AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Moster dari yang tertindas



Sore hari, di Panti Asuhan Lily.


Lixe dan Bal duduk tenang. Berbeda dengan Biete yang bercerita panjang lebar pada anak-anak yang mengerumuninya. Mereka takjub. Biete benar-benar menceritakan kisah lama yang sangat detail. Dialog orang-orangnya, nama para tokoh di dalamnya. Biete bahkan menyebutkan ciri mereka sedetail mungkin.


Lixe pikir, Biete mirip Nenek yang mengisahkan dirinya di masa muda pada cucunya. Biete terlalu baik untuk disebut orang jahat. Lixe memandang Biete takjub.


"Dahulu kala. Jaaauuh sebelum kelahiran kalian, saat ayah dan ibu kalian saaangat masih kecil, sebuah malam petaka terjadi," Biete memberi ekspresi menakutkan.


"Di malam bulan purnama yang bersinar terang di atas langit Neland, semua orang mengunci pintu rumah rapat-rapat. Semuanya menutup jendela. Mereka berlindung di basemen rumah. Kekacauan terjadi. Langit tanpa awan, menampakkan keindahan bintang-bintang. Juga menampakkan sebuah kekejaman. Dialah, sang monster Neo." Biete tiba-tiba memukul lantai. Anak-anak itu melompat dan berteriak kaget. Biete mengukir senyum nakal.


"Apa dia kuat? Bentuknya seperti apa? Naga?"


Biete menggeleng. "Dia pria tampan, Nak. Dia pangeran pertama 15 abad yang lalu. Tapi ketakutan mengubah dirinya." Audiences ternganga.


"Saat dia seusia kalian, dia hanya anak biasa yang lumpuh. Semua orang memandangnya rendah. Tentu, dia akan menjadi putra mahkota yang lumpuh? Tidak lucu bukan. Dia punya satu saudara tiri laki-laki, saudaranya sehat, normal. Ratu pertama selalu menyalahkan takdir, dia seolah tidak terima memiliki anak yang cacat. Pangeran Neo dikucilkan. Tidak ada yang sudi hormat padanya."


"Padanya akhirnya, dia diusir dari istana. Ke sebuah pedesaan terpencil. Lalu dia bertemu dengan seorang arwa wanita paling cantik di dunia yang gentayangan selama dua abad."


Lixe yang mendengarkannya dari jarak tidak terlalu dekat bisa menebak arwa gentayangan itu adalah Biete. "Cerita ini terlalu dilebih-lebihkan dari sisi Biete," batin Lixe.


"Wanita itu kasihan. Dia mengajarkan Neo sihir dan pedang. Untuk mempermudah semua itu, Arwa merasuki dirinya. Lalu membawa Neo ke negara lain demi balas dendamnya sendiri. Neo berhasil memporak-porandakan sebuah kota kecil dan terpencil di negara itu. Dia menghirup semua energi kehidupan mereka." Raut wajah Biete berubah. Sebuah penyesalan mendalam tampak di sana.


"Tapi arwa gentayangan yang jahat itu tidak pernah menyangka, kekuatan yang tak seharusnya Neo dapat justru membuat orang itu gila."


"Saat arwa itu keluar dari tubuh Neo, Dia tidak dapat mengendalikan kekuatannya. Tak tahan lagi, ia melepaskan semuanya. Dia menghancurkan orang-orang yang pernah menghinanya. Kemudian menghisap daya hidup mereka. Dia bahagia bisa membalas dendam. Jadi dia melakukannya lagi dan lagi."


"Tak terkendalikan. Orang-orang tak bersalah pun lalu menjadi korban. Bahkan Suku Abta ia hancurkan. Arwa yang merasa bersalah, pada suku dan pangeran pertama. Juga para semua orang yang gugur tanpa dosa. Akhirnya dia mengurung pangeran pertama di dalam penjara bawah tanah." Biete lagi-lagi merubah ekspresi wajahnya.


"Tapi dia manjadi berumur panjang. Dan setiap malam bulan purnama, kurungan itu melemah. Dia keluar!" Biete menaikkan nada suara. Anak-anak menjerit takut. Terjukal ke sana-kemari.


"Tenang saja. Arwa itu sudah membenarkan kesalahannya dengan kesalahan yang lain." Biete melirik Bal dan Lixe. Lalu menyeringai.


"Arwa itu mencuri potongan permata naga langit putih pemberi ketenangan abadi. Memberikannya pada Neo beberapa tahun lalu. Dia pun hidup di penjara dengan tenang."


"Lalu kau akan mengembalikannya kembali pada kami?" ucap Bal. Biete menoleh dan tersenyum.


"Aku punya alasanku, Cu. Aku hidup lebih lama darimu. Lebih tahu daripada dirimu. Bahkan siapa pewaris sesungguhnya."


"Kalian tidak ingin bersiap untuk pesta Tuan Putri?" Lily, nenek itu mengingatkan. Anak-anak langsung kembali ke kamarnya. Mereka semangat sekali. Meninggalkan Biete yang masih duduk di lantai kayu. Lily duduk di depan Biete.


"Kau tidak ingin pergi juga?"


"Ratu ketiga, Lily Neland. Mantan selir raja." Lily termagung. Matanya terbuka lebar. Biete suka, dia tersenyum.


"Yang diusir Ratu Fiyah. Oh maaf, si anak kampungan." Lily menelan ludah.


Biete berdiri. Berjalan mendekat. Duduk di sisi Lily.


"Yang kedua anaknya terbunuh di tangan Neo setelah mencoba macam-macam pada gadis kampungan. Bukankah itu karma yang indah?"


"Apa maksudmu, Nak?"


"Kemudian pergi menculik putri dari Fiyah. Ternyata kau salah, yang kau culik itu anak ratu kedua, saudara tiri Nona Tara, Bella," Biete berbisik saat Bella sudah keluar dari kamarnya.


Dia terlihat cantik dengan gaun hijau yang sewarna dengan bola matanya. Rambut coklatnya yang sedikit beruban ditata rapi dan ditali dengan pita hijau.


Lily memejamkan mata. Menunggu hingga semua anak pergi dari tempat ini. Bahkan Yase yang tidak ingin pergi ke istana, justru sudah menghilang entah di mana. Dia menghindari anak-anak yang memaksanya ikut. Di dalam panti asuhan itu, hanya ada Lily, Biete, Bal, dan Lixe.


Lily menatap Biete lamat-lamat. "Siapa kau?"


"Kalau perempuan ini, aku tidak tahu. Tapi kalau kau tanya sedang bicara dengan siapa, aku Biete Abta. Orang yang membawa Fiyah masuk ke istana." Lily menggigit bibir keriput pucatnya.


"Jangan mengganggu. Aku akan menegakkan keadilan. Bella akan menjadi pewaris berikutnya. Dia anak yang sah!"


"Dan kau akan mendapat kehormatan mu lagi?"


Lily mengangguk.


Biete tersenyum. Dia berdiri. Pergi memasuki kamar 4, di mana Bal dan Lixe duduk diam di sana.


Sedangkan di istana putri. Tara duduk di depan kaca. Para pelayannya mendandaninya bak patung indah. Tara diam, membiarkan orang-orang melaksanakan tugasnya.


Malam tiba, saatnya dia menunjukkan dirinya pada rakyatnya. Tara tahu, Raja tidak akan datang. Orang tua itu sibuk dengan pekerjaannya. Tentu, dia lebih cinta pada kerajaannya ketimbang putrinya, nasionalisme sekali bukan. Dan Ratu? Tara berharap dia tidak bertemu dengan ibunya.


"Bolehkah saya mengantar Anda, Tuan Putri?" seorang lelaki dewasa membungkuk dengan tangan telulur di depannya. Sekilas, Tara mengira itu ayahnya. Tidak. Walau keduanya sangat mirip, tapi itu bukan sang Raja.


Tara menatapnya heran. Dia tidak pernah melihatnya sebelum ini. Tapi baiklah. Tara membalas uluran tangannya. Mereka pergi bersama menuruni tangga. Semua orang menatapnya tak berkedip. Dua sosok dengan rupa sangat indah. Tidak ada yang bertanya siapa pria itu. Mereka sudah terlanjur terpukau.


Para tetua suku, anak-anak bangsawan, bahkan ratu kedua, apalagi seluru rakyatnya memberi salam. Pria di sampingnya menyeringai. Mereka sudah turun, dan naik di podium yang sudah disiapkan khusus untuk acara itu.


Tara mencari anak-anak yang tadi bermain dengannya. Lingkaran coklatnya bergerak kanan kiri, mencari keberadaan teman barunya. Tapi yang dia dapat justru Fiyah. Taman bunga di hati Tara yang indah, seketika tersambar petir.


"Tuan.., Anda.." Tubuh Fiyah bergetar. Keringat dingin keluar dari telapak tangannya. Netranya bertemu dengan milik pria di samping Tara. Fiyah tidak percaya, orang itu akan berdiri di sana hari ini.


Pria itu mengukir sebuah seringai serigala.


"Tuan Neo?" Fiyah berbalik. Dia menembus kerumunan memasuki kamar mandi. Dia menatap dirinya di kaca. Napasnya tidak teratur.


"Paman siapa?" tanya Tara. Tapi Neo hanya tersenyum lebar. Tara mengamatinya. Tara melihat saat Fiyah berlari ketakutan melihat pria ini. Tara berusaha cuek, tapi dia tidak akan kehilangan kewaspadaannya.


***


13 tahun yang lalu, di malam bulan purnama. Neo yang merasa kesepian, setelah mendapatkan potongan permata naga langit putih dia mulai berani keluar. Malam itu Neo keluar diam-diam. Tidak punya tujuan, satu-satunya yang ingin ia kunjungi hanya desa terpencil dimana dulu dia dibuang di sana.


Desa itu masih sama, tidak banyak berubah. Dia memandang sebuah danau indah. Dia ingat, itu adalah danau buatannya. Apa ya nama danau itu. Neo duduk di tepi danau itu. Menikmati sunyi dan angin malam.


"Bagus! Sekali lagi!"


Seorang wanita dua puluhan berjalan dengan langkah terseret membawa sebuah ember besar. Dia berjalan dengan matanya yang berat menuju danau. Mengambil airnya. Lalu kembali ke tempat dia muncul.


"Hei! Tahan sebentar lagi! Jangan sampai tumpah," titah orang dari rumah besar paling indah sedesa. Wanita itu membuka matanya yang berat. Gagal. Wanita itu tersungkur. Malang sekali. Wanita itu tidak sanggup berdiri.


Neo cukup kasihan. Dia berdiri. Mengambil ember dari tangan kecil orang malang itu. Mengambil air dari danau. Memberikannya pada pemilik rumah itu. Pemilik rumah berkedip beberapa kali sebelum menerimanya. Dan menutup pintu rumahnya begitu saja.


Neo menghampiri wanita tidak berdaya itu. Membiarkannya tidur di tepi danau.


Keesokan paginya. Seorang anak laki-laki sangat 4 tahun berlarian sambil berteriak. "Bi Fiyah! Bibi dimana?!" Anak itu mengelilingi desa. Beberapa orang membentak karena terlalu bising. Tapi anak itu sangat keras kepala.


"Bibi Fiyah!" Anak itu berteriak mendekati Fiyah yang tertidur pulas di tepi danau. Dia mengguncang tubuh bibinya. Fiyah mengerjapkan mata. Beranjak bangun. Fiyah menoleh ke sekeliling mencari pria tadi malam. Dia ingat. Seseorang membantunya tapi siapa?


Mereka berdua berdiri. Fiyah berjalan linglung dituntun keponakannya, Yase.


"Lihat dia! Malang sekali, adiknya bahkan sudah punya anak. Tapi dia belum menikah," cemooh itu terdengar jelas di telinga Fiyah. Sudah biasa baginya. Satu desa tahu. Fiyah adalah satu-satunya wanita 27 tahun yang belum menikah. Dia tidak peduli. Sudah muak dengan segala omong kosong warga desa.


"Kau tahu, Yase? Tadi malam, Bibi bertemu penunggu danau Neo Devil." Fiyah menggendong Yase. Dia tersenyum indah di tengah hujatan orang-orang. Yase tertawa. Dia percaya dengan candaan bibinya.


Saat sampai di rumah. Semua terasa seperti neraka bagi Fiyah. Dia disambut tatapan dingin ayahnya. Juga saudaranya, Sin dan suaminya. Sin mengangkat tangan.


"Mana uangnya?"


Fiyah menggeleng. Dia tidak dapat apapun. Ini masih awal bulan, gajinya belum keluar. Fiyah melewati saudaranya. Tapi suami saudaranya justru menamparnya. Fiyah terjatuh ke tanah.


"Kau tahu. Jangan pulang kalau tidak bisa bayar sewa! Kau itu hanya numpang di sini. Dengar! Anak ibu yang kotor!" Sin membentaknya.


Fiyah menunduk. Menahan rasa sakit di tubuh dan hatinya. Dia percaya, suatu hari akan datang saat dia bisa terbebas dari orang-orang ini. Bahkan ayahnya tidak bergeming.


Tentu saja. Apa yang diharapkan Fiyah. Itu hanya ayah tiri. Ibunya selingkuh dan melahirkannya sebagai anak tidak sah. Sudah sepantasnya dia diperlakukan seperti sampah. Dan saudaranya, Sin. Dia suci, bak Dewi.


Fiyah berdiri. Dia melangkah keluar. Tapi Yase menangkap tangannya. Mencegahnya pergi. Sampai Sin menggenggam tangan putranya, menyuruhnya membiarkan wanita malang itu pergi. Fiyah tersenyum pada Yase sebelum pergi.


Tidak ada tempat yang menerimanya, hanya danau Neo Devil yang dapat menerimanya apa adanya. Kini dia duduk di tepi danau dengan kaki yang dicelupkan ke dalam kolam air itu. Celananya yang panjang di tekuk hingga lutut.


"Kau tidak punya rumah? Tempat tinggal?" tanya Neo tiba-tiba. Fiyah hampir menyemburkan diri ke danau. Dia mengatur napas seraya memegangi dada.


"Siapa kamu? Yang tadi malam bukan? Neo Devil?"


"Siapa yang memberikan nama itu?"


"Nenek moyang bilang, 'dulu tempat ini adalah adalah tempat berdirinya bangunan pengawasan kerajaan terhadap desa ini. Bangsawan-bangsawan rendah tinggal di sini. Mereka memonopoli kehidupan. Tapi seorang Pangeran yang diasingkan menghabisi mereka. Hingga mengubah tempat ini menjadi danau."


Neo tidak butuh cerita itu, dia jelas lebih tahu. "Jadi?"


"Leluhurku bilang, demi mengenang jasa Pangeran Neo yang jahat, danau ini diberi nama Neo Devil." Fiyah tersenyum. Jujur, sejak dulu dia merasa aneh dengan nama itu.


Neo mendengus sebal. Harusnya dia musnahkan saja seisi desa. Lupakan. Dia kembali menatap Fiyah. "Kau tidak pulang? Cincin matamu besar sekali!"


Fiyah menggeleng sambil tersenyum kecut.


"Kau tidak ingin membunuh mereka?"


Fiyah spontan menoleh. Balik membuat Neo kaget. Fiyah tidak menyangka pikiran kejam itu akan dia dengar dalam hidupnya. Dia menggeleng keras. Tidak akan. Dia tidak akan membunuh adiknya yang paling dia sayangi. Apapun yang telah mereka lakukan.


Neo menyeringai. Tangannya menyentuh dagu Fiyah. Mengelus pipi pucat wanita itu. Neo mendekatkan wajahnya.


"Mereka pantas mendapatkan siksaan, Nona. Bukankah itu yang kalian sebut karma? Kalau mereka mati karenanya. Bukankah memang karena mereka lemah. Orang lemah yang menindas orang lain karena status dan kondisinya yang lebih baik," hasutan jahat keluar dari mulut Neo.


Fiyah menggeleng. Dia tidak akan melakukannya. Tidak. Tidak akan. Dia mencoba menyingkirkan tangan kekar Neo yang menempel di wajahnya dengan tangan kurus dan lemasnya.


Neo melepaskan pipi Fiyah. Justru menangkap menangkap tangan Fiyah.


"Lakukan, dengan tangan ini! Atau kau butuh perantara?"


"Aku tidak mau!" Fiyah berseru. Dia menarik tangannya. Tapi tubuhnya malah jatuh ke dalam danau. Mungkin, itu akhir hidupnya.


Tapi Neo tidak membiarkannya mati. Neo menyelam ke danau. Dia menarik tubuh Fiyah yang masih sadarkan diri ke permukaan.


"Terimakasih, Tuan." Fiyah memuntakan semua air yang membuat kepalanya pusing.


"Neo."


"Pangeran Devil itu?" Fiyah menoleh. Neo mengangguk.


***


Fiyah mengusap wajahnya di depan kaca. "Tuan, aku sudah membunuh mereka."