AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Kehancuran



"Pangeran, ini sudah pukul delapan! Putri sudah akan pergi!"


Tok tok.


Seseorang mengetuk pintu kamar Gusion tidak sabaran. Gusion menutup telinganya dengan bantal. Dia tahu orang di luar kamarnya itu adalah Gueta yang menyamar menjadi seorang pelayan.


Hari ini, Gueta diajak ibunya menemui seorang teman. Dia sangat antusias dengan ajakan itu. Hingga gadis itu dengan semangat berniat mendobrak pintu kamar Gusion.


"Diamlah! Jam di kamarku masih berfungsi dengan baik! Aku bisa melihat sekarang masih pukul enam tiga puluh! Berhenti menggangguku!"


"Cepat bersiap! Ibu tidak ingin membuat Tante Lia menunggu tahu!" Gueta merengek.


Gusion melakukan perenggangan di atas kasurnya. Kembali terlelap dalam mimpinya.


"Kalau gak mau bangun, gak usah ikut!"


Brak. Gueta menendang pintu dengan sebal. Akhirnya dia menyerah dan meninggalkan anak laki-laki yang terlelap dalam kamarnya hingga cahaya matahari bersinar terang menembus jendela kamarnya.


"Apa yang Kakak inginkan?!" seseorang berteriak. Itu suara ayahnya. Gusion sontak bangun. Dia melompat turun dari ranjangnya. Membuka pintu dengan kasar. Berlari memasuki kamar ayahnya. Oero Wist, raja Kerajaan Aenmal setelah menikahi putri tunggal yang menolak menjadi raja.


Gusion membulatkan mata. "Paman?"


Geor menoleh. Dia tersenyum tipis. Oero menggeleng. Sebuah pedang menusuk dadanya.


"Pergi dari sini!" Oero berteriak pelan. Suaranya lemah. Pandangannya pun sayu. Gusion mematung.


"Dengarkan ayahmu! Pergi dari sini! Jangan pernah kembali! Dunia ini tidak butuh orang yang mementingkan orang lain diatas kepentingannya. Semua orang memandang kita jahat, maka jadilah seperti apa yang mereka inginkan. Tidak perlu...."


"Diam!" bentak Gusion. Geor tersenyum tipis. Memalingkan wajahnya. Dia mencabut pedangnya yang menancap di dada Oero.


"Raja kegelapan. Telur naga bayangan."


Sebuah bola hitam terbentuk dari sebuah bayangan yang memadat. Bola itu melayang mendekati Gusion. Gusion tahu betul apa itu.


Gusion meringis. Memegangi kepalanya yang berat. Hari itu Gusion melarikan diri dari kerajaannya. Bola itu mengejarnya hingga keluar wilayah kerajaan. Bahkan saat dia menggunakan portal bayangannya. Bola itu dapat menggunakan portal bayangan dan terus mengejarnya.


Duar!


Telur itu terbelah, lalu meledak. Menghempaskan segala yang ada di sekitarnya. Gusion pun ikut terhempas ke tanah. Kepalanya membentur batu besar. Darah mengalir di sana. Dia jatuh pingsan, hingga seseorang menemukan dirinya.


"Apa kau butuh sesuatu?" Seseorang mengulurkan tangan padanya.


Gusion mengerjapkan mata, dia menatap orang tersebut tak berdaya. Orang itu tak lain adalah Arian. Gusion melompat berdiri. Dari tangannya muncul sebuah pedang yang terbuat dari bayangan. Dia siap siaga. Namun luka di kepalanya membuatnya tumbang.


"Bayangan?" Arian menyeringai. "Ikutlah denganku. Akan kuberikan sesuatu yang sangat berharga untukmu. Selama kau setia denganku."


Arian menggendong Gusion di pundaknya. Membawa tubuh anak yang tak berdaya itu ke istananya. Lalu menjadikannya seorang prajurit kecil yang tak terkalahkan.


"Suatu hari, aku akan membalas dendam. Tidak ada yang mengakui ku sebagai orang baik, aku sungguh bukan orang baik."


***


"Sekarang aku ingat dirimu, Nak."


Wisteriam berdiri kaku. Tubuhnya berhasil dikendalikan Arian yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Gusion tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, dia melompat dan mengayunkan pedang. Memberi sayatan besar di dada Wisteriam.


Wisteriam terkekeh. Luka di dadanya munghilang ditelan bayangan. Dia menggeleng dan tersenyum pada Gusion. Tidak peduli dengan tindakan tersebut. Wisteriam berbalik.


"Apa yang kau inginkan untuk yang terakhir kalinya?"


"Kembalilah!"


"Hari ini jiwaku sudah bebas. Kau ingin aku kembali menjadi rubik yang bisa kau gunakan sesuka hatimu? Bedebah yang satu ini sungguh menyebalkan!"


Wisteriam melempar sebuah bola bayangan yang tidak dapat di hindari Arian. Arian mematung di tempat. Dia berusaha mengendalikan bola tersebut, namun bola itu terus melaju ke arahnya.


Slash.


Zecda membela bola tersebut menjadi dua tepat satu meter di depan wajah Arian. Dua pasang bola mata bertemu. Zecda menatap Arian dengan kebencian mendalam.


Arian menyeringai. "Kau bisa membunuhku nanti..."


"Aku ingin seluru jiwa yang kau perangkap dalam rubik memori dilepaskan! Dan aku tidak akan membunuhmu."


"Sayang sekali."


Zecda menoleh ke belakang. Wisteriam sudah berdiri tepat di belakangnya. Monster'itu menaruh tangannya di pundak Zecda. Mandekatkan wajahnya ke telinga Zecda.


Zecda berbalik. Pedangnya teracung ke depan.


"Jangan menyerang ku! Kalau kau membunuh dia, akan ku kembalikan semua jiwa yang kau inginkan. Aku beritahu, sekarang dia bukan apa-apa. Tidak bisa melakukan apapun."


Zecda memiringkan kepala. Saat Wisteriam masih asik bicara, Zecda lebih dulu mengayunkan pedang ke arahnya.


"Sudah aku pbilang." Wisteriam mengembuskan napas pelan. "Sayang sekali."


Boom.


Sebuah bayangan mendorong Zecda ke belakang. Arian yang berdiri di belakangnya ikut terlempar. Ague mengayunkan tangan, menggunakan kekuatan angin untuk menangkap keduanya. Tapi Wisteriam lebih dulu mendorongnya dengan sebuah tamparan bayangan yang begitu cepat.


Crat.


Lixe menusuk punggung Wisteriam. Wisteriam menoleh dengan kepala yang berotasi seratus delapan puluh derajat. Dia menyengir.


"Lyde sungguh sama saja." Tangan Wisteriam terangkat ke atas. Mengayun ke belakang dan mencekik Lixe. Mengangkat tubuhnya dan membating Lixe ke depan. Pedang di tangannya terlepas. P


Lixe mengaduh kesakitan saat kepalanya membentur aspal hingga membuat aspal itu retak. Lixe melompat berdiri. Berbalik, dengan cekatan memasang kuda-kudanya. Lixe melayangkan tinju.


Sangat mudah bagi Wisteriam menghindarinya dan balas meninju pipi Lixe. Kepalanya yang sudah cedera semakin terasa sakit. Matanya sayu. Tapi Lixe kembali memasang kuda-kuda.


Kali ini Gusoin ikut menyerang. Surai bayangan muncul di bawah Wisteriam, menjebak tubuh orang tersebut hingga tidak dapat bergerak.


Buk.


Tendangan Lixe tepat mengenai wajah Wisteria. Namun seperti sebuah angin yang hanya menerbangkan rambut, kepalaWisteriam bahkan tidak bergetar sedikitpun.


Lixe langsung menarik kakinya begitu sebuah surai bayangan yang muncul dari tubuh Wisteriam hendak menangkapnya. Surai itu mengejarnya. Lixe melompat mundur. Berbalik dan berlari menjauh.


"Sudah kubilang! Buka portal lalu pergi dari sini!" Jiwa First dalam tubuh Lixe kembali meronta.


"Cih!" Lixe menggeleng tidak peduli. Dia berhenti. Berbalik.


"Kau punya nyali yang kaut, Nak!" Wisteriam mengangkat tangannya, surai yang mengikat dirinya putus dan menghilang. Wisteriam bertepuk tangan. Surainya yang mengejar Lixe seketika menghilang.


Lixe hendak melangkah mundur saat Wisteriam tiba-tiba muncul setengah meter di depannya. Sayap monster itu terbuka. Lixe menunduk. Matanya terbelalak. Sebuah lingkaran bayangan muncul di kakinya, menyedot tubuhnya memasuki tanah. Lixe menggertakkan rahang. Berusaha mengangkat kakinya. Sia-sia, kakinya sudah tenggelam sempurna.


Bukan hanya Lixe. Lixe tersadar dari fokusnya yang hanya pada diri sendiri. Dia melirik sekeliling. Sebuah orang juga berteriak. Tubuh mereka sama-sama terhisap ke dalam tanah.


Gluduk. Ctar.


Kilatan petir menyambar di langit. Langit siang yang terang berubah menjadi hitam pekat. Petir bertegangan tinggi menyambar. Menghancurkan robot-robot dan pesawat tempur yang diam-diam berani mengangkat senjata pada Wisteriam.


"Semuanya, akan ku hancurkan!"


"Jangan melupakan kami yang juga punya urusan denganmu!"


Angin kencang menerpa wajah. Tubuh Lixe terangkat. Sebuah tornado besar berjalan mendekati Wisteriam. Menelan makhluk tersebut dan menghalangi pandangannya dari dunia luar.


Wisteriam hanya mengayunkan tangan. Sabitan bayangan menghancurkan angin tersebut. Saat dia melihat apa yang di luar sana, Arian menendang wajahnya. Wisteriam mundur tiga langkah. Zecda berdiri di sampingnya meninju dengan kekuatan angin.


"Apa sekarang kalian berdua ingin berdamai? Di mana kebencian yang kalian pendam selama bertahun-tahun? Kalian ingin membuangnya begitu saja? Hanya demi mengalahkanku?" Wisteriam mencoba memprovokasi keduanya. Tidak ada yang peduli.


"Kebencianku padamu, jauh lebih besar!" balas Arian penuh keyakinan.


Ctak. Wisteriam menjentikkan jari. Puluhan portal bayangan terbentuk. Mengeluarkan makhluk-makhluk memori dan jiwa-jiwa yang terperangkap di dalam rubik memori. Wisteriam menatap Zecda yang mendadak kaku dengan wajah pucat.


"Kau ingin melihat gadis itukan? Juga jiwa-jiwa pasukanmu yang gugur dalam medan perang. Aku mengabulkan permintaanmu!"


"Kak Mita?" Lixe tersentak. Mita keluar dari portal bayangan. Tubuhnya terlihat sangat mirip dengan mayat hidup yang berjalan. Lixe menggeram sebal. Tidak suka melihat kawannya dalam kondisi demikian.


Namun ada yang lebih tidak terima. Zecda mengayunkan pedangnya. Memenggal kepala mayat hidup yang terlihat mirip dengan Mita dengan pedangnya sendiri. Di dalam bola matanya, dia melihat bayangan Mita yang tersenyum dengan kepala mulai terputus dari tubuhnya.


"Aku selalu mencintai Ayah." Mata Zecda membulat. Tangannya bergetar. Tanpa dia sadari sebuah bayangan muncul di belakangnya. Bayangan itu akan menelan tubuhnya.


"Minggir, Bodoh!" Arian berseru. Dia melakukan pengendalian jarak jauh pada Zecda. Kaki Zecda dengan perintah Arian melompat dan berguling ke depan. Membiarkan bayangan di belakang sana menangkap udara kosong.


Zecda berdiri dan memasang kuda-kuda. Dia menggenggam erat pedangnya dengan kedua tangan.


"Kau ingin mengendalikan ku?" lirih Zecda.


"Maaf. Sungguh maafkan aku untuk sejenak. Hanya kali ini. Bantu aku menghentikan monster yang telah menghancurkan kerajaanku. Aku memohon padamu." Arian membungkuk dan menundukkan kepala.