AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Lupakan Saja



"Sudah kubilang pulanglah!" Anita memukul pipi Zenith tanpa ampun. Zenith untuk kesekian kalinya terpelanting ke samping. Anita masih berdiri dengan kuda-kuda sigap. Wanita itu siap melayangkan serangan berikutnya.


"Aku tidak akan pergi! Hari ini aku datang atas kehendak ku sendiri. Bukan tamu undangan yang bisa Anda usir begitu saja." Zenith membenarkan kuda-kudanya. Dia mengayunkan tangan. Menangkis kaki Anita yang hendak menghabisi kepalanya. Zenith membuangnya. Dia balas menendang dengan kaki kirinya. Telak mengenai dagu Anita. Wanita itu melompat mundur.


"Bukankah seingat ku dulu tangan dan kakimu yang mengganggu telah dihancurkan Tuan Arian?" Anita memegangi dagunya dengan tangan kanan. Sedang tangan kirinya terkepal.


Zenith maju lebih dulu. Tapi tangan kiri Anita melayang ke wajah Zenith lebih cepat. Zenith menangkapnya.


"Aku ucapkan terimakasih padanya, yang telah menghancurkan kaki dan tanganku."


Zenith memiting tangan Anita. Kali ini wanita itu tidak bisa menghindar. Menjeglang kakinya. Lalu duduk di atas Anita. Membuatnya benar-benar terkunci.


Zenith tersenyum puas.


"Ini sudah berakhir, Ibu."


"Mengapa kau datang kemari?" tanya Anita dengan melirik ke belakang. Tubuhnya tidak bisa digerakkan. Dia menyadari bahwa kekuatan Zenith kini jauh di atasnya. Kaki dan tangan itu begitu kuat.


"Pamer tangan dan kaki baru," jawab Zenith dengan senyuman.


"Bagus bukan? Tapi jangan sampai ibu menginginkannya." Gadis itu mendekatkan wajah ke telinga Anita.


"Karena kalau Ibu menginginkannya berarti itu ingin aku mematahkan kedua tangan dan kaki ibu," bisiknya.


"Aku tidak berharap memilikinya. Buat apa kaki dan tangan yang kuat seperti itu? Kalau pikiranmu masih sama bodoh. Mungkin kau juga harus mengubah otakmu dengan kecerdasan buatan." Anita menggeram, berusaha melepaskan diri.


"Kau yang bahkan tidak bisa melakukan teknik-teknik hebat Suku Van, juga tidak Suku Harito. Apa yang kau harapkan?!" Anita berusaha memprovokasi Zenith.


Benar saja, gadis itu benar-benar terprovokasi. Fokusnya hilang. Dengan mudah Anita memutar tubuhnya. Melepaskan tangan dari genggaman Zenith. Dia memukul wajah putrinya. Zenith terpental ke belakang. Anita sudah berdiri di depannya.


"Kau tahu, aku tidak membutuhkanmu. Jadi pergilah. Kerajaan Argio tidak membutuhkan sampah sepertimu," Anita berlutut, mendekatkan wajahnya pada Zenith yang masih dalam posisi terlentang. Dia menyeringai. Tubuh Zenith kaku karena emosinya.


Wanita itu berdiri. Lalu pergi meninggalkan Zenith dengan hati terluka sedalam-dalamnya.


"Kau baik-baik saja Zenith?"


Setelah Anita pergi, Lixe menghampiri Zenith. Dia tahu Zenith tidak suka dikasihani. Jadi entah apa yang harus dia lakukan.


Zenith mengangguk. Lalu berdiri. Benar juga. Kaki robot itu tidak perlu dikhawatirkan.


"Kau akan pergi?" tanya Lixe.


Wajah Zenith mendadak datar. Dia menggeleng keras. Membuat tulang lehernya mengeluarkan suara.


"Ayo jalan-jalan. Kau belum pernah ke sini kan?" Zenith memulai langkahnya. Keluar dari taman bunga.


"Jalan-jalan? Aku tahu itu maksudnya membuat kekacauan kan?" Lixe mengikuti langkahnya dari belakang.


"Apa tujuanmu datang ke sini?" tanya Zenith. Lixe menoleh dengan wajah tidak percaya Zenith menanyakannya. Tentu saja dia di sini ingin mengikuti gadis itu.


Zenith menggeleng.


"Kalau ingin kembali, kenapa tidak kembali ke tempat asalmu?" Zenith sadar. Lixe bahkan tidak tahu apapun


"Tidak nyaman," jawab Lixe singkat sambil menggeleng. Dia tidak tertarik membahasnya di pagi yang suram.


Lixe terdiam sepanjang jalan.


Lixe menggenggam tangan Zenith. Membuatnya menghentikan langkah. Zenith menatapnya heran


"Kau ingin ibumu kembali, kan?" Lixe mengatakannya dengan ragu.


Zenith mengangguk.


"Percayalah, Zen! Selamanya semua punya jalan mereka masing-masing. Kau tidak bisa mengajak mereka semua tinggal denganmu."


Zenith mengangkat wajahnya. Menelan perlahan ucapan Lixe.


"Hiduplah di jalanmu. Bersama orang-orang yang ada di jalanmu. Demi mengingat semua orang menyebalkan itu adalah orang-orang terbaik dalam hidup." Lanjut Lixe.


Zenith mendengus kesal. Dia memalingkan wajah. Berjalan cepat. Lixe merasakan betapa kesalnya Zenith melalui gerak-geriknya.


"Oke, maaf." Lixe mempercepat langkah mengejar Zenith.


Zenith tidak merespon.


****


Sedang di kediaman keluarga utama Harito.


Anita mengetuk keras pintu kamar seseorang.


Tidak ada jawaban. Hanya geraman orang di dalam yang terdengar marah.


"Selamat pagi."


Anita berkacak pinggang. Dia mengangkat wajahnya garang. Laki-laki dua puluhan itu memutar malas bola matanya.


"Tante mau apa? Ini masih malam."


"Ini sudah pagi! Pukul empat dini hari! Kau bilang masih malam?!"


Orang itu memutar bola mata malas. Dia menutup mulutnya yang menguap lebar.


"Cain! Zenith kembali. Kau bersedia melemparnya keluar, bukan?" Anita berusaha berbisik, tapi nada bicaranya yang memang nyaring tidak bisa ditahan.


Sekejap mata Cain membulat, seolah rasa kantuknya seketika hilang.


"Tante bilang Zenith kemari? Kursi roda model apa yang bisa membantu dia menempuh jarak sejauh ini?"


Anita menggeleng. Dia sudah menyaksikan dan memastikan, bahwa tangan dan kaki Zenith sungguhan. Cain terdiam seribu bahasa. Ini terdengar lebih menarik.


"Aku akan pergi, Tan."


"Siapa yang kau sebut Tan? Panggil aku kak!"


"Hah? Tapi Tante kan sudah janda...,,"


"Ehem." Cain menutup mulutnya. "Ulangi!"


"Kakak orang paling cantik di dunia," kata Cain langsung berlari.


"Astaga, dia galak sekali," batinnya.


Setelah Anita memastikan tidak ada orang yang melihatnya. Dia berjalan lemas menuju kamarnya. Menyeret kaki. Membuat kesan seolah dia mengantuk dan baru bangun dari tidur.


"Ada apa denganmu? Dari mana kau tadi?" seseorang menghentikan langkahnya. Buku kuduk wanita itu berdiri. Dia mengangkat wajah, menoleh ke arah orang yang itu. Lalu menunduk dan menelan ludah.


"Aku dari taman, Kak." Anita memalingkan wajah. Berusaha menyembunyikannya wajah sedihnya yang palsu.


"Lupakan mereka! Sudah kubilang berapa kali? Cepat atau lambat kita akan bertemu lagi dengan Suku Van di medan perang. Saat itu tiba, Tuan Arian ingin kau menghancurkan semua. Dia ingin kau membunuh Zack Van!"


Anita mengangkat kepala. Dia mengangguk. Lalu kembali berjalan memasuki kamar. "Dasar Heto menyebalkan," batinnya.


Dia menghempaskan tubuh ke kasur. Ini pertama kalinya dia bertemu Zenith setelah sekian lama.


"Anak itu kembali dengan tangan dan kaki yang utuh. Sial! Kenapa kau suka sekali mencari bahaya?" gumam Anita. Dia menepuk jidat.


"Semoga Cain menemukanmu lebih dulu daripada Arian sialan."


Pukul 6.40, Zenith dan Lixe kembali ke taman bunga.


Setidaknya taman luas itu cocok untuk melihat fenomena terbitnya matahari. Walau tidak seindah pantai timur Kerajaan Aenmal, menurut Lixe.


"Berhentilah membanggakan keindahan kerajaan primitif itu!" Zenith berseru sebal setelah mendengarkan ocehan panjang Lixe tentang matahari terbit.


"Haha. Marah tanda iri. Iri tanda tak mampu." Lixe tertawa lepas. Zenith memalingkan wajah. Menyembunyikan wajahnya yang merah.


"Sudahlah, ini juga indah." Lixe menepuk pundak Zenith. Tatapannya lurus ke arah matahari yang muncul perlahan. Zenith pun menikmatinya.


"Apa yang akan kita lakukan? Pulang?" Setelah matahari sempurna bulat, Lixe menoleh pada Zenith yang tanpa ia sadari, gadis itu tersenyum lebar, melupakan semua masalah di hidupnya.


Zenith menggeleng keras.


Lixe kembali menatap matahari. Apa yang dia harapkan dari Zenith.


"Kau tidak berkedip saat menatapnya?"


"Bahkan untuk makan. Kecuali aku sudah menemukan hal yang lebih elok darinya." Lixe mengangguk mantap.


"Kau tahu apa yang kupikirkan sekarang?" bisiknya di telinga Lixe.


Lixe melirik ke belakang.


Zenith berdiri. Berlari menjauh. Meninggalkan Lixe


yang membaringkan tubuhnya.


"Hidup ini aneh."


Cain yang sejak tadi mengawasi keduanya dari jarak cukup jauh, kini berlari mengejar Zenith.


"Apa dia benar Zenith?"