AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Sepenggal memori



Lixe jatuh pingsan di atas atap mobil Anita. Anita berlari, menurunkan tubuh anak itu dan membawanya masuk ke dalam mobil. Xiota melihatnya. Dia mengatupkan rahang. Berpikir seseorang mencuri Lixe.


"Hentikan!" Xiota berseru histeris. Dia berlari. Tangannya mengepal, bersiap meninju Anita.


Buak.


Zenith lebih dulu meninju wajahnya. Xiota terjatuh. Dia memegangi pipinya. Dia meludah. Darah keluar dari mulutnya. Zenith dan Anita sama-sama kaget. Beberapa saat kemudian, Xiota seperti berkumur. Satu gigi susunya keluar.


"Fiuh." Anita bernapas lega. Dia pikir anak itu sudah terluka sangat para. Untungnya hanya gigi susu yang patah.


Zenith berjongkok di sampingnya. Dia membantu Xiota berdiri. Zenith hendak minta maaf, tapi Xiota lebih dulu memalingkan wajah sambil menghembuskan napas kasar.


"Kamu mau ikut juga? Ayo!" Anita menawarkan tumpangan pada Xiota.


Xiota berpikir terlebih dahulu. Dia tidak percaya pada orang-orang ini. Tapi baiklah. Dia tidak bisa meninggalkan Lixe bersama orang-orang seperti mereka sendiri.


"Seperti kami? Maksudnya?" batin Zenith yang membaca isi pikiran Xiota yang begitu ambigu baginya.


Anita menepuk jidat. Dia tidak menyangka bahwa anak dengan tampang o'on itu licik juga.


Xiota berjalan memasuki mobil. Dia duduk atas Lixe yang berbaring tak sadarkan diri. Anita dan Zenith sudah memasang sabuk pengaman.


"Huh!" Anita mendengus sebal. Akibat kehadiran dua anak itu membiatnya tidak bisa kebut-kebutan. Mobil itu jadi bergerak sangat pelan, versi Anita. Dia menguap beberapa kali. "Membosankan."


Anita melirik Zenith. Gadis itu nyalinya cukup besar. Mentang-mentang laju mobil tidak secepat biasanya, Zenith melepas sabuk pengaman. Dia berdiri dengan lutut menghadap ke belakang. Zenith memperhatikan Lixe yang perlahan membuka mata.


"Dia hebat," batinnya. Tidak bisa disangkal. Zenith mengagumi Lixe pada pandangan pertama pada masa kecilnya.


Anita jadi lebih hati-hati. Dia hendak melarang putrinya, tapi Zenith cukup keras kepala. Anita tidak ingin membuat keributan lain di jalan. Dia melirik kaca spion. Sebuah robot berbentuk mobil kecil melaju di sampingnya. Itu mobil keamanan.


"Hah! Robot menyebalkan," gerutunya dalam hati. Dari dalam robot tersebut keluar sebuah kamera. Anita buru-buru menoleh ke depan. Dia tidak ingin tertangkap kamera setelah melaksanakan aksi balapan tanpa lawan.


Setibanya di kediaman Harito...


Anita menggendong Lixe yang tidak bisa berdiri akibat kepalanya yang berputar 360 derajat. Tiga orang itu memasuki pintu. Anita diam, berpikir harus menaruh anak ini di mana.


"Biarkan dia berbaring di kamarku saja, ibu!" Zenith memberi saran. Anita menoleh dengan mata membulat. Tidak setuju.


"Kasur di sana luas bukan." Zenith bersikukuh.


"Tidak!" Menggeleng.


Zenith memohon. Anita tidak sanggup menolaknya. Toh, tidak terpikir tempat lain. Kalau dia menaruh Lixe di kamar tamu, lalu kakaknya yang ketua polisi keamanan tahu tentang permuatannya. Ah sudahlah. Anita terpaksa menyetujui saran Zenith.


Lixe duduk dengan tubuh berayun seperti baling-baling. Zenith yang duduk di depannya memiringkan kepala. Perban sudah dia pasang di kepala Lixe.


"Apa perbannya kurang kenceng ya?" pikir Zenith. Dia berdiri. Duduk di belakang Lixe.


"Aaaaahh!" Lixe berseru kesakitan saat Zenith menali perban di pelanya dengan sangat erat. Xiota melihatnya meringis ngilu. Zenith memasang wajah tanpa dosa saat Lixe menoleh ke arahnya dengan wajah memohon.


Sorenya. Saat Anita tidak ada, Xiota mengajak Lixe kembali. Zenith mengikuti Lixe. Lixe tidak berniat menghalanginya. Tiga anak itu berjalan mengendus-endus keluar dari kediaman Harito yang cukup luas. Tidak lebih luas dari istana Dey, menurut Zenith.


Xiota mengajak mereka ke area konstruksi Suku Abta. Aizla sudah berdiri di sana. Menyambut ketiganya. Tapi ada yang aneh. Sepasang sayap dan tanduknya menghilang. Lixe dan Xiota menatapnya tidak percaya. Mereka berhenti dua meter di depan Aizla.


Zenith melangkah lebih dekat. Dia mengamati wajah gadis yang lebih pendek darinya lima senti. Wajah Zenith tanpa ekspresi. Dia melayangkan tamparan di wajah Aizla.


Plak.


Aizla membulatkan mata. Tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Zenith. Aizla balas menampar. Dalam sekejap permusuhan terjadi di antara keduanya. Zenith dan Anita saling jambak.


Lixe tidak paham. Dia menoleh pada Xen'ah yang baru sampai dengan sebuah kotak bekal di tangan. Wajahnya ceria. Anak itu tidak pernah murung.


Kotak bekal itu tak kunjung dibuka. Mereka bercanda. Aizla dan Zenith beberapa kali cekcok tidak jelas. Masing-masing membanggakan suku. Saling merendahkan.


"Aku akan mengalahkan mu di pertandingan adu kekuatan antar negara tahun ini!" Aizla berseru sebal.


"Orang lemah yang hanya mengandalkan kekuatan warisan keluarga. Bisa apa?!"


"Bilang saja kau iri karena tidak mewarisi kekuatan apapun dari orang tuamu!"


"Aku tidak butuh!"


"Sudahlah. Kalian sama-sama hebat. Kenapa kalian saling merendahkan dan membanggakan diri?! Lalu apa yang kalian, para orang-orang kuat pikirkan tentang kami yang hanya rakyat biasa?!" tanya Xen'ah. Dia tersenyum, kalimatnya berhasil menyumpal mulut kedua gadis tersebut.


"Tapi, Kak. Ayah kan panglima divisi...," celetuk Xiota.


"Apa kau bisa bertarung?" Xen'ah memotong ucapannya. Ayah mereka tidak pernah mengajarkan mereka bertarung. Lebih tepatnya, mereka dilarang bertarung. Ayahnya bilang, cukup dia yang hidup di jalan berdarah. Jangan dua putranya juga.


"Kalian sudah selesai membuat keributan?" Gusion membubarkan perkelahian anak-anak di malam hari.


Sudah pukul sepuluh. Tapi anak-anak ini malah keluyuran. Mereka masih terlalu kecil untuk tawuran. Gusion hendak mengusir mereka. Tapi Lixe mengangkat tangannya.


"Kami sudah menunggumu!" ucapnya.


Gusion heran. Menatap yang lain. Aizla dan Zenith tidak tahu menahu. Tapi Xiota menarik tangannya. Mengajaknya duduk. Yang lain ikut duduk melingkar. Xiota menatap wadah bekal di tangan Xen'ah tidak sabaran.


Lima belas roti favoritnya. Masing-masing dapat dua. Gusion menerimanya dengan ragu. Begitupun dengan Zenith. Tapi dia melupakan gengsinya gara-gara Aizla merebut dua roti yang terus ia tatap.


"Mudah sekali merebut sesuatu darimu. Dasar, lem..," ejek Aizla.


Zenith menyahut rotinya. Langsung memakannya masing-masing dalam empat gigitan. Sekarang Zenith mengincar satu roti yang tersisa di tangan Aizla. Aizla berdiri. Dia berlari sembari memakannya perlahan. Zenith mengejarnya. Dia bertekad akan mengambilnya dari Aizla.


Setelah menghabiskan rotinya. Aizla kembali duduk di samping Xiota. Zenith berdiri mematung.


"Duduklah di sampingku," tawar Lixe. Zenith memang ingin duduk di samping Lixe. Tapi bukan samping Aizla.


Zenith mendengus. Dia menggeser Lixe ke kiri. Menyisakan ruangan yang cukup untuknya duduk di antara Lixe dan Gusion. Aizla memutar bola matanya. Lixe menyenggol bahunya.


Tiga roti yang tersisa menjadi incara Xiota. Xen'ah menggeleng. Xiota harus menahan diri. Xen'ah mengambil satu, dia membelanya menjadi dua. Dan membaginya pada Xiota.


Lixe mengikutinya. Membaginya dengan Gusion. Gusion tidak bisa berbohong kalau dia masih lapar. Lagipula roti itu punya rasa yang nikmat. Tidak akan dia sia-siakan. Gusion menerimanya setelah mengatakan terimakasih.


Tinggal satu. Zenith dan Aizla saling tatap. Berbagi roti. Mereka kompak memalingkan wajah. Lixe menyerah, dia mengambil roti tersebut. Aizla dan Zenith berusaha tidak menginginkannya.


Lixe membelanya menjadi dua. Jiwa Aizla dan Zenith meronta. Lixe mengulurkan dua bagian itu masing-masing pada Aizla dan Zenith. Keduanya menerima setelah drama sok cueknya.


Selama tiga tahun, Zenith jadi lebih sering berkunjung ke rumah pamannya. Beberapa kali berbohong dan berangkat sendiri saat Lixe membukakan portal bayangan untuknya.


Hingga akhirnya laboratorium Suku Abta resmi dibuka. Hubungan mereka jadi semakin baik.


Hingga sebuah kabar duka datang di keluarga Kakak beradik itu. Ayah mereka meninggal. Ibunya terpaksa bekerja sebagai pelayan. Namun suatu hari dia tak kunjung pulang.


Xen'ah yang khawatir pergi tanpa sepengetahuan adiknya ke istana. Lixe mencegahnya. Lixe menarik tangan Xen'ah saat dia keluar dari ambang pintu.


Malam itu, di depan rumahnya tiga mobil menjemputnya. Xen'ah mendorong Lixe. Dia ikut dengan orang-orang itu.


"Xen'ah!" seru Lixe membuat Xiota terbangun.


Xiota menengok ke luar jendela. Tidak lagi melihat kakaknya. Hanya tiga mobil kerajaan yang pergi dari rumahnya.


"Kakak?" Matanya berkaca-kaca. Isakan tangis terdengar.


Lixe menoleh ke atas. Dia membuka portal yang membawanya ke kamar Xiota. Lixe memeluk Xiota. Membiarkan anak itu menangis tanpa suara di balik pundaknya.