AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Kenangan



Seorang pria dengan tubuh tinggi besar. Rahangnya keras, terlihat sangat tegas. Bola mata biru tajam dengan rambut pirangnya yang dipotong rapi dengan gaya undercut. Wajah oval-nya begitu tidak asing di ingatan Zenith.


"Apa aku pernah melihatnya?" tanya Zenith dalam hati.


"Kak Riyal? Kau di sini?" Orang itu menyebar pandangan ke seisi kamar. Orang itu yakin, ada orang di dalam kamar itu. Dia berkeliling. Memeriksa setiap lemari, kolom kasur dan meja. Hingga puas dengan kegagalan, akhirnya orang itu pergi tanpa menutup pintu.


"Fiuh," Zenith dan Lixe menghela napas lega bersamaan. Keduanya sedang menempel di atap. Menggunakan sarung tangan perekat, juga mengaktifkan mode perekat di sepatu mereka.


"Apa kau tidak punya trik lain? Dari mana kau belajar itu?" tanya Zenith yang sudah melompat turun. Sepatu canggihnya itu meredam suara hentakan kakinya saat jatuh.


Zenith mendongak. Zenith bisa melihatnya dengan saksama sekarang. Sepatu Lixe tidak dilengkapi teknologi peredam suara. Tidak. Itu hanya sepatu biasa. Dia tidak percaya, Lixe hanya mengandalkan sarung tangan perekat.


Zenith menahan napas saat kaki Lixe mengayun ke depan, membuat tubuhnya bergelantungan di atap. Lixe akhirnya mendorong tubuhnya turun. Apa dia akan mengeluarkan suara? Zenith buru-buru menutup pintu.


Tapi Lixe, dia mendarat perlahan. Tanpa suara ataupun membuat debu di lantai itu bergeser. Zenith sungguh bertepuk tangan tanpa suara.


"Kau tanya dari mana aku mempelajarinya?" Lixe memastikan. Zenith mengangguk. Lixe hanya menyeringai.


"Urusan bergerak dalam diam, memanjat, menyelinap, setidaknya aku pandai dalam hal-hal itu. Kalau kau mau, aku bisa mengajarkannya," Lixe tersenyum mengejek.


"Sekarang kau meremehkan ku?" Zenith mengabaikan tawaran Lixe. Dia berjalan, membuka pintu perlahan. Dia menengok ke dalam dengan saksama. Otot-ototnya menegang.


"Santai, Zen." Lixe menepuk pundak Zenith. Membuatnya pindah dari tempat itu. Lixe keluar dari kamar itu santai. Dia menarik tangan Zenith yang hanya bengong seribu bahasa, mengajaknya keluar.


"Kita akan ke mana?" tanya Lixe dalam hati.


Zenith menarik tangan Lixe begitu seseorang melintas. Pria itu, pria yang dilihat Zenith tadi, Sang Pemilik kamar.


Zenith menundukkan kepala, dia melirik dari bawah wajah pria itu lamat-lamat. Mereka berdua berpapasan dengan orang itu. Melihatnya, Lixe ikut menunduk.


Orang itu hanya memandang mereka dengan tatapan kosong. Entah memang tidak peduli atau bagaimana. Tapi Zenith tidak menemukan apapun di pikiran orang itu. "Benar-benar seperti mayat hidup. Bahkan Bal tidak sampai semati itu," batin Zenith.


"Apa kau mengenal dia?" bisik Lixe saat orang itu sudah agak jauh dari mereka.


"Entahlah. Pikirannya lebih sepi daripada kuburan. Aku tidak menemukan apapun." Zenith menggeleng. Dia lalu berjalan ke arah yang berlawanan dengan orang itu.


"Mau ke mana?" Lixe menyamakan langkahnya dengan Zenith.


"Kau tidak akan percaya. Aku pernah dengar kalau bangsawan tertinggi suku Argio memiliki kekuatan untuk memanipulasi pikiran orang lain. Katanya, mereka juga pernah menghapus pikiran banyak sekali manusia. Dari zaman nenek moyang, hingga hari ini. Lalu menaruhnya dalam sebuah kotak rubik," Zenith memiringkan kepalanya, berpikir sejenak.


"Kalau tidak salah begitu. Jarang ada yang pernah menyentuhnya selain mereka para raja kerajaan ini. Juga beberapa orang tertentu."Zenith mengangkat bahu. Siapapun yang pernah menyentuh kotak itu, bukan urusannya.


"Kau tidak ingin melihatnya?" Zenith menoleh. Tampak berkobar api semangat yang membara di matanya.


"Ingatan orang sebanyak itu? Buat apa mereka melakukannya?" Lixe melirik tidak tertarik. Kedengarannya mustahil. Menghapus pikiran manusia? Apa dia serius.


"Sudah ku bilang, kau tidak akan percaya. Jadi ikuti saja aku." Zenith menggandeng lengan Lixe. Menariknya mengikuti langkahnya.


"Kau tahu aku tidak tertarik kan? Lalu kenapa aku harus ikut?"


"Kau bisa merasakan hawa paling gelap di sekitar sini?" kata Zenith dengan nada sinis. Sedikit membuat bulu kuduk Lixe berdiri.


Benar juga, Lixe mengangkat kepalanya. Menatap ke depan. Sebuah perasaan tidak enak di dalam dirinya muncul.


Zenith melepaskan lengan Lixe. Laki-laki itu bergerak maju. Dia mengikuti hawa tidak enak yang membuat dirinya sangat penasaran. "Ikuti aku Zen!"


Zenith menyeringai. Memang itu yang dia inginkan. Dia mengikuti langkah Lixe yang sunyi tanpa suara padahal Lixe terus berjalan tegak dan cepat.


Lima menit mengikuti Lixe, Zenith menarik lengan Lixe sebelum orang itu menabrak dinding di depannya.


"Ada apa? Jalannya sudah habis." Mereka sampai di jalan buntu. Lorong itu berujung. Tidak. Zenith mengamati dinding di depannya lebih saksama. "Kau pasti merasakannya Lixe." Zenith menyeringai.


"Ini yang kau cari, bukan?"


Di mata Zenith terlihat sebuah pola goresan jari. Dengan tangan terbungkus sarung tangan, Zenith mengikuti gambaran itu. Selesai. Lantai yang mereka injak menghilang. Mereka jatuh dalam lubang yang tiba-tiba ada.


Untungnya, mereka berhasil mendarat dengan aman. Lixe memandang Zenith yang mematung. "Ada apa?" tanyanya.


"Kita menemu...!"Lixe buru-buru menutup mulut Zenith yang hampir berteriak kagum. Dia menepis tangan Lixe. Melihat-lihat sekitarnya.


"Makannya, jangan banyak menghujat!" Zenith tertawa mengejek. Gadis itu masih fokus membongkari laci-laci dari lemari kayu yang, oke, primitif. "Ayolah, apa kau tidak bisa merasakan keberadaan benda itu?" Zenith menutup laci terakhir setelah memeriksanya berulangkali dengan kecewa.


"Hawanya menyebar ke seluruh ruangan. Apa kau tidak bisa melihatnya dengan matamu yang canggih itu?" Lixe mendengus. Dia mencoba berdiri dari posisi tengkurap. Lagi, tanpa ia sadari lengannya menghantam meja.


"Riiiing!" suara itu terdengar nyaring. Lixe langsung mendongak ke lubang yang sebesar 1x1 meter itu. Juga Zenith.


"Dia akan datang Lixe," kata Zenith dengan suara gemetar. Lixe menatap Zenith heran. Dia belum pernah melihat gadis pemberani itu ketakutan sampai suaranya habis.


Zenith menelan ludah beberapa kali. Dia bisa melihat seorang pria, sangat mirip kedua laki-laki yang dia lihat sebelumnya. Tapi yang satu ini lebih tua. Dan Zenith mengingat wajahnya. "Arian. Monster itu datang."


"Ayo sembunyi Zen!" Lixe berbisik pelan.


Tidak sempat, Arian sudah melompat dari atas sana. Turun dan mendarat dengan elok di hadapan keduanya. "Selamat datang di ruangan rahasia ini. Jadi, siapa kalian?" orang itu tersenyum ramah.


Zenith tidak menjawab. Tubuhnya bergetar. Keringat dingin membasahi lehernya. Sedang Lixe, tidak tahu kenapa kepalanya tiba-tiba pusing.


"Siapa?" Lixe memegangi kepalanya. Pandangannya berkunang-kunang. Sekejap bayangan abu melintas di pikirannya.


"Sepertinya kita pernah bertemu, Nak. Siapa namamu?" Arian menatap lamat-lamat Lixe.


Pikiran Lixe kacau. Tanpa dia kendalikan, mulutnya bergerak menjawab, "Lixe Van." Lixe spontan menutup mulutnya.


"Ada apa ini?" gumam Lixe saat kakinya melangkah maju menghampiri Arian. Kakinya berjalan sendiri. Tidak ada ide atau apapun yang melintas di benaknya.


"Bagus." Arian mencengkeram wajah Lixe. Lalu ganti melirik Zenith. Perempuan itu terduduk.


"Apa kau Zenith?" tanya Arian diakhiri seringai menakutkan.


Zenith berdiri dengan setengah keberaniannya. "Iya," jawab Zenith dengan kesadaran penuh. Meski matanya tidak menatap Arian, tapi dia justru menemukan sesuatu yang lebih berharga.


Zenith mengosongkan pikiran. Dia mendekati Arian dengan langkah goya. Dia menghantam meja yang tadi di senggol Lixe. Saat tubuh bagian atasnya berbaring menempel di sana, Zenith menggebrak meja itu.


"Apa yang kau lakukan?!" Wajah Arian berubah. Raut santai itu digantikan kemarahan.


Di atas meja, sebuah rubik perlahan keluar dari tengah-tengah meja. Dengan cekatan Zenith mengambilnya. Dia meremas rubik 3x3 yang sangat keras dan cukup berat. Rubik itu teracak. Tidak ada yang beraturan.


Zenith menatapnya takjub. Tapi sesuatu menarik perhatiannya, seperti menatap cuplikan film di dalamnya. Dia penasaran. Semakin fokus dengan rubik itu.


"Sudah cukup, Nak!" Arian mengangkat tangan kanannya. Rubik di tangan Zenith itu melayang memenuhi panggilan pemiliknya.


Lixe yang berdiri di dekat sana, berusaha meraih rubik itu. Tapi Arian lebih dulu menendang dada kirinya. Lixe melenting ke belakang. Zenith langsung menyambar tubuhnya.


"Bagaimana? Kau sudah puas, Zenith?" Ruangan itu sekejap menjadi gelap. Bahkan mata Zenith tidak bisa melihat apapun.


"Ternyata kau memang tidak berubah ya. Sebenarnya apa yang kau inginkan dari rubik ini?"


Zenith menahan napas. Bulu kuduknya berdiri. Begitupun Lixe. Dia merasakan hawa tidak enak dari rubik itu semakin kental.


"Kau pasti lupa. Dulu kau dan teman-temanmu pernah datang ke sini. Mencari benda ini. Membuat kalian semua kehilangan kenangan bersama. Siapa penjahatnya? Dirimu, Zenith."


Zenith terdiam. Dia mencoba mencerna baik-baik kalimat itu. Mencoba berpikir itu hanya bualan, tapi hatinya seolah membenarkan. Astaga. Zenith berteriak tertahan.


"Dulu, sekarang, bahkan yang akan datang. Ingatan kalian milikku!" Rubik itu bercahaya. Mulai berputar mengacak. Warnanya menggelap.


"Dia akan mengambil ingatan kita?" tanya Lixe dengan suara sangat pelan. Tenggorokannya kering. Dia dapat melihat dalam remang-remang, Zenith mengangguk. Wajah gadis itu pucat pasih.


"Lixe, Kalung itu?" Zenith menoleh pada cahaya kuning dalam minimnya cahaya. Dia melihat sebuah kalung rantai yang melingkar di leher Lixe menyalah. Lixe menelan ludah.


"Apa lagi setelah ini?" batinnya.


Sedang di tempat lain....


Gusion berlari keluar dari apartemennya. Pegasus kesayangannya muncul dua meter di atas tanah, terbang di samping pemiliknya. Tanpa menunggu lama, Gusion melompat. Sang Pegasus terbang dengan kecepatan maksimal.


"Bertahanlah, Gueta," Gusion bergumam pelan.