AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Perpecahan



"Di mana kau! Zaaack!!"


Anita berseru. Firasatnya buruk. Mobilnya pun hilang dari parkiran.


"Zenith juga tidak ada, anak itu pasti mencuri mobilku," gumam Aizlamemijat dahinya.


Seorang wanita berlarimenghampirinya dengan wajah cemas. Dia menanyakan keadaan Anita. Tapi Anita menghiraukannya.


"Dimana Tuan Zack?" tanya Anita cemas. Yang ditanyai menggeleng. Anita berseru tertahan.


Tiba-tiba pintu terbuka. Motor Ague memasuki istana Dey. Dia sambut heboh oleh Anita. Anita merentangkan tangan kirinya di depan jalur Ague.


"Ekh."


Anita menangkap lehernya. Membuat motornya lepas dari Ague. Motor itu ngepod dan jatuh. Ague dilempar Anita tanpa ampun ke lantai. Dia mengaduh kesakitan. Mengelus punggungnya yang sakit hampir mati rasa.


Kretek. Anita meremas jemari. Wajahnya tampak galak. Ague langsung berdiri panik.


"Kak Zack bilang Kakak butuh sesuatu. Dia sedang di Kerajaan Roila. Lalu menyuruhku datang ke sini."


Anita menatap datar.


"Sungguh. Tidak ada niat lain!"


Anita mengangguk percaya. Dia menunduk. "Maaf. Dan tolong selamatkan Zenith di Kerajaan Argio. Aku meminta tolong padamu."


"Kalau aku berhasil, aku boleh kencan dengan...,"


"Enyahlah dalam hitungan ketiga!"


"Satu! Dua!"


Ague berlari menghampiri motornya. Langsung keluar pergi tanpa salam ataupun mendapat salam. Pasangan suami-isteri itu memang merepotkan sekaligus kejam.


***


Di dalam laboratorium...


Aizla mengangkat kepalanya. Saat Arian hendak mencekik Gusion dari tempatnya. Aizla melempar asap darah ke arahnya. Asap itu tidak bisa ia kendalikan. Tepat mengenai wajahnya. Menghalangi pandangannya beberapa saat.


"Cepat pergi!!" seru Aizla.


"Aaaah!" Aizla menjerit. Sebuah tombak entah datang dari mana tiba-tiba menusuk perutnya. Darah segar keluar dari sana. Aizla merasa kesakitan, tapi daya tahannya memang tidak main-main.


Aizla mencabut benda itu. Lukanya mulai sembuh dengan cepat. Asal tidak terkena cahaya bulan purnama, dia tidak akan mati dengan muda. Sayangnya bukan untuk melukainya.


Tombak itu menghilang, berubah menjadi benang yang melilit tubuhnya. Benar itu lalu menghilang. Tubuh Aizla kini sepenuhnya ada dalam kendali Arian walau kesadarannya sepenuhnya pulih.


Aizla terbang menghampiri Xiota. Menembakkan dua bola asap darah pada anak kecil yang tak tahu cara bertarung.


Xiota hanya diam. Mematung ketakutan. Dia tidak bisa berbuat apapun. Kedua bola darah menghantam tubuhnya. Asap itu meresap ke pori-pori tubuh. Xiota menggigit bibir. Anak itu bersikeras menahan rasa sakit yang dialaminya. Tetap berdiri dengan kedua kakinya.


Mata Aizla berkaca-kaca. Tapi tangannya tidak mau menuruti keinginannya. Kini Aizla mendarat tepat di depannya. Dengan kukunya yang tajam Aizla hendak menusuk perut Xiota.


Zenith berseru. Dia berlari. Juga Lixe yang berusaha menyelamatkan Xiota. Gusion menatap keduanya bergantian.


Gusion berlari menghampiri Lixe. Dia menangkap tubuh Lixe. Mendorongnya hingga menghantam tubuh seorang penjaga yang tak sadarkan diri. Gusion melirik Zenith. Dia berlari lebih cepat. Bersiap menendang kepala Zenith yang tak mungkin menghindar ataupun menangkisnya. Zenith memejamkan mata. Gerakan Gusion terhenti. Zenith membuka mata. Melirik Arian. Benar saja, Arian menghentikan gerakan Gusion.


"Jangan pikir aku melupakan perbuatan mu barusan." Ucapan itu menusuk hingga ke tulang. Gusion mengangguk. Dia menurunkan kaki kirinya yang terangkan.


Zenith berlari menghampiri Xiota. Sudah terlambat. Pendarahan terjadi di dada kiri Xiota. Zenith menangkap tubuh


Xiota. Xiota bukan Aizla, vampir yang dapat memulihkan diri dengan cepat. Dia hanya orang biasa.


"Maaf, aku tidak sengaja." Aizla mundur dengan kaki gemetar. Mulai lepas dari cengkraman Arian.


Zenith menggeleng. Selama dia mengingat hal ini, dia tidak akan memaafkan Aizla. Zenith lebih tidak percaya bahwa Aizla melakukannya atas perintah Arian. Kalau ditanya, Zenith lebih percaya pada Arian. Apapun yang telah dia lakukan.


"Pergi kau, Monster!! Hidupku tidak akan tenang selama kau hidup!" Zenith meletakkan tubuh Xiota. Dia memukul wajah Aizla.


Kalimat itu menusuk hati Aizla. Aizla terbang mundur. Tidak lagi punya keberanian untuk menghadapi Zenith. Anak


itu menangis pada Arian.


"Saya mohon, hapus ingatan saya. Saya mohon, Tuan. Maafkan saya. Saya mohon!" Aizla bersujud di kaki Arian.


Arian tidak akan melupakan siapa Aizla. Membunuhnya, juga membiarkan dirinya mengingat kejadian ini bisa berbahaya.


Zenith tidak akan membiarkan anak itu kabur dari hukumannya. Zenith melompat. Kakinya terangkat, bersiap


"Jangan, Zenith!!" Lixe berseru. Dia menyadari Sebuah rubik muncul di atas kepala Arian. Rubik itu mengacak. Bayangan hitam keluar.


"Aaaaahh!"


Zenith dan Aizla berteriak kesakitan. Sedang Xiota yang sudah tak sadarkan diri pun tak ada yang dapat menolongnya. Dua bayangan lain hendak merasuki Lixe dan Gusion.


"Ayo pergi!" ajak Gusion. Dia rangkul tubuh Lixe.


Lixe menyikut dada Gusion. Membuatnya terdorong ke belakang. Lixe melayangkan tinju. Tidak ada apa-apanya


bagi Gusion. Anak itu menangkap lengan Lixe. Lalu membantingnya.


Gusion berjongkok. "Tenanglah sebentar," bisik Gusion. Sebuah lingkaran bayangan melingkar di sekeliling


keduanya. Menjadikan mereka sebagai titik tengah. Lingkaran itu mengeluarkan bayangan setinggi dua meter. Menghalau bayangan yang keluar dari rubik yang akan merenggut ingatan mereka.


"Lepaskan. Aku ingin keluar!" Lixe bergumam pelan. Dia melompat keluar dari benteng bayangan tersebut. Gusion mengumpat dalam hati. Anak itu sungguh bodoh.


Gusion ikut melompat keluar. Berusaha menarik Lixe kembali. Sayangnya bayangan itu lebih dulu menangkap


tubuh Lixe. Membuatnya merasa sedang dicekik dan tubuhnya ditikam ribuan belati kecil yang runcing. Gusion hanya bisa menatapnya ngeri.


“Penguasa bumi. Badai angin.”


Sebuah angin berhembus sangat kencang di ruangan tersebut. Angin itu menerbangkan segalanya. Juga anak-anak yang sudah kehilangan kesadarannya. Seorang pria bertubuh kekar berdiri di depan Gusion, satu-satunya anak yang masih dalam keadaan baik. Ague bersiul, angina tipis keluar dari mulutnya ke arah Arian. Angin itu bagai jarum yang menusuk bahu kanan Arian.


Rubik memori terhempas ke atas karena anginnya. Bayangan hitam yang menyelimuti tubuh anak-anak menghilang. Aizla dan Zenith sempurna pingsan. Sedang Lixe masih setengah sadar, dia mampu berdiri walau tubuhnya lemas.


Gusion berlari menangkap tubuh Lixe. Ague tersenyum padanya saat Gusion menoleh.


“Kau hebat, Nak. Boleh aku tahu namamu?”


Itu pertama kalinya Gusion bertemu dengan Ague. Gusion menggeleng acuh tak acuh. Dia membuka sebuah portal


bayangan di depannya, membawa Lixe pergi dari tempat itu.


“Ague Dielus. Kalau kau butuh…,” Ague menghembuskan napas.


Gusion sudah menghilang tanpa bilang apapun. Dia membawa Lixe. Tidak peduli pada Xiota ataupun yang lain. Walau dia ingin menyelamatkan semuanya, Gusion sadar dia tidak bisa melakukannya. Lagipula, mungkin sekarang hanya Lixe yang mengingatnya.


Selama perhatian Ague teralihkan, Arian diam-diam berusaha mengendalikan dirinya. Tubuh Ague kaku, dia menoleh patah-patah. Sebuah rubuk memori melayang di depan wajahnya.


“Sebaiknya kau melupakan semua ini!” Suara Arian sungguh sura.


Ague menyengir. Dia meniup rubik tersebut. Membuatnya melayang mundur, kembali ke tangan Arian.


“Anggap hari ini tidak pernah terjadi. Aku tidak akan mengatakan apapun. Tidak akan memikirkannya lagi. Kak Anita pun tak akan tahu apapun. Kalau kau mau membiarkanku membawa Zenith pulang. Tidak perlu menghapus memoriku.” Ague berjalan santai menghampiri Zenith. Dia menggendong gadis itu.


“Ucapkan maafku pada Anita.”


“Ah, sial. Kau membuatku dalam masalah.” Ague menatap Zenith cemas. Dia menepuk pelan pipi Zenith. Tidak ada


respon. Dia mendengus. Ague frustasi. Dia lalu keluar. Arian membiarkannya. Semua sudah berakhir hari ini. Arian menatap Xiota yang berbaring dengan pendaraan hebat di dada kiri. Dia berjalan mendekati anak malang itu. Arian


menggendongnya. Malam itu dia membawanya Xiota ke rumah sakit.


 “Bagaimapun, aku terikat janji dengan ayahmu. Aku sudah bilang akan memastikan kau hidup panjang. Segala ingatan ini menyiksa.” Arian meremas rambutnya. Dia meninggalkan Xiota terbaring di sana.


Malam itu Xiota tidak sendirian. Sebuah jiwa menemaninya, Biete duduk di sampingnya. Biete mengusap lembut


rambutnya. Menatapnya kasihan.


“Aku tidak tahu apa yang telah terjadi. Apa yang telah kau alami. Setidaknya, Aizla bilang aku harus menjadi


temanmu. Anak itu memang ada-ada saja,” Biete mengoceh sepanjang malam. Dia terus duduk di samping Xiota dengan segudang cerita yang tidak dapat didengar oleh Xiota. Biete tidak butuh teman bicara, dia lebih suka bicara daripada mendengar. Yang dia inginkan hanya menghibur diri dengan bicara.


***


Portal bayangan muncul di lembah kematian. Gusion memapa Lixe keluar.


“Kenapa kau membawaku pergi?” Tanya Lixe mendorong Gusion.


Buak. Lixe memukul Gusion. “Penjahat!”


Gusion menggeram. Balas memukul Lixe. “Iya, kenapa?! Kau membenciku? Benci saja! Aku tidak perna berharap kau menemaniku!”


Napas Lixe sesak. Kepalanya yang semakin pusing terkena pukulan Gusion membuat dunianya berputar. Lixe pergi ke sembarang arah. Dia merasa diusir. Tidak aka nada orang yang menemaninya dalam sisa hidupnya. Bukan masalah. Sejak dulu memang sudah seperti ini kan. Untuk apa Lixe bersedih. Dia mengusap air mata di pipi. Meninggalkan Gusion yang juga pergi kea rah berlawanan.