
Lixe terbang dengan pikirannya. Tidak memperhatikan sekitarnya. Xiota menepuk punggung Lixe. Dia tersenyum ekspresi polosnya selalu berhasil menutupi apapun isi pikirannya.
"Ada banyak hal yang aku sembunyikan. Tapi maaf, aku tidak bisa memberitahu apapun pada musuh yang tidak dapat ku baca pikirannya. Meskipun kau sudah menjadi sekutu kami sekalipun" batin Bal melirik Xiota.
Lixe yang akhirnya sadar, mendapati pintu itu sudah tidak ada di tempatnya. Dia menyebar pandangan, mencoba menemukannya lagi. "Dimana?"
"Pintu itu sudah tidak ada. Tuan Zack menyuruhku melenyapkannya. Tanpa tersisa," jawab Bal. Dia menundukkan kepala dingin.
"Apa kau bilang?!" Bagaimanapun itu adalah pintu penghubung antara Mita dan Riyal dulu. Dia tidak terima barang peninggalan sahabatnya itu dilenyapkan.
"Aku melenyapkannya dari tempat ini. Tapi pintu itu masih tersimpan aman dalam pikiranku. Jangan khawatir!" Bal bicara dengan bertelepati. Lixe menelan ludah. Dia tenang. Tapi mengingat Bal yang bersikap seolah dia tidak peduli dengan pintu itu. Lixe memilih bersikap tenang.
Zenith menepuk pundak Bal. Anak itu menoleh. Dia menelan ludah. Tatapan Zenith membuat bulu kuduknya berdiri juga senyum di wajahnya yang menusuk hingga tulang.
Dalam pikiran Zenith berkata, "Aku tahu apa yang kau bicarakan dengan Lixe. Dan aku juga tahu, Ayah tidak menyuruhmu lakukan ini. Dan Ayah tidak pernah mengizinkanku masuk ke sini. Kau membohongiku saat bilang Ayah menyuruhku datang kemari. Apa yang kau sembunyikan, Bal?"
Bal menunduk. Dia diam. Pikirannya kosong, sengaja dikosongkan agar Zenith tidak bisa memperoleh apapun.
Zenith kali ini menoleh pada Lixe. "Kau tahu tugasmu?" tanyanya sambil berkacak pinggang. Lixe menarik alisnya. Dia mengangguk. Walau moodnya pagi ini sudah hancur, dia tetap berusaha tersenyum.
"Maaf. Mungkin aku sedikit berkhianat," batin Bal ketika Zenith tak lagi memperhatikannya. Lixe dan Zenith sudah lebih dulu memasuki portal.
"Anak yang malang," gumam Xiota mengelus kepala Bal. Dia berjalan mendului Bal, memasuki portal cahaya di depan sana.
Tubuh Bal menjadi kaku. Tangan dan kakinya tidak bisa bergerak. Perasaannya menjadi tidak enak. Dia menyadari sesuatu, laki-laki itu memang tidak bisa membaca pikiran. Tapi dia mampu mengendalikan tubuh orang lain.
"Kamu yang terlalu malang."
Portal itu membawa mereka ke sebuah salon. Tempat pertemuan para tetua suku, dan anak-anak dari suku kelas atas itu dipenuhi cukup banyak orang. Tapi tempatnya yang besar dan nyaman membuat suasana tetap tenang dan sepi.
Xiota tidak menyangka dia akan masuk ke tempat seperti ini. "Kenapa kita ke sini?" tanya Xiota.
Orang yang biasa tersenyum seperti orang bodoh, dalam sesaat mimik wajahnya berubah. Dia benci tempat ini. Sangat benci, dan dia punya ceritanya sendiri.
Lixe menoleh pada Bal. Benar, memang Bal yang di detik terakhir memintanya membawa mereka ke tempat ini dengan telepati. Bahkan Zenith mulai tidak nyaman dengan orang-orang yang menjadikan mereka pusat perhatian. Datang menggunakan portal. Sungguh tidak tahu etika. Siapa peduli, Zenith berusaha mengabaikan mereka.
Sekarang ketiga orang itu menatap Bal. Meminta penjelasan dari tujuannya. Yang ditanya berjalan menuju sebuah meja bundar sedang di sudut ruangan. Ketiganya mengikuti.
Di sana seorang perempuan duduk sendiri dengan cadar tipis menutupi wajahnya. Tapi Zenith dan Lixe tahu siapa dia. Dua orang itu menghentikan langkah saat perempuan itu melihat ke arah mereka.
"Apa-apaan dia?"
"Kenapa dia di sini?"
Dua orang itu kaget setengah mati. Tapi perempuan itu justru tersenyum di balik cadarnya. "Aku Aizla Abta. Salam kenal."
"Apa? Apa yang...., kau lakukan di sini?" Zenith mengucapkannya patah-patah. Di benaknya muncul bayangan Aizla yang matanya bercahaya merah darah di balik kacamata bulatnya.
"Kamu takut dengan mata ini? Padahal kupikir matamu lebih kejam," Aizla berkata tajam pada Zenith. Dia melepas kacamatanya. "Mata ini sudah mati, Teman."
Lixe meneguk salivanya. Itu mengerikan. Lixe bisa merasakannya, mata itu tidak melihat. Matanya buta.
"Kamu buta?" Zenith tanpa tedeng aling-aling langsung menyergap. Zenith memilih duduk di samping Aizla. Menatap mata itu dari dekat.
Aizla tertawa. Dia mengusap kedua matanya satu-persatu. "Silahkan tinju aku kalau kau tidak percaya."
Zenith tentu tidak segan melakukannya. Tangannya langsung menyambar pelipis Aizla secepat kilat. Mata itu tidak berkedip. Matanya sayu. Zenith menghentikan gerakan tangannya tepat di pelipis Aizla. Angin yang dibawa pukulan Zenith menerpa kasar wajah Aizla. Poni miring yang menutupi separuh wajahnya berkibar. Kalau saja dia memakai kaca mata, pasti benda itu sudah hancur.
"Nona Aizla." Xiota berlutut di belakang Aizla. Perempuan itu menoleh dengan tangan yang di letakkan di atas sandaran kursi. Dia bengong, tidak lama lalu tersenyum.
"Ternyata, kalian juga berteman dengan orang yang sangat menarik ya," kata Aizla dengan tertawa di akhirnya. "Apa kamu berkhianat, muridku tersayang?"
Xiota mengangguk. "Mungkin." Dia berdiri. Lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Aizla. Tepatnya di samping Bal.
Jujur saja, Bal sedikit keberatan. Dia merasakan ancaman aneh setiap berada di dekat Xiota. Jadi dia bergeser. Membuat sedikit lebih banyak jarak.
Petir menyambar deras Lixe, Bal, dan Zenith. Tenggorokan ketiganya kering.
"Murid? Xiota?" batin ketiganya.
Aizla tersenyum. Dia mengusap bibirnya yang merah walau tanpa make up apapun. "Baguslah. Aku pikir dengan berkhianat aku juga akan kehilangan sumber kehidupan. Ternyata tidak juga."
"Aku yang sekarang menerima tawaranmu, Bal. Tapi tidak tahu kalau aku berubah ya." Aizla menoleh pada Bal. Dia memejamkan mata. Kembali mengenakan kacamatanya. Aizla mengulurkan tangannya. "Yang kau janjikan?"
Mata Bal bercahaya. Debu-debu cahaya muncul di tangan Aizla. Perlahan membentuk sebuah yang pintu imut.
Lixe menyadari itu adalah pintu di ujung lorong tadi. Jadi Bal memberikan pintu itu pada orang yang pernah menjadi musuhnya? Lixe menguatkan rahang.
"Tenanglah, Kak." Suara Bal berbisik di benak Lixe.
"Aku tidak bisa!"
Lixe mendengus. Memalingkan wajah. Dia tidak ingin melihat hal itu.
"Bagaimana cara menyakinkan diri Kakak yang satunya?"
Pertanyaan itu disambut keterkejutan Xiota, Lixe, dan Zenith. Diri yang satunya, itu jelas tidak masuk akal. Bagi ketiga orang itu, kehadiran Aizla di tempat ini sekarang sudah sangat tidak masuk akal. Mungkin mereka bisa menerima ketidak masuk akalan yang lainnya.
"Anak itu sangat sulit untuk kamu bujuk. Dia keras kepala dan arogan...,"
Brak. Zenith yang mulai bingung menggebrak meja. Menghentikan percakapan yang tidak dapat dia ikuti. Semua orang menoleh. Biarlah, mereka punya mata. Itulah prinsip yang dijunjung tinggi-tinggi Zenith sejak kecil.
Aizla bersandar. Dia menyilangkan kaki dan mengayun-ayunkannya. "Namaku Biete. Sebuah jiwa yang terjebak, tidak, tertanam dalam tubuh Aizla."
Zenith melebarkan matanya. Dia pernah mendengarnya, Suku Abta dapat mengurung jiwa seseorang. Tapi membuatnya terikat diri seseorang? Itu membuatnya merinding.
"Suku Abta adalah Vampir. Kami hidup menghisap darah. Mengurung jiwa seseorang adalah keahlian kami." Aizla menatap Xiota.
"Kerajaan Argio mencoba membuat perjanjian dengan kami."
Xiota menunduk. Wajahnya yang polos tidak tahu apa-apa mendadak datar.
"Mereka ingin kami memasangkan mantra kami pada rubik memori. Batu pemberian Suku Lyde yang terbuat dari pengorbanan banyak Wist. Batu itu memiliki daya sangat besar. Para bangsawan Argio terdahulu berkehendak untuk mengurung banyak ingatan di dalamnya. Menguasai mereka dan menjadi dewa di bumi. Malangnya, suatu hari seseorang berhasil memainkan rubik itu. Dia mempertahankan segalanya. Tekadnya kuat. Tapi tidak sampai menyelesaikan dan membuat rubik itu sempurna. Tapi dia sanggup membentuk lantai dua. Dan itu sudah cukup membuat segel yang mengurung ingatan lemah. Ya, orang itu akhirnya mati kehabisan tenaga sebelum menyempurnakan tantangan itu. Demi menguatkan dan mengantisipasi hal itu terulang. Raja terdulu memintaku memasang mantra dan memberikan sebagian dari rakyatnya untuk mendonorkan darahnya bagiku. Menarik bukan? Tapi dia berkhianat dengan menghancurkan tubuhku. "
Zenith bertukar pandang dengan Lixe. Dua orang itu memiliki pertanyaan yang sama. Zenith memberi kode agar Lixe menanyakannya. Lixe menggeleng. Zenith justru mengerutkan dahi. Memaksa.
"Raja terdahulu menyuruh Anda?" tanya Lixe ragu-ragu. Entah kenapa bahasanya jadi super sopan. Aizla mengangguk bangga.
"Orang itu tidak tahu balas budi. Dia menghancurkan tubuhku! Akhirnya, aku menggentayangi keturunan-keturunannya. Menjadi kutukan turun temurun keluarganya! Hahaha." Aizla tertawa jahat. Empat orang yang diajak bicara hanya menatap aneh. Juga orang lain yang berpikir dia gila.
"Berapa umur Anda?" tanya Zenith menghentikan tawanya.
"Kamu bertanya? Atau mengejek?" Aizla berdiri. Dia mengangkat satu kaki dan menaruhnya di atas meja. "Aku masih muda, Sayang! Umurku baru tujuh belas." Aizla tersenyum sok imut.
Entah, Xiota ingin muntah melihat gurunya. "Maksudnya, 17 abad, kan?" sahutnya. Aizla mengangguk keras.
"Apa?!"
Aizla mengayunkan tangan. Lupakan, begitu yang dia inginkan. Tapi Zenith menggeleng pelan. Dia sekarang berhadapan dengan arwa gentayangan yang bersemayam dalam tubuh seseorang. Bagaimana kalau dia pindah ke tubuhnya. Lupakan. Zenith memasang senyum kecut.
"Bagaimana kalian bisa bertemu, Guru?" tanya Xiota mengalihkan pembicaraan. Dia jelas sedikit tidak suka dengan Bal yang berdarah asli Dielus. Tapi gurunya malah bersekutu dengan Bal. Walau gurunya dan dirinya sama-sama tidak menyukai keluarga kerajaan, dan Bal juga berniat menghancurkan keluarga kerajaan. Tapi bersekutu dengan musuh. Lelucon apa ini?
"Dia yang datang sebagai arwa yang menempel di tubuh salah satu bawahanku!" Aizla menatap Bal. "Kau lebih tahu ceritanya, Bal."
Bal melirik yang lain. Dia seperti akan diburu pemangsa yang menantikan kisahnya.
"Malam itu, saat para monster bermata menyerang, aku masuk ke dalam pikiran Nona Aizla. Di sana aku masuk pikiran orang lain." Bal tersenyum selebar-lebarnya. Di ingin menyembunyikan kisahnya. Tiga orang itu mengetahuinya. Tapi untuk memahami keadaannya, Zenith dan Xiota tidak sependapat.
"Lalu?" sahut Zenith dan Xiota bersamaan.
Aku tidak rasa penasaran Warga Argio. Aizla menutup mulut, menahan tawa saat melihat wajah kesal Bal.
"Lalu aku bertemu Kak Aizla, udah." Bal mengangkat bahu. Lixe mengangguk, sedang dua yang lain menarik ujung alis. Memang hanya Lixe yang mau mengerti privasi orang ya.
"Kalian cocok sekali." Lixe menatap Zenith dan Xiota bergantian. Keduanya serempak membuang muka. "Masih tidak mau menghargai pilihannya?"
Zenith mendengus. "Terserah," ucapnya kasar.
"Terimakasih, Kak," kata Bal bertelepati Lixe tersenyum.
"Walaupun pertanyaan Kakak yang paling banyak. Terimakasih untuk pengertiannya. Juga maaf. Maafkan aku," batin Bal. Hatinya sakit. Sesak. Seolah menanggung dosa seberat gunung di sana.
"Sampai jumpa di Kerajaan Neland." Aizla berdiri. "Aku akan membantu kalian memenangkan hati jiwa Aizla yang asli. Asal kau berjanji akan menghancurkan rubik memori beserta keluarga Kerajaan Argio."
"Apa Nenek sebenci itu?" tanya Zenith. Wajahnya suram. Hatinya tidak tenang. Sesuatu meledak di sana, membuat jantungnya berdetak kencang.
Aizla menatapnya tidak mengerti. Jujur dia tidak punya jawaban. Aizla berjalan, untuk sesaat Biete mengabaikan pertanyaan itu. Tapi dia sungguh memikirkannya. "Mungkin di lain hari aku akan menjawabnya," batinnya sebelum hilang di kerumunan.
Zenith sempat membaca pikiran Biete. Hatinya sedikit lega. "Aku harap Anda memaafkan Tuan Arian."
Lixe menyadari keanehan pada Zenith. Dia menendang kaki Zenith di bawah meja.
"Kau baik-baik saja?"
"Aaah!"
Zenith menginjak kaki Lixe.
"Aku akan melakukan seperti yang kau perintahkan," gumam Lixe kesakitan.