
“Xiota! Kau dimana?!” Lixe berseru sembari berjalan. Dia tidak menemukan apapun selai gedung-gedung tua yang besar. Temboknya kokoh, namun berlumut. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini. Angin kencang berhembus. Lixe menoleh ke arah datangnya angin. Lixe menunduk. Aspal yang dia pijak berubah menjadi hitam pekat. Lixe menatap sekitarnya. Pandangannya jatuh pada tiang lampu melayang di arah jam sebelas.
"Xiota!" Lixe berlari ke tempat tersebut. Medan hitam itu membuat langkahnya melambat. Tubuhnya terasa berat. Lixe mengepalkan tangan, tubuhnya yang bercahaya membebaskan dirinya dari pengaruh medan tersebut.
***
Beberapa saat yang lalu...
Xiota berlari menjauh dari portal bayangan di depannya. Sebelum apapun keluar dari sana, dia harus lebih dulu mencari tempat aman. Xiota melirik ke belakang. Seorang pemuda dengan umur tak jauh lebih tua darinya keluar. Matanya dengan cepat menangkap keberadaan Xiota. Pemuda itu menatap Xiota. Tidak mengejar. Xiota sempat bernapas lega.
"Apa kau juga mengincar madu di sana?"
Langkah Xiota terhenti. Dia menahan napas. Pemuda itu muncul di depannya dengan asap bayangan keluar dari belakang tubuhnya. Xiota mundur tiga langkah. Baru bisa bernapas dengan benar. Orang itu melangkah maju.
"Bantu aku mendapatkannya. Aku tidak akan menyakitimu, setuju?"
Xiota tersenyum. Memasang wajah polosnya dan mengangguk. "Aku cukup sadar bahwa diriku tidak bisa mengalahkan mu, juga tidak bisa mengalahkan para lebah sendirian. Kapan aku bisa jadi lebih kuat?" batin Xiota.
Xiota berjalan melewati pemuda tersebut. Pemuda itu dengan damai mengikuti langkahnya. Seekor lebah melihat mereka dari kejauhan. "Gean Wist sudah tiba!" lebah itu terbang menjauh.
Gean sempat merasakan keberadaan orang lain. Dia mendongak. Mengamati pemandangan langit tanpa awan. Dia yakin ada seseorang yang mengawasinya tadi.
Xiota berhenti. Dia menoleh. "Ada apa?"
Gean menggeleng. Menyuruh Xiota kembali menunjukkan jalan. Xiota pikir, orang itu bukan tipe-tipe orang licik yang akan merencanakan hal-hal curang. Ada harapan agar dia bisa bebas dari orang tak dikenal ini.
"Madu itu akan jatuh ke tangan Gusion. Maaf."
Xiota menghentikan langkahnya lima meter di wilayah para lebah berkerumun. Xiota melirik Gean yang tidak bergeming. "Dia cukup tenang."
Gean melangkah dengan santai sejauh dua meter. Para lebah mendeteksi keberadaannya. Mereka terbang berkumpul tiga meter di depan Gean.
Xiota mengamati Gean baik-baik. Entah mengapa dia jadi ingat wajah Gusion saat melihat wajahnya. Xiota menatapnya lebih lama. Gean meliriknya.
"Apa yang bisa kau lakukan?" tanyanya sinis.
Xiota merasa kalau dia menjawab tidak bisa apa-apa dia akan di singkirkan. Tapi Xiota punya siasat lain. Xiota menggeleng. Dramanya dimulai.
"Maaf, saya hanya orang lemah yang diasingkan ke tempat ini." Bohong. Inilah Xiota yang asli. Gean tidak banyak berpikir. Orang lemah yang diasingkan, pasti kurang ajar.
Sebuah portal bayangan terbentuk di samping Xiota. Xiota menatap Gean penuh tanda tanya.
"Aku tidak ingin ada pengganggu. Saat kau ketakutan atau dalam bahaya, pergi dari sini...,"
"Jadi aku boleh menonton?"
Gean tidak merespon. Dia sudah maju dengan pedang bayangan di tangan. Membela tameng yang terbentuk dari formasi lebah. Lebah yang terkena sayatan terpental ke belakang. Tapi mereka baik-baik saja.
Lebah yang lain menyerang. Tameng bayangan muncul di antara keduanya. Gean muncul di belakang mereka. Tanpa ampun membungkus mereka dengan tameng bayangannya yang menggulung. Para lebah yang terjebak di dalam sana berdengung marah.
"Drriiiiiit."
Ratusan lebah lainnya keluar dari sarang. Gean menoleh dengan santai. Tubuhnya menghilang. Para lebah sekarang kebingungan. Mereka mengedarkan pandangan. Mendapati Xiota yang berdiri kaku tanpa ekspresi. Mereka mengabaikannya, berpikir itu hanya patung.
"Kau pandai berpura-pura ya? Apa kau juga coba menipuku?" Gean muncul di samping Xiota. Xiota tidak menjawab. Penyamarannya belum selesai.
Melihat Gean di sana, para lebah terbang ke sana. Xiota masih diam. Seolah tidak melihat dibuat lebah terbang ke arahnya.
"Driiiitt!" Tameng bayangan yang menahan beberapa lebah hancur. Lebah-lebah itu lepas. Memasuki kumpulannya dan menyerang.
"Raja kegelapan. Lubang hitam."
Sebuah bola hitam terbentuk di tangan Gean. Gean memasang kuda-kuda. Dia melemparnya ke arah kerumunan lebah.
Xiota akhirnya bergeser dari tempatnya. Gean tidak peduli. Dia harus cemas pada dirinya sendiri. Karena sekarang ribuan musuh kecil itu membentuk awan pekat yang bercahaya.
Gean melindungi dirinya dengan membentuk kubu di sekelilingnya.
Xiota yang lepas dari penglihatan Gean dengan santai berjalan mendekati sarang lebah. Para lebah yang berjaga di sarang tidak melawan. Mereka justru membukakan jalan baginya.
"Drriiiiiit!"
Gean mendorong lebah-lebah itu menjauh dengan bayangannya. Kubunya menghilang. Para lebah terpental dua meter darinya. Gean menatap Xiota heran. Tidak percaya, orang lemah itu bisa sampai ke titik tersebut.
Xiota tidak peduli. Sikapnya yang tenang tidak buyar. Perlahan, Xiota menyentuh sarang lebah kecil di depannya. Para Lebah mengepung sarang itu. Tidak membiarkan Xiota mengambilnya. Bukan masalah. Xiota menggenggam sarang lainnya yang sedikit lebih besar. Tidak ada perlawanan. Sarang lebah melayang itu dia bawah ke dalam lengannya dengan santai.
Sebuah kekuatan meledak. Gean menggeram kesal dengan para lebah yang terus menyerangnya. "Kenapa dunia ini selalu membeda-bedakan? Dimana keadilan yang selalu mereka siarkan?"
Gean menghentakkan kaki. Bayangan dirinya melebar. Merambat cepat menutupi aspal di bawahnya.
Xiota menunduk cemas. Benar saja. Saat bayangan itu menyelimuti aspal di bawah sarang lebah. Sarang-sarang itu jatuh bergelimpangan di bawah. Para lebah keluar marah. Mereka tidak akan segan untuk menyengat musuh di depannya.
Xiota memanfaatkan kekacauan itu. Dia kabur dari sana. Gean yang sempat melihatnya menyeringai.
"Mau kemana, Orang lemah?"
Bayangan di bawah kakinya menangkap pergelangan kakinya. Xiota terjatuh. Surai-surai bayangan keluar dari sana. Melilit tubuh Xiota. Xiota merangkak. Dia mencoba menghampiri tiang lampu yang berada dua meter di depannya. Sementara surai itu menarik tubuhnya.
Butuh waktu lama, hingga dia berhasil merangkul tiang tersebut dengan satu tangan. Xiota mendongak. Tiang itu terangkat dari tanah. Terbang, menarik tubuh Xiota. Beberapa surai putus. Tubuhnya mulai terbebas.
Sayangnya portal bayangan di bawah sana masih terbuka. Dari dalamnya, dua naga bayangan keluar. Salah satunya terbang menghalau lebah-lebah yang menyerang Gean.
Yang lain terbang ke arah Xiota. Sial. Dengan mulut terbuka. Naga itu menelan Xiota bersama sarang lebah mentah-mentah.
"Aku mendapatkannya."
Gean mengembuskan napas perlahan. Bayangan di bawahnya menekan aspal, juga apapun yang ditutupinya. Surai-surai tipis. keluar dari sana. Menangkap semua lebah yang terbang.
"Driiiiit!!"
Kali ini mereka sungguh terjebak.
"Ayo pergi!" ajak Gean pada kedua naganya.
Gean melirik ke atas samping kiri. Naganya yang tidak membawa Xiota terbang ke arah sana. Mengorbankan diri demi melindungi tuannya dari dua belas sabitan cahaya.
Portal cahaya muncul di depannya. Gean melangkah mundur. Lixe muncul, dan memukulnya.
Tap. Gean menangkap tinju Lixe.
Crash. Lima bumerang mirip bulan sabit menghancurkan naganya yang lain. Xiota jatuh. Namun dia mampu melakukan pendaratan yang baik. Karena terkejut, kekuatan Gean melemah. Surai yang menjebak para lebah putus. Lebah-lebah itu kini terbang bebas.
"Portal cahaya? Bersama orang lemah?" Gean mendekatkan wajahnya.
"Lama tak jumpa, Lixe."
Lixe menarik tangannya. Dia menghampiri Xiota yang juga berlari ke arahnya. Lixe menatap sekitar. Sepertinya, hewan-hewan kecil itu juga menganggap Xiota dan Lixe musuh.
"Tenanglah, Kak. Keburukan tidak akan menimpa orang yang tenang." Xiota kembali memasang wajah tanpa ekspresinya yang melas. Tapi Lixe bukan orang yang bisa tenang di saat seperti ini.
Cahaya yang keluar dari tubuh mereka semakin terang. Juga terasa semakin kuat.
"Tamatlah riwayatku." Lixe menatap hewan-hewan itu cemas.