AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Yang pertama kali



"Uhuk." Lixe memuntahkan air dalam perutnya saat malaikat kecilnya menekan perutnya. Butuh waktu lama hingga Lixe tersadar. Anak laki-laki yang duduk di atasnya tak berhenti menekan perut Lixe.


Kelopak mata Lixe bergerak. Anak itu berhenti. Dia berdiri.


Lixe menarik napas perlahan. Lalu membuangnya. Dia mulai membuka mata.


"Siapa kamu?" tanya Lixe berusaha duduk. Dia memijat keningnya. Pandangannya masih berkunang-kunang. Anak itu sudah meninggalkannya. Sungguh anak yang cuek.


Lixe berdiri, berusaha mengejarnya. Namun kakinya yang masih lemas membuatnya ambruk. Anak laki-laki itu tidak peduli.


"Kamu tidak perlu tahu. Karena kita tidak akan bertemu lagi."


Lixe mengepalkan tangan, berusaha menguatkan diri. "Siapa yang tahu masa depan. Bagaimana kalau suatu hari kita bertemu lagi? Mungkin juga kita jadi sahabat sampai akhir hayat, bukan?"


Langkah anak itu berhenti. "Ngelantur."


Lixe menyengir. Benar juga, mungkin dirinya sudah mulai kehilangan akal.


Beberapa saat kemudian, mungkin sudah berjam-jam. Lixe masih terkulai tak berdaya di tepi sungai. Ditambah, perutnya bersuara keras. Lixe menyengir. "Aku sungguh akan mati," gumamnya. Lixe tertawa konyol.


"Kenapa kau sangat mudah mengatakan kata mati?" tanya anak lain. Tidak tahu sejak kapan dia di dekatnya. Anak itu duduk. Dia membuka kotak bekal di tangannya. Mengambil roti di dalamnya. Lalu menyuapkannya ke mulut Lixe.


Tak peduli apapun, Lixe menggigit roti tersebut. Enak, dia segera menghabiskan roti di tangan anak itu. Lalu Lixe duduk. Dia mengusap mulutnya.


"Kalau kau mau, makan semuanya." Anak itu menyodorkan kotak bekalnya. Tiga roti yang sama ada di sana. Lixe tergoda untuk melahapnya. Namun dia menatap anak tersebut.


"Kau yakin?"


"Yakin." Anak itu mengangguk. "Di rumahku masih ada banyak. Kamu mau ikut ke rumahku juga?" tawarnya.


Lixe terdiam. Mana bisa dia ikut ke rumah seseorang yang tidak dia kenal. Bukan masalah kalau dia penjahat. Tapi Lixe agak sungkan terhadap keluarga anak ini. Lixe tersenyum kecut. Dia menggaruk kepala.


"Tidak perlu sungkan. Kami tidak akan keberatan dengan keberadaanmu di rumah kami. Toh, ibu dan adikku akan menyambutmu bahagia. Ayo!" Anak itu mengulurkan tangannya.


Lixe menunduk. Dia menerima jabatan tangan anak tersebut. Anak itu berdiri, juga membantu Lixe berdiri. Keduanya berjalan beriringan. Langkah anak itu lebih pelan dari biasanya. Sehingga dia harus berkali-kali menyesuaikan langkahnya dengan langkah Lixe.


"Hei! Maaf kalau aku tidak bisa mengikuti langkahmu," ucap Lixe sungkan sambil kepala tertunduk.


"Xen'ah. Panggil aku dengan namaku. Kamu?"


"Lixe."


Sesampainya di sebuah gedung besar, langkah Xen'ah berhenti. Lixe menatap kagum bangunan di depan matanya. Dia lalu menatap sekitarnya. Mobil-mobil yang belum pernah iya temui. Juga robot-robot pengatur jalan. Ini sungguh pertama kalinya bagi Lixe menyaksikan semua ini.


Xen'ah menarik tangannya. Mengajak Lixe memasuki bangunan itu.


Begitu masuk, seorang anak yang lebih kecil dari Xen'a keluar menyambut keduanya. Tidak anak itu hanya menyambut Xen'ah. Dia menatap Lixe dengan heran. Lalu melirik kakaknya.


"Siapa ini Kak?"


Xen'ah menyikut lengan Lixe. Lixe berusaha menangani kegugupannya. Memberanikan diri untuk memperkenalkan diri. Belum sempat ia menyebutkan namanya. Anak di depannya sudah berlari ke depannya.


"Xiota. Semoga kita bisa bersama..,"


Xen'ah tertawa gelak. Adiknya itu terdengar begitu konyol. Lixe tersenyum. Masih sungkan dengan teman barunya.


Lixe menjulurkan tangan. "Lixe."


Xiota tersenyum. Menjabat tangan Xiota.


Setelah saat itu, Lixe tinggal di rumah kakak beradik ini.


Suatu hari, Lixe berjalan santai. Dia berharap menemukan sesuatu saat kakak beradik itu sekolah. Dia ingin ikut, Xiota kecil sudah memaksa ibunya untuk menyekolahkan Lixe. Sayangnya Lixe cukup punya malu sehingga menolaknya.


Tanpa dia sadari, Lixe menabrak seseorang. Orang itu memegangi tubuhnya yang hampir terhempas ke belakang. Ah, Lixe ingat anak ini. Malaikat mautnya.


"Kita bertemu lagi!" serunya membuat beberapa orang menoleh sejenak. Tapi kesibukan mereka membuat mereka mengabaikan urusan orang lain, terlebih lagi urusan anak-anak. Sungguh tidak penting.


"Namaku, Lixe." Lixe melangkah mundur. Sedikit risih dengan jaraknya terlalu dekat. "Sebagai salah satu etika, kau harus balas memperkenalkan diri, bukan?"


Anak itu menggeleng. Masih bersi keras tidak ingin memperkenalkan dirinya. Dia memutar balik arah. Lixe mengejarnya. Lixe terus mengikutinya selama dua jam kemudian. Anak itu melirik risih.


Akhirnya langkahnya berhenti. "Gusion." Anak itu menoleh. Lixe tersenyum penuh kemenangan. Dia berseru bahagia.


"Berhenti mengikutiku!" bentaknya. Lixe terdiam. Dia membiarkan Gusion meninggalkannya. Lixe menghembuskan napas pasrah. Ini sudah jam pulang sekolah. Xiota dan Xen'ah pasti sudah pulang. Lixe memutuskan kembali ke rumah kedua kakak beradik itu.


Sore harinya, kedua temannya mengajak Lixe pergi jalan-jalan tanpa tujuan. Mereka melewati laboratorium baru milik Suku Abta yang baru dalam tahap pembangunan. Mata Lixe jatuh pada seorang anak yang menjadi salah satu pekerja di sana. "Gusion?"


Lixe berhenti. Membuat kedua anak yang lain berhenti. Xen'ah cukup peka dengan ekspresi Lixe yang tiba-tiba sedih saat melihat anak seumuran mereka menjadi pekerja kasar.


Anak itu tampak kuat di antara kumpulan orang dewasa dengan tubuh lebih besar. Mereka memandang anak itu hebat, tapi juga kasihan.


Gusion merasa diamati. Dia melirik ke tempat tiga anak itu berdiri. Lalu mengabaikannya dan kembali bekerja.


Hingga pukul sepuluh malam. Gusion baru selesai dengan pekerjaannya. Dia keluar dari area konstruksi, tiga anak yang dari tadi mengawasinya ternyata masih berada di sana. Ketiganya duduk dengan mata berat. Mereka menatap Gusion dengan tatapan sayu.


Xen'ah menutup mulutnya yang menguap. Dia mendengus. Menyenggol kedua orang di kanan kirinya yang menjadikan pundaknya sandaran kepala.


Lixe dan Xiota bangun. Mereka memperperhatikan Gusion yang cuek. Anak kecil yang lebih cepat dewasa itu tidak peduli. Tubuhnya lelah. Keringatnya yang mendingin membasahi tubuh.


"Tunggu!" suara melengking dari seorang anak perempuan berkacamata menghentikan Gusion. Anak perempuan itu berlari dari area konstruksi. Anehnya, sepasang sayap dan tanduk tertempel ditubuhnya. Anak itu menyerahkan sebuah kotak makanan. Gusion hanya menatapnya.


"Terimakasih telah menolongku." Gadis itu menundukkan kepala.


"Anda tidak seharusnya menundukkan kepala kepada seseorang seperti saya." Gusion menggeleng. Dia tidak bisa menerimanya.


Bibir gadis itu bergeming. Matanya mulai berkaca-kaca. Gusion sungguh tidak suka bagian ini. Dia menerima kotak makanan pemberian anak itu. "Asal dia bahagia." Gusion melanjutkan perjalanan malamnya.


Lixe menghampiri anak tersebut. Anak itu menoleh.


"Aizla Abta." Gadis itu tersenyum manis.


Malam itu Lixe mempunyai dua teman baru. Ya walau dua-duanya sama-sama aneh. Gusion yang tidak seperti anak-anak lainnya. Juga Aizla, monster yang tidak pernah menunjukkan dirinya saat siang hari. Gadis itu hanya bisa bermain saat senja tiba.


Dan yang terakhir....


Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju di jalanan. Seorang ibu muda dengan anaknya yang masih kecil duduk di kursi penumpang di sampingnya, mengemudikan mobil layaknya di lintas balapan.


Lampu jalan berubah menjadi merah, tapi mobil itu lebih dulu keluar dari area lampu merah.


"Kau suka, Zen?" tanya wanita itu pada anaknya. Zenith di sampingnya sedikit pucat. Tapi dia sudah terbiasa dengan gaya mengemudi ibunya yang tidak kalah dari pembalap kelas atas. Zenith mengangguk.


Anita tertawa. Dia menginjak gas. Mobil itu melaju dengan kecepatan maksimal.


"Ibu!" panggil Zenith.


Anita melirik putrinya. Luput dari apa yang ada di depannya.


"Awas!" Zenith berseru panik. Anita menatap ke depan. Lixe berjalan dengan santai di trotoar jalan. Hanya dia di sana. Pikirannya melayang entah kemana. Tanpa dia sadari.


Brak.


Ciiit.


Tubuh Lixe terpental sepuluh meter. Anita dan Zenith turun dari mobil. Mereka harap anak itu baik-baik saja. Lixe belum mendarat di jalan aspal. Cahaya menyelimuti tubuhnya. Dia menghilang.


"Besok-besok, lebih hati-hati ya," ucap Lixe. Anak itu berhasil berteleportasi di atas atap mobil putih Anita.


Zenith menatapnya kagum. Sedang Anita berseru meminta maaf. Mulai mengoceh menanyakan kondisi Lixe.


Lixe tersenyum. Darah keluar dari kening sebelah kanan.