AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Sebuah Ikatan



Lixe memainkan jemari tangannya. Diakhiri dengan jentikan jari. Dua portal cahaya muncul satu meter di belakangnya. First menatap kedua tangan Lixe kagum. "Anak ini sungguh punya potensi yang sia-sia."


Dari kedua portal tersebut, teman-temannya muncul. Gusion menatap heran punggung Lixe. Dia bingung, bagaimana bisa portal cahaya mengacaukan jalur portalnya. Bahkan memindahkan titik tujuan? "Sesuatu terjadi pada Lixe."


Lixe menoleh pada kawannya yang bahagia namun juga waspada. Dia menyengir lebar, seolah tak terjadi apapun. Padahal di belakangnya, lima belas pedang melayang. Roy'ah melakukan teknik kinetiknya.


"Awas!!" seru Aizla panik. Wajahnya pucat pasih.


Riyal dengan cekatan menarik tali busurnya. Lima belas anak panah menghantam pedang-pedang tersebut.


"Ugh!"


Roy'ah menggenggam tubuh Riyal dari jarak jauh. Tangan kirinya yang terangkat ke depan mengepal. Saat Roy'ah mengangkat tangannya, Riyal ikut melayang. Kakinya terangkat perlahan. Tangannya berada di samping tubuh. Riyal hanya pasrah.


"Apa Anda butuh bantuan?" tanya Gueta yang masih merangkul perut Roy'ah. Gueta menyandarkan kepalanya di dada Roy'ah. Roy'ah ingin melempar gadis itu jauh-jauh. Tapi tawarannya itu tidak buruk.


"Aoa yang bisa kau lakukan dengan kaki putus?" tanya Roy'ah tanpa filter.


"Orang ini mulutnya juga kurang ajar ya," Gueta menggerutu dalam hati. Dia melepaskan tubuh Roy'ah. Menyeret kakinya mendekati kumpulan lawan.


Matanya menyipit, satu alisnya terangkat. "Salam kenal, Nama saya Gueta Aenmal." Gueta membungkuk.


"Tidak ada yang peduli dengan namamu!" bentak Roy'ah sebal. Akhirnya dia bisa berbalik menghadap musuh-musuhnya setelah Gueta menyingkir dari tubuhnya.


Dua lingkaran sihir muncul di kanan-kirinya. Tidak lamah, hingga sebuah kerah dan garuda muncul dari sana. Keduanya mengeluarkan suara bising masing-masing. Terbang dan melompat mendekati lawan.


"Koaak!"


Elang itu mengincar Riyal yang berada dalam posisi melayang. Elang itu membuka mulutnya. Kakinya menghadap ke depan. Tidak sabar mengoyak tubuh lawannya.


Xiota akui dia benci setengah mati pada Riyal. Anggap saja sebagai balas budi. Xiota mengangkat tangan. Tiga detik menahan napas, dia sanggup membuat Elang tersebut berhenti tiga puluh senti di depan wajah Riyal. Xiota menghembuskan napas. Dia melirik Riyal, ingin memamerkan kekuatannya. Riyal tidak merespon. Tidak tahu kapan wajahnya akan berekspresi.


Aizla membentuk sebuah tameng dari asap darah ketika kerah tersebut melompati Lixe. Kewaspadaannya benar, kerah itu meluncur ke arahnya. Dengan kuku tajamnya yang lentik, si kerah kurus mampu meninggalkan goresan di tameng tersebut.


Bodoh amat soal tamengnya. Saat si kerah kembali menjejakkan kakinya di lantai. Tamengnya menghilang. Zenith ganti berlari dengan tangan terkepal.


Kerah itu seolah menjerit ketakutan. Instingnya cukup kuat. Dia melompat dan bersalto ke belakang. Saat melewati Lixe, Lixe menangkap kakinya dengan tangan kanan, sedang tangan kirinya menggenggam rubik memori. Kerah itu meronta hebat. Lixe tertawa geli. Dia berdiri, lalu mengayunkan tubuh dan tangan bersamaan.


"Uaahhk!"


Kerah itu terlempar. Menghantam meja di samping jendela. Gueta meringis. Dia memasang ekspresi ngilu. Seakan bisa merasakan sakit yang di alami hewan tersebut.


Saat pandangannya teralihkan, Gusion menutup mata Gueta dengan telapak tangan kiri. Entah sejak kapan jarak mereka sedekat itu. Gusion menundukkan kepala, dia berbisik sesuatu di telinga Gueta.


"Koak!"


"Uuaahhk!"


Dua hewan panggilan Gueta menghilang. Tangannya mengepal. Dia menepis tangan Gusion. Lalu melayangkan tendangan dengan kakinya kebiruan.


Gusion menangkap warna itu. Dia melompat mundur. "Kau yakin ingin berkelahi denganku dalam kondisi itu?"


Gueta menelan ludah. Dia melirik Roy'ah. Sial, orang itu mana peduli.


"Karena itu, lawanmu adalah aku," sahut Roy'ah beberapa saat kemudian. Gueta berseru takjub dalam hati. Roy'ah mau membantunya. Itu hal yang langkah.


"Kau tidak perlu kepedean, sejak awal mereka memang musuhku," celetuk Roy'ah yang dibalas anggukan Gueta. Dia tidak ingin berdebat. Kakinya sakit, daripada harus kalah menanggung malu, lebih baik tidak melakukan apapun. Itu prinsipnya.


"Kau ingin berpihak pada siapa?" Roy'ah mengayunkan tangannya yang masih terangkat ke depan ke sembarang arah. Menghempaskan tubuh Riyal ke lantai. Xiota menangkap tubuhnya. Entah sejak kapan dia jadi merasa kasian.


"Kenapa aku menolongmu?" tanya Xiota sembari membantu Riyal berdiri. Yang ditanya tidak merespon, karena Riyal jelas tidak tahu jawabnya.


"Katanya, benci itu bisa jadi cinta," celetuk Lixe dengan santai melirik Xiota.


Kalimat itu membuat ketiga temannya ilfil. "Kau kerasukan apa?"


Hanya Aizla yang tahu di dalam Lixe ada jiwa lain. Dia menyakini bahwa tubuh Lixe tengah dikendalikan jiwa tersebut. Mengingat tentang jiwa, mengingatkannya pada Biete. Arwah itu belum menyapanya sejak datang ke kerajaan ini.


"Jawab!" bentak Roy'ah.


Energi dari tubuhnya membuat semua yang ada di dalam ruangan itu bergidik. Lixe berjalan dengan kepala terangkat. Auranya sekarang jauh melebihi Roy'ah.


"Huh?"


Lixe mencengkeram lembut dagu Roy'ah. Laki-laki itu menatapnya marah. Lixe menguatkan cengkeramannya. Sekarang mendorongnya ke atas.


"Kau suka dihormati bukan? Apa kau sadar bahwa kau tidak pernah menghormati seseorang. Dia kakakmu." Lixe terus mendorong rahang Roy'ah dari bawah ke atas.


"Pastikan kau tidak menyesal menyakiti kakakmu karena ketidak tahuan mu." Bayang wajah Wisteria muncul di benak First. Saat-saat dimana dia dengan kejam menusuk tubuh orang yang ternyata saudara beda itu.


Roy'ah menggeram. Sebuah pedang keluar dari lemari besi sudut ruangan. Pedang itu terbang ke tangan Roy'ah. Dia mengayunkannya ke leher Lixe.


Cahaya menyelimuti tubuhnya. Menghilang, lalu muncul tiga meter lebih jauh. Luxe memejamkan mata.


***


"Biar aku lanjutkan sendiri." Lixe menepuk pundak First. Kesedian tampak jelas di mata First. Dua jiwa dalam satu tubuh saling tersenyum konyol.


"Panggil aku kalau kau butuh," ucap Firs. Lixe mengangguk.


***


Roy'ah masih terpaku sebab mendengar ucapan Lixe barusan.


"Kakakku sudah mati. Dia tidak pernah hidup kembali. Tidak ada yang bisa menggantikan tempatnya. Dia atau yang lainnya." Roy'ah menunjuk Riyal.


Lixe pernah mendengar kisah itu dari Bal. Dia menoleh pada Riyal. Tidak ada sanggahan. Berarti benar. Iya, kan?


"Saya sadar di mana tempat saya, Pangeran. Saya hanya memenuhi perintah Pangeran Riyal yang terakhir." Riyal membungkuk. "Mengembalikan ingatan yang telah diambil dari memori Lixe Van."


Roy'ah tidak percaya dengan apa yang dikatakan Riyal. Bukan masalah. Riyal tidak peduli. Sejujurnya, dia tidak pernah ingat pernah mendapat peringatan demikian dari Riyal yang asli.


Namun sebelum kedatangan para tamunya, seorang pelayan memasuki kamarnya dengan kurang ajar. Perempuan itu bersikap seolah dirinya adalah orang paling hebat.


"Aku adalah Biete, sebuah jiwa yang merasuki tubuh ini," ucapnya yang terdengar aneh di telinga Riyal.


Riyal tidak peduli.


"Hei dengarkan aku! Aku membawa sesuatu untukmu!'


Perempuan itu mendekati Riyal dengan sebuah bola darah di tangan kanannya. Tak tedeng aling-aling, Biete memasukkan bola itu ke dalam kepala Riyal. Riyal terkejut, tiba-tiba terdorong ke belakang.


***


"Xen'ah!" panggil seseorang.


Seorang anak duduk linglung menoleh ke sekeliling. Itu, Riyal. Ah bukan. Dia Xen'ah. Xen'ah mengedipkan mata. Seorang anak berdiri di depannya. Wajah itu tidak terlihat. Bukan, Xen'ah tidak ingat.


"Kalau kau sudah menggantikan ku esok hari. Kalau aku sudah tiada. Iya, pasti aku sudah tiada saat hari itu tiba." Anak itu tertawa dan menepuk jidat. Orang itu duduk di depan Xen'ah. Mendekatkan wajahnya.


Xen'ah yang tidak bisa melihat wajah itu mengerutkan kening. Wajah di depannya tidak terlihat.


"Aku mohon, Xen'ah. Maafkan kami. Suatu hari, kalau kau bertemu Lixe, sampaikan maafku ya. Bantu dia mendapatkan ingatannya kembali."


Dia menghela napas. "Ini permintaanku, Riyal Argio yang akan menghilang dari ingatan semua orang."


Xen'ah mengedipkan mata. Wajah itu semakin jelas. Lagi, Zen'ah mengucek mata. Saat dia membuka matanya, Benar, itu wajah Riyal yang asli.


"Aku bukan Pangeran Riyal Argio."


Xen'ah ingat wajah itu. Wajah yang begitu mirip dengannya. Yang lalu dia gantikan identitasnya.


***


"Xen'ah," gumam Riyal.


Hati Xiota bergetar. Dia menatap tak percaya saat nama itu di sebut. Dia ingat itu nama kakaknya, yang wajahnya entah bagaimana bisa dia lupakan. Xiota merasakan sesuatu. Menatap Riyal lebih lama. Riyal mengangkat busurnya. Dia menjawab Roy'ah. Pertanda bahwa dia juga adalah musuh.


"Sungguh tidak ada yang bisa di harapkan dari anak kampungan. Kenapa Ayah memilih mu sebagai pengganti Kakakku?" Roy'ah menggeleng. Namun dia bisa menangkap lengan Lixe.


Lixe menyeringai. Dia pikir, dia akan bisa memukul Roy'ah yang tengah lengah. Sayangnya kesempatan ini justru dimanfaatkan Roy'ah untuk menghajarnya. Roy'ah memukul perut Lixe sekuat tenaga sambil tetap memegang tangan kanan LIxe, tidak membiarkannya menjauh darinya.


Zenith hendak menolong. Aizla pun sudah mengepakkan sayapnya. Namun Gueta juga siap dengan hewan yang lebih ganas dan besar. Singa dan Phoenix muncul di kanan dan kirinya. Dua hewan itu mendorong Aizla dan Zenith ke dinding. Dua orang itu sempat beradu kekuatan, saling dorong hingga akhirnya dinding di belakangnya retak. Tak lama kemudian, Aizla dan Zenith sama-sama terpental keluar dengan dinding beton yang sudah hancur lebih dulu.


Gueta menoleh. Dia merasakan tatapan tajam dari Roy'ah. "Ups, maaf," ucapnya tanpa dosa. Roy'ah tidak merespon. Seekor elang muncul di depannya, Gueta menaiki elang itu. Kemudian keluar dari sana mengejar dua lawannya.


"Akh!" LIxe mendapatkan pukulan di wajahnya. Dia hendak menangkis pukulan berikutnya. Lixe melempar rubik memori di tangan kirinya ke sembarang arah. Menangkap tangan kanan Roy'ah.


"Xiota!" seru Lixe.


Xiota mengerti. Dia mencoba menangkap rubik itu. Roy'ah menatapnya. DIa bisa menggunakan pengendalian jarak jauh hanya dengan tatapannya. Rubik itu melayang di udara. Keduanya saling tarik-menarik.


Gusion melompat, meraih rubik itu. Xiota tersentak ke belakang. Begitupun Roy'ah. Lixe mendorongnya. Akhirnya, tangannya kini terbebas. Namun Roy'ah menendang dagunya sehingga darah keluar dari mulutnya. Sesuatu menahan dirinya dari belakang. Lixe menoleh, tidak ada apapun.


"Nenek?" gumamnya pelan. Dia yakin itu Biete.


Biete menyeka darah di ujung bibir Lixe. Saat kedua kaki Lixe berhasil berdiri dengan keseimbangan penuh, Biete meninggalkannya. Dia terbang ke rubik memori.


"Ikatan darah. Lepaskan jiwa di dalamnya."


Biete menyolekkan darah Lixe ke satu sisi rubik tersebut. Gusion yang dapat melihat Biete meliriknya. Gusion melepaskan rubik yang bergetar lalu melayang. Mengacak sekali, namun enam bayangan keluar dari dalamnya. Terbang menuju keenam orang di sana.


Lixe, Riyal, dan Xiota menelan ludah.Mereka agak takut dengan bayangan yang tiba-tiba terbang ke arahnya. Tapi Biete memerintahkan agar mereka membiarkannya. Gusion menerima bangan itu dengan santai. Dua yang lain terbang keluar. Tanpa Zenith dan Aizla sadari, bayangan itu masuk ke dalam tubuh masing-masing dari belakang.


Lixe memejamkan mata.


"Selamat tidur, Lix. Biar aku yang mengurus orang itu." First kembali mengambil kendali tubuh Lixe. Membiarkan jiwa otu tertidur dan memasuki alam mimpinya.


***


"Di mana ini?" Sekitarnya gelap. Lixe tidak bisa bernapas. Seekor ikan terang melintas di depannya. Lixe menyeringai. Ternyata di dalam air. "Apa yang terjadi sebelumnya. Apa aku sungguh akan mati? Kak Riyal, Kak Mita, dimana kalian?"


Matanya sayu. Air sudah memenuhi perutnya. Mual tidak karuan. Pikirannya sudah kacau. Tapi di tengah ketidak berdayaan nya, Lixe melihat sesuatu datang ke arahnya. Anak itu meraih tangannya. Lalu menarik tubuhnya yang semakin lama semakin tenggelam ke atas. Anak itu menggertakkan rahang, gelembung-gelembung udara keluar dari sudut-sudut mulutnya. Sepasang sayap hitam muncul di punggungnya.


"Apa kamu malaikat maut?" batin Lixe. Dia memejamkan matanya saat malaikat kecil itu menariknya.