
Beberapa saat sebelum kapal terbang meledak...
"Riyal!" Xiota berseru melalui saluran panggilan di dekat stir kemudi.
"Ledakkan! Sebelum mereka meledakkan mu! Kalau kau yang meledakkannya, setidaknya ruang kendali terbang
akan tetap aman. Kau bisa menggunakan teknologi teleportasi dan berpindah ke..,"
Xiota tidak sempat mendengarkan ucapan Riyal. Serangan itu sudah dekat. Xiota menekan tombol di dekat stir.
Kapal terbang tersebut meledak. Orang-orang di bawahnya mendongak. Menantikan mayat-mayat musuh yang jatuh di depan mata mereka. Beberapa dari mereka menghirup udara. Berusaha mendeteksi bau kehidupan di tengah api dan asap.
Sebotol parfum dilemparkan ke tengah lingkaran. Botol kaca itu pecah, bau wangi yang menyengat masuk ke lubang hidung mereka. Beberapa mengaduh perih, semuanya serempak menutup. Mereka heboh dan memandang sekelilingnya.
“Siapa yang berani melakukan ini?” batin Cain seraya menyebar pandangan. Tidak ada orang mencurigakan.
“Di mana Tante?”Cain menoleh ke arah pintu stadion.
Seseorang berlari keluar. Lupakan tentang orang-orang di kapal terbang. “Semoga itu bukan Tante Anita.” Jantungnya berdetak kencang. Wajahnya pucat. Semua orang menatapnya, juga ayahnya. Namun tatapan itu punya arti tersendiri. Menerima tatapan ayahnya yang tajam, seolah berkata jangan berharap banyak pada ibu musuh.
Cain menggeleng keras. “Dia tidak mungkin berkhianat!” Cain berteriak dalam hati. Dia meninggalkan orang-orang
yang menatapnya.
“Tante?” Cain berhenti. Tiga robot polisi menangkap Anita. Memborgol tangannya. Juga menyumpal mulutnya dengan kain yang terikat di belakang kepalanya.
“Lepaskan! Apa yang kalian lakukan?”
Salah satu robot melepas ikatan kain di belakang kepala Anita.
Anita tersenyum kecut. “Sepertinya kau juga dibutuhkan ekspektasi ya?”
Kalimat itu menusuk hati Cain. Dia menggeleng tak percaya, tetapi Anita justru tertawa pelan. Tubuhnya ditarik
ketiga robot tersebut meninggalkan Cain. Cain mengambil dua langkah mundur. Berusaha mengatur napasnya yang tidak karuan. Ekspresi kesedihan di wajahnya menghilang, digantikan wajah datar. Cain berbalik.
“Tidak ada yang dapat diharapkan dari orang lain. Orang yang kau tolong, juga akan tertangkap. Percuma kau membantunya.”
***
Asap tebal dan barah api menghilang. Menampakkan sebuah kotak yang merupakan ruangan kendali.
“Mereka belum terbakar! Serang!” Cain yang baru datang memberi arahan. Peluru dan meriam kecil kembali di tembakkan. Sayangnya sebuah cahaya di bawah kapal terbang bersinar terang, apapun yang mendekatinya hancur tanpa ledakan. Seakan lenyap begitu saja.
“Itu jurus baru? Dapat dari mana?” tanya Xiota santai. Ia melirik Lixe yang duduk sambil menyentuh lantai kapal.
Xiota yang melihat dari hologram monitor di depannya berseru takjub. Itu membuatnya mengurungkan niat untuk menekan tombol teleportasi.
“Cepat kabur, woy!” Lixe menyadarkan Xiota.
Xiota tersentak. Buru-buru menekan tombol teleportasi.
Klik.
Duar.
Sebuah meriam menjebol dinding sisi kanan kapal terbang. Angin kencang masuk memporak-porandakan seisi kapal. Xiota memegang erat stir di depannya. Menatap jengkel dengan tulisan ‘Mohon tunggu' di layar hologram. Begitu juga Lixe, lingkaran pemberat gravitasi digunakan untuk menahan Aizla, Zenith, dan dirinya. Kekacauan yang terjadi membuat mereka tidak sadar akan kedatangan seorang tamu.
Cain masuk dari lubang cukup besar tersebut. Sulur bayangan berusaha menangkapnya. Gagal. Cain lebih dulu
menghindar. Dia meraih tubuh Zenith, sebelum akhirnya tertampar oleh sulur bayangan keluar. Cain membawa Zenith pergi bersamanya.
“Aku punya urusan dengan. Bangun Zan!” Cain menggendong Zenith terjun bebas.
Gusion menggeram. Dia mengejar Cain. Keluar dari kapal terbang yang sudah siap berteleportasi.
“Sial!” Xiota memukul stir. Sekarang kapal itu sudah pergi dengan dua orang tertinggal. Xiota menyalahkan diri sendiri atas segalanya.
***
Duar.
Sebuah ledakan besar terjadi di atas Istana Dielus. Atap yang terbuat dari kaca pecah. Xiota, Aizla, dan Lixe terlempar keluar. Lixe menggendong Aizla yang masih tak sadarkan diri. Cahaya dari tangan Lixe mengalir ke tubuh itu. Ikatan yang mengunci Aizla menghilang. Luka yang ada di tubuhnya juga sembuh dengan cepat. Saat mendarat, Aizla membuka matanya.
Lixe duduk, membaringkan Aizla di depannya. Lixe menyentuh pangkal rambut Aizla. "Apa kau tidak papa?"
Aizla tersenyum kecut seraya duduk. Dalam hidupnya, ini pertama kalinya dirinya benar-benar merasa dipedulikan. Bahkan oleh seorang ibu? Lupakan.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan vampir penghisap jiwa." Aizla menepis tangan Lixe yang hendak meraih lengannya.
Di bawah sana, armada perang Kerajaan Dielus sudah dikumpulkan. Berbaris rapi di bawah pimpinan Ague dan Zecda. Ague menoleh ke atas. Dia tersenyum. Lixe melompat turun. Sepasang sayap barunya keluar. Ague takjub dengan perkembangan pemuda aneh beberapa saat lalu.
"Paman! Gusion dan Zenith!" Lixe melapor. Kini dia terbang di antara Ague dan Zecda. Lixe menatap keduanya bergantian.
"Zack sudah menghubunginya," balas Ague yang menoleh dengan senyuman. Lixe mengangguk tenang.
"Kakak?" gumam Xiota.
"Maaf." Aizla membungkuk di sampingnya.
Xiota menggeleng. "Lupakan Semua sudah terjadi." Xiota ikut melompat turun. Dia cukup mampu mengendalikan tubuhnya untuk tetap mengambang. Aizla menyusul turun.
"Kembalilah Aizla! Atau kau ingin jadi anak durhaka?"
Aizla tersentak. Suara Aira bergema di telinganya. Aizla menggeleng. Sakit hati pada ibunya masih membekas di sana. Aizla mengabaikan semua bisikan ibunya.
"Kau tidak apa?" tanya Lixe.
Aizla mendarat di belakangnya dengan wajah tertekuk. Sorot matanya kosong. Dia khawatir, mungkinkah ada jiwa yang merasuki tubuhnya.
Lixe menatap dua temannya bergantian. Tidak ada yang tampak baik dari keduanya. Lixe hendak mengatakan sesuatu. Namun terhenti, seorang anak mendadak memeluk lengannya.
Lixe menoleh. Anak itu balas menatapnya. Qiana yang melakukannya. Lixe hampir melupakan gadis itu.
"Semua makhluk bisa jatuh, karena gravitasi bumi memang menarik ke bawah. Semuanya butuh sesuatu yang menarik mereka ke atas. Mau kah Kakak menjadi seperti itu untukku? Aku tidak akan mengecewakan Kakak." Qiana berlutut di depannya.
Lixe mengangguk. Walau tidak tahu apa yang dimaksud gadis itu, Lixe merasa dia memang harus bersama Qiana. Qiana berdiri. Wajahnya berseri.
"Hari ini, kita selesaikan segalanya!" Zecda memberi semangat para Pasukannya.
Xiota dan Aizla masuk ke dalam barisan. Keduanya punya tujuannya sendiri. Semua orang yang ada dalam barisan meneriakkan kemenangan. Suara mereka terdengar menggelegar di seluru ibu kota. Atmosfer peperangan terasa hingga menusuk tulang.
Lixe mendongak. Berpikir apakah dia bisa menang dari para musuhnya. Ingatan masa lalu muncul. Kabur saat kedua orang tuanya dibunuh. Saat peninggalan leluhurnya dibakar. Saat teman-temannya tumbang. Bahkan saat ini, saat dua sahabatnya di sarang musuh.
"Bangkitlah!"
Sepuluh pesawat perang buatan Arek dikirim tiba. Kerajaan Roila menolak mengikuti peperangan. Sebagai gantinya, mereka menyumbang alat-alat canggih. Juga mengirim ratusan drone penjaga yang akan menjaga Kerajaan Dielus saat ditinggalkan para kesatrianya.
Sebuah mobil terbang memasuki lapangan istana yang dipenuhi pasukan. Dira keluar dari sana. Secara langsung mengantarkan bantuannya.
"Saya menjamin keselamatan para warga."
Aizla menatap gadis itu tanpa berkedip. Dia ingat suara itu. "Putri Dira?" Aizla memegangi lehernya Firasatnya buruk. Dia menoleh, Biete berdiri di sampingnya.
"Kau harus tetap di sini!" ucapnya serius.
Aizla mengangguk. Dia sangat ingin mengikuti perang tersebut. Namun sesuatu membuatnya mengurungkan niat. Hati melarangnya ikut ke dalam barisan perang.
"Xiota."
Xiota yang berdiri di samping Aizla menoleh.
"Sampaikan permohonan maafku pada Kak Riyal." Aizla tersenyum. Sayapnya terbuka. Mengagetkan beberapa orang di sekelilingnya.
"Karena aku belum punya kesempatan menebus dosaku. Juga membalas kebaikannya, juga padamu." Tubuhnya terbang.
"Guru. Aku bisa bertemu Kakak adalah karena Guru. Kau orang pertama yang kulihat setelah terbangun dari koma. Yang mengajarkanku teknik pengendalian, meski kau tak bisa melakukannya. Kau juga yang membiayai hidupku, walau itu uang hasil judi." Xiota tertawa kecil. "Terimakasih."
Aizla memilih mengabaikannya. Terbang ke samping Dira. Dia tidak akan sanggup pergi jika melihat wajah Xiota.
Dira bersiap menarik pedangnya. Tingkat kewaspadaannya seratus persen. Tentu saja. Dia melihat penjahat yang menghancurkan kerajaannya datang mendekat. Aizla menekuk wajah.
"Tunggu!" Lixe menahan gerakan Dira.
Aizla mendarat. Sayapnya terlipat. Kemudian berlutut. Dia mengakui dosanya sudah cukup banyak. Bahkan nyawanya tidak bisa digunakan untuk membayarnya.
"Aku mohon, Putri." Lixe berlutut di samping Aizla. Memohon untuk tidak menghabisi Aizla. Aizla memandangnya tidak percaya. Tapi Dira mengangguk.
"Untuk saat ini, kita kawan! Huh!" Dira memalingkan wajah. Aizla berdiri. Jiwanya takut untuk memandang wajah Dira.
"Ayo!"
Sorot cahaya keluar dari bagian bawah kesepuluh pesawat tempur yang besar tersebut. Menyedot para petarung ke dalamnya. Lixe berjalan di samping Ague.
Ague merangkul lehernya. "Aku melihatmu sebagai anak kecil yang tangguh beberapa tahun yang lalu. Aku harap, kau lebih tangguh lagi."
Dua orang itu memasuki wilayah lampu sorot. Menghilang dalam satu kedipan mata.