
Matahari terbit di balik Gerbang Roila. Arek menatap langit indah di atasnya. Bal membantunya bangun. Sepertinya tubuh pria itu sudah membaik.
"Lixe?"
Arek menatap Lixe heran. Lixe tidur di depan matanya. Ekspresinya tidak bersahabat.
Bal sudah menahan tawa melihatnya sejak empat jam yang lalu agar tidak membangunkan Arek, tidak tahan lagi. Bal tertawa. Lixe mengerjapkan mata.
"Apa kamu baik-baik saja, Kawan?" tanya Arek dengan senyuman.
Lixe beranjak duduk. Mengusap liur pipinya. Lixe memalingkan wajah. Mengangguk keras. Akhirnya Bal berhenti tertawa. Tapi sepertinya anak itu jadi jadi aneh.
"Bagaimana denganmu?" Lixe mengalihkan perhatian.
"Mimpi yang buruk. Buruk sekali," jawab Arek mulai bisa berjalan sendiri. Ia menuju pagar balkon. Dia bersyukur semuanya kembali seperti semula. Maksudnya, teknologi itu kembali membaik. Tapi tidak dengan nyawa banyak orang yang tak mungkin kembali ke dalam raganya.
Rakyatnya pagi ini sepakat menggunakan pakaian berkabung. Semua berjejeran di pinggir jalan. Mereka lalu terduduk di sana. Beberapa menangis, lalu berdoa untuk keluarga dan sahabat yang terkubur di bawah sana.
"Ini semua, salahku," gumam Arek dengan mata berkaca-kaca. Dia ikut menunduk. Memberi penghormatan pada mereka yang gugur. Beberapa saat. Arek berbalik. Memasuki ruangan istananya yang langsung pulih total.
Setelah Dira memberi salam pada para tamu yang bermalam di tangga darurat, mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
Kecuali, tentu saja. Zenith dan Ague di bawa ke hadapan Arek dan Dira oleh para penjaga gua pusat kontrol. Tangan keduanya diborgol.
Lixe menelan ludah. Menatap keduanya tidak percaya. Wajah Zenith pucat dan Ague juga tampak kelelahan.
Lixe melirik Bal. Sayangnya Bal tiba-tiba jadi aneh. Dia terlihat agak berbeda. Bal yang bisa menjawab bahkan sebelum ditanya, hanya itu diam. Entah apa yang dipikirkannya. Lixe menyenggol lengan Bal seraya memanggil namanya.
Bal menoleh. Dia menatap Lixe dengan tanda tanya. Lixe memasang wajah cemas. Dia menggeleng, tidak jadi bertanya. Bal menatapnya menyelidik. Mulai membaca pikirannya, penasaran dengan apa yang ingin Lixe tanyakan.
Zenith dan Ague berlutut di hadapan Arek dan Dira.
"Mereka tertangkap di gua pusat kontrol. Nona Zenith diduga mengcopy semua data yang ada di sana," ketua pengawal memberi penjelasan.
Dira menatap Zenith tidak percaya. Wajahnya memelas. Dia menoleh pada Arek, berharap Arek akan mengampuni Zenith.
"Apa dia yang memulihkan data-data di sana?"
Kepala pengawal mengangguk.
Arek menarik napas dalam-dalam.
"Anggap saja dia sudah menebus dosanya."
Dira tampak bahagia. Dia langsung duduk dan memeluk Zenith. Gadis itu jatuh pingsan.
"Zenith!"
Lixe berlari dengan sempoyongan. Bal menuntunnya walau tanpa ekspresi. Lixe menjatuhkan diri, duduk berlutut di samping Zenith. Para penjaga spontan mundur karena kaget.
"Dia yang membawamu kemari?" tanya Arek.
Lixe mengangguk. Bal sudah tersungkur gara-gara lehernya ditarik Lixe saat ia menjatuhkan dirinya.
"Aku ini penjahat. Bisa-bisanya dia mengaku sebagai temanku. Bodoh!" Zenith memaki Lixe dalam hatinya.
"Kau masih sadar ya?" Lixe berbisik. Melihat gerakan mata Zenith.
"Diam!" batin Zenith.
"Dia pandai berpura-pura," batin Lixe.
Arek ganti melihat Ague. Dia berjongkok. Menatap baik-baik wajah Ague.
"Lalu Anda, siapa?" tanya Arek pada Ague.
Ague mengangkat kepalanya. Dia menatap Arek dan Dira bergantian. Kembali menatap Arek. Membiarkan keempat mata itu bertemu.
Napas Arek sesak. Juga Dira.
Benarkah itu? Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Ayah? Paman Ague?" ucapnya dengan terbata-bata.
"Kalian lihat saja sendiri." Ague mengeluarkan layar hologram. Menampilkan file yang baru semalam ia terima dari Lixe. Dengan tangan gemetar Arek menerimanya. Sebuah video dari Aden, ayahnya?
***
Lima tahun yang lalu, di bengkel pribadi Aden. Aden seperti biasa sibuk berkutat dengan alat-alat bengkelnya. Saat itu dengan santainya Ague masuk.
"Apa kau tidak bisa melihatnya?" tanya Ague, lalu duduk di sembarang kursi. Aden meliriknya sebal. Orang itu selalu saja membuat kegaduhan di bengkelnya. Merusak suasana damai kesukaannya.
"Apa kau memanggilku ke sini untuk menungguimu bekerja. Kau tahu aku tidak tertarik dengan semua ini kan?" tanya Ague lagi. Lima menit menunggu di sana, sungguh membuat kesabarannya surut dengan cepat.
"Kau bilang, Zecda mengumumkan perang?" tanya Aden tanpa sedikitpun berhenti dari pekerjaannya.
"Sudahlah, kalau kau tidak bisa ikut. Kau tidak perlu ikut. Kami tahu kondisi tubuhmu," jawab Arek santai.
"Aku akan ikuti apapun yang dia lakukan. Bukankah aku harus melakukannya untuk membalas segala bantuan kalian? Begitu kan, janji kita dulu?" Kali ini Aden berhenti. Dia menoleh pada Ague yang tidak bisa diam. Ague memainkan alat-alat di dekatnya.
"Janji itu, gampang lah. Tidak usah kau pikir sampai mati. Kenapa kau tidak menanggapinya dengan santai?" Ague melempar sebuah alat ke sembarang arah. Tapi Aden diam saja. Dia sudah hafal dengan perbuatan sahabatnya yang kurang ajar tingkat dewa itu.
"Kalau orang lain, pasti tanganmu sudah ku potong sejak tadi," kata Aden sebal. Arek tidak memedulikan perasaan Aden. Meraih benda lain dan memainkannya.
"Oh. Bahkan kalau aku anakmu?" Arek melirik Aden.
"Tidak. Apa kau sungguh berpikir aku tidak menyayangi mereka?" Aden berdiri. Arek hanya mengangguk. Masih duduk dengan santai.
"Apa kau akan menyayangi mereka kalau kau jadi aku?" Aden mendekati Ague.
"Tentu!" jawab Ague penuh keyakinan. Dia menoleh pada Aden yang sudah berdiri di sampingnya.
"Saat aku mati besok, gantikan aku menjadi raja dan ayah bagi mereka. Aku mohon, sayangi mereka. Aku percaya padamu."
"Kau gila!"
***
Saat ini...
"Peperangan terjadi. Aden tewas di sana. Apa yang harus kulakukan. Hari itu aku masuk ke bengkel pribadinya. Tidak kusangka, sebuah alat menyetrum tubuhku. Dalam beberapa waktu, aku memiliki wajah dan tubuh yang sama dengannya. Aku sudah hampir gila. Untungnya, aku bisa kembali menjadi diriku sendiri." Ague yang sejak tadi tertunduk mengangkat kepalanya. Menatap keduanya.
"Maaf," ucapnya separuh ragu.
"Itu sulit. Sangat sulit." Dira memeluk erat tubuh Zenith di pangkuannya. Dia menangis.
Zenith menyudahi aktingnya. Dia balas memeluk Dira dengan tubuh lemas.
"Kau akan tetap dihukum, Paman," kata Arek dengan perasaan kecewa, tapi dia lega. "Dan setelahnya, terserah pada Paman. Aku, berterimakasih," lanjutnya.
Lixe tertawa bahagia dalam hati. Dia puas Ague bisa mengatakan segalanya.
Dira membantu Zenith berdiri. Lixe berdiri sendiri dengan susah payah.
"Kalian mau tinggal di sini untuk sementara?" tawar Dira ramah.
Zenith tidak bisa berkata-kata. Lixe juga tidak akan menolak. Dira mengajak dua orang itu pergi. Meninggalkan Ague dan Arek yang seperti sedang perang dingin.
"Istana ini sangat canggih!" Lixe terpesona melihat lampu yang melayang di langit-langit. Para pelayan yang berdiri di samping-samping lorong adalah robot.
Sebuah robot kecil berhenti di depan mereka. Dia menyerahkan flashdisk lada Zenith. Dengan mata sayu Zenith menerimanya. Dia menoleh pada Dira.
"Hadiah untukmu."
Robot itu lalu mengeluarkan sebuah kompas.
"Hadiah kecil untuk Lixe."
Lixe menerimanya dengan bahagia. Sekarang dia tidak akan dibilang primitif lagi gara-gara tidak punya peta dunia kan?
"Terimakasih."