
"Triiiing! Triiiing!" suara sirene Laboratorium Suku Abta berbunyi nyaring. Memekakkan telinga. Membuat para ilmuwan yang sudah lelah bekerja di pagi hari dan hendak istirahat di malam harinya terbangun. Kekacauan terjadi. Lampu merah menyala, menandakan sebuah kejadian tidak diinginkan sedang berlangsung.
"Apa yang terjadi?!" tanya seorang wanita. Aira, kepala laboratorium.
"Nona Aizla menghilang, Nyonya!" jawab seorang penjaga panik. Dia takut Aira akan menghukumnya.
Aira meremas jemari. "Kembali bekerja!"
Kepanikan mereda. Mereka lega Aira tidak menghukum. Aira juga kembali duduk di kursinya, Dia menyalakan komputer kembali bekerja. "Anak kita sudah berani menunjukkan kuku-kukunya, sayang. Menurutmu, kemana dia mengepakkan sayapnya?" gumam Aira sembari menatap foto seorang pria berambut coklat dan bermata merah.
"Kau mendengar ku, Qien?" Aira menggeleng sambil menertawakan dirinya. Apa yang dia harapkan dari orang yang sudah tidak ada di dunia ini.
****
Di ibu kota Kerajaan Dielus. Dalam warna-warni jalan dengan kendaraan yang berlalu lalang. Sesuatu muncul di tengah jalan. Sebuah portal bayangan membuat kendaraan-kendaraan hilang kendali. Beberapa pengemudi menancapkan gas, mereka tidak ingin tahu apa yang akan muncul. Mereka memilih pergi. Seorang perempuan muncul dari sana dengan sayap dan tanduk menyeramkan.
Beberapa orang mengambil gambar wanita itu. Tapi meski matanya buta, Aizla cukup tahu tentang itu. Dia mengayunkan tangan. Asap darah terbang mengelilinginya. Lalu terbang dan merusak setiap kamera, handphone, dan ataupun hologram melayang. Tidak boleh ada yang meng-upload gambar. Berita bahwa dia sekarang berada di Kerajaan Dielus tidak boleh didengar siapapun di Kerajaan Neland.
Portal di belakangnya menghilang. Tubuhnya sakit. Portal itu sungguh menyiksa. Ini untuk pertama kalinya Aizla pergi membuat portal tanpa bantuan alat.
"Sudah kubilang, bukan? Portal bayangan hanya bisa dikuasai dengan baik oleh Tuan Wist. Yang asli lebih baik daripada yang palsu. Ingat itu. Jadi kau tidak perlu berusaha mati-matian menyempurna...," Jiwa Biete yang ada dalam tubuh Aizla mengoceh.
"Berisik!" bentak Aizla sebal. Tubuhnya kehabisan tenaga. Tulangnya serasa remuk. Sayap dan tanduknya menghilang. Kepalanya seolah berputar 360 derajat. Aizla jatuh di tengah jalan. Sebuah motor yang melintas di jalan berhenti. Laki-laki berhelm yang mengendarai motor turun. Dia memapah Aizla yang terkulai tidak berdaya di jalanan. Laki-laki itu mendudukkan Aizla di depannya, lalu kembali menarik gas. Melaju dengan kecepatan tinggi.
"Hai. Semoga aku tidak mengganggu malammu. Aku bawa tamu istimewa." Laki-laki itu berbicara lewat speaker motornya.
"Kau sudah cukup merepotkan," sahut orang dari seberang sana.
"Ayolah! Hanya satu. Aizla Abta." Sambungannya langsung diputus dari seberang sana. Laki-laki itu tanpa riting kanan berbelok tajam ke kanan. Pengemudi di belakangnya mengerem kendaraan tiba-tiba. Orang-orang itu berseru meminta pertanggungjawaban. Beberapa kendaraan terpeleset, membuat pengendaranya jatuh.
Xiota tidak peduli. Ini bukan kerajaannya. Tidak ada orang yang perlu dia khawatirkan. Toh mereka tetap sebuah bibit musuh yang bisa tumbuh kapan saja. Xiota melirik kaca spion. Sebuah robot polisi mengejarnya dengan sirene yang nyaring. Xiota menyeringai. "Ayo kejar!! Aku ingin lihat secanggih apa peradaban Kerajaan ini!!" Xiota menaikkan kecepatan.
"Kriiiing!" Bel kamar Gusion berbunyi memekakkan suara. Xiota yang menekan tombol bel melompat kaget. Gusion langsung membuka pintu. Mengagetkan Xiota yang sudah kaget dengan bunyi bel yang begitu nyaring.
"Kenapa belnya berbunyi seperti itu? Tidakkah seseorang akan bangun dari tidurnya?"
"Bukankah memang itu fungsinya?"
"Tapi itu sangat mengganggu!" Xiota masuk. Dia menggendong Aizla bridge style.
Gusion memutar bola mata malas. Dia menutup pintu. "Akan kuperbaiki besok."
Xiota berbalik. Wajahnya polos sekali. "Dia aku taruh mana?"
"Kau yang bawa. Aku tidak peduli?"
"Bagaimana kalau aku tidurkan di kamarmu?"
Gusion beradu mata dengan Xiota. Suasana di sana seperti sedang terjadi badai petir. Gusion mendengus. Dia memalingkan wajah.
"Kalau begitu aku tidur di sini saja."
"Kau Tuan rumah, tidak boleh mengalah! Aku yang akan tidur di sini."
"Aku hanya berpegang pada prinsip tamu adalah raja. Kalau kau juga ingin tidur di sini. Ayo."
Xiota membawa Aizla ke kamar Gusion. Dua orang itu akhirnya tidur di ruang tamu. Sebuah layar hologram menampilkan sebuah film horor. Mereka melihatnya, hingga hologram itu yang balik melihat mereka tidur. Saat keduanya benar-benar tidur, alat itu mati dengan sendirinya.
Malam itu, Biete keluar dari tubuh Aizla yang tak bertenaga. Aizla berdiri di samping ranjang tempat Aizla berbaring. Dia mengamati anak asuhannya itu. "Dasar anak keras kepala."
Biete meninggalkan Aizla. Dia yang hanya arwa, bisa menembus pintu yang tertutup. Mendapati dua laki-laki yang tertidur dengan keadaan berantakan. Biete menggeleng. Bungkus anak dan kaleng minuman berserakan. Biete meninggalkan mereka. Dia menembus dinding, dan muncul di luar gedung. Tubuhnya melayang.
"Sudah lama aku tidak ke sini. Anak keras kepala. Apa kau merindukannya?"
Biete menari di langit. Dia kira, tidak akan ada yang melihatnya. Tanpa ia sadari seorang pria menyadari keberadaannya. Pria yang mengawasi Biete dari ruang kerjanya tanpa perlu menengok ke luar. Zack Dey. Dia meremas potongan permata naga langit putih di genggamannya.
"Kenapa dia di sini? Kuharap bukan kau yang menyuruhnya ke sini." batinnya. Raut wajahnya tampak tak senang.
"Maaf, Tuan." jawab Bal dari kamarnya.
"Menyebalkan!" Zack meremas rambut. Dia hanya bisa sabar. Berharap Zecda tidak mengetahuinya.
Tapi Zecda tahu lebih dulu. Dia menghentikan motornya di tengah jalanan yang sepi. Zecda mengangkat helm. Dia mendongak ke atas. Matanya bisa melihat Biete yang terbang bebas di atasnya.
"Apa lagi yang Nenek tua inginkan?" tanya Zecda di tengah sepinya malam. Tidak ada lagi manusia yang melintasi jalan. Digantikan para robot yang berpatroli sepanjang lalu lintas. Pintu dan jendela pun tertutup. Jam di menara 25 meter menunjukkan pukul 00.00.
Biete yang baru terbangun dari mimpinya menyadari seseorang memanggilnya. Dia menoleh ke bawah. Bibirnya bergetar saat melihat Zecda menatapnya. Biete menghela napas pelan. Dia turun.
"Aku minta maaf, Nak. Permata mu sudah aku kebalikan." Biete tidak percaya dirinya tidak bisa menatap mata Zecda. Orang di depannya mungkin bukan satu-satunya yang tidak bisa ia hadapi.
"Lalu bagaimana dengan 'Dia'?" Biete gugup. Untungnya berdetak tidak karuan. Itu adalah pertanyaan paling sulit kalau harus dia jawab dengan jujur.
Tidak ada jawaban. Biete menunduk. Berharap Zecda akan melupakannya dan pergi meninggalkannya. Tapi Zecda sama sekali tidak berniat untuk itu. Biete ingin mengalihkan topik, tapi suaranya seolah tersendat di tenggorokan. "Kenapa kau jadi begini? Ayo! Kau bisa!" Biete menyemangati diri sendiri.
"Maaf! Aku minta maaf!" seharusnya itu yang dikatakan Biete. Andai dia lebih berani. Andai dia punya nyali walau sebiji semangka. Tapi Biete bahkan tidak sanggup melihat wajah Zecda.
"Harusnya, aku tidak menerima ajakan Aizla pergi ke sini. Dasar Biete bodoh!" Biete memaki dirinya sendiri.
Keesokannya. Aizla bangun dengan tidak tenang. Dia melompat berdiri di atas kasur. Berputar 360 derajat. Dimana? Itu pertanyaan yang pertama kali muncul di hatinya. Jalanan aspal yang keras tidak mungkin seempuk ini kan? Kedua, siapa yang membawanya ke mari? Ketiga dimana Biete?
"Hei! Kau mencari ku, Hiks?" celetuk Biete yang duduk di samping Aizla.
Aizla menunjukkan ekspresi bingung. "Nenek menangis?" tanya Aizla seadanya. Biete duduk dengan napas tersedu-sedu. Biete membelakangi Aizla. Dia tidak ingin ada yang melihatnya menangis. "Jangan lihat!"
"Nenek, aku tidak bisa melihat," balas Aizla santai. Biete berbalik dan memeluk Aizla. Pikirannya kacau. Tidak seharusnya dia berkata demikian.
"Maafkan nenek." Aizla mengangguk. Tidak masalah.
Biete menjelaskan apa yang telah terjadi. Mulai dari Xiota yang membawanya, hingga menidurkannya di kamar itu. Aizla bergidik ngeri. Dia tidak pernah berharap tiba di tempat ini. Yang dia cari, Zenith Dey.
"Ayo ke kediaman Dey!"
Sebuah gunung seolah jatuh di atas Biete. Tubuhnya kaku. Wajahnya pucat. "Kediaman Dey? Zack Dey? Apa yang aku pikirkan? Tidak bisa. Aku.. Tidak berani. Apalagi, Aizla."
"Ada apa, Nek?" Aizla menggenggam tangan Biete yang transparan. Aizla memohon. Biete mengangguk. Dia mengelus rambut Aizla.
Aizla berdiri. Biete menuntunnya berjalan. Saat Aizla membuka pintu. Gusion dan Xiota masih tidur pulas di lantai tanpa alas. Biete melepaskan tangan Aizla, membiarkannya berjalan sendiri.
"Aaahhk!!!"
Gusion terbangun dari tidurnya. Aizla menginjak telapak tangannya. Aizla yang merasakan sedang menginjak sesuatu, dan mendengar seseorang berteriak, reflek mengangkat kaki. Dia menunduk.
"Siapa?" tanyanya tanpa dosa.
Gusion beranjak duduk. Dia melakukan perenggangan. Lalu menepuk punggung Xiota keras. Orang itu lalu berteriak. Dia langsung bangun.
Mendengar suara itu, Aizla yang tidak bisa melihat apapun semakin bingung. Tangannya bergerak mencari Biete. Biete memeluk Aizla dari belakang sembari berbisik, "Tenanglah."
"Guru!" seru Xiota berdiri. Membungkuk dengan senang hati. Aizla meraba udara di depan.
"Terimakasih, Xiota." Xiota mengangguk. Dia kembali tegak.
"Dan?" Aizla mengulurkan tangan.
"Gusion." Gusion menyambar tangan Aizla secepat kilat. Xiota menoleh padanya. Wajahnya lumayan marah. Gusion mengangkat bahu. Mana aku peduli.
Aizla tersenyum. Diamati dari aliran darah yang mengalir di tangan Gusion, Aizla bisa menebak siapa pria ini. Bulu kuduknya berdiri. Aizla tersenyum kecut. "Sepertinya aku salah tempat."
"Kita pernah bertemu. Tapi lupakan saat itu." Gusion melepaskan tangan Aizla yang juga bergetar. Laki-laki ternyata merasakan seberapa takutnya Aizla pada dirinya.
Aizla bernapas lega. Kepalanya sedikit pusing. Entah apa tujuannya setelah bertemu dengan Zenith. Bahkan setelah bertemu dengan Zenith, dia tidak tahu akan berbuat apa. Rasanya, Aizla ingin pulang. Tapi itu tidak mungkin. Aizla sudah datang ke sini. Dia kabur dengan tidak baik. Kalau pulang begitu saja, pasti akan memalukan, juga berbahaya.
"Kalian.. kenal Zenith Dey.., kan?" Aizla memberanikan diri. Walau kata-katanya terbata-bata, dia berusaha mengontrol diri. Setidaknya, agar tidak malu di depan Xiota.
"Kau bisa jalan sendiri?" suara dingin Gusion menusuk tulang Aizla. Dia mengangguk cepat.
"Aku akan mengantarmu."
"Tidak! Aku yang akan menuntun guruku!" Xiota mendadak meraih tangan Aizla. Dia berjalan lebih dulu. Aizla mengikuti langkah orang yang menggandeng tangannya.
"Xiota, kau menyelamatkanku. Terimakasih," gumam Aizla. Xiota memperlambat langkahnya sehingga Aizla dapat menyesuaikan dengan baik.
Gusion mengikutinya dari belakang. Namun sebelum keluar dari ambang pintu, langkahnya berhenti.
"Kau tidak ikut?"
"Eh? Siapa?" Biete yang melamun di tempat menoleh. Mencari orang yang diajak Gusion bicara. Gusion berbalik. Dia menatap Biete yang cukup sadar bahwa orang di hadapannya itu bisa melihatnya yang hanya sebuah arwa.
"Pergilah. Akan aku jaga rumahmu!" Biete tertawa.
"Orang tua memang punya banyak cerita." Gusion berbalik seraya menutup pintu.
"Tidak sopan!"
Gusion tidak peduli. Dia meninggalkan Biete sendirian di ruangan apartemennya. Biete menghempaskan diri ke lantai. Tubuh itu menyentuh lantai dengan perlahan. Biete merentangkan tangan, menatap langit-langit berwarna putih keabu-abuan dan corak hitam terlukis abstrak di sana.
"Kau benar, Tuan Wist yang tidak berperasaan."
Aizla duduk di belakang Xiota. Laki-laki itu cukup sadar sedang membonceng seorang perempuan tunanetra. Kecepatannya berubah jadi normal. Gusion yang biasanya mengejarnya mati-matian, pagi ini bisa berkendara beriringan dengan Xiota. Gusion hendak mengejek, tapi urung.
"Aku jahat, tapi bukannya tidak berperasaan," batin Gusion. Kecepatannya menurun. Dia memilih berkemudi di belakang Xiota seperti biasanya.
"Untuk pertama kalinya aku mengikuti kata hatiku. Semoga tidak berakhir buruk." Aizla memejamkan mata, dia mengeluarkan sebuah kacamata dari saku di dadanya. Membiarkan angin menerpa wajahnya sejenak, lalu memakai kacamata kebanggaannya.