
Waktu sudah berlalu, terhitung Qyen berdiam diri didalam kamar mandi selama 90 menit lamanya. Saat ini ia masih menunggu kabar dari Albra yang suaranya menghilang semenjak 30 menit yang lalu, entah ia pun tidak mengerti kemana perginya Albra.
Qyen sedikit kedinginan saat ini karena ia hanya menggunakan pakaian atas yang ia pakai tadi, dan juga sehelai handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Qyen pun saat ini hanya bisa duduk diatas toilet sambil menunggu suara Albra yang memanggilnya nanti.
Bukan hanya merasa kedinginan saja, tapi saat ini Qyen juga merasakan kram perut yang sangat luar biasa dan juga rasa laparnya yang menghampirinya, karena terhitung sejak tadi siang, perutnya belum terisi oleh apapun.
‘Tuk … tuk … tuk ….’
Suara ketukan dipintu terdengar, namun tidak ada suara yang memanggil namanya, ia menjadi sedikit ragu jika itu adalah Albra.
“Cepat buka,” ucap seseorang yang mengetuk pintu tersebut.
“Oh, ternyata Pak Albra,” kata Qyen yang saat ini membuka pintu toilet.
Ketika membuka pintu, Qyen langsung melihat ada sebuah paperbag dihadapannya. Ia mengambil paperbag tersebut tanpa melihat Albra dan langsung kembali mengunci toilet tersebut.
“Cepat, atau kamu mati kedinginan,” ucapnya yang masih bisa Qyen dengar.
“Ya … ya … ya …” jawab Qyen walaupun Albra tidak mendengar suaranya.
Qyen membuka paperbag pemberian dari Albra tersebut, didalamnya terdapat beberapa pack pembalut wanita, termasuk celana didalamnya. Qyen tersenyum senang saat ini karena akhirnya ia bisa pergi keluar dari tempat ini juga. Qyen buru-buru menyelesaikan semua urusannya didalam toilet, agar ia bisa pergi tidur dan menyembunyikan rasa laparnya.
…
Berbeda dengan Qyen yang sibuk dengan urusannya sendiri, saat ini Albra tengah berbicara dengan dua sekertarisnya yaitu Meta, sekertaris perempuannya dan Kender, sekertaris laki-laki Albra umurnya terpaut 5 tahun lebih muda darinya.
“Tuan, urusan dengan wanita itu sudah selesai? Adakah yang harus saya urus kembali?” tanya Meta karena melihat Albra yang baru saja datang dari dalam kamarnya dan langsung mengajak berbicara.
Albra menggelengkan kepalanya sambil menghembuskan napas lelahnya. “Wanita sangat sulit. Biarlah, sudah tidak ada yang perlu diurus,” jawab Albra.
Meta dan Kender mengangguk, kini Kender memberikan tabletnya yang berisikan beberapa informasi mengenai seseorang yang sedang mereka bahas.
“Fin Ghazi? Keturunan dari keluarga Ghazi?” tanya Albra yang langsung diangguki oleh Kender.
“Fin selalu terlihat dirumah wanita itu dan membeli buah-buahan disana, terhitung semenjak wanita itu membuka tokonya. Mereka cukup dekat, atau lebih tepatnya Fin yang mendekati wanita itu,” jelas Kender.
“Saya mencari informasi tentang bisnis apa saja yang sedang dijalankan oleh Fin. Dibalik usaha pariwisatanya, ia juga mengelola club-club yang ada di kota ini, Tuan. Bahkan katanya, para petinggi-petinggi selalu mencari wanita melalui Fin dengan bayaran yang cukup tinggi,” tambah Meta sambil menggeser layar tablet yang sedang ditunjukan kepada Albra.
Albra bisa melihat beberapa gambar clubbing yang dikelola oleh Fin, juga foto-foto perempuan yang ‘dikirmkan’ kepada para petinggi tersebut.
“Pantau kegiatannya beberapa hari kedepan, saya tidak mau berurusan dengan dia,” jawab Albra dengan singkat.
“Kami tidak tahu tentang masalah apa yang sedang terjadi antara anda, Tuan, dengan Fi—“
Sebelum Meta menyelesaiakn ucapannya, Albra terlebih dahulu berdehem untuk menginteruksi Meta karena melihat Qyen yang keluar dari kamarnya.
Albra bisa melihat raut wajah canggung dan juga polos dari Qyen yang membuatnya merasa gemas.
“Tunggu diruang makan, saya sedang membicarakan sesuatu,” ucap Albra tanpa melihat kearah Qyen. Mendengar itu, Qyen mengangguk dan berjalan pelan menuju ruang makan.
Kembali kepada topik yang sedang didiskusikan oleh Albra. Melihat kedekatan dan perhatian yang Albra sampaikan kepada Qyen membuat Meta dan Kender saling menatap dengan tatapan yang bertanya-tanya. Sebab mereka sudah bekerja dengan Albra lebih dari 7 tahun, dan belum pernah melihat tuannya itu sangat perhatian dan berbicara terlebih dahulu kepada wanita yang bahkan tidak mengajaknya berbicara.
Albra bisa melihat Meta dan Kender yang masing-masing mengerutkan dahinya saling bertanya. “Saya tidak memiliki hubungan dengan dia, saya hanya bertanggung jawab,” ucap Albra yang secara tidak langsung menjawab keanehan yang dipertanyakan oleh kedua sekertarisnya tersebut.
“Ba—baik, Tuan. Maaf,” ucap Meta yang sedikit gugup karena ketahuan.
“Sepertinya Fin juga sedang memantau pergerakan saya. Terus awasi pergerakannya, saya memiliki sedikit masalah dengan dia. Kalian akan tahu nanti. Untuk Papa, saya malas terus berurusan dengan Brian, tolong sampaikan kepada Brian tidak perlu membuat sesuatu yang tidak penting apalagi mencelakan Qyen.”
Meta dan Kender mengangguk, mereka mengerti semua tugas yang sudah diberikan kepada mereka.
“Semua urusan pekerjaan sudah saya kirim melalui email, ada beberapa hal yang perlu anda periksa malam ini juga, Tuan.”
Albra mengangguk. “Ada lagi?”
“Anda yakin akan membiarkan wanita itu diam disini?” tanya Meta sambil melihat kearah Qyen yang tengah duduk melamun dikursi ruang makan.
“Dia yang sudah menyelamatkan Alan,” jawab Albra singkat.
“Anda harus hati-hati, Tuan. Wanita itu tidak memiliki keluarga dan dia dibesarkan dipanti asuhan yang dikelola oleh keluarga Ghazi, kami belum mencari tahu tentang hubungan Qyen dan Ghazi.”
Albra terdiam, keluarga Ghazi yang sangat merepotkan baginya. Ia masih belum bisa menceritakan semua masalah yang terjadi dengan keluarga ini. Ia hanya ingin membuang masalah tersebut jauh dari kehidupannya.
“Seperti rencana yang sudah anda buat, Tuan besar tidak tahu anda memiliki tempat tinggal didaerah ini,” jawab Kender.
Albra menghela napasnya dan memberikna tablet yang sedari ia pegang kepada Kender. “Kalian bisa pergi dari sini ….”
Keduanya tunduk patuh sebelum akhirnya pergi dari kediaman Albra.
Albra kini berjalan menghampiri Qyen yang sedang menopang dagu, ia bisa melihat mata lesu Qyen yang juga mengantuk.
“Kamu tahu Fin?” tanya Qyen secara tiba-tiba yang membuat Albra terkejut.
“Ekhem …” Albra mencoba menetralkan ekspresinya.
“Fin? Siapa?” tanya Albra.
Qyen membenarkan posisi duduknya, dan kini memperhatikan Albra. “Orang yang kamu tendang tadi siang,” jawab Qyen.
Albra menggelengkan kepalanya, ia duduk dihadapan Qyen dan kini menyuruh Qyen untuk memakan makanan yang sudah tersaji diatas meja.
“Tidak perlu banyak bicara. Cepat makan.”
Diatas meja makan sudah tersaji beberapa hidangan diantaranya ada olahan sayuran, steik, buah-buahan dan berbagai botol wine milik Albra.
“Hm ….”
Albra mengangkat satu alisnya. “Kenapa?”
“Aku gak berselera buat makan kaya gini,” ucap Qyen yang menatap datar kearah makanannya.
“Yasudah, tidak perlu dimakan,” jawab Albra dengan sadis.
Ingin sekali rasanya Qyen mencolok hidung mancung Albra itu dengan jempolnya. Ia sangat-sangat geram saat ini, hormonnya sedang tidak stabil, ditambah sikap Albra yang menyebalkan, membuat Qyen ingin sekali berteriak dihadapan wajah Albra.
Ditengah keheningan, dan rasa gengsi yang tinggi, akhirnya Qyen memakan makanan yang sudah tersaji itu. Kini ia tidak peduli dengan tatapan tajam Albra, yang penting saat ini ia ingin pergi menjauh dari hadapan Albra.
Selesai mereka menyelesaikan makan malam, Qyen pun selesai membersihkan alat makan yang mereka pakai. Berjalan menuju ruangan yang berisi sofa, ia pun bisa melihat Albra yang tengah berkutat dengan laptopnya dan sesekali menghembuskan napasnya lelah.
Qyen yang sudah tidak sanggup melihat Albra karena rasa kekesalannya, lebih baik ia memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya yang hampir remuk ini, kesebuah sofa single yang berada dibelakang Albra. Perlahan rasa kantuknya datang dan ia pun tertidur dengan pulas.
….
3 jam berlalu, Albra yang sibuk dengan laporan-laporan penting kini akhirnya ia pun menyimpan laptopnya keatas meja, membuka kacamatanya dan mengistirahatkan punggungnya yang sangat lelah karena terus saja duduk.
Sebentar Albra memejamkan matanya sebelum akhirnya ia ingat dengan Qyen yang sudah tidak ia lihat beberapa jam yang lalu.
Ia melihat disekitarnya tidak ada Qyen disini. “Kemana perginya anak itu?” gumam Albra.
Ia melihat jam yang menempel dipergelangan tangannya, jam menunjukkan pukul 12 malam. Ia berdiri sebelum akhirnya berjalan menuju kamarnya.
“Tidak ada,” ucap Albra ketika sampai dikamarnya, ia tidak melihat Qyen disini.
“Merepotkan,” kesal Albra sebelum akhirnya kembali keluar dari kamarnya.
Didalam penthouse ini hanya ada satu kamar, yaitu kamar miliknya sendiri. Ia pun menelusuri dapur hingga kesudut dapur namun tidak menemukan Qyen. Sampai akhirnya ia hendak mematikan semua lampu dan melihat badan kecil Qyen tengah meringkuk diatas sofa single seperti anak kucing.
Lagi-lagi Albra menghela napasnya dengan lelah. Mengapa Qyen selalu bersikap absurd, mengapa ia tidak tidur ditempat yang nyaman?
Albra sedikit merasa tidak peduli, ia pun mengambil ponselnya dimeja dan kembali berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat. Namun, belum sampai Albra didalam kamarnya, pikirannya saat ini terganggu dengan cara tidur Qyen yang sepertinya tidak mengenakan itu.
Kembali ia datang menghampiri Qyen, melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Qyen agar ia bisa mengukur kepulasan tidurnya.
“Ck. Saya harus bagaimana,” gumam Albra yang sangat-sangat bingung.
“Sudahlah ….”
Tanpa kembali berpikir, ia pun mengangkat tubuh Qyen yang sangat ringan itu, dan memindahkannya untuk tidur didalam kamarnya. Tak lupa, ia meningkatkan suhu AC yang ada didalam kamarnya agar Qyen tidak kedinginan. Mematikan lampu sebelum akhirnya ia keluar dari kamarnya sendiri dan memilih untuk tidur disofa.
Ketika hendak terlelap, selintas Albra berpikir mengapa ia bisa melakukan ini kepada wanita yang bahkan belum ia kenal lama, dan … melakukan kegiatan seperti memindahkan Qyen tadi, entah mengapa membuat hatinya sedikit menghangat. Bibirnya terbentuk senyuman kecil mengingat tingkah konyol dirinya sendiri, setelah itu, Albra pun tidur dengan nyaman.