
"Menakjubkan! Dimana aku bisa melihatnya, kawan?" tanya Arek penuh semangat. Ini pertama kalinya ada yang bercerita soal alam padanya. Bukan teknologi super canggih yang membosankan.
Keduanya tidak menghiraukan orang-orang yang berlalu lalang menetap Arek. Para gadis memang tertarik dengannya. Sayang, malam ini Arek lebih menikmati cerita Lixe. Duduk di atas sofa coklat yang indah dan nyaman. Entah apalagi yang istimewa dari sofa itu. Di antara keduanya sebuah meja dengan dua minuman di atasnya menjadi pembatas di antara keduanya.
"Apa kamu tidak pernah keluar, Kawan?" tanya Lixe menyelidik. Dia tidak percaya dengan dugaannya. Ayolah, diam di bengkel sepanjang tahun?
Arek menyengir. Dia meneguk minumannya. Dia tertawa, seolah mengejek dirinya sendiri. Menaruh gelas kacanya agak kasar hingga membuat suara cukup mengagetkan.
"Aku sudah dua puluh dua tahun. Dan belum pernah melihat di balik Gerbang Roila. Aku bahkan belum tahu gambaran sebenarnya dari hutan atau sungai yang mengalir di sana," jawab Arek. Dia menyandarkan punggungnya. Menghela napas panjang. Aku ingin melihatnya.
"Kenapa kau tak mencoba keluar dan melihatnya?" tanya Lixe sambil menatap sebal orang yang menampilkan wajah tidak mampu padahal dia punya kuasa di atas langit.
"Aku tidak pernah berpikir ke sana," jawabnya dingin.
"Sejak dulu, Raja sangat terobsesi dengan kerajaan megah politan. Entah apa yang beliau inginkan. Awalnya itu bukan masalah besar bagiku. Tidak sejak usiaku sepuluh tahun. Saat dimana Ibu meninggal. Aku bahkan tidak tahu penyebab kematian beliau. Hari itu aku sadar, seberapa tidak pedulinya Raja padaku. Seberapa sepinya hidup ini. Menyebalkan. Aku memutuskan bekerja sebagai bawahannya. Menjadi insinyur seperti dirinya, walaupun aku bahkan pernah berjanji tidak akan menjadi sepertinya pada Ibu dulu. Percayalah, mulai hari itu aku tidak lagi mempermasalahkan ayahku yang tidak pernah memperhatikan kami. Aku mengerti rasanya. Rasa dimana kau mengabaikan segalanya, menikmati duniamu seorang diri. Pada akhirnya aku melakukan apa yang Raja lakukan."
"Kamu melanggar janji, Kawan," kata Lixe di akhir cerita Arek. Arek tersenyum. Mengangguk.
"Tapi semua berubah. Setelah kembali dari perang lima tahun yang lalu. Beliau menjadi hangat. Entah apa yang menghantam kepala beliau. Seisi istana dibuat terkejut olehnya. Walau pada akhirnya segala proyek akhirnya diberikan padaku karena dia tidak lagi bekerja di bengkel. Mengurus keperluan dan anggaran negara. Untuk pertama kalinya Raja memperhatikan orang lain. Sungguh tak dapat ku percaya, bahkan hingga hari ini." Arek meremas rambutnya. Matanya menampakkan kebingungan yang sangat jelas. Lixe dapat mengolah segala peristiwa yang baru saja ia dapatkan dengan baik.
"Apa kamu pernah berpikir itu bukan Raja yang sesungguhnya? Maksudku bagaimana jika itu orang lain?" tanya Lixe berusaha senormal-normalnya. Dia hampir menyemburkan minuman yang belum sampai di kerongkongannya. Arek mengangguk. Lixe tersentak. Tamatlah riwayatmu Paman Ague.
"Aku selalu berpikir demikian. Seandainya benar, aku akan berterimakasih pada orang itu," jawab Arek tersenyum santai. Lixe menghela napas lega. Waw, ternyata Arek memang sangat bijaksana. Tidak perlu ada yang dikhawatirkan.
"Tapi mungkin. Setelah aku memasukkannya ke dalam ruang hukuman selama dua bulan," lanjutnya. Kali ini membuat Lixe meneguk ludah. "Begitulah hukum Roila. Penipu harus dihukum, baik kau, aku, bahkan Raja sekalipun."
Dalam hati Lixe mengerti mengapa Arek tidak menyukai Suku Dey. Mereka mata-mata. Sulit dipercaya. Karena mereka memang bekerja dalam kegelapan. Orang di hadapannya ini memang sangat bijaksana.
"Kapan kamu menjadi naik tahta, Kawan?" tanya Lixe dengan tersenyum mengejek. "Kurasa kamu sudah sangat bijaksana untuk itu." Lalu tertawa diakhir kalimatnya. Arek pun tertawa.
"Haha. Mungkin selamanya tidak, Kawan." Lixe terkejut. Orang ini lagi-lagi membuatnya tidak tenang meneguk minumannya. "Aku sudah mundur dari calon pewaris. Biarlah Dira yang mengatur segalanya. Hidupnya lebih cerah daripada sekedar tinggal di bengkel sepanjang tahun. Temannya juga banyak, dan mereka semua manusia." Arek menoleh ke sekitar. Lalu tertawa. Juga Lixe.
Sedang di sisi lain...
Seorang perempuan dengan rambut bob sepundak, mengenakan kemeja putih dan celana hitam ketat memandang langit di balkon istana. Angin menelisik wajahnya, menerbangkan rambut merahnya. Matanya yang tak kalah merah dari darah menatap tajam bulan purnama yang sebagian tertutup awan.
"Aizla, kamu dengar ibu?" seseorang memanggilnya dari panggilan telepon yang terhubung dengan earphone di telinganya yang tertutup rambut.
Aizla berdeham pelan. Orang di ujung sana, tertawa. "Apa kau sudah siap, Putriku Sayang?"
"Apa menurut ibu ini akan berhasil?" Gadis itu ragu. Sambungan telepon diputus. Gadis itu berbalik. Ia berjalan melewati pintu, kembali memasuki ruangan berdemokrasi indah dan di penuhi orang orang yang tertawa riang.
Aizla mendekati Arek. Ia mengangkat wajah dengan angkuh. Berjalan dengan anggun, walau pakaiannya sangat tidak menampakkan keanggunan.
"Siapa orang itu?" batin Lixe yang merasakan kehadiran Aizla. Dia melirik ke arah Aizla dengan tatapan tajam. Aura gadis itu buruk sekali.
"Permisi, Pangeran. Apa Anda melihat Putri Dira?" tanyanya dengan wajah kebingungan. Tanpa diketahui Arek, Aizla sempat menyentuh pundaknya. Arek menoleh.
"Maaf, Nona. Sepertinya..." belum sempat Arek menjawab. Aizla sudah pergi. Dia berjalan cepat mendekati Dira tanpa mengatakan apa pun.
"Gadis aneh," batin Arek. Dengan cepat Arek mengabaikannya.
Sedang Lixe mengamati setiap gerakan Aizla. Dia tahu, ada sesuatu yang orang itu akan lakukan. Dan mungkin bukan hal yang baik. Saat hendak menghampiri Dira, Aizla sempat menoleh ke belakang. Tatapan matanya yang bagai darah bertemu dengan netra Lixe.
Membuat Lixe menahan napas, lalu terkejut. Siapa dia?
Di sana, Aizla berpapasan dengan Zenith. Mata tajam keduanya bertemu. Seolah tidak asing. Zenith berbalik, menatap punggung Aizla. Dia menoleh ke arah Lixe yang juga memperhatikan Aizla. Lixe memberi mengerutkan kening. Zenith mengejar gadis itu. Zenith merasakannya. Gadis itu punya rencana buruk.
"Bereskan dengan sempurna. Aku lebih jenius daripada Arek Roila," batin Aizla dengan kepala terangkat angkuh. Dia menyentuh punggung Dira yang hendak menabraknya. Dira menoleh.
"Maaf," ucapnya singkat. Dira menelan ludah. Aizla mengukir senyum terindahnya seraya berkata, "Tidak papa. Seharusnya saya yang meminta maaf."
Ya sudahlah, mungkin dia teman yang diajak temannya. Barang kali Kakaknya yang mengundangnya. Itu akan lebih baik baginya.
Aizla langsung pamit. Dia meninggalkan Dira bersama teman-temannya. Namun Dira masih terpesona dengan tampilan gadis itu. Entahlah. Dia harus mengakui betapa cantiknya gadis itu walau bergaya tomboi.
"Apa kau tahu siapa gadis itu?" tanya Zenith pada Lixe melalui earphone-nya. Zenith berjalan mengikuti Aizla yang sekarang berjalan menuju tengah-tengah ruangan.
"Kau pikir aku tahu? Aura orang itu anehnya tingkat dewa," jawab Lixe dari earphone nya. Dia kini sudah tidak bersama Arek. Baiklah, Arek mendapat panggilan dari teman-temannya. Walau Arek tidak rela meninggalkan Lixe dan meladeni drama teman-temannya yang hanya pencitraan, dia tetap menemui teman-temannya dengan alasan kesopanan.
Aizla yang sampai di tengah-tengah ruangan menatap ngeri lampu hias yang melayang di atasnya. Lampu itu berdenyit. Bergoyang sedikit. Tidak lama, lampu itu jatuh ke arahnya. Semua orang yang ada di tengah-tengah ruangan berteriak histeris. Semua orang mendongak. Tidak ada yang sempat melakukan apapun, Bahkan Arek menggeram di tepat saat beberapa tamunya dijatuhi lampu hias itu.
Suara memekakkan telinga terdengar hingga ke seluruh ruangan. Ditambah orang-orang yang berteriak histeris. Ruangan itu seketika kehilangan listriknya. Semua alat di sana mati dalam sekejap.
"Apa yang terjadi?!" Arek berseru pada pelayannya. Dia langsung memunculkan hologram dari jam tangannya, melakukan panggilan pada para penjaga pintu gua tiang kontrol pusat berada.
"Apa ada penyusup di sana?" tanyanya sebal.
"Tidak Pangeran," jawaban itu sedikit tidak dapat Arek percayai. Dia keluar menuju balkon. Astaga. ini lebih para lagi. Seluruh teknologi canggih Kerajaan Roila lenyap dalam semalam. Dron-dron di langit berjatuhan. Semua lampu padam. Bahkan kendaraan kendaraan terbang yang melintas di langit berjatuhan, diiringi teriakan pengendaranya. Begitupun kendaraan yang melaju di jalan. Semuanya mati.
"Siapa yang memasuki gua itu?! Dan mengganggu tiang kontrol pusat" Wajah Arek sungguh tidak bersahabat. Dia benar-benar dalam keadaan terbakar. Kekacauan terjadi di kerajaan buatannya.
Di sisi lain, Zenith menatap kosong lampu yang sudah hancur tepat di depan wajahnya. Dia baik-baik saja. Tetap bertahan di sana walau semua orang sekarang sudah menuruni tangga darurat dan pergi dari sana. Dira dengan cekatan mengawal tamu-tamunya pulang. Menyisakan 6 orang yang masih bertahan di ruangan.
Lixe menghampiri Zenith. Dia memegang pundak Zenith. Yang dipegang, terkejut dan langsung menoleh. "Aku yakin dia belum tamat," ucapnya. Matanya bersinar. Lixe mengangguk.
"Asap darah. Sedotan enegi."
"Aaaaahh!!" Arek berteriak. Tubuh bagian atasnya kaku, seolah membeku. Kakinya lemas. Arek jatuh di lantai balkon. Sebuah asap darah menyelimuti tubuhnya.
Lixe dan Zenith yang mendengarnya langsung lari menghampiri suara itu. Bal pun berlari meninggalkan Ague saat melihat Lixe menuju balkon.
"Ada apa denganmu?" tanya Lixe saat melihat Arek terkulai tak berdaya di lantai. Dia duduk, berusaha membantu Arek untuk duduk. Arek diam sejenak.
"Ini kehancuran," ucapnya. Ketiga orang yang baru datang saling bertatap. Tidak butuh banyak waktu, puluhan portal muncul dimana-mana. Dari sana, ratusan zombie? muncul dari sana.
"Makhluk apa itu? Apa itu yang disebut Zombie?" tanya Zenith dengan raut wajah jijik. Ayolah makhluk-makhluk serupa manusia itu memiliki bola mata tanpa iris. Bercak dari wajah dan tangan mereka juga tampak menjijikkan.
"Tidak!" Arek berseru dengan sisa tenaga. Lihatlah. Sekarang rakyatnya menjadi sasaran empuk makhluk-makhluk merah itu.
"Tenanglah, kami akan melindungi rakyatmu, Nak," kata Ague berkedok Raja Roila. Dia berdiri samping Arek. Arek seketika menoleh.
"Anda siapa sebenarnya?" tanya Arek. Dia benar-benar mengatakannya kepada sosok ayahnya.
"Ague, Panglima Kerajaan Dielus." Wajah orang itu berubah. Ague tersenyum kaku pada Arek. Arek menatapnya tanpa berkedip. Sungguh ayahnya sudah tiada.
"Ayo bereskan mereka, Gusion!" Arek memanggil orang yang langsung berlari ke arah balkon. Orang itu membuang kacamatanya kesembarang arah, lalu melompati pagar balkon.
Secepat kilat, seekor pegasus terbang menangkap tubuhnya. Dia dan tunggannya terbang ke kediaman para warga.
Ague ikut melompat, walau akhirnya dia terjun ke bawah. Dia lalu berlari ke arah yang berbeda dengan Gusion, meninggalkan keempat orang yang masih diam dengan seribu tanda tanya.
Percayalah. Orang-orang yang sudah menjadi budak teknologi sejak lahir itu sungguh merasa hampir gila saat teknologi itu hilang dari sisi mereka. Pedang elektronik, robot penjaga, tameng canggih. Semua tidak ada gunanya. Bagi mereka, ini sama saja seperti kembali ke zaman nenek moyang.
Itulah yang membuat satu-satunya penunggang pegasus di antara pengemudi mobil mewah, Gusion Wist tampak hebat. Lixe menatap orang itu tak berkedip.
"Aku sungguh lebih hebat darinya. Kalau tidak sekarang, esok pun tak apa." Lixe memandangi
Gusion.
Orang itu merasakan pandangan Lixe, gusion menoleh. Lalu tersenyum penuh kemenangan.