
Lixe terpental satu meter ke belakang. Pukulan lawannya itu memang tidak main-main. Lixe langsung bangun bersiap meladeni Zenith yang kembali melayangkan pukulan. Dua kepal tinju beradu. Deru angin menjadi kencang. Zenith mengayunkan kakinya dari samping. Lixe menangkisnya sebelum mengenai wajahnya.
"Kalian ngapain!" seorang tiba-tiba datang. Orang itu menggenggam tangan Lixe dan Zenith yang masih beradu. Lalu berputar dan melempar keduanya menjauh. Zenith mendarat dengan kedua kakinya, bagai petarung profesional. Sedang Lixe, tubuhnya menghantam atap. Hampir jatuh andai tidak ditahan elangnya.
"Zenith! Apa kamu lupa tugasmu?!" tanya pria itu sedikit membentak. Tepat membuat Zenith tersentak. Gadis itu langsung menghampiri komputernya. Dia mengacak rambut. Layar layar hologram itu menampilkan tulisan tulisan yang tidak dapat ia baca. Sedetik kemudian hilang redup beberapa saat. Lalu hilang begitu saja.
"Aku gagal. Semuanya gara-gara Kamu!!" Zenith berseru kesal. Ia menoleh pada Lixe dengan tatapan predator yang anak memakan mangsanya.
Lixe yang baru beranjak duduk dengan mengusap kepalanya yang sempat terbentur atap besi itu menanggapi seruan Zenith dengan ling-lung. "Apa?" gumamnya pelan dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Ah. Sudahlah. Sepertinya kita harus pergi sekarang," kata pria yang baru datang itu.
"Paman Ague! Biarkan aku mencoba sekali lagi." Zenith menggeleng. Ia mengotak-atik komputernya yang kembali menampakkan layar hologram. Tidak sampai tiga detik. Layar itu lagi-lagi hilang. Zenith memukul atap besi di bawahnya.
Melihat kegagalan itu, Ague menghela napas. Lalu menggeleng.
"Tidak ada kesempatan lagi hari ini. Ayo pergi! Sebelum hal lain datang." Ague memandang langit. Beberapa robot bola tampak terbang. Berpatroli di langit-langit.
Seekor burung dari luar hendak masuk ke bagian dalam gerbang dari langit. Naas, burung itu langsung mati disambar setrum salah satu bola.
Melihatnya, membuat elang Lixe menjerit. Elang itu lalu menghilang. Lixe menatap kedua orang di depannya.
"Sepertinya, hal buruk akan datang," katanya. Insting binatangnya kembali bekerja.
"Mudah saja kau bilang begitu! Tidak ada pintu keluar! Satu-satu cara adalah melewati gerbang itu!" Zenith mengomel sebal. Suasana hatinya sedang buruk. Ia menoleh pada Ague. Meminta jawaban.
"Kerajaan kecil yang maju. Menyebalkan. Bagaimana mereka mematikan semua teknologi portal dalam kawasan ini?" Ague menggaruk kepala. Memalingkan wajah dari Zenith yang menatapnya tajam. Ague lalu menoleh pada Lixe.
"Apa kau tahu, Bocah? Portal adalah teknologi yang membuat kita berpindah dengan kecepatan cahaya," tanya Ague pada Lixe.
Yang ditanya memiringkan kepala. "Jadi?"
"Bukankah Suku Van sangat membanggakan kemampuan itu?" balas Ague. Ia berjalan mendekati Lixe. "Sampai sampai kalian mengganggap diri sendiri sebagai malaikat, bukan?"
Lixe terdiam beberapa saat. Di benaknya terbesit pertanyaan, "Bagaimana aku bisa melakukannya?" Ia memang pernah melihat ayahnya membuka portal, berteleportasi seperti saat tragedi di taman kota. Tapi bagaimana dia akan melakukan itu.
"Dia hanya anak primitif yang tidak tahu apa-apa paman!" Zenith berseru tidak percaya. Dia menatap Lixe rendah.
"Aku bisa!" seru Lixe tidak terima. Walau yang dikatakan Zenith benar. Ayolah. Demi harga dirinya. Lixe berdiri tegap. Berkata dalam hati, "Aku mohon. Muncullah!"
"Cahaya rembulan. Pintu bulan purnama."
Lixe menahan napas. Lalu bersorak tertahan. Sebuah lubang cahaya muncul di depannya. Zenith yang melihatnya dari jarak empat meter berdecak sebal. Ague berjalan mendekati Lixe seraya bertepuk tangan. "Bagus. Ayo pergi!"
"Kau tidak ingin pergi?" tanya Lixe dengan nada mengejek pada Zenith yang sok sibuk dengan komputernya. Zenith menoleh dengan wajah menyeramkan.
"Sudahlah! Ayo pergi Zen! Cepat! Ini perintah!" Ague yang kesal dengan tingkah Zenith akhirnya mengeluarkan unek-uneknya. Barulah Zenith memalingkan komputer itu, lalu berdiri. Dengan cepat gadis itu berjalan menghampiri portal. Langsung masuk, disusul Ague. Tersisa Lixe. Sebelum masuk, ia menoleh ke sekitar.
Beberapa saat kemudian.....
"Dimana dia?" seorang gadis baru saja mendarat di atas atap gedung. Ia membawa pasukan drone penjaga. Gadis itu menebar pandangan. Lalu menghubungi seseorang.
"Apa yang kau lakukan, Putri Dira? Sudah cukup! Kau membuat warga cemas!" Seseorang dari seberang berkata sambil marah marah. Dira mengendikkan bahu.
"Maaf, Kak! Tadi ada orang asing. Jadi....," jawab Dira membela diri.
"Pulang sekarang!" Dira tersentak. Sambungannya terputus. Dira menggeram kecewa. Tapi dia yakin. Ada yang salah.
Sedang di tempat lain....
"Ini dimana?" tanya Zenith begitu keluar dari portal. Dia mengamati pepohonan sepanjang mata memandang. "Hei, Orang primitif. Apa kau tidak punya tempat tujuan lain yang lebih baik?" tanya pada Lixe yang baru saja keluar dari portal cahaya.
Lixe mendengus. "Tempat apa? Restoran bintang lima? Club? Mall? Atau apa?" Lixe mengajukan semua tempat yang terbesit di benaknya. "Aku hanya memutuskan tempat paling jauh dan paling aman."
"Paling aman? Jelas, orang aja gak ada. Di tengah hutan begini mana ada robot pembunuh. Tidak ku sangka, orang dari suku elit sepertimu hidupnya melilit." Zenith melipat tangan di depan tubuhnya. Memalingkan wajah, membuat ekor kudanya terayun.
"Lumayan. Hutan ini tidak jauh dari Kerajaan Dielus," kata Ague setelah melihat hologram peta di tangan kirinya. Lixe menghela napas puas. Setidaknya ucapan Ague barusan bisa menyumpal mulut Zenith sedikit saja. Zenith memutar bola malas matanya.
Ague menjentikkan jari. Di depannya muncul sebuah motor yang serba hitam. Motor berbadan besar itu membuat kesan Ague yang seram terlihat. Entah. Lixe kini memandang Ague dengan saksama. Dia kini melihat seseorang yang terlihat seram, juga sangat dingin. Rasanya bukan lagi pria menyebalkan yang tadi ia temui. "Siapa paman ini?" batinnya.
Dengan segala rasa gengsinya, Zenith yang sudah mengeluarkan motornya, motor berwarna hitam, dengan corak putih itu langsung meninggalkan keduanya. Zenith pergi terlebih dahulu. Sama sekali tidak berniat berterimakasih. Kecepatan motornya tidak main main. Bahkan Lixe tidak lagi melihat punggung Zenith hanya dalam lima detik. "Dasar tidak tahu berterimakasih," gumam Lixe.
"Ayo, Bocah! Kau mau ikut tumpangan ku?" tanya Ague yang masih setia menunggu di atas motornya. Lixe tidak menjawab. Dia enggan menaiki motor itu. Bukan. Instingnya bilang, kekuatan orang di depannya tidak bisa diremehkan. Lixe menatap Ague dengan tatapan menyelidik. Lixe sadar
"Siapa Paman ini?" tanyanya setelah beberapa detik terdiam. Ague termenung sejenak. Lalu terkekeh. Ia memegangi jidat.
"Kau akan tahu nanti." Ague tersenyum. Orang itu sepertinya menyembunyikan auranya dari tadi. Tentu saja. Lixe menepuk jidat. Tadi dia sedang menyamar, kan.
Lixe akhirnya naik ke motor Ague. Belum sempat ia duduk dengan benar. Ague sudah menyalahkan motornya. Motor itu bergerak dengan kecepatan puluhan kilo permenit. Lixe hampir jatuh. Kecepatannya bahkan melebihi motor Zenith. sepuluh detik kemudian, keduanya menyusul, bahkan menyalip Zenith.
"Orang primitif. Sepertinya aku mengenalmu. Apa kita pernah bertemu?" gumam Zenith saat melihat Lixe dari belakang. Di sela-sela poni miringnya yang diterbangkan angin, Zenith melihat sesosok anak kecil dengan rambut sebahu dan berponi miring. Anak itu berteriak sambil menangis. Itu dirinya? Bukan, rambutnya hitam pekat. Sedang rambut anak itu putih. Apa ada yang aku lupakan?
Zenith menarik gas. Menambah kecepatan motornya. Hingga bisa berada tepat di belakang motor serba hitam Ague.
"Paman, Apa kau akan membawanya ke istana?!" tanya Zenith dengan berteriak, agar dapat di dengar Ague yang melesat di depannya.
"Aku akan memberikannya pada ayahmu," jawab Ague datar.
"Apa?!" Zenith mendadak mengerem motornya. Mulutnya ternganga tidak percaya.
"Ada apa? Bukankah kau akan membutuhkan kekuatannya untuk mendapatkan teknologi-teknologi canggih Kerajaan Roila?" balas Ague.
"Aku tidak terima!!" Zenith berseru kesal.