
Pagi-pagi sekali seekor lebah terbang memasuki cela di jendela kamar Gueta. Lebah itu mendarat di pipi Gueta. Bersuara. Gueta langsung duduk.
"Kenapa?! Kenapa dia ikut-ikutan?!"
Lenggang beberapa saat. Lebah itu seolah berbisik padanya. Wajah Gueta pucat, bukan karena takut lebah. Lebah itu adalah peliharaannya yang sedang memberi sebuah laporan buruk. Sangat buruk.
"Gean mau ke sini? Kerahkan pasukan lebah! Buat ban mobilnya bocor! Katakan pada semua kuda, jangan sampai ada yang mau menjadi tunggangannya! Katakan, ini perintah Putri Gueta!" Gueta berseru panik.
Lebah itu akhirnya terbang keluar. Gaya terbangnya jatuh lalu naik. Bintang-bintang berputar di kepalanya. Gueta memberikan perintah dengan suara keras di dekatnya.
"Menyebalkan." Gueta turun dari kasurnya. Mulai mempersiapkan diri. Hari ini dia akan menjadi wasit pertandingan satu lawan satu di stadion. "Pokoknya, Gean tidak boleh datang sampai rencananya selesain!"
***
Lixe berjalan di belakang Gusion. Orang itu sejak tadi hanya diam tanpa berkata apapun. Lixe ingin mengawali pembicaraan. Tapi Xiota yang berjalan malas di belakangnya menyuruhnya diam.
Lixe seolah berada di antara dua kubu yang saling bermusuhan. Dia ingin menghajar Xiota dan mengajak Gusion bicara. Tapi Gusion seolah berkata bahwa Lixe harusnya lebih percaya pada Xiota ketimbang dirinya.
"Bukankah kalian sudah jadi teman satu....!" Lixe berseru. Xiota tiba-tiba mendahului Lixe. Dia menarik kerah baju Gusion. Lixe tercengang.
"Aku bertaruh kau tak akan menang melawan pangeran kebanggan kerajaan kami," ucap Xiota dengan gaya sombongnya. Gusion menyeringai. Dia menyingkirkan tangan Xiota dari kerahnya.
"Kalau aku menang?"
Xiota menelan ludah. Dua pasang mata bertemu. Sebuah petir seolah menyambar di antara keduanya.
Lixe berusaha menjauhkan keduanya. Lixe mendorong bahu kedua temannya menjauh.
"Aku akan mengambilkan untukku madu lebah bintang. Kalau kau kalah, kau yang harus memberiku lobster emas Kerajaan Aenmal." Xiota mengulurkan tangan. Gusion menjabatnya. Xiota menyeringai. Lalu pergi meninggalkan keduanya.
"Apa begitu cara mereka berteman?" Lixe yang cemas, setelah melihat ekspresi Xiota yang menyebalkan seperti biasanya kembali jadi merasa dipermainkan.
***
Suasana stadion pecah. Mendadak semua pekerjaan dan sekolah libur. Seluruh warga kota meramaikan pertandingan hari ini. Pertandingan satu lawan satu ini disiarkan langsung di seluruh negara.
Belum apa-apa, tapi beberapa penonton mulai memasang taruhan, seolah sebagian dari mereka tidak mempercayai kekuatan pangeran mereka. Lixe menatap sekeliling. Dia duduk paling bawah sekaligus paling depan. Dia mendongak. Sepertinya orang-orang di sana tidak memandang status sosial.
"Rakyat Kerajaan Argio tidak menganut sistem kasta. Yang ada hanya keluarga raja dan rakyat. Setinggi apapun status sosial seseorang, dia tidak berhak atas hidup yang ada di bawahnya." Zenith duduk di sampingnya. Sedang di sampingnya. Di samping Zenith, Aizla duduk dengan santai.
Lixe tersenyum, sepertinya mereka sudah melupakan masa lalu dan menerima masa depan dengan hati yang lapang.
Lixe mencari Xiota. Hanya dia yang tidak ada. Dia jadi ingat dengan Riyal. Lixe menoleh. Dia mendapati Riyal duduk di barisan depan di sebelah utara bersama para keluarga raja. Tidak ada Xiota. Dia mulai cemas.
Sekejap kecemasannya menghilang. Zenith mengepalkan tangan. Pandangannya tertuju pada Cain yang berjalan di samping Roy'ah memasuki stadion. Darahnya mendidih. Zenith bersungut-sungut ingin menghajar Cain.
"Bukankah wajahnya menyebalkan?" tanya Aizla. Sepertinya juga menyimpan dendam terselubung di hatinya pada Cain.
"Sangat." Zenith mengangguk mantap. "Aku ingin menyumpal hidungnya."
"Gara-gara dia kita masuk pasar ikan, bukan?"
Lixe menggeleng. Tidak mengerti apa yang sedang keduanya bicarakan.
Cain membujuk Roy'ah agar menjadikannya wasit. Tapi Gueta berseru tidak terima. Siapapun tuan rumahnya, dia yang memberi usul, jadi dia yang harus menjadi wasit pagi ini. Roy'ah setuju. Dia lebih memilih Gueta sebagai wasit ketimbang Cain. Cain menyerah dia harus duduk di kursi penonton.
"Anak itu ingin mendapatkan kehormatan yang gagal diraih para orangtuanya. Kalau kau yang jadi wasit, bisa saja orang-orang berpikir dia sedang curang. Tapi Putri Gueta? Tidak akan ada yang mengira dia berbuat curang. Kau paham?" Anita yang duduk di sampingnya menatap lurus Roy'ah yang berdiri di tengah stadion, berusaha tidak memperhatikan Zenith yang memperhatikannya dari jauh.
Gueta merentangkan tangan, memberi jarak antara Gusion dan Roy’ah. Lalu mengayunkannya ke depan tubuh. Dia melirik Roy’ah dan Gusion bergantian.
“Siap?”
Keduanya mengangguk. Gueta melangkah mundur. "Yang mencium tanah lebih dulu kalah."
Mengangkat tangan ke atas.
Roy’ah menghilang. Gusion memasamg kuda-kuda. Roy’ah muncul di sampingnya dengan kaki berayun ke kepala Gusion. Gusion menangkisnya. Balas memukul dengan tangan yang lain. Roy’ah melompat mundur. Kembali maju dan menyibak lengan kiri Gusion yang teracung ke arahnya.
Kakinya berayun ke depan. Hampir mengenai dagu Roy’ah. Tapi refleknya yang bagus, membuatnya langsung mengayunkan tubuh ke belakang.
Gusion membuka kakinya, dengan kaki kanannya sebagai tumpuan. Roy’ah mendeteksi gerakan selanjutnya adalah tendanga dengan kaki kiri. Roy’ah membungkuk. Salah. Gusion melompat. Dia menimpah tubuh Roiy’ah dengan lengan kiri terlipat. Sikinya menghantam punggung Roy’ah.
Roy’ah menahan tubuhnya dengan kedua tangan agar tidak mencium tanah. Gusion menendang kaki Roy’ah. Lawannya itu berguling delan sebelum tubuhnya benar-benar merebah ke tanah. Roy’ah berputar dan berdiri. Memasang kembali kuda-kudanya. Gusion juga kembali bersiap. Keduanya berjalan memutar. Tatapan keduanya fokus satu sama lain.
Lixe mendongak. Sebuah lebah terbang turun ke area pertandingan. Lebah itu mengingatkannya pada ucapan Xiota. “Mungkinkah dia mencari Lebah bintang?” Tanya Lixe bergumam pelan. Zenith meliriknya Sepertinya dia tahu sesuatu tentang itu. Lixe menoleh.
“Kau tahu tentang lebah bintang?”
Zenith mengangkat sebelah alis. Dia memejamkan mata, berusaha mengingat sesuatu. “Semua orang tahu lebah itu adalah lebah penghasil madu terbaik dan langkah. Sayangnya, hanya orang-orang tertentu yang mengetahui seberapa agresif dan berbahayanya binatang itu. Mereka bersembunyi di…” Zenith terdiam. Memejamkan mata, berusaha mengingat sesuatu yang lebih rahasia.
“Kau lihat itu?” Aizla menyenggol lengan Zenith. Membuyarkan fokus Zenith. Zenith membuka mata. Kembali asik dengan pertandingan.
Lixe mendengus sebal. Dia bersungut-sungut. Kembali menebar pandangan. Nihil, sama sekali tidak ia temukan Xiota. Lixe jadi semakin khawatir.
Lebah yang tadi dilihat Lixe mendarat di pundak Gueta. Gueta tidak menyadari kedatangan peliharaannya sampai lebah itu bersuara.Gueta menoleh. Begitu juga Gusion. Pandangannya jadi teralihkan. Roy'ah menendang. Maih ada waktu bagi Gusion menghindar. Tapi tubuhnya mendadak tidak bisa digerakkan. Roy'ah mulai melakukan teknik pengendaliannya.
Buk. Tendangan itu teoat mengenai dadanya. Gusion terdorong ke belakang. Dia langsung menahan tubuhnya. Pikirannya mulai tidak karuan. Gueta hendak menolong Gusion. Tapi langkahnya terhenti. Dia sadar siapa dia sekarang. Gueta mengatur napas. "Sebentar lagi. Lalu kita akhiri drama ini," batin Gueta sembari melirik lebah di pundaknya yang lalu menghilang.
"Kau kenal putri bego itu?" bisik Roy'ah sembari melayangkan tinju. Gusion menyeringai. Memiringkan kepala, menghindari pukulan. Roy'ah mengayunkan tangan ke kepala Gusion. Gusion mengendikkan tubuh. Menangkap lengan yang berani berniat memukulnya.
"Jangan menghina putri kami, Pangeran Licik."
Gusion membenturkan keningnya dengan kening Roy'ah. Roy'ah meringis pelan. Dia memegangi pundak Gusion dengan satu tangan. Mencoba mendorong orang yang menyondongkan dirinya. Gusion mengangkat kakinya. Mendorong dada Roy'ah, sehingga dia melangkah mundur lebih dari satu meter. Roy'ah memasang kuda-kuda bawah, menahan tubuhnya.
"Kenapa orang sok-sokan ini tak kunjung mengeluarkan Rubik Memori?" batin Gueta geram. Dia mendapat kabar bahwa Gean sudah sampai di desa Ujung Barat, wilayah paling pinggir dari Kerajaan Argio. Gueta mulai frustasi. Semuanya bisa kacau. Dia jadi tidak fokus pada perannya. Tungguh. Kenapa ke desa itu? Bukankah, arah Kerajaan Aenmal ada di timur laut. Bukankah itu berarti Gean pergi terlalu jauh. Astaga. Gueta menepuk dahi. Dia melupakan kenyataan bahwa sepupunya itu petarung Suku Wist yang tangguh. Begonya diriku.
Zenith menyenggol lengan Lixe. Lixe menoleh.
"Ada apa?" tanya Lixe ketus. Dia sedang fokus-fokusnya menonton pertandingan di bawah sana. Setelah mengabaikannya, sekarang Zenith mengganggunya. Lixe tidak peduli. Dia mendengus. Kembali menatap ke depan.
"Aku ingat tempat lebah bintang. Dan mungkin Xiota ada di sana." Zenith memicingkan mata. Dia menyadari Gusion yang sejenak meliriknya. Penasaran dengan isi pikiran Gusion, Zenith membacanya.
"Xiota dalam bahaya."
Zenith menelan ludah. Kali ini dia memukul pahal Lixe keras. Lixe berseru tertahan. Spontan Lixe menoleh dengan dahinya yang berkerut. Ekspresi marah bercampur heran dan kesal. Lixe mengumpat dalam hati.
"Lokasi Lebah Bintang ada di desa Ujung Barat. Kota canggih yang berubah menjadi desa terkutuk." Zenith berpikir sejenak. Lixe menurunkan emosinya. Memberikan perhatian sepenuhnya pada Zenith. Di tengah stadion, Gusion kembali melirik Zenith. Zenith mengangguk. "Dia dalam bahaya...,"
Tak sampai Zenith menyelesaikan kalimatnya, Lixe menghilang. Zenith berseru jengkel. Aizla memegangi tangannya, menyuruh Zenith bersabar. Di ujung sana, ada orang yang terus memperhatikannya.
"Sepertinya mereka menantikan kau keluar dari stadion." Aizla melirik Keluarga Zenith dari pihak ibu. Ucapan Aizla tidak salah. Zenith sudah membaca isi pikiran ibunya. Puluhan penonton dari Suku Harito ada di stadion ini. Mereka sabar menunggu saat-saat untuk berbuat jahat padanya.
Gusion mulai terpojok. Tendangan Roy'ah di pelipisnya membuatnya pusing. Tinju yang gagal dia hindari pun membuat pipinya memar. Sejak awal Gusion sudah tidak menganggap serius pertandingan ini. Sejak Xiota mengajukan Madu Lebah Bintang sebagai taruhan kalau dia memenangkan pertandingan, Gusion menyerah.
"Xiota bodoh," batinnya. Sekarang sudah tidak penting menang atau kalah. Dia harus segera mengakhiri semua ini dan menyelamatkan Xiota. Meski harus mengalah, tidak masalah.
Gusion menerima tendangan Roy'ah di dadanya. Gusion melangkah mundur. Walau begitu setidaknya dia ingin kalah dengan keren. Gusion menangkap lengan membantingnya. Roy'ah menggenggam lengan Gusion, lalu menjejakkan kaki dengan berjongkok. Roy'ah berputar. Juga memutar lengan Gusion.
"Selesai!" Gueta berseru. Dia mengangkat tangan kanannya.
Gusion sempurna mencium tanah. "Bodoh amat," batinnya saat semua menyerukan kemenangan Roy'ah. Roy'ah memang tidak bisa membaca pikirannya, tapi dia cukup tahu Gusion sedang tidak fokus.
"Lain kali, ayo ulangi dengan benar. Kau membuatku kecewa," Roy'ah yang masih dalam posisi berjongkok berbisik. Gusion menyeringai. Dia mengangguk seraya duduk.
"Aku menantikannya."
***
"Aku akan memberikannya untukmu," gumam Xiota yang mengawasi sarang lebah besar dari balik tembok besar yang kokoh namun kusam.
"Untukku?"
Xiota menoleh. Portal bayangan muncul. Dia sempat berpikir bahwa itu adalah Gusion. Tapi Xiota buru-buru menepisnya. Gusion sedang bertanding dengan Roy'ah, tidak mungkin dia ada di sini. Jadi siapa itu.