AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Garis ibu



First mencekik leher Lixe, tangan kuatnya itu berhasil mengangkat tubuh Lixe lima senti dari permukaan laut tempatnya berdiri. Lixe meronta. Dia mengayunkan kaki kanannya ke depan. Telak mengenai dagu First. First mundur dua langkah seraya melemparnya.


"Cahaya bulan purnama. Dua belas sabitan bulan."


Dua belas serangan meluncur ke arah First. Dia bisa meliuk dan berayun hingga serangan kesembilan. Namun di serangan ketiga terakhir, First hanya menyilangkan kedua tangan ke depan wajah, menahan tiga serangan dengan tangan kosong.


"Jadi karena ini kau menolak kekuatan Lyde? Akan ku hancurkan kekuatan yang kau jadikan saingan Lyde."


Lixe tak melihat First lagi. Firasatnya buruk. Lixe berbalik. Tapi First justru muncul di belakangnya. Orang itu memukul keras pundak kiri Lixe, membuatnya tersungkur. Lixe menoleh. First menjentikkan jari.


"Aaahhh!"


Lixe tengelam. Tubuhnya ditarik arus laut yang kuat di sekitarnya. Lixe berusaha berenang ke permukaan, tapi sebuah sulur melilit kakinya. Lixe dipaksa jatuh semakin dalam. Pandangannya buram. Dadanya sesak. Gelembung-gelembung udara keluar dari mulutnya.


Di akhir kesadarannya, seseorang, tidak tahu siapa berenang dengan tangan terulur padanya. Lixe membalas uluran tangan orang itu. Kesadarannya hilang, saat orang itu menarik tubuhnya ke permukaan laut.


"Huek."


Lixe memuntahkan air asin yang memenuhi perutnya. Dia memijat pelipis, kepalanya seperti berputar tiga ratus delapan puluh derajat. Lixe mengerjapkan mata berkali-kali. Dia memandang bayangan dirinya yang terpantul dari air laut ini. Seorang pria pun tampak berdiri di belakangnya. Lixe menoleh kaget.


Pria bertubuh kekar dengan kaos putih dan rompi kulit coklat. Juga wajah tegas yang menyeramkan. Lixe yang kin itu First. Tapi, rambut hitam lurusnya yang sepundak. Sepertinya ada yang salah. Lixe memandangi orang pria tersebut.


Plak


"Berhenti menatapku!" Orang itu akhirnya menampar Lixe. Lixe sadar sekarang. Suara itu. Orang ini adalah First. Lixe menunjuk First. Matanya melotot.


"Kakek tua yang sudah menyelamatkanku?"


"Lemah! Kau bahkan tidak bisa berenang! Siapa orang tuamu? Apa suku yang kau banggakan itu tidak mengajarimu apapun?" First meremas telunjuk Lixe yang berani menunjuknya. Lixe memasang ekspresi aneh. Dia berseru tertahan karena kesakitan.


"Huh!" First melempar telunjuk Lixe. Lixe pun ikut terlempar. Tangannya hampir menyentuh permukaan air. Kali ini dia lebih awas dan menjaga keseimbangan.


"Apa Kakek bersedia menerimaku?"


"Kau ini ngelantur apa? Kau sudah jadi cucuku sejak kau lahir?" First menggaruk rambutnya sebal.


"Maksudku, aku ini lemah...,"


"Dan bodoh." First mendekati Lixe demi menjambak rambut panjangnya. First menunjukkan tatapannya yang mengerikan.


"Rambut putih, bola matamu juga tidak seperti diriku. Kalau aku mengakui mu cicitku, orang-orang tidak akan percaya. Lagipula mengakui orang sepertimu juga tidak ada untungnya." First melepaskan jambakannya.


Lixe mengusap kepalanya yang sakit. Dia menggerutu dalam hati.


"Tapi mau bagaimana lagi? Memangnya aku peduli apa kata orang? Aku juga bisa mendapat keuntungan dengan tanganku sendiri." First menaruh kedua tangannya di pundak Lixe.


"Sampai tetes darah terakhir, bahkan saat seluruh dunia melempar batu ke arahmu. Meskipun kau tidak mengakui bahwa aku kakekmu. Aku tidak akan membiarkanmu mati."


Lixe terharu. Dia mengukir senyum tipis. Membuat First salah tingkah.


"Heh! Apalagi mati konyol seperti tadi! Kau ini cucu pelaut tapi tidak bisa berenang! Malu-maluin!" Sekali lagi First menampar Lixe.


"Sepertinya orang ini agak miring," batin Lixe sembari mengelus pipinya yang merah dan sedikit bengkak. Tanpa Lixe sadari, First mendorongnya ke dasar laut.


"Apa yang kau lakukan?!"


"Aku akan mengajarimu berenang!"


Lixe menahan napas. Dadanya mulai sesak. Dia berusaha mati-matian melawan arus deras di dalam sana. Matanya memerah. Sepertinya ini akan gagal.


Tapi sesuatu menarik perhatiannya. Sebuah portal bayangan berhasil membuatnya lupa dengan segala sakit yang tengah ia derita. Lixe berenang santai mendekati portal tersebut. Tanpa buang waktu Lixe memasuki portal itu.


"Bagaimana? Mudah bukan?" tanya First di sebelum Lixe sempurna hilang ditelan portal. Lixe mengangguk. Dia menoleh. Untuk yang terakhir kalinya memandang wajah tampan First yang ramah. Bahkan Lixe terpanah dengan suara First yang sekarang tengah menyanyi dengan merdunya.


"Hoek. Uhuk." Naga terbatuk. Naga itu mengeluarkan Lixe dari mulutnya. Tubuh Lixe basah karena air liur naga tersebut. Percikan air liur naga tersebut juga berceceran di sekitarnya. Aizla yang hendak terbang mendekat justru menjauh karena jijik. Air liur bak hujan itu mengenai sebuah drone. Membuat drone itu hangus kepanasan.


Zenith menatap ngeri. Tapi dia justru heran dengan Lixe yang sudah basah kuyup tapi tidak jadi ayam panggang. Zenith melompat tinggi. Dia mendarat di punggung Sang Naga. Kaki kirinya terangkat. Dia mengayunkannya keras tepat di atas titik bagian paling gelap itu. Kulit naga tersebut retak di bagian Zenith menendang.


"Teknologi buatan Pangeran Arek memang paling hebat!" Zenith tersenyum puas. Keempat kaki naga tidak sanggup menahan hantaman yang diberikan. Naga itu terjatuh.


Aizla kambali menyelimuti tubuh Naga dengan asap darahnya. Aizla menarik napas. Zenith melompat pergi dari tempatnya berdiri. Sebuah bola darah yang lalu berubah menjadi pedang jatuh ke tempat itu. Memanfaatkan kulit Naga yang retak karena tendangan Zenith, Pedang itu dengan mudah menusuk tubuh Naga.


"Groooaar!"


Naga itu memperkuat dirinya. Tanah yang dipinjaknya turun. Deruh napasnya mendatangkan angin ribut. Sayap Aizla kalah kuat. Dia terpental ke dinding.


Untungnya kaki robot Zenith cukup kuat menahannya. Empat drone yang tersisa. Bersamaan menyerang kepala naga. Sama-sama mengincar matanya, juga mengalihkan perhatian. Sementara Zenith masih mengincar perut sang naga.


Sebuah arus listrik menyengat mata kanan Naga. Naga itu meroar. Dia mengeluarkan api dari mulutnya. Dua drone hangus terbakar. Dua yang lain berdenyit marah. Sayangnya, sebelum mereka kembali menyakiti naga tersebut, sesuatu menghancurkan mereka.


Bukan, bukan ulah Naga. Kali ini Lixe mengirim dua sabitan cahaya pada dua drone itu. Sempurna, tidak ada lagi drone yang tersisa. Laporan itu muncul di tangan Zenith yang menampilkan layar hologram. Sebuah gambar drone tersebut yang disilang.


Zenith yang mengira drone tersebut sempurna dihancurkan Sang Naga menggeram sebal. Dia memukul perut naga tanpa ampun.


Sebuah fenomena terjadi. Naga itu berubah menjadi seorang pria, First Lyde. Dia tersenyum, tubuhnya jatuh ke arah Zenith dengan posisi tidur. Telapak tangannya bertemu dengan tinju Zenith.


Bruak.


First terpental ke langit-langit. Menghantam keras atap. Lixe menangkap First saat ia terjun ke bawah.


"Apa tulang punggung Kakek remuk?"


"Akan ku remukkan tulangmu!" First memukul pipi Lixe. Cucunya yang malang itu dengan senang hati melontarkan tubuh First ke arah Zenith sesaat sebelum Lixe terpental membentur dinding.


"Aku. Anu, maaf. Lehermu..., aku.... sihirku bukan sihir penyembuhan." Aizla yang sepertinya tahu maksud Lixe meminta tolong menyembuhkan lehernya menggeleng panik. Aizla mengukir senyum kecut. Dia sadar, senyumnya tidak dibutuhkan saat ini.


"Hiiaaaa!!!" Zenith sudah menendang perut First yang meluncur ke arahnya. First mencoba menahannya dengan kedua tangan. First berjongkok, membiarkan tendangan Zenith melewatinya begitu saja. Kemudian baru memberi serangan. Tinju First telak mengenai dagu Zenith.


Zenith membuka matanya lebar-lebar. Dia bisa merasakan tulang rahangnya retak, mungkin patah? Bagian itu bengkak, juga memar.


"Tidak sakit. Ini tidak ada apa-apanya." Zenith kembali memasang kuda-kuda. Mengabaikan rasa sakit yang mulai menjalar ke seluruh kepala dan leher, terus turun hingga tulang-tulang di bawahnya.


"Anda ingin menghancurkan tulangku? Silahkan saja." Zenith menyeringai.


"Kau pernah mengalaminya?"


Zenith mengangguk. Tidak buang waktu lagi. Duel satu lawan satu terjadi. Keduanya saling pukul. Menghindar dan menangkis. Zenith beberapa kali melihat Aizla dan Lixe. Tatapannya menyiratkan sesuatu.


"Aku tidak bisa membaca pikirannya," gumam Lixe saat menyadari Zenith ingin mengatakan sesuatu. Tapi apa? Nasib bagi Zenith. Dia tidak mewarisi ilmu telepati Zack. Lixe menoleh pada Aizla. Berharap gadis itu cukup pintar untuk mengerti maksud Zenith.


"Dia mau apa?" tanya Aizla polos. Dia balas menatap Lixe penuh tanda tanya.


Lixe berseru dalam hati. Mengacak rambut, lalu menjambaknya. Aizla semakin tidak paham. Menatapnya heran dengan kepala miring. Lixe sungguh tidak menduga, gadis dengan kesan pertama kejam ini ternyata polosnya kelewatan.


"Dia ingin kau menangkap jiwa pria itu," sesuatu berbisik di telinga Aizla. Gadis itu melompat kaget. Dia menoleh. Seorang wanita berambut hitam panjang dengan wajah mirip dirinya berdiri di sampingnya. Aizla pikir, itu arwanya.


"Aku belum mati," gumam Aizla.


Biete menggeleng pasrah. Benar juga, Aizla belum pernah melihat wajahnya secara langsung dalam dunia nyata. Gadis ini punya tingkat lucu yang lain dari yang lain. Biete berdiri di belakang Aizla. Dia menaruh kedua tangannya di bahu Aizla.


"Aku Biete. Kau lupa dengan suaraku ya?"


Aizla menelan luda. Pipinya merah karena malu.


"Setidaknya, dia cukup tahu malu," batin Biete.


Aizla mengerti maksud perkataan Biete tadi. Menjebak jiwa pria itu? Akan Aizla coba. Dia sudah siap dengan kedua tangannya yang terangkat ke depan.


"Penjara darah. Jebakan ji...,"


"Kau ingin menjebak aku? Bawahanku?" First tiba-tiba muncul di depan Aizla. Dia menangkap kedua lengan Aizla sebelum Aizla sempat menariknya. Aizla berhenti bernapas. Dia melirik Zenith yang terkapar tak berdaya. Zenith berusaha bangkit. Tapi dia kembali tumbang.


"Maafkan aku, Tuan First." Biete yang berdiri di belakang Aizla merangkul Aizla sambil memejamkan mata.


"Akh."


Lixe menyikut dada First. Pria itu melepaskan lengan Aizla. Biete membantu Aizla berdiri. Kaki gadis itu lemas, wajahnya pun pucat pasih.


"Ingin bertarung sekali lagi?" First menyeringai.


"Ini dunia nyata. Aku yakin bisa menang."


First menarik sebelah alis.


"Ya. Walau hanya 30 persen." batin Lixe seraya maju dengan pedang berbahaya.


"Cahaya bulan purnama, dua belas sabitan bulan."


"Lagu kematian. Biola kegelapan." Sebuah biola muncul di tangan kirinya, lengkap dengan busurnya yang muncul di tangan kanan. First menangkis semua sabitan itu dengan busur biola yang kokoh itu.


Lixe mengayunkan pedangnya di depan wajah First. First menerimanya dengan busur biolanya. Mereka beradu kekuatan. Lixe menggeram, dia mulai tak tahan. Lixe fokus pada busur yang mendorong tubuhnya. First memukul perut Lixe dengan biola di tangan kiri.


Lixe mundur beberapa langkah. Dua sudut bibirnya mengeluarkan darah. Lixe menyeka darah di sana. Tubuhnya dilapisi cahaya, lalu menghilang. Muncul di samping First dengan pedang yang siap menyayat lengan kanan First.


Lawannya melirik. "Sriiing." Hanya menggesek senar biola, menciptakan suara memekakkan yang membuat tubuh Lixe kaku. Pikirannya kacau.


"Sriiiing." First kembali menggesek senarnya. Lixe kehilangan keseimbangan. Kuda-kudanya goyah. Lixe memukul pelan kepalanya. Berusaha tetap sadar dan berdiri dengan kedua kakinya yang lemas. Dengan matanya yang menyipit, Lixe bisa melihat senyuman di wajah First. Mirip seseorang. Siapa?


***


Seorang anak kecil berlarian di dalam rumah. Menyenggol setiap benda dan membuat rumah berantakan. Lixe kecil yang sungguh nakal. Kali ini Dia berdiri di depan jendela. Kakinya terangkat, hendak melompat keluar.


"Sring." Tubuh Lixe kaku. Sesuatu mengganjal di hatinya. Lixe menurunkan kakinya. Lalu menutup jendela. Sebuah nyanyian merdu masuk ke telinganya. Dia tidak bisa menyangkal, suara itu selalu membuatnya ingin terus di sana, duduk diam mendengarkan.


Lixe berjalan menghampiri ibunya yang bernyanyi sembari memainkan biola. Lixe berjalan atas kemauan hatinya, sepenuhnya dengan kesadaran seratus persen.


Sejak kecil Lixe menyadari bahwa ibunya selalu dapat membuat orang lain mencintainya. Hati semua orang luluh dengan nyanyiannya.


Lixe duduk di depan ibunya. Mendengarkan lagu itu hingga akhir. Lalu bertepuk tangan dengan suka cita. Lixe melupakan niatnya untuk kabur.


***


Lixe menyeringai. Dia menegakkan tubuh. Lixe mendekati First yang sibuk dengan lagunya. Tanpa disadari, Lixe merebut biola dari tangan First. Nyanyian itu berhenti. First melihat kesedihan yang terpancar jelas di mata Lixe.


"Aku tahu bagaimana bisa Wist menjadi budak setia kalian." Lixe menggenggam erat biola dan busurnya dengan kedua tangan. Dia menundukkan kepala, menghindari tatapan First.


"Kalian bisa membuat semua orang jatuh cinta dengan lagu kalian. Tapi dunia malah membuat semua orang membenci kalian. Dosa apa yang kau perbuat pada dunia?!"


First menatap kosong. Dia mendekati Lixe, mengusap rambut berantakan Lixe. Jujur saja, dia punya jawabannya. Sayangnya, First tidak tahu bahasa halus mana yang bisa dia gunakan agar dapat diterima Cucunya. Sudah cukup.


"Aku minta maaf." Hanya itu yang keluar dari mulut First yang mendadak kaku dan berat. Lixe menggigit bibir, sebisa mungkin menyembunyikan air mata yang membuat dadanya sesak.


"Semua orang bisa mengikutinya dengan rasa kasih sayang. Kenapa? Kenapa dulu ibu tidak bernyanyi di depan semua orang? Dan malah terbunuh dengan penuh kebencian?"