
Plok plok. Gean bertepuk tangan. Dia dan Lixe muncul di halaman Rumah Agung Suku Van. Lixe menatap sekitar tidak percaya.
"Kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Lixe yang terus berputar mengamati pemandangan taman dan rumah megah di hadapannya. Hingga sebuah bola bayangan di tembakkan ke atas.
Boom!
Ketenangan di kediaman tersebut pecah. Gean menyeringai. Portal-portal cahaya muncul di sekeliling mereka. Bahkan Lest dan Lucky muncul di antara orang-orang tersebut.
"Apa yang kau lakukan di sini, Nak?!" tegur seorang kakek yang merupakan pemimpin suku.
"Aku akan membantu Anda mencari pemimpin Suku Van yang baru. Anda akan bersyukur karena sangat bahagia." Gean tertawa. Raut wajah kakek itu tidak baik. Semua orang yang berkumpul pun menundukkan kepala.
"Kenapa? Bukankah aku sudah mengalahkan kalian semua dalam sebuah pertarungan?" Gean memiringkan kepala seraya menyeringai jahat. Dia menarik lengan Lixe. Lalu mengangkat tangan kanan Lixe ke atas.
"Lixe Van, Putra Loam Van. Bukankah kalau dia menang dariku dia berhak menjadi pemimpin suku?"
Lixe menatapnya tidak percaya. "Aku tidak akan mengalah darimu meski kau melakukan ini!" ucap Lixe sedikit berbisik sambil memicingkan mata.
"Apa kau tidak ingin menjadi pemimpin suku?" tanya Gean. "Kalau begitu mengalah lah. Serahkan nyawamu padaku."
Gean memulai serangan pertama. Dia memukul wajah Lixe tanpa aba-aba. Lixe terkena serangan telak. Terpelanting hingga tersungkur ke tanah.
Pemimpin suku tersenyum. "Aku setuju."
Surai bayangan melilit tubuh Lixe, mengangkatnya hingga satu meter di atas tanah. Lixe mengayunkan kedua kaki. Dua bulan sabit muncul di samping kedua telinganya. Bulan itu berputar, melayang memotong surai bayangan yang melilit tubuhnya.
Lixe mengayunkan kedua kaki ke depan saat tubuhnya terlepas. Bersalto di udara dan melompat mundur. Surai bayangan mengejarnya, kedua bulan sabit berputar terus menghalau surai-surai bayangan yang semakin cepat.
Lixe menangkap dua bulan sabit yang berubah menjadi dua buah pedang cahaya. Dia membungkuk, menghilang, muncul di depan Gean dengan kedua pedang tersilang di depan. Gean menangkap kedua tangan Lixe. Menarik tangannya, membuat Lixe terjatuh ke depan.
Buak. Lutut kanannya menghantam tulang rusuk Lixe. Gean melepaskan kedua tangan Lixe. Tanpa jeda, hendak menyikut punggung Lixe dengan kedua tangannya.
Pemimpin suku bertepuk tangan, diikuti para penonton. Lucky melirik Lest. Lest hanya diam dengan ekspresi datar.
Crash.
Lixe menyeringai. Dia berhasil melukai kaki kanan Gean dengan kedua pedangnya. Sebelum kedua siku Gean menyentuhnya, Lixe berguling ke depan. Lalu mendorong dagu Gean dengan kedua kaki yang terangkat, hingga Gean terpental tiga langkah ke belakang.
Gean menghela napas dengan cepat. Sebuah pedang yang runcing namun sepanjang satu meter muncul di tangan kirinya. Asap bayangan mengitari pedang tersebut.
Tring.
Dua pedang bertemu. Menciptakan suara nyaring yang memekakkan telinga. Semua orang menutup telinga rapat-rapat. Juga Gean yang lebih dulu menyumpal telinganya dengan bayangan yang berbentuk menyerupai haedset. Sedangkan Lixe yang tidak ada persiapan terhempas mundur.
Lixe mendarat dengan kedua kaki. Namun keseimbangannya buruk. Kakinya bergetar, lalu jatuh. Ia mengusap kedua telinganya. Tidak ada waktu. Gean sudah mengayunkan pedang panjangnya dari jarak satu meter. Lixe menahan. pedang itu dengan kedua pedangnya.
"Aku tidak akan menang dengan keseimbangan begini." Lixe melirik ke langit. Langit mendung yang tidak menampakkan bulan purnama. Bagaimana dia bisa menggunakan kekuatan penuh tanpa bulan purnama.
Lixe semakin panik. Pedang di tangan kanannya mulai terkikis. Padahal pedang itu sangat tipis. Kenapa bisa terkikis. Lixe mengerutkan kening. Pedang itu jelas begitu tipis.
"Keluarkan semua kekuatanmu. Jadilah Bulan Purnama Sabit yang legendaris!" Gean berbisik. Dia melompat mundur, sengaja memberikan kesempatan Lixe untuk berdiri.
"Apa yang dia katakan?" batin Lixe.
"Kau tidak tahu? Anak siapa kau ini?" sahut First di alam bawah sadarnya. Jiwa Lixe bersungut-sungut di dalam sana.
First memegang pundak Lixe. "Biar aku tunjukkan."
Lixe memutar pedang di tangan kirinya. Melemparkannya ke arah Gean. Pedang itu berubah menjadi bumerang.
Gean tersenyum. Dia memukul bumerang itu dengan pedangnya seperti memukul bola kasti dengan tongkatnya. Lixe hendak berlari. Namun jiwa First dihentikan pemilik tubuh asli.
Lixe memaksa merebut kembali kendali dirinya. "Aku mengerti."
Lixe menghilang. Tiga bola cahaya muncul di dekat Gean. Ketiganya bersinar terang. Boom! Meledak bersamaan. Bahkan tameng bayangan yang diciptakan Gean hancur berkeping-keping.
Lixe menjatukan pedang di tangan kanan. Menangkap tubuh Gean dengan kedua tangan.
"Kenapa kau membuat pertunjukan ini?" bisik Lixe langsung ke telinga Gean.
"Aku ingin wajah orang-orang sombong itu terhina. Kalahkan aku! Jadilah pemimpin suku! Bukankah itu akan menarik?" Gean menyeringai.
"Sepertinya otaknya sudah tidak beres," maki Lixe dalam hati.
Lixe melepaskan Gean. Gean membulatkan mata. Ekspresi marah tempak di wajahnya saat Lixe berjalan menjauh dengan entengnya.
"Aku tidak tertarik menjadi pemimpin suku." Lixe melambaikan tangan. Gean mengayunkan pedangnya yang cukup panjang menjangkau Lixe.
Klang.
Bumerang cahaya milik Lixe lebih dulu mengitari pedang tersebut. Pedang itu patah menjadi beberapa potongan kecil. Lixe menoleh.
"Apakah ekspresi itu yang kau mau?" tanya Lixe seraya menunjuk wajah pucat pemimpin suku. Juga beberapa orang yang tercengang. Tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Juga merasa malu pada orang yang pernah mereka remehkan.
Gean menebar pandangan. Dia menarik napas. Puas. Tidak masalah pedangnya patah. Setidaknya dia mendapat apa yang selalu dia inginkan. Gean terpaku di tempat. Tidak menghiraukan Lixe yang sudah terbang meninggalkan halaman itu.
Wajah orang-orang sombong yang terhina itu, cukup membuatnya puas.
***
"Hihihi." Seorang anak dengan nama belakang Aenmal tertawa memaki Gean kecil yang tengah mengelap lantai di hadapannya. Gean berusaha menahan emosinya. Lagipula, penghinaan ini memang sering ia alami.
"Ingatlah! Kau bisa di sini hanya kerena kau keponakan dari suami Ratu. Jangan berlagak! Kau bisa diusir kapan pun. Aku ini juga Suku Van, Kau hanya seorang Wist yang hina..."
Buak.
Gean tidak sanggup menahannya lagi. Dia memukul habis-habisan anak yang sombongnya bukan main.
"Aku akan mencoreng wajah seluruh Suku Van."
***
Duar!
Ledakan hebat terjadi di taman kota. Lixe yang terbang dapat menemukan keberadaannya. Lixe segera terbang mendekat. Benar saja. Dua bola bayangan saling berbenturan.
Lixe melihat Geor terjun bebas dengan luka di seluruh tubuh. Sedang Gusion terbang dengan kepala terangkat.
Tentu saja, ini akan berakhir demikian. Dengan kekuatan Wisteriam di dalam tubuh Gusion, Geor dipastikan kalah.
"Semuanya berakhir."