapsul terbang yang berfungsi membawa orang-orang pergi dari kerumunan.


Di depan apartemen pun sudah dikepung puluhan Zombie. Drone-drone penjaga menembakkan arus listrik ke arah mereka. Beberapa tumbang, tapi beberapa malah menyerang robot yang langsung terbang menghindar itu.


"Kuharap kau jadi makanan monster-monster itu juga," celetuk Gusion menyumpahi Xiota.


Di ujung sana, Xiota terbatuk. Dia tersedak pop corn yang menemaninya menonton perkelahian di bawah sana. "Kau terlalu berlebihan, Kawan." Xiota tersenyum polos. Video call itu terputus. Xiota tidak ingin mendengar ocehan Gusion yang akan keluar dari layar di depannya.


"Maafkan aku, Tuan." Biete membungkuk di hadapan Gusion.


Gusion melipat tangan di depan dada. Dia bisa melihat Biete, tidak, Biete lah yang memperlihatkan dirinya. Tidak tahu sejak kapan arwa ini jadi hormat padanya.


Setelah menatap heran Biete beberapa saat, sebuah pegasus muncul dari langit. Mendarat di samping tuannya. Gusion menungganginya. Tidak tertarik meladeni dua arwa di depannya. Pegasus itu membawanya pergi, menuju apartemen tempat tinggalnya yang dalam bahaya.


"Aku akan melempar mu ke tengah-tengah kerumunan Zombie, Xiota," batinnya sebal.


Sedangkan satu kilo dari pusat kota. Tempat Lixe dibuang para penjaga kafe. Suasana damai seketika hancur.


"Hah. Hah. Hah. Tolong! Kumohon, berhenti!!" seorang gadis berteriak. Satu zombie mengejarnya. Teriakan gadis itu menyadarkan Lixe dari lamunannya. Dia yang sedari tadi duduk bangku pinggir jalan setelah diusir Lean, bangun. Lixe mengejar gadis itu. Langsung menebas punggung zombie yang mengejarnya.


Gadis itu menoleh. Dia mengatur napas. "Terimakasih." Dia tersenyum ramah. Rambut hitam panjang yang lurus dan matanya bercahaya. Lixe mengamati gadis itu dari atas ke bawah.


"Suku Dey?" tanyanya ragu.


Senyum di wajah gadis itu menghilang. Pikirannya melayang ke belakang. Gadis itu menggeleng, setelah teringat hinaan yang telah dia berikan pada Zenith tadi siang di dalam kafe milik Lean. Gadis pelayan kafe itu mengerutkan kening.


"Jangan mengatakannya lagi. Kepala suku itu tidak peduli pada keluarga jauhnya. Dia hanya menyayangi keluarga inti. Tidak peduli pada kami yang lemah dan berasal dari keluarga luar." Anak itu mengusap air mata yang tiba-tiba tumpa.


"Apa kau yakin?" Lixe mendekati gadis itu. Menyisakan jarak satu meter di antara mereka. Gadis itu tertunduk. Dia memalingkan wajah. Lalu kabur ke arah yang bahkan tidak dia ketahui.


"Hati-hati, di sana berbahaya!" Lixe mencoba menahan anak itu. Tapi dia tidak mendengarkannya. Gadis itu lebih dulu berbelok di pertigaan. Menghilang entah ke mana.


Lixe membuat panggilan dari layar digital yang muncul di depannya. Terhubung dengan Gusion.


"Ada apa lagi ini?" tanyanya heran dan panik.


Gusion tidak menjawab. Dia justru mengirimkan video cctv seluru kota yang menampilkan pusat ibu kota tengah di kerumuni zombie. Tidak sebanyak di kerajaan Argio, Lixe bisa sedikit tenang.


Begitu video itu berhenti dan lenyap, Lixe menoleh ke sekitar. Dia merasakan beberapa zombie di sekitarnya. Mereka datang dari pusat kota. Portal cahaya muncul di depannya, sekejap tubuhnya hilang. Muncul di hadapan kerumunan Zombie.


"Sinar bulan purnama. Dua belas sabitan bulan."


Tidak lama, kumpulan monster itu lenyap. Setidaknya tinggal membantai yang ada di pusat kota. Juga tidak membiarkan mereka keluar dari sana. Tapi, bagaimana? Kerumunan zombie lainnya bergerak menyebar.


Wuushhh.


Sebuah badai angin terbentuk di depan sana. Badai itu mengelilingi pusat kota. Menghancurkan monster-monster yang berani mendekat. Kini pusat kota terisolasi. Tidak ada yang bisa masuk dan keluar, baik jalur darat ataupun udara. Kecuali dengan portal.


Lixe berhasil melewatinya. Portal cahaya terbentuk dua meter dari badai angin. Menarik perhatian para monster yang langsung menyerbunya. Para monster berkumpul. Sebuah lingkaran cahaya yang lebih besar dari sebelumnya terbentuk. Puluhan monster tersedot gravitasi bumi. Tidak bisa bergerak dan terduduk sambil meraung dan meronta.


Lixe keluar dari portal yang lenyap sedetik kemudian. Lixe mengacungkan tangan ke depan. Diam beberapa saat.


"Cahaya bulan purnama. Sapuan putaran cahaya."


"Cahaya bulan purnama. Sapuan putaran cahaya."


Biete yang muncul di samping Lixe berbisik. Lixe mengikuti ucapannya. Nenek itu tahu banyak tentang jurus yang bahkan Lixe tidak pernah dengar sebelumnya.


Di depan Lixe, pedang cahaya terbentuk seukuran jari-jari lingkaran itu. Pedang itu menebas apapun yang menyentuhnya. Pedang itu berputar searah jarum jam. Menyapu habis monster-monster tersebut dalam sekejap.


"Faktor umur memang agak lain," gumam Lixe takjub. Biete memukul kepala Lixe. Berani-beraninya dia mengejek orang yang lebih tua.


"Akan aku tunjukkan hal-hal lain yang pernah ku saksikan dari orang-orang sebelum kamu lahir." Biete mendorong punggung Lixe. Memaksanya berlari, sedang Biete terbang di sampingnya tanpa Lixe ketahui.


"Aku titip tebus dosa padamu ya. Sampaikan maafku pada Lean." Hati Biete sesak. Untuk kesekian kalinya. Biete teringat akan bayangan enam remaja laki-laki yang tertawa bersama.


"Maaf," gumam Biete. Lixe menoleh, walau dia tidak bisa melihat Biete. Biete tersenyum, Lixe yang tidak bisa melihatnya menggeleng. Mungkin dia salah dengar. Kembali fokus pada lawannya yang sudah menunggu di depan.


Biete berseru tertahan. Hatinya lega dan bahagia. Akhirnya kata-kata itu keluar untuk Lean yang diwakilkan Lixe.