AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Tanpa kehormat



Sebuah portal cahaya muncul di dekat Bal. Lixe hanya melihat perempuan berambut merah bob sepundak. Wanita itu berbalik, merasakan kedatangan Lixe.


Lixe memasang kuda-kuda. Tubuhnya bercahaya.


"Apa kau musuh?" tanya lawannya. Perempuan itu menjambak rambutnya. Rambut merah itu lepas, itu hanya wig. Rambut aslinya hitam panjang berponi. Gadis itu memegangi lehernya. Tubuhnya terjatuh.


Lixe mendekat, tapi berhenti satu meter di dekatnya. Lixe cukup bersimpati melihat keadaan gadis itu. Tubuh gadis itu lemas. Tidak bisa berdiri. Lixe mematung kasihan.


"Kak Lixe, Apa kau bisa mendengar ku?" suara Bal tiba-tiba muncul di kepala Lixe. Tidak semua anggota Suku Dey bisa melakukannya. Lixe terkejut, dia tidak percaya Bal bisa melakukannya. Sama seperti saat Zack menghubungi di gua.


"Apa kamu juga bisa melakukan semua teknik hebat Suku Dey?" tanya Lixe dalam hatinya. Dia penasaran, jadi dia ucapkan. Itu jelas tidak mendapat respon dari Bal.


"Bal, kamu baik-baik saja?" tanya Lixe mengalihkan pikirannya. Dia tidak ingin ada yang terluka lagi. Cukup banyak korban. Sudah cukup banyak penderitaan.


"Kami baik, Kak. Kau tidak perlu khawatir. Pada kami ataupun padanya," kata Bal lagi. Sambungan itu terputus.


Pikiran Lixe kacau. Dia menggenggam erat-erat pedangnya. "Haruskah ku sakiti orang ini?"


"Aizla! Dengar Ibu! Ayo berdiri, Nak! Kita hancurkan semua!" sebuah suara berbisik di dalam pikirannya.


Aizla berdiri. Tangannya terangkat.


"Tabung jiwa. Kumpulkan para jiwa."


"Uhuk!"


Aizla batuk darah.


Asap darah menyelimuti tubuh orang-orang yang gugur.


Lixe tidak menggeram. Dia melempar pedangnya. Meraih lengan Aizla dan membantingnya. Aizla tergeletak di lantai. Asap darah yang menyelimuti para korban meghilang.


"Berhenti! Kau jahat sekali!"


Aizla terduduk lima detik kemudian. Napasnya tersengal. Iris matanya yang merah menghilang. Digantikan bola mata yang sempurna putih. "Sebentar saja. Bertahanlah sebentar," gumamnya dengan bergetar ketakutan.


Bal memangku Arek yang tertidur seraya terus mengawasi Aizla. Saat melihat kondisi Aizla yang memburuk, Bal memberanikan diri untuk membaca pikiran wanita itu.


"Ada apa ini?" Bal yang masuk dalam pikiran Aizla terkejut saat dia sampai di sebuah danau dengan air mancur darah didalamnya. Bal tidak menemukan apa pun. Tidak, mungkin dia menemukan sesuatu. Oh. Itu dia. Bal berjalan mendekati kerumunan orang. Dia bersembunyi di balik batu besar.


Puluhan orang lain ada di sini. Bal pikir hanya dirinya yang memasuki alam bawah sadar gadis itu, ternyata justru ada hampir seperti pasukan di sana. Ini lah yang membuat gadis itu bisa membuat portal dan mengeluarkan monster sebanyak itu. "Sungguh tubuh yang kasihan."


"Sepertinya aku merasakan keberadaan seseorang," salah satu dari mereka berkata kepada yang lain. Membuat gempar satu pasukan. Semua langsung menatapnya. Mana mungkin ada yang bisa masuk ke dalam pikiran orang?


"Jangan bercanda!" Yang lain tidak percaya. Mereka berdebat sejenak. Sebelum akhirnya dilerai ketua? mereka. Seorang wanita empat puluhan. Auranya paling menakutkan. Dia mengamati ke sekelilingnya. Tidak ada tanda-tanda keberadaan manusia.


Sebuah portal terbuka untuknya. Wanita itu pergi meninggalkan para bawahannya yang tunduk patuh.


Tidak ada orang? Bal menyeringai. Kalian tidak akan bisa menemukanku. Aku akan mengalahkan kalian, sebagai tebusan dosaku telah membohongi Pangeran Arek.


Bal mengaktifkan mode tidak terlihatnya. Dengan santai dia berjalan mendekati kerumunan itu. Masuk ke tengah-tengah pasukan yang sangat konsentrasi sehingga tidak menyadari keberadaannya. Tubuh mereka diselimuti asap yang terus menyerap darah mereka untuk dialirkan ke sebuah kristal di sebuah komputer besar.


Bal bisa menebak alat itu. Alat untuk membuka portal, memindahkan makhluk-makhluk itu dari tempat mereka berasal ke luar sana.


"Kalian benar-benar keterlaluan, berapa bayaran yang kalian terima sehingga kalian mau mengorbankan diri untuk membuat monster-monster itu?" batin Bal.


Bal mendekati mesin itu. Dengan tangannya terbuat dari logam ia langsung memukul kristal penyimpanan energi mesin itu. Membuat mesin itu berdenyit, diselimuti listrik.


"Apa yang terjadi?" tanya seseorang yang berada di barisan paling belakang. Mereka panik tidak karuan


"Mesinnya rusak! Sesuatu terjadi pada tabung penyimpanan!" jawab yang berdiri paling depan. Dia tidak percaya, tabung itu tiba-tiba retak. Seolah dipukul seseorang.


Semuanya panik. Tubuh mereka seolah tersayat. Alat itu rusak. Mereka tidak bisa bertahan di dalam tubuh Aizla. Ini gawat mereka bisa tamat di sini.


Bal tertawa puas. Dia menatap seorang laki-laki bertubuh kurus tinggi. Laki-laki itu tampak pintar dengan kacamatanya. Dalam suatu kesempatan, kedua netra mereka bertemu. Laki-laki itu hampir tersentak ke belakang.


"Apa kamu tidak papa, Yase?" tanya temannya. Yase mengangguk. Dia tidak papa. Tapi rasanya sesuatu terjadi pada dirinya. Bal sudah berhasil masuk ke dalam pikirannya.


Bal duduk di sebuah ruangan gelap dalam pikiran Yase. Dia tidak berniat keluar dari sana.


"Aku ingin ikut denganmu. Aku harap, kamu orang yang tepat untuk membawaku ke sana. Walau tanpa sebuah kehormatan, Yase."


Aizla berdiri. Di sampingnya muncul dua bola darah. Keduanya melesat ke arah Lixe.


Lixe mengayunkan tubuh menghindar.


"Satu jiwa saja. Aku mau dirimu!"


Asap darah kembali menyelimuti tubuh Aizla. Dia melangkah gontai. Lixe melompat mundur.


"Tabung jiwa. Serap jiwanya."


Asap darah yang menyelimuti tubuh Aizla terbang ke arah Lixe.


Lixe berseru tertahan. Tidak ada pedang di tangan. Ini gawat. Lixe berlari menyerong ke kanan. Lalu melompat mendorong tubuh Aizla.


Aizla terbanting. Tapi asap darah berhasil menyelimuti tubuh Lixe.


Lixe meringis. Kulitnya serasa disayat. Matanya terpejam, berusaha menahan tangis.


***


"Ini bukan hanya mainan Lix. Kalau kau mau, kau bisa mengalahkan seekor naga dengan ini."


Mata Lixe berseri. Dia takjub pada benda itu.


***


"Cahaya bulan sabit. Kristal sabit."


Sebuah bulan sabit kecil muncul di tangannya. Sangat kecil dan tipis. Bodoh amat. Dengan kekuatan lemah, Lixe melemparkannya ke arah Aizla.


Bulan sabit itu meleset. Memotong rambut bagian kiri Aizla menjadi seleher. Bulan itu menghilang. Aizla terkejut, kehilangan keseimbangan. Asap darah yang menyelimuti Lixe menghilang. Tubuhnya terkulai tak berdaya.


Sebuah portal terbuka di dekat Aizla. Aizla mengesot memasuki portal. Lixe tidak sanggup menahan tubuhnya. Tenaganya sudah terkuras.


Di luar sana, Zenith yang terpojok, mengayunkan tangan dan kakinya. Melepaskan diri dari gigitan para monster. Napasnya tidak beraturan. Namun tetap berdiri di atas kedua kakinya.


"Ayo! Sebentar lagi. Masih tersisa enam," ucapnya menyemangati diri. Zenith mengatur deru napasnya yang memburu. Lalu berlari menembus kerumunan zombie. Tapi kepalanya sudah cukup pusing.


"Oh. Ditambah dua. Tidak. Plus tiga."


Zenith menggeram. "Sampai kapan?!"


Mata Zenith berkunang-kunang. Pandangannya buram. Kumpulan zombie lain datang menghampirinya. Ini gawat. Zenith mengangkat pedangnya. Bersiap mengayunkannya. Sayang. Tubuhnya lebih dulu merebah di tanah.


"Aku tidak takut. Apa pun yang kalian lakukan. Datanglah semua. Aku Zenith Dey. Memanggil kalian," batinnya dalam kesadaran terakhir.


"Apa kau tidak papa, Bocah?!" seru Ague membangunkan Zenith. Ague berbalik. Dia menatap kerumunan zombie yang dengan cepat datang ke arahnya.


"Kenapa mereka banyak sekali?!" gumam Ague. Dia melesat maju dengan dua pedang di tangan. Menebas semuanya tanpa terkecuali.


Ague menatap portal menyebalkan jauh di belakang lautan Zombie.


Aneh. Portal itu tidak lagi mengeluarkan monster. Mulai mengecil lalu lenyap begitu saja. Ague tertawa puas. Aku akan membunuh kalian dalam sekejap.


"Jeritan bumi. Gelombang retakan tanah."


Tanah di sepanjang jalan aspal di seluruh kerajaan retak. Tanah itu naik turun menjatuhkan semua zombie yang tersisa di atasnya. Lalu mengubur para monster itu bersama para warga yang tumbang. kemudian tanah itu kembali seperti semula. Semua berakhir.


"Selamat tinggal semua," kata Ague lirih. Dia duduk. Tangannya menyatu di depan dada. Untuk semua yang terkubur di bawah sana. Semoga kalian tenang dan bahagia di alam yang berbeda.


"Fiuh," Gusion berdiri di atas atap gedung sejak tanah bergoyang. Ketiga naga di belakangnya berjalan mendekati Sang Tuan. Gusion mengelus lembut kepala naga di sampingnya.


Deru napasnya memburu. Tenaganya terkuras habis. Ketiga naganya hilang untuk kedua kalinya. Digantikan pegasus yang datang ke hadapan tuannya. Gusion menaiki tunggangannya. Terbang ke arah Ague dan Zenith. Dia tidur di atas tunggangannya.


"Apa yang terjadi?" tanya Aizla khawatir. Dia yang tidak melihat apa pun panik. Suatu kehebohan terjadi dalam pikirannya. Aizla mendapati dirinya berada di sebuah laboratorium.


"Aaaaahh!! Suru mereka diam di sana!" dia berseru seraya menutup telinganya rapat rapat dengan kedua tangan. Dia menggeliat di lantai. Kepalanya pusing.


***


"Aku membiarkannya. Maaf, semua," batin Lixe. Ekspresi kesedihan terukir jelas di wajahnya. Dia menyalahkan diri atas segala yang terjadi. Tapi dia hanya bisa menatap sayu Bal dan Arek yang kembali terlihat.


"Kakak sudah berkerja keras. Mungkin membiarkannya memang lebih baik," kata Bal yang duduk bersama Arek yang tertidur. Keduanya ternyata sejak tadi berada di samping Lixe. Lixe menatap Bal tidak percaya. Anak itu bisa menyembunyikan auranya dengan baik. Dia benar-benar harta karun Suku Dey.


"Kapan aku bisa menjadi seperti dirimu?" batin Lixe. Kemudian memasuki alam bawah sadarnya.


"Semuanya sudah kembali seperti semula. Tersenyumlah, Kak." Bal tersenyum. Sekejap kemudian, keindahan dan kemegahan kerajaan kembali. Cahaya lampu, alat-alat elektronik, segalanya menyala. Drone-drone penjaga kembali aktif. Kerajaan itu kembali seperti semula.


***


Sebelumnya, di dalam gua yang terdapat tiang kontrol utama. Para penjaga pintu kebingungan. Mereka berusaha memeriksa ruang kendali itu. Tidak ada kerusakan. Tapi alat-alat tidak mau bekerja. Ini sangat menyebalkan. Mereka mengacak rambut frustasi. Saat diperiksa lagi. Semua data yang tersimpan di sana hancur.


"Siapa yang menghancurkannya?" kegaduhan terjadi.


Sebuah portal bayangan muncul. Para penjaga bersiap siaga.


Ague menggendong Zenith keluar dari portal. Cukup memalukan untuk Zenith. Tapi dia memang tidak berdaya.


Ague langsung berlari menuju tiang itu. Dia menurunkan Zenith.


Dengan setengah sadar Zenith mengeluarkan laptopnya. Mengcopy paste data-data yang telah ia duplikat dari sana sebelumnya.


Semua orang menatap Zenith. "Bagaimana kamu mendapat semua data itu?" tanya seorang penjaga dengan tatapan tidak percaya. Semua penjaga pun berpikir demikian.


"Tunggu. Bukan dia yang menghancurkan data-data itu," kata Ague yang membaca situasi dengan cepat. Dia membela Zenith. Tapi semua tatapan justru tertuju padanya.


"Siapa kalian? Bagaimana kalian sampai di sini?" tanya semua penjaga. Portal bayangan sudah menghilang, mereka tidak bisa kabur. Dan para penjaga itu akan menangkap mereka.


"Kami berterimakasih kepada kalian. Tapi maaf. Hukum tetap akan dijalankan. Kami menangkap kalian atas tuduhan pencurian data yang telah dipaten atas nama Kerajaan Roila," ucap orang yang tampaknya ketua penjaga. Dia memberi kode. Tiga orang penjaga mendatangi ke tiga orang itu.


Zenith yang baru saja selesai memulihkan data-data itu menelan ludah. Astaga. Dia pasrah, ketika seorang penjaga memborgol tangannya. Begitupun Ague yang hanya diam. Raja itu seolah mengakui kesalahannya.


"Kalian akan dipenjara."


Zenith mengeluh dalam hati. Dia ingin tidur nyenyak dan keluar dengan terhormat.