AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Tunjukkan dirimu



Bieta memimpin. Dia dengan bangga memperkenalkan diri sebagai seorang dekorasi grafis dari luar negeri. Dan bersamanya, Lixe juga Bal adalah asisten-asistennya.


Para penjaga saling tatap. Mereka tidak pernah mengenal Biete. Lagi pula mereka tidak mengundang seorang dekorasi grafis. Mereka menggeleng. Menyilangkan dua tongkat bertegangan listrik milik keduanya. Menghalangi jalan Biete.


Biete menoleh pada asisten barunya. Lixe dan Bal saling tatap. Dalam hati Biete ingin sekali dia menghajar dua prajurit keras kepala ini. Tapi asistennya jelas tidak ada yang terima. Bal berpikir akan membuat sebuah ilusi di mata kedua prajurit.


Tapi apapun niat jahat Biete dan Bal, Lixe lebih dulu maju. Dia menunjukkan tiga kartu cahaya yang di dalamnya berisi identitas diri.


"Tapi kalian tidak diundang," balas salah satu prajurit.


"Kami menawarkan jasa, Tuan. Usaha kami memang masih baru. Jadi kami ingin memperkenalkan ini pada Nona," jawab Lixe profesional. Biete mengangkat kepalanya bangga.


Prajurit itu saling tatap. Mereka jelas akan kena masalah kalau Tara tidak suka. Dan mereka jelas akan dihukum kalau mengacaukan pesta itu.


"Izinkan mereka masuk. Suruh mereka menghadap Permaisuri," sebuah suara dari earphone mereka memerintahkan dengan nada tegas. Mereka menelan ludah mendengar nada itu sedikit mengancam.


"Baik, Nona." Mereka mengangguk.


Bal tersenyum penuh kemenangan. Sedang yang lain masih merasa khawatir apa yang dikatakan Sang Putri pada prajuritnya.


"Nona mengizinkan kalian masuk. Dan beliau meminta kalian menemui Permaisuri segera," Mereka membukakan jalan. Biete berjalan dengan riang memasuki istana putri yang megah nan indah. Biete bahkan berputar ala balerina.


Bal mendongak. Di lantai tiga, terdapat sebuah ruangan indah dan tertata rapi. Ada banyak perabotan indah. Juga lukisan-lukisan indah yang membuatnya sangat estetik. Barang-barang mahal memenuhi ruangan. Bal menemukan dia.


"Putri Tara Neland," Bal bergumam pelan. Hanya Lixe yang benar-benar berdiri di sampingnya yang mendengar.


Lixe mendongak. Dia pikir, orang terhormat seperti itu pasti berada di lantai tertinggi, sesuai derajatnya. Sedangkan yang ada di bawahnya akan menunduk dengan patuh. Tapi bagaimana kalau yang ada di puncak kekuasaan adalah orang yang sering diinjak. Lixe mulai memikirkan Geor Wist, Raja Pengganti Kerajaan Aenmal.


"Apa dia sanggup menundukkan kapala orang-orang yang tegak saat melihatnya dulu?" Entah dia jadi sedikit berempati pada Geor. Lixe membayangkan saat-saat seorang Geor yang hebat dengan nama Wist diinjak-injak. Tapi mungkin suku itu punya optimisme dan ambisi yang kuat.


"Kalian bangga menyandang nama walau semua menginjak mereka. Bagaimana kalian melakukan itu?"


Bal mengikut lengan Lixe, menyadarkan dia dari lamunannya. Lalu Bal berbisik ke dalam pikirannya. "Kakak, kau bisa merasakan kedamaian?" tanya Bal membuat Lixe bingung.


Benar saja, di tempat ini otaknya bisa berpikir jernih. Seperti energi kedamaian mengalir di sana. Lixe mengamati para pekerja yang mondar-mandir menempelkan ini itu dan membersihkan dibantu robot-robot. Tempat itu pada dasarnya suram. Tidak ada yang tersenyum. Semua bersikap seolah tidak saling kenal. Tidak ada yang peduli satu sama lain. Tapi sebuah energi kedamaian menyelimuti ruangan. Membuat hati para pekerja bahagia. Dan itu membuat mereka seperti seorang robot yang bekerja tanpa perasaan dengan damai.


"Dari mana asalnya?" tanya Lixe sinis. Dia suka dengan adanya energi kedamaian. Tapi energi ini mematikan jiwa sosial orang-orang. Membuat mereka baik-baik saja walau tidak saling menganggap ada, karenanya lah tidak ada yang menghalangi jalan mereka sekarang. Semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Biete dengan sengaja meluruskan kaki ke depan. Seorang perempuan dua puluhan berjalan cepat melintas di depannya. Perempuan itu tersungkur. "Ups, maaf Nona. Kau tidak papa?" tanya Biete sambil mengulurkan tangannya. Perempuan itu langsung berdiri sendiri, lalu pergi seolah tidak ada yang terjadi.


"Astaga. jiwa mereka lemah sekali. Kalau aku mau, aku bisa mengambil jiwa-jiwa itu dengan sangat muda. Mereka bahkan lebih buruk darimu, Bal." Biete menoleh pada Bal. Wanita itu ternyata tahu kalau Bal adalah seorang Cyborg.


Sejak awal, Biete sudah melihat Bal sebagai seorang Cyborg. Di matanya, hanya sebuah robot berjalan, bukan manusia.


"Bal manusia, setidaknya jiwanya manusia. Tidak ada alasan Nenek mengatainya robot." Lixe mengubah arah. Dia berjalan menuju tangga.


"Mau kemana kau, Cu?" tanya Biete terang-terangan. Dia bertaruh tidak akan ada yang mempedulikan. Lixe tidak menjawab. Biete menoleh pada Bal. Dia tahu robot ini tahu segalanya.


"Dia ingin mencari permata naga langit putih," jawab Bal yakin. Biete tersenyum kecut.


"Dia tidak akan menemukannya di sini. Kau tahu itu!" Biete mencoba berseru tertahan.


Bal mengangguk angkuh. Bagaimanapun, Bal tidak suka diremehkan. Dan soal Lixe. Kakak barunya itu lebih menarik dari yang dibayangkan.


"Ayo!" Biete mendengus. Lalu kembali berjalan menuju ruang kerja Ratu berada. Dia sudah melayani kerajaan ini 17 abad lamanya. Tentu dia menghafal setiap sudut. Maksud ukiran dinding. Hingga keberadaan sebuah makhluk tidak berperasaan di bawah sana.


Ada alasan mengapa dulu, ditubuh pilihannya yang sebelumnya dia mencuri permata naga langit putih milik Kerajaan Dielus. Tapi mungkin dia berada di dalam tubuh orang yang salah.


"Maafkan aku, Qien."


***


Lixe berhenti di depan jendela lantai dua. Berusaha menenangkan diri walau dirinya sudah tenang. Tapi dengan ketengan ini rasanya dia sanggup bunuh diri kalau dia mau. Lixe meremas rambut.


Gawat! Sebuah vas bunga jatuh dari lantai atas. Lixe mengeluarkan sebagian tubuhnya demi melihat ke atas.


Seorang anak 12 tahunan menatap ngeri ketinggian delapan belas meter dari ambang jendela besarnya. Lixe mulai berpikir gadis itu akan melompat. Gadis itu memang mengeluarkan satu kakinya. Lalu memejamkan mata.


"Awas!" Lixe melompat keluar sambil memegangi bingkai jendela atas. Tubuhnya berayun, lalu melempar tubuhnya ke atas. Lixe mendorong tubuh gadis itu masuk bersama tubuhnya yang masuk.


"Malaikatku sudah datang?"


"Selamatkan aku. Aku ingin pergi. Aku menyuruhmu untuk membawaku pergi!" Gadis itu memeluk Lixe dengan tubuh gemetaran. Dia menyembunyikan wajahnya dengan menempelkannya pada uluh hati Lixe.


Lixe ragu-ragu mengelus kepalanya. Agak berhati-hati, karena di sana terdapat sebuah mahkota indah yang dia kenakan.


"Kenapa kau ingin pergi, Putri?"


Tara mengatur napas, kemudian mengangkat wajahnya. Dia menatap Lixe penuh percaya diri. Itulah Tara.


"Aku bisa memberimu apapun. Tapi berjanjilah untuk mengajakku pergi dari tempat ini!" katanya arogan.


Lixe menggeleng. Dia tidak ingin semua itu. Hidup dengan tekanan berkedok kehormatan. Lixe tidak tertarik. Sudah cukup nama Van yang membuat hidupnya berantakan. Dia tidak ingin mempertanggung jawabkan hal-hal lain.


"Kau putri. Kenapa tidak pergi sendiri? Bukankah kau yang paling dihormati?"


"Semuanya akan berlutut! Tidak ada yang benar-benar ingin berteman denganku. Semuanya takut! Aku Putri dengan kekuasaan tertinggi di negara ini. Kau tahu itu, kan?" Tara menggeleng. Dia tertawa, mengejek dirinya sendiri.


Lixe tiba-tiba menggendongnya. Tara memberontak sesaat. Tapi saat Lixe membawanya ke ambang jendela. Tara diam. Senyumnya mengembang.


"Ini yang kau inginkan, Putri? Bukan, siapa namamu?" Lixe melompat keluar dengan Tara di lengannya.


"Tara. Terima kasih, Kak."


"Hari ini aku bebas. Aku.... takut."


***Enam tahu yang lalu


Tara bergoyang tidak tenang saat berada di hadapan anak-anak lain.


Dia gugup. Dia ingin bicara. Berharap seseorang akan mengajaknya bicara. Tapi anak-anak itu tidak ada yang memandang dirinya. Semua menatap takjub mahkota indah yang menempel di kepalanya.


Orang-orang mereka berdatangan. Menggandeng tangan anak-anaknya, lalu mengajak mereka pergi. Para orang tua berbisik.


"Ya ampun, jangan ganggu Tuan Putri, Nak."


Mereka menyeret calon teman-temannya. Tara yang bisa diam menatap penuh kekecewaan.


"Maafkan kelancangan anak-anak kami, Nona."


"Apa yang salah? Apa masalahnya? Aku hanya ingin berteman."


Tara memasang wajah datarnya guna menyembunyikan perasaan sedihnya. Dia tidak diajarkan untuk menangis. Tara harus selalu tersenyum. Jika tidak, dua bodyguard yang mengawasinya dari kejauhan akan menyiksa orang-orang yang membuatnya sedih. Dia tidak mau, ada yang terluka.


Tara berjalan ke sebuah lapangan. Seorang laki-laki sebelas tahun berlarian. Laki-laki itu tertawa bersama ayah dan ibunya. Tara hanya duduk di bawah naungan atap kursi di sana.


Anak itu tiba-tiba mendekatinya. Laki-laki itu tersenyum tulus padanya. Itu untuk pertama kalinya. Lalu dia berlutut.


"Putri ingin bermain bersama saya?" tanyanya.


Senyum di wajah Tara mengembang. Dia mengangguk. Lalu berdiri. Melupakan segala etika kehormatan yang telah dia pelajari, sekaligus mengangkang kehidupannya. Sore itu dia berlari. Tertawa sepuas hati. Dia melupakan dua bodyguardnya yang selalu mengawasi. Juga selalu melaporkan kegiatannya pada Ratu.


Sesampainya di istana putri....


Ratu sudah duduk di ruang tamu, menunggu putrinya dengan perasaan sebal.


"Anda bahagia, Putri?" tanyanya. Tara terdiam. Dia gelagapan. Kepalanya yang tidak pernah tertunduk akhirnya tunduk.


"Sudah saya bilang. Sebaiknya Anda menjaga jarak dengan orang-orang yang tidak setara dengan Anda."


Di belakangnya. Tiga bodyguard masuk dengan membawa teman barunya beserta ayah dan ibunya. Tara menatapnya tidak percaya. Dia menutup mulutnya rapat-rapat. Air mata mulai keluar dari sudut matanya.


"Kau tahu apa yang akan terjadi, bukan?" Ratu mencengkeram wajah putrinya.


"Jangan menangis!"


Tara mengusap air mata di pipi. Membiarkan bodyguard itu memukuli ketiganya.


"Kakak! Aku mohon, maafkan putra dan suamiku! Aku mohon, Kak Fiyah." Wanita itu mendorong bodyguard yang hendak memukulnya. Dia berlari menuju Ratu. Lalu bersujud dan mencium kakinya.


"Aku sudah bukan kakakmu, Sin." Ratu berbisik menendangnya. Wanita itu terdorong ke belakang.


"Lepaskan putranya! Dan tambah hukuman untuk suami dan istri yang berani pada Sang Ratu!" Ratu berjalan anggun menuju pintu keluar istana putri.


"Maafkan aku, Kak Yase." Tara menatap anak laki-laki yang wajahnya dipenuhi memar dengan perasaan takut. Tara langsung mengalikan pandangan saat anak itu balas menatapnya. Tanpa mengucap apapun, Tara langsung menaiki tangga. Dia masuk ke kamarnya. Menangis di bantalnya.


***


"Jangan! Aku takut. Ayo kembali!" Tara mencengkeram lengan pakaian Lixe. Wajahnya pucat pasih.


"Tolong aku. Tolong mereka. Mereka bisa mati."


Lixe mengambil mahkota di kepala Tara. Mahkota itu lalu bercahaya dan hilang. Lixe sudah mengirim mahkota itu ke dalam lemari Tara di kamarnya. "Tunjukkan dirimu Tara! Dan terimalah, apapun yang mereka berikan. Baik cinta ataupun benci. Kau akan menikmati keduanya."