ALBRA

ALBRA
9. Kembali Bertemu



Tepat pada jam 10 pagi, Qyen mendengar sapaan Ian, adik dari Albra yang tiba-tiba saja keluar dari mobilnya sambil tersenyum lebar kearah Qyen dan menanyakan kabar.


“Hai, Qyen. Apa kabar?”


“Ian? Hai kabar baik,” jawab Qyen sambil juga tersenyum dengan canggung.


Tak berapa lama kemudian, keluarlah dua orang pegawai dari mobil Ian dan membuka bagasi mobil. Qyen memperhatikan dua pegawai tersebut, mereka mengeluarkan paket besar yang sempat Qyen kembalikan tadi pagi atas perintah dari Fin. Qyen mengerutkan dahinya, secepat itukah paket yang diberikan oleh Albra kembali ke kediamannya pagi ini?


“Ke … kenapa dibalikin, Ian?” tanya Qyen sambil memundurkan langkahnya agar tidak menghalangi jalan para pegawai yang sedang memindahkan paket tersebut.


“Gue yang harusnya tanya sama Lo. Kenapa Lo balikin?” kini Ian berbalik tanya kepada Qyen, tentang mengapa Qyen mengembalikan paket tersebut keperusahaan mereka.


“Em … maaf, aku kira paket itu salah tempat. Terimakasih Pak,” kata Qyen diakhir kalimatnya dengan sopan berterimakasih kepada pegawai yang sudah membawakan paket besar itu kedalam tokonya.


“Gak mungkin salah kirim. Anggap aja itu hadiah dari Alan,” ucap Ian.


Qyen yang tidak enak mengobrol sambil berdiri, ia pun mengajak Ian untuk masuk ke dalam tokonya untuk mengobrol dengan santai, namun dengan cepat Ian menolak.


“Gue gak akan lama di sini. Oh iya, dari mana Lo tau alamat perusahaan Albra?” tanya Ian yang sudah sangat penasaran dengan bagaimana caranya Qyen mengembalikan paket besar itu.


Qyen terdiam sebentar karena tidak tahu harus menjawab apa. Bahkan ia sampai menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Sebenarnya bukan aku yang mengembalikan paket itu ke sana,” jawab Qyen dengan sedikit ragu.


“Lalu?”


“Emm … temanku yang mengantarkannya. Tapi, aku juga enggak tahu gimana caranya dia tahu alamat perusahaan Pak Albra. Ada yang salah, Ian?” tanya Qyen hati-hati.


Melihat wajah Qyen yang sangat lugu membuat Ian khawatir. Ian memiliki perkiraan jika umur Qyen berada dibawahnya. Terbukti dari raut wajahnya yang masih sangat muda. Banyak sekali pikiran negative yang mampir dikepala Ian karena melihat Qyen yang sangat lugu itu, bagaimana jika Qyen mudah dibohongi oleh orang lain? Rasa ingin melindungi Qyen, kini menyelimuti hatinya.


“Ian? Kenapa melamun?” tanya Qyen sambil menggerak-gerakan tangannya di depan wajah Ian.


Dengan cepat Ian pun tersadar dan langsung memperlihatkan senyumannya kepada Qyen. “Tidak-tidak apa-apa.”


“Aku tadi bertanya, kenapa kamu tidak jawab?” tanya Qyen kembali dengan suara lembutnya.


“Oh iya. Tidak ada yang salah kok. Nama orang yang mengembalikan paket itu benar Fin Ghazi? Benar teman Lo atau … pacar Lo?” Ian kini semakin penasaran dengan wanita yang berdiri dihadapannya.


Ian bisa melihat jika Qyen sedikit tertawa. “Aku gak punya pacar. Fin itu dulunya orang yang suka beli buah-buahan di sini, karena kita sering ketemu, makanya kita udah deket. Cuma temen aja,” jawab Qyen dengan santai.


“Baiklah, Qyen. Ah, Gue lupa ngasih tau Lo. Sebelum ke sini Alan nangis ngejar-ngejar Gue, katanya dia pengen ikut.” Ian sedikit bercerita tentang Alan.


“Benarkah? Ah kenapa tidak kamu ajak saja? Eh, sorry …” ucap Qyen melemah diakhir kalimat.


Ia baru tersadar, seharusnya Qyen tidak usah berbicara seperti itu kepada Ian. Lagi pula siapa dirinya yang menyuruh Alan untuk bertemu dengan dirinya? Mengingat wajah Alan yang lucu dan tampan membuat Qyen tersenyum.


“Tidak apa-apa. Alan juga suka kalau lagi sama Lo.”


Qyen hanya bisa mengangguk. Ia teringat dengan ucapan Fin tadi pagi, seharusnya Qyen tidak usah ikut campur dengan urusan orang lain, atau nanti ia akan kena akibatnya. Apalagi, keluarga Alan adalah orang yang berpengaruh di tempat ini, bahkan Qyen tidak ada apa-apanya di banding anak kecil itu. Teringat tentang Alan, Qyen pun tidak bisa menghilangkan sosok Albra dari pikirannya.


“Oke. Gue ke sini cuma mau antar itu aja ke Lo. Gue pamit, Qyen.”


Qyen hanya bisa mengangguk, dan tersenyum sambil melambaikan tangannya.


Qyen masuk ke dalam tokonya, lalu kembali melihat paket yang cukup besar itu.


“Ini muat dikamar aku gak ya?” gumamnya pelan.


Dengan sekuat tenaga, Qyen memindahkan paket besar itu dengan cara sedikit mengangkatnya dan sedikit mendorongnya melalui tangga untuk bisa sampai ke lantai bawah tempat dimana kamarnya berada. Ia pun membuka bungkusan paket itu, dan Qyen bisa melihat dan merasakan jika kasur pemberian dari Albra itu bukan main-main bagusnya.


“Wah … ini sih nyaman banget buat tidur seharian. Gak lagi deh gatel-gatel karena kasurnya,” gumam Qyen sambil tersenyum.


“Bahkan ada garansinya?” tanya Qyen dengan sedikit terkejut.


Setelah membaca buku panduan tentang kasur yang terlalu berkelas untuknya, Qyen pun selesai memindahkan kasur tersebut ke dalam kamarnya. Ternyata ukuran kasur itu cocok dengan kamarnya, tidak terlalu besar ataupun terlalu kecil. Tak lupa, Qyen pun memindahkan kasur lamanya ke lantai atas, tempat dimana ruangan kosong berada.


Merasa lelah, ia pun membaringkan tubuhnya diatas kasur barunya itu. Rasanya benar-benar sangat nyaman. Sambil memejamkan matanya, Qyen berpikir tentang kegiatan apa yang harus ia lakukan setelah ini selain berjualan buah.


“Beras udah habis, peralatan mandi juga udah habis. Sepertinya aku harus ke super market nanti malam,” kata Qyen yang berpikiran untuk membeli keperluannya. Ia memilih super market karena harga di sana lebih murah dibanding ia membeli barang-barang tersebut secara eceran.


Malam hari sudah tiba, Qyen bersiap-siap untuk pergi membeli kebutuhannya di super market setelah menutup tokonya beberapa menit yang lalu. Qyen hanya menggunakan celana panjang hitam, dan kaos pendek dibalut cardigan pink mudanya, ia menguncir rambutnya dan membawa dompet kecil ditangannya, tak lupa ponselnya juga ia bawa. Rencannya, Qyen akan pergi ke super market menggunakan angkutan umum yang suka lewat didepan jalan tokonya.


Menunggu sekitar tiga menit, akhirnya ia pun bisa masuk ke dalam angkutan umum yang akan mengantarkannya menuju super market. Jalanan malam hari ini terlihat cukup lenggang, lampu-lampu jalan terlihat sangat cantik, bahkan Qyen bisa mendengar suara ombak dengan samar-samar di sini.


“Udara malam memang gak pernah salah,” kata Qyen sambil tersenyum.


Hanya butuh waktu 10 menit, akhirnya Qyen sampai di super market yang ia tuju. Qyen masuk sambil mendorong troli, tujuan utama ia kali ini adalah membeli beras dan peralatan mandi, bahkan sepertinya Qyen akan membeli barang lain sebab ia sudah melihat banner-banner diskon besar-besaran dimana-mana.


“Pantes aja lagi ada diskon besar-besaran, ternyata ini lagi tanggal tua. Untung aku ke sini hari ini,” gumam Qyen dengan santai.


Setelah selesai membeli barang kebutuhannya, ia pun tergiur dengan diskon yang terdapat di stand makanan cepat saji. “Sepertinya banyak orang yang tergiur datang ke sana,” gumam Qyen ketika melihat orang lain pun berada di sana untuk memilih makanan.


Ketika sedang berjalan dengan santai, Qyen terkejut karena ada seseorang yang menabraknya dari arah belakang.


“Sorry, aku tidak lihat.”


Mendengar suara itu, ia pun membalikkan tubuhnya dan membantu anak kecil itu untuk bangun. Tapi, Qyen merasa tidak asing dengan suara anak laki-laki tersebut. Belum sempat Qyen melihat wajah anak laki-laki itu, tiba-tiba … “Alan!” panggilan itu terdengar ketelinganya.


Qyen yang cukup terkejut, ia pun melihat kearah wajah anak laki-laki yang kini ada dihadapannya. Keduanya pun terkejut bersamaan.


“Alan!”


“Qyen!”


Qyen belum sempat mengucapkan satu patah katapun, dengan cepat Alan memeluk kaki Qyen sangat erat, dan semua itu Albra saksikan dengan mata kepalanya sendiri.


Melihat Albra yang terkejut, kini Qyen merasa canggung, ia tidak bisa melepaskan pelukan Alan dikakinya. Bahkan saat ini, beberapa pasang mata melihat kearah mereka.


Albra tidak bisa diam saja, ia pun menghampiri anaknya. “Alan, tidak boleh seperti itu,” ingat Albra. Pantas saja Alan memaksa dirinya untuk pergi ke super market ternyata ada kejadian yang tidak terduga seperti ini.


“Qyen, kamu masih ingat akukan?” tanya Alan yang kini melepaskan pelukannya, namun menggenggam tangan Qyen dengan erat.,


Qyen tidak bisa berbicara apa-apa, karena ia merasa tidak sopan. Ia pun melihat kearah Albra dengan rasa canggung, tanpa disengaja, mata lembut Qyen bertemu dengan mata tajam Albra, sontak pada saat itu juga Qyen langsung mengalihkan pengelihatannya dan mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Alan.


“Why? Kamu marah denganku, Qyen?’ tanya Alan yang semakin erat menggenggam tangan Qyen.


Qyen tidak bisa menjawab, karena belum mendapatkan izin dari Albra untuk bisa berbicara dengan Alan.


“Jawab saja,” ucap Albra.


“Tidak, kamu sedang apa di sini?” tanya Qyen berbasa-basi, walaupun degupan dijantungnya tidak bisa terkendali.


“Aku sedang beli ice cream, dan beberapa makanan ringan. Kamu sedang apa, Qyen? Kamu mau ikut kerumahku?” tanya Alan yang berbicara dengan cepat.


“Ah seperti itu? Maaf Alan, ini sudah malam, aku harus pulang.” Qyen yang merasa sangat canggung, terpaksa berbicara seperti itu kepada anak kecil.


“Really? Pah … bolehkan ajak Qyen ke rumah? Aku mau main sama Qyen …” rengek Alan dengan sangat lucu.


Qyen kini merasa panik, bagaimana bisa Alan berbicara seperti itu di depan papanya, Albra? Kepanikan Qyen bertambah disaat melihat wajah Albra yang tidak bersahabat.


“Qyen, kamu tunggu di sini dan diam. Kamu tidak boleh kemana-mana,” ucap Alan yang melepaskan tangan Qyen dan kini berjalan mundur sebanyak 5 langkah untuk pergi menuju Albra.


“Aku mau bicara sesuatu dengan Papa, ini serius,” ucap anak kecil pintar itu.


Melihat situasi yang sudah mulai aman, Qyen rasa ini kesempatan dirinya untuk bisa kabur dari tempat ini, namun suara Alan pun menginterupsi dirinya. “Qyen, aku tau kamu mau kabur,” ucap Alan.


Selesai membisikan sesuatu dengan papanya, Alan pun langsung berlari menuju Qyen dan memegang kembali tangan Qyen dengan kencang.


“Pa?” panggil Alan.


Entah apa negoisasi mereka, Albra pun mengiyakan dengan cara menganggukan kepalanya. “Yes. I love you, Papa.”


Qyen yang tidak tahu apa-apa di sini, ia hanya menurut saja di saat tangannya digenggam oleh Alan dan berjalan mengelilingi super market. Bahkan disepanjang waktu, Alan selalu berceloteh ria tentang hal apapun yang menyangkut tentang keseharian anak kecil itu.