AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Manusia tetap manusia



Malam harinya....


"Aku menemukan mereka." ucap Cain, sopir kapal perang divisi dua menyipitkan mata demi melihat sebuah bangunan kecil dari layar monitor kapal terbang. Dia menghentikan kapal terbang itu di atas dua bangunan besar. Cain memasang sasaran, sebuah rumah kecil?


"Kau di sana Zenith?" Kakinya menginjak sebuah tombol di samping gas.


"Menyedihkan." Sebuah peluru besar keluar dari moncong kapal terbang.


Duar


Suara ledakan diikuti suara reruntuhan yang memekakkan telinga membuat teriakan warga tersamarkan. Rumah kecil itu hancur. Juga kedua bangunan besar yang mengapitnya. Keduanya runtuh menimpah yang lain. Satu komplek dalam sekejap hancur. Debu mengepul di mana-mana, membumbung tinggi.


"Ya ampun. Buruk sekali." Cain menggeleng.


"Kau tidak akan memintaku ganti rugi untuk semua ini, Kan? Pangeran Roy'ah?"


Pria berambut pirang dengan potongan undercut di belakangnya hanya menatap layar monitor. Tidak peduli apa yang dikatakan Cain. Laki-laki itu lama mematung hingga akhirnya berbalik tanpa kata-kata.


"Sabarlah, Cain. Bagaimanapun kelakuannya, dia tetap manusia.


"Aku harap kalian selamat. Agar aku bisa memukul kalian satu-persatu."


Pintu di ruang kendali terbuka.


Roy'ah keluar, meninggalkan Cain yang sibuk mengemudikan kapal terbang setelah diabaikan mentah-mentah Roy'ah.


***


Di kediaman Dey, sebuah portal dari bayangan muncul di taman. Empat orang keluar dari sana. Zack dan Bal sudah berdiri menanti kedatangan mereka.


"Kau puas dengan penolakan Zenith?" Zack menatap tajam pada Zenith.


Zenith menggigit bibir. Dia mengepalkan tangan, lalu berjalan cepat menuju istana. "Ini bukan penolakan pertama dari Nona Anita!" ucapnya setengah berseru.


"Bal." Zack melirik Bal. Setelah dipanggil, Bal berlari mengejar Zenith yang sudah memasuki istana.


Zack memandang tamu barunya.


"Zenith yang membawamu?" Xiota mengangguk. Zack menatapnya lebih lama, hingga jantung Xiota berdetak lebih kencang.


Xiota menelan ludah. Menyeringai, merubah raut takutnya dengan ekspresi menantang.


"Anda sedang membaca pikiran saya?" tanyanya.


Zack membulatkan mata. Dia mengalihkan pandangan lalu, menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Kenapa?" tanya Zack tanpa dosa.


Xiota mengangkat pundak. Dia menggeleng. Di tempat asalnya, beberapa orang mampu membaca pikiran dan mempermainkan pikiran.


"Silahkan saja. Saya tidak takut. Karena Anda tidak akan mendapatkan apapun."


"Kau yakin?" balas Zack sinis.


Xiota mengangguk sombong.


Lixe dan Gusion saling lirik. Dua orang itu sama-sama berpikiran akan sangat buruk jika membiarkan orang-orang itu tinggal di satu atap.


"Kau akan tinggal denganku," Gusion menarik lengan Xiota. Mengajaknya meninggalkan kediaman Dey, lebih tepatnya Zack.


"Sampai jumpa Tuan Pembaca Pikiran!" Xiota melambaikan tangan. Zack hanya berdecih pelan.


"Aku lebih baik daripada para pencuci otak itu."


"Saya sangat tidak yakin!" Xiota berseru dari kejauhan.


"Kalau kau ingin berlatih berperang, datanglah padaku! Aku ingin sekali memukulmu! Warga Argio!"


"Sebuah kehormatan saya bisa memukul Pemimpin Suku Agung dari Kerajaan Dielus!"


Zack menarik napas panjang. Akhirnya musuhnya pergi. Dia menatap Lixe. Lalu meninggalkannya.


"Aku akan menemui Zecda. Tolong jaga Zenith. Gadis itu semakin gila," suara Zack muncul di kepala Lixe.


Lixe meremas rambutnya. Raut wajahnya mengatakan, "Kenapa tidak langsung bilang saja?" Lixe berlari menuju istana, khawatir Zenith akan benar-benar berbuat hal gila lagi seperti yang dikatakan ayahnya sendiri.


"Ya. Sejak awal dia sudah gila, kan?" pikir Lixe saat melihat Zenith duduk di atas kasurnya dengan Bal di sampingnya. Lixe menghela napas lega.


Secepat kilat. Hanya dalam satu kedipan, Zenith berada satu meter di depan Lixe. Dia menendang wajah Lixe yang tanpa dosa. Langsung membanting pintu begitu saja. Zenith mengunci pintunya.


"Bal, apa yang kamu katakan tadi sungguhan?" Zenith berbisik mendekati Bal. Anak itu mengangguk.


"Bagus." Zenith mengangkat tangannya yang terkepal. Berlari. Duduk di kasurnya dan memeluk Bal. "Ayo pergi!"


"Mau kemana?"


Zenith berbalik sambil melompat kaget. Di belakangnya, Lixe sudah duduk di atas ranjangnya. Zenith melotot sampai Lixe khawatir, mata sakti itu akan lepas dari kepalanya.


"Siapa yang memberimu izin masuk!"


Lixe mengangkat bahu. Dia dengan santai menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang empuk itu. Kemudian merenggangkan tubuh, dan berguling menuju tengah ranjang. Zenith menatapnya tanpa berkedip dan dengan mulut terbuka.


Zenith menggertakkan giginya. Di depan matanya, tanpa tahu malu Lixe menaruh kepalanya di bantal kesayangan Zenith. Zenith melompat.


"Menyingkir dari sana, dasar kurang ajar!" Tangan kanannya terkepal, hendak meninju wajah Lixe.


Namun Lixe berguling ke samping. Tinju itu mengenai spring bed yang empuk. Lixe mengelus dada seraya menghela napas lega.


Zenith menoleh, Lixe lebih dulu menarik lengan kanan Zenith yang menjadi tumpuan. Tubuh gadis itu terbanting ke spring bed.


"Mau kemana kau?! Apa kau tidak lelah?!"


"Kau sedang bicara dengan cyborg." Zenith menarik lengannya kasar.


"Jadi?" Lixe bangun. Dia meraih tangan tubuh Bal. Kemudian merangkulnya. Dia membaringkan Bal di samping Zenith. "Apapun dirimu. Apapun Bal. Kalian tetap manusia."


"Tidurlah. Setelah ini pagi. Jangan kemana-mana. Besok aku akan membukakan pintu manapun yang kau inginkan. Kecuali pintu surga dan neraka."


Lixe menciptakan portal cahaya yang cukup bagi dirinya sendiri. Sebelum meninggalkan kamar itu, Lixe menoleh.


"Selamat malam." Lixe menghilang.


"Sialan!" Zenith bangun, melempar sepasang sepatu yang masih menempel di kakinya ke arah Lixe yang sudah tidak lagi di sana. Bal hanya mengedipkan mata beberapa kali. Takut kena marah. Dia langsung pura-pura tidur.


Tiga detik kemudian. Setelah amarahnya mereda, Zenith mengangkat ujung bibirnya.


"Sok perhatian," gumamnya. Dia menghempaskan tubuh ke kasur kesayangannya. Membenarkan posisi bantal, dan menggeser kepala Bal agar tidur pindah di atas lengannya.


Di tempat lain..


Xiota menatap Gusion yang duduk di depannya tanpa berkedip. Sama-sama duduk dilantai yang cukup dingin. Tapi suasana di sana begitu panas Laki-laki itu tidak berhenti memandangnya seperti seorang inspektur yang akan mengintrogasi penjahat.


Gusion tidak peduli. Dia bernapas, makan, dan minum, tanpa beban pikiran. Juga memainkan game di layar digital seolah dunia milik sendiri.


"Ehem!" Xiota akhirnya memulai pembicaraan.


Gusion mengangkat sebelah alis. Meliriknya. Lalu kembali fokus pada layar gamenya.


"Kamu dan laki-laki...," Xiota bicara ragu-ragu.


"Lixe," potong Gusion.


"Oke. Kamu...,"


"Gusion."


Xiota menggigit bibir, menahan rasa sebal. "Gusion dan Lixe, kalian bukan asli Warga Dielus?"


Gusion mengangguk.


"Lalu kenapa kalian di sini?"


"Kalau musuh bisa, kenapa kami tidak?" Gusion mengakhiri gamenya dengan kata menang. Layar itu hilang. Sekarang dia fokus menanggapi Xiota.


Xiota mengangguk. Diam meneguk air dalam gelas yang disuguhkan Gusion dari awal mereka datang. Gusion menebak bahwa sejak tadi Xiota merasa tidak tenang berada di daerah musuh.


Xiota menaruh gelasnya kasar.


Plop


Sebuah percikan cahaya kecil muncul. Percikan itu menampilkan tulisan,


'Besok datanglah ke sini sebelum pukul sepuluh. Lixe.' Pesan itu hilang.


"Primitif sekali. Kenapa dia tidak mengirim lewat internet, aplikasi digital, ya. Banyak sekali kan." Xiota melipat tangan di dada.


"Ah. Kalian berasal dari Kerajaan Aenmal, kan? Maaf, aku lupa betapa primitifnya kalian."


Gusion berdiri. Dia berjalan menuju sebuah kamar.


Dalam apartemen itu, Gusion tinggal di sebuah ruangan yang di dalamnya masih terbagi menjadi dua kamar, ruang tamu yang cukup luas, dapur, dan satu kamar mandi.


"Kamarmu." Gusion menunjuk kamar itu. Lalu memasuki kamar di sebelahnya.


Xiota mengangkat bahu. Dia berdiri dan memasuki kamar barunya. Orang itu lagi ngusir ceritanya?" batinnya.


***


"Bagaimana keadaanmu, Aizla?" tanya seorang wanita berjubah merah pada Aizla yang berbaring dengan menggunakan alat berupa helm yang menutupi wajahnya kecuali mulut dan hidung. Alat itu terhubung dengan alat-alat lainnya dalam laboratorium itu.


"Baik."


"Bagus. Karena setelah ini, kita akan mendapat misi baru dari yang mulia." Wanita itu tertawa.


"Apa aku masih manusia, Bu?"


Wanita berjubah merah tidak peduli. Dia pergi meninggalkan putrinya tanpa putrinya tahu.


Aizla yang tak kunjung mendapat jawaban menarik ujung bibirnya. Ini sudah biasa. Ibunya kadang memang cuek padanya.


"Apapun diri Kakak, Kakak tetap manusia." Sebuah suara tiba-tiba muncul di kepalanya.


"Ah. Hai, adik kecil. Terimakasih. Indah sekali."


"Hmm, sama-sama. Aku mendapatkan kata-kata itu dari temanku."


"Aku tidak tahu siapa kamu, juga temanmu. Dan aku juga tidak tahu bagaimana kamu melakukan telepati. Tapi terimakasih sudah menemaniku bicara selama aku tidur di laboratorium ini. Aku pikir kau Tuhan, atau malaikat-Nya," Aizla bicara dalam hati.


"Aku ini manusia."


Aizla tertawa kecil.


"Aku ingin bertemu dengan orang yang mengatakannya."


"Tentu saja. Kau harus bertemu dengannya." Bal mengukir senyum paling lebarnya.


Di kamarnya Lixe tidur nyenyak. Namun pikirannya melayang ke suatu tempat. Dia masih memikirkan dirinya yang menjadi makhluk bayangan.


Anak itu muncul dalam mimpinya. Lixe mengucek matanya tidak percaya. Melihat anak itu berdiri tanpa ekspresi sudah cukup membuat Lixe tegang.


"Bebaskan aku! Aku tak ingin jadi seperti ini! Aku akan menjadikanmu orang paling hebat! Tolong aku! Aku janji. Kau bisa mengalahkan siapapun. Menghancurkan apapun...,"


"Aku ingin kedamaian. Bukan kehancuran. Jaga ucapanmu."


Anak itu diam.


Lixe bisa bisa merasakan aura tidak mengenakkan dari monster itu. Lixe waspada saat monster itu mendekat padanya.


Anak itu meraih tangan Lixe. Dia menggigitnya. Membuat Lixe terbangun dari tidurnya. Napasnya tidak beraturan. Tapi mengingat itu hanya mimpi, Lixe kembali tidur. Tak butuh waktu lama baginya kembali tidur.