AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Rasa bersalah



"Kak Qien! Mau kemana?!" Aira berseru memanggil Qien yang mengepakkan sayapnya di malam hari. Aira hendak mengejar. Tapi Qien menggeleng. Lalu dengan kemampuan Biete, Qien pergi secepat kilat. Aira tidak percaya Qien bisa melakukannya.


"Harusnya, ada di sini?" Qien memperhatikan pemandangan Kerajaan Dielus dari langit.


Sayap hitamnya bercampur langit malam, membuatnya tak terlihat. Kecuali seseorang yang sudah menyadari keberadaan.


Aero kecil menatap keluar dari dari kaca depan mobilnya. Dengan kacamata ultra-nya, Aero bisa mendeteksi keberadaan seseorang yang terbang di langit. "Apa dia vampir? Sejak kapan Zecda punya peliharaan seperti itu?"


Qien terbang menuju istana, dimana Zecda mengadakan upacara pengangkatannya sebagai raja baru. Dia mendarat di sebuah sempit yang sepi. Qien merapikan kemeja hitamnya. Dia keluar dari gang itu setelah memastikan penampilannya seperti seorang bangsawan.


Sebuah mobil berhenti di depannya. Kaca mobil itu terbuka. Aero menatap tanpa ekspresi. Langkah Qien terhenti.


"Butuh tumpangan?" tawar Aero. Pintu mobilnya terangkat. Menampilkan kursi empuk yang menggiurkan. Biete tidak banyak berpikir. Qien memasuki mobil Aero sesuai keinginan Biete.


"Kau siapa dan darimana?" tanya Qien saat jiwanya kembali menguasai tubuhnya.


"Aero Roila. Dari Kerajaan Roila. Kau?"


"Pangeran?" tebak Qien antusias. Aero mengangguk.


"Qien Abta. Senang berkenalan denganmu." Qien tersenyum lebar. Orang itu sungguh polos. Aero pikir berteman dengannya tidak akan menjadi masalah besar. Toh, orang sepolos itu tidak akan ada apa-apanya bagi seorang ilmuwan hebat seperti Aero.


Mobil Aero mengambang begitu memasuki gerbang istana. Mobil itu terbang menuju lantai paling atas istana yang atap kacanya terbuka. Aero selalu suka hal berbeda. Sangat berbeda. Qien menatap takjub.


Aero menekan salah satu tombol di dashboardnya yang memang banyak sekali tombol warna-warni. Mobil itu menjadi kelap-kelip di malam hari. Terbang tinggi dan muncul di langit-langit menutupi bulan sabit di sana.


Semua orang bertepuk tangan untuk pertunjukan yang dia bawa. Atap mobilnya terbuka. Aero menoleh.


"Kau bisa terbang? Atau mau melompat?" tanyanya pada Qien. Mata Qien sudah berbinar. Biete pun tidak keberatan dengan tawaran itu.


Qien menampakkan sayapnya. Terbang lebih dulu. Aero tersenyum. Dari pundaknya, muncul sebuah sayap dari besi. Itu adalah teknologi barunya.


Dua orang itu terbang keluar. Mobil itu menghilang, melakukan teleportasi ke parkiran.


Itu kali pertama Aero dan Qien menjadi sahabat. Keduanya memberi salam pada tokoh utama pesta itu. Mereka mendarat di tengah-tengah ruangan.


"Sepertinya kau punya teman yang cocok dengan ekspektasi-mu ya?" Ague merangkul Aero. Aero menyengir. Dia tidak suka orang yang licik. Dan Qien yang polos. Menurutnya, yang dikatakan Ague tidak ada yang salah. Aero mengangguk. Melihat ada orang yang dengan senang hati menerima dirinya yang memiliki kepintaran di bawah rata-rata sudah cukup membahagiakan. Qien berjanji dalam hati akan selalu menjaga pertemanan ini.


Selama dua bulan ke depan Aero dan Qien tinggal di istana. Sejak malam itu mereka menjalin persahabatan. Qien merasa bahagia. Dia melupakan ambisinya menjadi orang paling pandai di dunia. Toh dia melakukannya karena sebelumnya semua orang mengejeknya. Tapi di tempat ini, tidak ada yang menghinanya. Semua orang memandang setara satu sama lain. Tapi Biete tidak pernah lupa tujuannya membawa Qien ke tempat ini.


Sejak awal kedatangannya, Biete bertemu Lean. Ada yang menarik di sana. Biete keluar dari tubuh Qien, membiarkan anak itu berbuat sesukanya. Biete mengintai Lean. Hingga dia tahu, di dalam tubuh itu ada jiwa lain. Sesuatu yang lebih menyeramkan daripada Neo. Beberapa kali dia melihat Lean bicara sendiri dengan rasa benci. Seolah ada hal yang ingin ia akhiri.


Biete penarasan. Dia memasuki tubuh Lean yang tidur di samping Qien di lantai paling atas istana Zecda bersama keempat sahabatnya yang lain.


"Penyusup. Beraninya kau masuk ke sini." Jiwa yang ada di dalam Lean berkata tajam. Suaranya dapat mempengaruhi Biete.


"Siapa?"


"Kau tidak kenal? Sungguh?" Orang itu menunjukkan dirinya, muncul di depan wajah Biete.


Biete tersentak mundur. Dia menatap sekelilingnya. Samudra luas yang indah. Tapi tatapannya tidak bisa lepas dari pria di depannya.


"Tuan First? Sungguh?"


"Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini? Orang licik sepertimu pasti punya tujuan besar bukan?"


Biete menelan ludah. Menurutnya, akan sangat menguntungkan jika bisa bekerjasama dengan First. "Tuan tahu permata pemberi ketenangan abadi?"


"Permata Naga Langit Putih?" tebak First. Biete mengangguk.


"Tidakkah seharusnya itu menjadi milik Tuan?"


"Kau menginginkannya dan kau ingin aku mengambilnya bukan? Aku bukan bocah polos seperti bocah yang kau tumpangi itu. Kau hanya memanfaatkan ku."


"Bukankah dengan permata itu Tuan bisa membuat Lean mencintai Anda?" Biete tahu persis siapa monster di depannya ini. First, monster legendaris yang haus popularitas. Tidak sanggup dibenci tapi malah tenggelam dalam kebencian semua orang. Termasuk Lean.


Biete menyeringai. Dilihat dari ekspresi First. Sepertinya orang itu setuju. Benar saja, First mengangguk.


Kedua pihak setuju. Rencana itu dilaksanakan. Bukan Qian yang menjadi pelaku. Tapi Lean lah yang dijadikan kambing hitam.


Lean terbangun dari tidurnya. Malam itu kesadaran tubuhnya sepenuhnya ada di bawah kendali First. Lean mengambil benda itu yang tersembunyi di kamar Zecda.


Alarm keamanan berbunyi. Lean lebih dulu kabur saat semuanya terbangun. Zack adalah orang yang paling kesal. Tapi mereka memakluminya. Sejak awal, semua sudah mengenal bahwa dirinya adalah pencuri.


Tapi saat Qien pulang, dia bertemu Lean di perjalanan. Hari itu Aero tidak tahu kenapa. Tapi Lean tampak berbeda. Dua tanduk di atas kepala?


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Qien. Tapi kesadarannya hilang. Dia memasuki alam bawah sadar, bertemu Biete. Di sana dia bisa melihat Lean memberikan satu potongan permata itu pada dirinya.


"Kau senang sekarang?" tanya Biete pada Qien.


"Senang? Mendapatkan perhatian besar yang palsu dengan mengorbankan perhatian tulus walau hanya sedikit?"


"Ini semua demi dirimu!"


"Ini demi Anda! Demi kebahagiaan Anda! Bukan saya! Gara-gara Anda Lean menjadi buronan!"


Itu kali pertama Qien membentak Biete. Orang yang begitu polos membenci seseorang. Tapi penyesalan terdalamnya bukan itu. Tapi saat perang terjadi. Sebagai pahlawan baru, Qien dipaksa mengikuti perang melawan Dielus dan Roila.


Malam petaka datang dalam hidupnya.


"Kamu masih ingat aku?" Aero menggenggam busur erat-erat. Tidak bersedia menembak Qien yang terbang di atasnya.


Qien menengok ke bawah. Dia tersenyum. Qien turun. Berjalan mendekati Aero seakan mereka adalah kawan. Aero berpikir positif, membiarkan Qien memeluk dirinya. Tapi Biete tidak sependapat dengan Qien. Biete memasuki tubuh Qien.


Qien yang masih dalam kesadarannya melepas pelukannya. Dia melompat mundur. Biete sudah mengambil alih tubuhnya. Qien bersiap melemparkan bola dari asap darah yang terbentuk di tangannya.


Aero menggeleng. "Kau sudah tidak polos lagi ya." Aero menyeringai. Lebih dulu menembakkan anak panahnya. Membuat bola di tangan Qien pecah lebih dulu. Qien menghilang. Muncul di belakangnya.


Aero mengayunkan busurnya. Qien terbang mundur menghindari busur berujung tajam itu.


"Asap darah....,"


Sebuah anak panah melesat di samping Qien. Qien mengayunkan tubuh ke kiri. Membiarkan anak panah itu melesat begitu saja.


"Payah kenapa kau tidak membidik dengan lebih baik?" ejek Biete melalui Qien. Aero berdecak. Tentu dia tidak akan mau membunuh teman terbaiknya.


Di samping kanan kiri kepala Qien, masing-masing berjajar sepuluh bola asap darah. Langsung menghujani Aero. Sepasang sayap keluar dari punggung Aero. Dia terbang. Tanah di bawahnya hancur. Aero terbang mendekati Qien. Kembali membidik. Kali ini mengarah ke jantungnya.


Asap darah menyelimuti tubuh Qien. Anak panah itu hancur.


Aero mendengus. "Aku tidak bisa menggunakan sihir sehebat dirimu. Kau menang dalam hal ini, Qien."


Aero merentangkan tangan. "Panggilan sistem, pasukan drone kematian datanglah."


Di depan kedua telapak tangan Aero, dua lingkaran sihir muncul. Delapan belas drone muncul dari kedua sisi. Menyerbu Qien tanpa ampun.


Qien menebasnya dengan jari-jari panjangnya. Drone-drone itu terbela. Sebagian remuk. Aero terkekeh kecil. Dia menjentikkan jari.


Muncul lingkaran sihir satu meter di depannya. Lebih besar. Sebuah robot keluar dari sana. Berbentuk garuda dengan paru dan cakar yang kuat. Qien bergeming. Dia menunjukkan taringnya. Qien terbang mendekati robot itu. Keduanya saling cakar dan menghindar.


Qien terpental ke belakang terkena tinju mematikan robot itu. Darah keluar dari mulutnya. Tapi Qien kembali menyerang. Orang itu cukup gigih.


Berkali-kali Qien terkena pukulan. Gerakannya terlalu lambat dan muda dibaca. Aero tidak tahan lagi. Dia menghilangkan robotnya. Mengirim robot itu ke sisi lain. Tapi Qien sudah bersiap menusuk robot itu, dia melaju dengan kecepatan maksimal.


Netra keduanya bertemu. Aero tersenyum. Dia mengelus kepala Qien. Darah segar keluar dari dadanya yang tertusuk jemari Qien.


Di dalam sana, Jiwa Qien merontah. Dia memaksa mengambil alih tubuhnya.


"Ikatan dua jiwa. Hancurkan."


Jiwa Biete kaku. Seperti ribuan jarum menusuk jiwanya. Biete keluar dari tubuh itu. Pertama kalinya Qien memberontak. Qien merangkul tubuh Aero dengan tangan kirinya. Dia tidak berani menarik tangan kirinya yang sudah menembus tubuh Aero.


"Bunuh aku!" gumam Qien. Matanya berkaca-kaca. Aero menggeleng. Qien menggigit bibir.


"Habisi aku! Dimana robot-mu tadi?!"


"Selamat tinggal Qien."


Qien melepaskan pelukannya. Juga menarik tangan kirinya. Aero gugur. Tubuhnya jatuh babes dari ketinggian sepuluh meter. Qien berbalik.


"Lucu sekali. Aku sungguh naif."


Dia melihat ke bawah. Ague, Zecda, dan Zack menyaksikannya. Qien mencekik lehernya. Kuku-kuku panjangnya menyayat lehernya. Tiga detik kemudian, Qien berhasil memenggal kepalanya sendiri. Gugur bersama Aero dalam satu tempat.


Tiga orang yang menjadi saksi kematian kedua sahabatnya, menatap Biete penuh kemarahan. Zack memasuki pikiran Biete. Dia menemukan kebenaran. Sebagai orang yang selalu mengincar keberadaan Lean dan membencinya, Zack menjadi yang paling merasa bersalah.


"Aku tidak akan memaafkan mu. Sebelum Lean memaafkan ku," ucap Zack di akhir pertemuan mereka.


***


"Apa kau akan memaafkan ku?"