AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Lebih Baik Melupakan



Di tengah hutan yang luas, Lixe tDi tengah hutan yang luas, Lixe tersungkur. Dia sudah tidak tahan. Di akhir kesadarannya, Lixe merasakan suatu bahaya. Dia melihat seekor harimau mendekat. Lixe mengubah posisi menjadi terlentang. Dia menatap langit malam yang dirindukannya.


"Hooooaahh!"


Harimau itu meraung. Membuat angina kencang menerpa tubuh Lixe. Lixe tersenyum tipis. Dia mulai memejamkan mata. “Bunuh aku, kumohon,” gumamnya pelan.


Harimau itu melompat. Matanya yang tajam menatap Lixe. Hewan itu terlihat kelaparan. Ia bahagia, menemukan sesuatu yang lezat.


Buak.


“Hoooooooh,”


Sebelum cakarnya mendarat di tubuh Lixe, sebuah batang besar menghantam dirinya. Harimau tersebut meraung keras. Hewan-hewan kecil di sekitar sana pergi. Suasana di hutan jadi mencekam. Bukan karena harimau tersebut. Tapi Gusion yang berdiri di samping tubuh Lixe dengan diselimuti bayangan hitam.


Harimau itu berdiri. Bulu kuduknya juga berdiri, dia takut. Sayangnya hewan itu punya gengsi yang besar. Hewan itu melupakan Lixe. Biar dia habisi Gusion lebih dulu. Orang yang membuatnya ketakutan, harus dimusnahkan.


“Hoooooh!!!”


Sebuah pedang bayangan muncul di tangan kiri Gusion. Dia mengayunkannya, melukai perut sang harimau yang


melompat melewatinya. Harimau itu mendarat di belakang Gusion. Kakinya tidak bisa di tegakkan. Sebuah bayangan menempel pada luka di perutnya. Bayanngan itu berubah menjadi tali yang melilit tubuhnya.


“Hooooh!”


Ia menjerit kesakitan. Matanya yang tajam menjadi sayu. Harimau tersebut menangis. Gusion menghampirinya. Bayangan yang menyelimuti tubuhnya menghilang. Harimau memejamkan mata sembari berusaha menyembunyikan wajahnya di tanah saat Gusion mengelus lembut kepalanya.


“Maaf. Maafkan aku.” Gusion berjongkok, lalu menempelkan kepalanya ke kepala harimau. Dia memeluk lehernya.


Gusion tertidur dengan bersandar pada tubuh hewan buas tersebut. Luka di perut hewan itu perlahan pulih. Bayangan yang melilit tubuhnya membuat kemampuan regenerasi-nya lebih cepat. Kenyamanan muncul di hati hewan tersebut. Mendadak perutnya kenyang. Dia pun tertidur.


Keesokan paginya….


 Lixe bangun dengan badan yang segar. Dia melihat tangannya. Bayangan hitam menyelimuti tubuhnya. Bayangan itu menyembuhkan luka dalam tubuhnya. Tapi dia tahu persis itu milik siapa. Wajah teman-temannya kembali muncul. Lixe tersenyum saat mengingat Gusion. Dua detik kemudian, perasaan itu digantikan rasa kecewa dan marah.


"Kau tidak menerima permintaan maafku?" tanya Gusion yang sudah duduk di sampingnya tanpa Lixe sadari.


Lixe menoleh.Bibirnya bergeming. Dia sedang berpikir apa yang sebaiknya dia katakan. Lixe duduk. Dia menutup mulutnya, berusaha menahan batuk yang menyakitkan di dada. Dia menatap Gusion.


"Bisakah kita melupakan yang telah terjadi?" tanya anak itu dengan wajah tanpa dosa. Lixe menggigit bibir. Mana bisa dia lakukan. Seenaknya saja. Lixe menggeleng keras.


Lixe melirik seekor harimau yang tidur di belakang Gusion. Dia mengingat binatang yang hampir membunuhnya kemarin. Dia mengamati hewan tersebut. Lalu menatap Gusion.


"Apa kau yang menyelamatkanku?" tanyanya sinis.


Gusion mengabaikannya. Dia berbalik. Merangkak menuju sang harimau, lalu mengusap lembut kepalanya. Harimau itu mengerjapkan mata. Pemandangan pertama yang dia lihat pertama kali hari ini adalah Gusion. Harimau itu berdiri dengan keempat kakinya yang kembali kuat dalam semalam.


Harimau itu menunduk. Membiarkan Gusion mengelus kepalanya untuk terakhir kalinya. Lalu pergi jauh dari tempat itu.


"Kau pecinta binatang?" tebak Lixe. Dia merangkak mendekati Gusion. Malas berjalan. Dia duduk di samping Gusion yang terlihat sedih melepas harimau itu. Lixe melirik Gusion hingga beberapa saat. Dia akhirnya membaringkan tubuh.


Butuh waktu cukup lama hingga Lixe mengantuk. Gusion mengangguk. Dia menoleh. Wajah itu meminta jawaban dari pertanyaannya. Berharap Lixe melupakan kejahatannya. Lixe tidak ada pilihan. Dia tidak sanggup membenci Gusion. Bagaimanapun dialah yang menyelamatkannya.


"Ayo kita berteman dengan benar." Lixe mengulurkan tangan. Gusion menerimanya dengan senang hati. Sejak hari itu, Gusion merasakan sebuah kekuatan gelap bersemayam di tubuh Lixe. Lixe pun merasakan sakit di tubuhnya.


Satu tahun kemudian, Lixe dan Gusion akhirnya ditemukan pasukan Arian. Keduanya berlari memasuki hutan. Dengan tubuh Lixe yang tidak sekuat sebelumnya, dia pingsan di tengah jalan.


Gusion menggendongnya hingga sampai di lembah kematian. Gusion menepuk pipi Lixe. Temannya itu bangun. Namun dari tubuhnya sebuah bayangan hitam keluar. Bayangan itu terbang ke arah pasukan Arian.


"Bayangan dari rubik memori?" gumam Gusion. Dia menatap Lixe.


"Siapa kau? Aku dimana? Aku akan mati. Pergi!" Lixe berseru. Ingatannya tentang Gusion, juga teman-temannya yang lain menghilang.


Gusion tersenyum. "Bagus sekali. Bayangan satu tahun lalu nyatanya masih berdiam dalam dirinya. Sekarang ingatannya hilang. Tidak ada lagi yang mengingat penghianatan ku, selain aku dan Raja."


"Selamat tinggal Lixe. Saat kita bertemu, lupakan diriku yang dulu."


Gusion membuat sebuah portal bayangan. Dia memasukkan Lixe ke dalamnya. Portal itu terhubung dengan tempat sempit di bawah tumpukan puing-puing tebing kematian. Gusion berbalik. Arian sudah menungguinya satu meter di belakang bersama para pengawalnya.


Bayangan hitam menyelimuti dirinya. Seluruh tubuhnya sakit. Kepalanya pusing. Gusion ambruk. Tapi sebuah perasaan menentramkan muncul di sana. Seakan bertemu orang yang sudah lama menantinya.


"Kemari lah, Nak! Tuan Wisteria menunggumu."


Whush.


Angin tornado berhembus. Menerbangkan pasukan Arian. Hebatnya, orang-orang itu tidak berteriak. Mereka memang dilatih untuk tetap tenang apapun yang terjadi.


Arian menoleh. Ague berdiri tak jauh darinya. Semua ini ulahnya. Arian tidak berniat menyerang, cukup menunggu. Saat tornado itu menghilang. Arian menatap para pengawalnya. Dia pergi tanpa perlawanan.


"Aku tidak sedang ada urasan denganmu. Jangan bermain-main, Ague," ucapnya saat berpapasan dengan Ague.


Ague memutar bola mata malas. Membiarkan rombongan tidak jelas itu pergi. Sebelum pergi, dia tertarik dengan anak yang duduk dengan mata tertutup. Dia ingat anak yang dia temui satu tahun lalu.


"Kau tidak papa?" tanya saat berdiri di depan Gusion. Gusion mengangguk. Dia membuka mata.


"Saya mohon, bawa saya. Saya tidak akan mengecewakan Anda," ucap Gusion seolah tak terjadi apa-apa. Dia kembali pada keadaan empat tahun yang lalu. Saat dia juga mengatakan hal yang sama kepada Arian. Kemudian berakhir menjadi orang jahat.


Ague mengangguk. Mungkin akan sedikit merepotkan. Tapi baiklah. Ague tidak keberatan. Dia membawa Gusion bersamanya. Berpetualang tanpa tahu arah. Sejak saat itu, hidupnya kembali tenang tanpa ingatan- ingatan yang menyiksa.


***


"Aaah!" Aizla berseru histeris. Singa milik Gueta berlari ke arahnya. Aizla tidak sempat menghindar. Dia membuka matanya lebar-lebar.


Zenith yang berdiri tiga meter darinya menatap kosong. Dia ingat kebenciannya pada Aizla. Sumpah yang dia ucapkan. Perbuatan jahat yang telah ia lakukan. Zenith mengepalkan tangan.


"Aku membencimu!"


Zenith berlari. Memukul pelipis singa yang melompat. Membuat singa itu terpental lima meter ke samping. Wajah Zenith menjadi suram hatinya bimbang. Dia ingin membiarkan Aizla mati, tapi juga tidak sanggup membiarkannya mati.


"Maaf," gumam Aizla pelan. Dia berdiri. Berlutut di belakang Zenith. "Apa kita bisa mengulang semuanya dari awal?"


***


Roy'ah memukul wajah Lixe. Lixe menghindar. Balas menyikut dadanya. Roy'ah sempat membaca gerakan itu. Dia melangkah mundur. Lalu kembali mengayunkan kaki, hendak menendang dari samping.


Lixe menjatuhkan diri. Menyilangkan kaki kiri. Roy'ah bersalto ke belakang. Lixe hendak mendorongnya dengan kedua tangan terangkat ke depan. Roy'ah menerimanya. Sekarang mereka beradu kekuatan. Saling meremas tangan lawan dan mendorong.


Tanpa ada yang mengganggu keduanya. Tentu saja. Mereka sedang dalam kebimbangan. Xiota melirik Gusion soalah ingin membunuhnya. Riyal menatap Xiota, orang yang ingin dia bunuh ternyata adik kandungnya. Dan Gusion, "Apa aku berhak ada di antara mereka?"


"Apa yang kalian lakukan?! Lupakan semuanya! Lupakan! Kalian bukan budak masa lalu. Sadarlah siapa kalian sekarang!" Xiota berseru. Bukan, jiwa Biete merasuki tubuhnya.


"Ukh!"


Gusion menyibak dagu Roy'ah. Lixe tersentak satu langkah ke depan. Pegangan Roy'ah lepas. Setelah menerima serang dadakan itu, Roy'ah menoleh. Dia berdecak.


Xiota sudah menyingkirkan Biete dari tubuhnya. Dia menggandeng tangan Riyal. Menyeretnya maju mendekati sang musuh.


"Empat lawan satu? Tidakkah akan lebih seru kalau pertandingannya satu lawan satu?"


Gueta menghentikan gerakan kelima laki-laki di sana. Gueta yang duduk dengan santai di bingkai jendela tersenyum saat jadi pusat perhatian.


"Mari adakan pertandingan satu lawan satu."


Riyal hendak membantah. Dia melotot dan menggeleng. Tapi sebelum angkat bicara, Gusion menepuk punggungnya.


"Aku yang akan melawannya," kata Gusion yakin.


Xiota mengangguk. Dia pikir, penjahat ini memang harus menebus kesalahannya. Setidaknya, harus memastikan apakah dia benar-benar sudah berubah atau hanya pura-pura.


Jiwa Lixe menggeleng. Tapi First setuju dengan itu. "Tenang, Lix. Gadis itu merencanakan sesuatu." ucap jiwa First di alam bawah sadar Lixe.


"Sesuai rencana, Tuan Wist." Gueta tersenyum lebar.