
“Huft … akhirnya sampai rumah juga ….”
Setelah membayar angkutan umum yang ia gunakan, Qyen berjalan menuju toko buah sekaligus rumahnya itu. Hari masih cukup gelap karena saat ini jam menunjukkan pukul 5 pagi. Ya, seperti yang kalian ketahui, Qyen baru saja pulang dari kediaman Albra setelah beberapa insiden terjadi malam tadi.
Qyen tidak pulang begitu saja, semalam ia hanya bisa tidur sekitar 2 jam saja, sebab setelah itu ia tidak bisa tidur kembali dan alhasil ia berinisiatif untuk membuat makan pagi Albra dan Alan nanti ketika bangun. Bayangkan, Qyen membuat sarapan di jam 3 pagi.
Qyen rasa, membuat sarapan untuk Albra dan Alan bukan hal yang berlebihan. Ia hanya ingin membantu Albra dan tentunya juga Alan. Setelah membuat sarapan dengan menu sederhana, juga tak lupa ia bungkus dengan aluminium foil agar kehangatannya terjaga, Qyen pun sudah menyiapkan nasi hangat yang masih berada di dalam rice cooker. Walaupun tadi ia sempat kesulitan karena melihat jika beras yang digunakan Albra itu berbeda dengan beras yang sering ia gunakan, untung saja ada internet yang siap membantunya.
Tadi, ketika selesai memasak di jam 04:40 pagi, Qyen pun memutuskan untuk pulang dan tak lupa memberikan pesan melalui kertas yang ia tinggalkan di atas meja makan, sebab ia tidak berani kembali masuk ke dalam kamar Albra. Menuliskan pesan itupun butuh perjuangan untuk Qyen, sebab ia bisa mendapatkan selembar kertas itu, dari kertas yang membungkus sayuran dan sebuah pulpen yang ia temukan di dalam kamar Alan.
“Aish … kenapa aku masih kepikiran ya?”
Setelah sampai rumahnya yang kecil, Qyen berjalan mondar-mandir sambil memikirkan beberapa hal yang sudah ia lakukan. Jika dipikir kembali, Qyen rasa ia tidak pantas melakukan hal itu.
“Tapi, aku gak punya niat yang jahat. Aku hanya niat membantu,” yakinnya kepada diri sendiri.
Qyen mengangguk dengan pasti. “Ya, aku hanya niat membantu.”
Ketika memastikan jika dirinya hanya membantu, tiba-tiba otaknya memutar kembali peristiwa tentang dirinya yang berinteraksi dengan Albra semalam. Ketika pinggangnya di peluk dengan lembut, bahkan badan mereka sudah menempel, dan wajah mereka pun hanya terjarak 5 sentimeter saja. Qyen masih ingat dengan jelas, wangi napas Albra yang bisa ia rasakan.
“Qyen! Stop!” teriaknya kepada diri sendiri.
Bukannya merasa marah, kini Qyen malah merasakan kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya. Bahkan kini ia pun tersenyum dan tertawa. “Ya ampun, bisa-bisanya pikiran aku sampai sana,” kata Qyen sambil menutupi wajahnya yang merasa malu.
“Udah, udah. Cukup Qyen, kamu gak perlu lagi mikirin hal seperti itu,” final Qyen yang kini memilih untuk membersihkan rumahnya yang belum sempat ia bersihkan semalam.
Setelah membahas hal seperti ini, entah mengapa mood Qyen menjadi sangat tinggi, bahkan sekarang ia membereskan rumahnya sambil bernyanyi dengan riang.
Di sisi lain, ketika matahari sudah mulai meninggi, ada seorang laki-laki merasa terganggu dengan cahaya matahari yang masuk di sela-sela jendela kamarnya. Ia terusik, dan mencoba bangun dari rasa pusing yang hebat dikepalanya.
Membuka secara perlahan mata indahnya, dan menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam indra pengelihatannya.
“Hem …” gumaman itu kembali terdengar ketika ia mencoba bangun dan duduk bersandar di atas kasurnya.
Albra masih merasa sangat mengantuk saat ini, bahkan otaknya belum sepenuhnya sadar. Untuk menyadarkan dirinya, ia pun mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, dan membenarkan rambutnya yang berantakan, namun ia merasakan ada sesuatu di jari telunjuk dan jempolnya.
“Hm?” gumam Albra ketika baru menyadari ada plester bergambar kartun kesukaan Alan di jari telunjuk, dan jempolnya.
Ia masih berpikir dengan kerasa mengapa ini terjadi, dan ketika Albra membuka selimut yang menghalangi tubuhnya, betapa kagetnya Albra yang tersadar jika dirinya tidak memakai atasan, yang tersisa hanya celana birunya saja.
“Hah? Kenapa?” tanyanya kepada diri sendiri.
“Mabuk? Saya semalam mabuk,” gumamnya kepada diri sendiri.
“Albra!” kesalnya kepada diri sendiri, mengapa ia bisa sangat bodoh semalam. Melihat ia tidak memakai atasan dari malam, pikiran aneh pun memutar dikepalanya. Bagaimana jika ia sudah berbuat sesuatu kepada Qyen? Seperti kejadian dulu yang pernah terjadi di dalam hidupnya.
Tidak ingin otaknya memikirkan hal aneh-aneh, ia pun keluar dari kamarnya dengan terburu-buru, ia mengesampingkan rasa pengar yang sangat terasa, ia hanya ingin memastikan jika Albra tidak melakukan sesuatu yang buruk kepada Qyen.
Ketika keluar dari kamar, ia melihat keadaan di sekitar sudah bersih dan rapi, juga ada Alan yang sedang duduk di atas sofa sambil bermain tabletnya.
“Selamat pagi, Pa. Kenapa Papa tidak memakai baju?” tanya Alan ketika melihat ayahnya keluar dari kamar dengan wajah kebingungan. “Papa mencari siapa?” tanyanya lagi.
“Selamat pagi, Alan. Kamu melihat Qyen?” tanya Albra yang kini menghampiri Alan, dan mencium kening anaknya.
“Auh! Bau Papa sangat menyengat sekali, aku tidak suka.”
“Sorry. Kamu belum menjawab pertanyaan Papa,” kata Albra terburu-buru.
“Aku tidak melihat Qyen ketika bangun tadi. Tapi aku melihat sudah ada makanan yang tersaji di atas meja. Aku tidak makan, karena ada tulisan yang aku tidak mengerti,” kata Alan yang berbicara namun matanya masih tetap melihat kearah tabletnya.
“Ada makanan di atas meja? Mungkin Chef yang mengirimkannya,” ucap Albra kepada Alan sambil berjalan menuju meja makan.
Benar saja apa yang dikatakan oleh Alan, di atas meja sudah tersaji beberapa makanan yang dibungkus oleh aluminium foil dan juga ada kertas diatasnya. Albra mengambil kertas itu, dan untuk lebih menyadarkan dirinya, sebelum membaca ia menyempatkan diri untuk meminum air mineral yang juga sudah terisi penuh di dalam tempatnya, biasanya jika pagi hari, hanya dirinya yang mengisi tempat air mineral itu.
Albra pun mulai membaca dengan ekspresi wajah yang sangat penasaran, sebab Qyen sepertinya meninggalkan catatan itu dengan tulisan tangan yang cukup panjang, bahkan kertas yang cukup besar itu terisi hampir penuh.
‘Selamat pagi Pak Albra.
Sebelumnya aku minta maaf jika ada hal yang tidak sengaja, yang aku lakukan. Semalam kamu mabuk dan kamu tidak sengaja menjatuhkan gelas, alhasil jari telunjuk dan jempol Pak Albra mengeluarkan darah sangat banyak. Dari pada kamu kehabisan darah dan mati di tempat, lebih baik aku mengobati luka Pak Albra dengan kotak obat yang aku temukan di dekat rak buku. Aku rasa kotak obat itu milik Alan, maaf jika aku lancang. Oh iya, dan aku harus terpaksa masuk ke kamar kamu, untuk mengantarkan kamu tidur, aku tidak mencuri barang satupun, jika kamu tidak percaya, kamu bisa mengeceknya di CCTV.
Lalu, ketika aku hendak pulang, Pak Albra memuntahkan semua isi makanan yang ada di perut Pak Albra, sampai aku harus terpaksa membuka baju bagian atas kamu. Aku tidak berbuat apa-apa, aku hanya niat membantu. Baju kamu sudah aku bersihkan di dalam toilet luar, dan aku izin menginap tidur di sini.
Aku membuat sarapan untuk Pak Albra dan Alan, hanya menu sederhana, aku menyesuaikan bahan-bahan yang ada di dalam lemari es.
Satu lagi, jangan minum alkohol terlalu banyak Pak Albra, terlalu bahaya untuk kamu apalagi tinggal bersama anak kecil.
Terimakasih untuk semalam,
Qyen’
Setelah membaca surat yang cukup panjang itu, Albra pun tersenyum kecil. Kini ia membayangkan bagaimana repotnya Qyen semalam ketika membantu dirinya yang tidak sadar, bahkan Qyen menyiapkan sarapan untuknya dan Alan.
“Dasar anak kecil,” ucap Albra sambil terkekeh.
Walaupun begitu, Albra masih berpikiran bagaimana dan dengan apa Qyen pulang tadi pagi, apakah anak kecil itu selamat? Hati kecilnya merasa resah ketika memikirkan hal itu.
“Alan, mau sarapan? Atau pergi mandi terlebih dahulu?” tanya Albra kepada anaknya.
“Emm … aku akan sarapan terlebih dahulu karena sudah lapar,” ucapnya yang kini menghampiri ayahnya yang sudah duduk di kursi makan.
“Okay. Sebantar Papa hangatkan dulu makanannya.”
Qyen membuat sarapan dengan menu sup ayam, telur dadar yang dimasak ala drama korea, lalu terakhir ada nugget dan sosis yang sudah ia airfrayer. Tak lupa dengan potongan buah melon yang ia masukan ke dalam wadah tertutup.
“Apakah ini Chef yang memasak? Tidak biasanya Chef memasak menu seperti ini, Pa?” tanya Alan yang berpikir dengan kritis.
Biasanya Chef yang selalu membuatkan makanan tidak pernah memasak menu seperti ini, hanya ada menu sayuran dan daging berkualitas yang disediakan oleh Chef mereka.
“Bukan, ini buatan Qyen,” jawab Albra dengan jujur.
Mendengar siapa yang buat, Alan pun menjadi semangat untuk memakan sarapan.
“Wow! Temanku memang baik,” katanya dengan semangat.
Albra yang mendengar itu terkekh. “Dia temanmu?” tanya Albra yang berdiri di depan microwave.
“Ya, Qyen adalah teman baikku. Aku suka ketika bermain dengan Qyen, dia asik dan juga aku bisa bebas bercerita dengan dia.”
Albra pun menganggukkan kepalanya. “Baiklah, silahkan menikmati masakan teman baikmu itu.”
Pagi ini adalah pagi pertama kalinya mereka sarapan dengan menu yang tidak biasa. Dengan senang hati, Alan terus meminta menambahkan nasi kedalam piringnya hanya karena masakan yang ia makan itu sangat enak.
“Pa, bolehkah kita mengganti Chef yang memasak untuk kita?”
Belum sempat Albra menjawab, Alan kembali berbicara. “Aku akan bilang kepada Grapa jika aku ingin mengganti Chef.”
“Kamu berani bilang kepada Grapa?” tanya Albra.
Alan mengangguk dengan sangat yakin. “Aku akan bilang, agar Qyen bisa menjadi Chef makananku dan juga temanku, lalu aku juga akan bilang agar Qyen bisa tinggal dirumahku.”
Ucapan Alan itu membuat Albra tersedak, mengapa Alan sangat berlebihan dalam menanggapi sesuatu. Habislah dirinya ketika bertemu Frans nanti.