
Pintu penthouse terbuka, Qyen yang tengah menyalakan vacuum cleaner terkejut ketika Alan datang berlari memeluknya dari belakang.
“Qyen, I miss you so much,” sapanya yang membuat Qyen gemas dan berakhir menggendong anak kecil itu.
Tak lama Albra dan Ian datang, melihat kedekatan antara Alan dan Qyen hatinya semakin yakin bahwa Qyen memang wanita yang tepat untuknya dan juga Alan. Albra mematikan vacuum cleaner yang baru saja Qyen nyalakan dan ia simpan kembali ketempatnya.
“Kamu baru pulang sekolah?”
“Seharusnya kamu diam saja tidak perlu membereskan rumah, sudah ada orang yang membersihkan,” protes Albra yang kini menyimpan tas Alan.
Qyen terdiam dan memajukan bibirnya kesal, bukannya mendapatkan jawaban dari Alan, ia malah mendapatkan protes dari Albra.
“Qyen, kenapa kamu pakai syal? Apa karena malam hari kamu jadi dingin?” tanya Alan dengan polosnya sambil memegang syal berwarna merah yang Qyen pakai.
‘Ini gara-gara ulah Papa kamu, Alan.’ Ingin sekali Qyen mennyahuti ucapan Alan seperti itu, namun ia tidak bisa.
Qyen yang tidak bisa menjawab karena terlalu gugup, ia pun melihat kearah Albra yang kini sedang duduk disofa sambil membuka dasinya. Albra yang tahu tatapan itu untuknya ia pun kini menjawab, menggantikan Qyen. “Qyen tidak biasa dengan AC dia jadi pakai syal ….”
Untung saja Alan mengerti dan kini sudah sibuk dengan mainannya, berbeda dengan Ian yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Albra dan Qyen yang sangat aneh dimatanya, sontak suara tawa kencang pun terdengar ditelinga mereka.
“Ian, berisik sekali mulut kamu!” protes Alan yang tidak fokus dengan mainannya.
“Alan, kamu mau punya adik lagi?” ucap Ian dengan spontan dan mendapat tatapan tajam dari Albra dan Qyen secara bersamaan.
“Wow … wow … wow … seru nih kayaknya kalau malam ini Gue nginep disini, bisa liat live la …” Belum sempat Ian menyelesaikan ucapannya, Albra terlebih dahulu melempar Ian dengan dasi yang sudah terlepas dikamejanya.
Sipelaku pun hanya tertawa terbahak-bahak.
“Sebentar, kamu bicara apa tadi, Ian? Adik? Aku sebenarnya ingin adik, tapi aku lebih ingin Qyen,” jawabnya sambil menyandarkan dirinya dipundak Qyen yang ada disebelahnya.
Mendengar jawaban yang tak disangka dari Alan, Ian pun diam dan sedikit terharu. “Lo udah dapet lampu hijau dari Alan, sisanya tinggal Lo menangin hati Papa.”
“Urusan yang tidak akan ada habisnya,” jawab Albra, ia pun pergi untuk membersihkan tubuhnya karena hari sudah semakin malam.
“Qyen, Lo baik-baik aja?” tanya Ian disaat hanya ada mereka berdua dan Alan disini.
Qyen tersenyum kecil kepada Ian, ia ingin berterimakasih kepada Ian karena semalam sudah membantu menyelamatkan dirinya. “Aku baik-baik saja, terimakasih sudah menyelamatkan aku semalam, Ian. Aku tidak tahu mengapa kejadian itu tiba-tiba terjadi semalam. Terimakasih ….”
Ian mengangguk dan tersenyum. “Gue juga gak tau apa-apa semalam, tiba-tiba Albra nyuruh Gue buat cari Lo.” Ian memiliki sedikit kemiripan dengan Albra, dari hidung dan mata tajam, juga warna mata mereka yang sama. Walaupun Albra lebih tinggi dari Ian, namun pesona Ian tidak kalah dari Albra, keduanya memiliki ketampanan dan pesonanya masing-masing.
“Apa yang terjadi semalam? Bukannya kamu baru pulang dari rumahku?”
Keduanya berbarengan menutup mulut, mereka tidak sadar jika mengobrol didekat anak genius ini. “Tidak ada apa-apa, Alan. Semalam kita hanya makan bersama diluar,” jawab Qyen agar mengakhiri pertanyaan Alan.
“Kenapa Qyen? Hasil Albra semalam?”
“Hah?” Qyen tidak mengerti arah pembicaraan Ian.
“Leher Lo? Ulah Albra-kan?”
Tanpa menjawab, wajah Qyen kini berubah menjadi merah karena menahan malu yang sangat luar biasa. Sedangkan Ian tertawa puas disebrangnya.
“Udah Gue bilang, Albra jangan deketin Lo semalam, jadi jugakan.”
“Ian …” kesal Qyen karena terus digoda oleh Ian.
Albra yang baru keluar dari kamarnya merasa panas melihat Qyen dan Ian tertawa bersama, ada rasa cemburu dihatinya.
“Jangan ketawa sama Ian. Dilarang,” ucapnya dan kini duduk disebelah Qyen. Padahal disofa itu sudah penuh dengan kaki Alan yang memanjang, namun Albra tetap saja ingin duduk disebelah Qyen.
“Ian!” tegur Albra dan Qyen secara bersama-sama.
“Ck! Iya-iya Gue denger. Hilang telinga Gue lama-lama disini,” ucapnya merajuk dan tiba-tiba pergi keluar.
Melihat kepergian Ian, Qyen merasa bersalah, Albra yang tahu wajah muram Qyen ia pun berbicara, “biarkan saja Ian memang seperti itu. Paling diam di mobil.”
“Papa, boleh aku menginap disini?”
Albra berpikri sebentar, jika Alan tidur disini malam ini mungkin rencananya malam ini dengan Qyen akan gagal. Tapi jika tidak, ia pun kasihan dengan anak sematawayangnya itu.
“Boleh dong, kamu bisa tidur disini. Aku sudah membuat sesuatu untuk kamu. Kamu sudah makan malam?”
Alan menggelengkan kepalanya. “Apa itu Qyen? Aku belum makan malam.”
“Yasudah, ayo …” Qyen melebarkan tangannya agar Alan beralih kepangkuannya.
“Ck! Alan ganggu,” kesal Albra yang dirinya pun sudah siap merentangkan tangannya, ia sudah geer jika Qyen ingin memeluknya. Baru kali ini Albra merasakan sirik kepada Alan.
Qyen tertawa sambil menggendong Alan dan mendudukan anak itu dikursi makannya yang sudah disediakan disana.
“Kamu duduk sini, aku sudah meyiapkan milky pudding untuk kamu, dengan banyak coklat didalamnya. Kamu suka?” Qyen datang dari arah lemari es sambil membawa pudding buatannya.
“Wow … Qyen kamu hebat banget.”
“Saya dilupain?” Albra datang dengan jalan gontainya kearah ruang makan.
Qyen tersenyum menyambut tangan Albra dengan lembut. “Aku minta Bu Meta buat isi bahan-bahan lemari es, Pak. Aku sudah masak sesuatu buat makan malam. Kamu bisa telpon Ian? Kasian Ian sepertinya belum makan malam.”
Albra duduk dikursinya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Ian, namun belum sempat menelpon tiba-tiba Ian datang dan berjalan bersemangat kearah ruang makan. “Ada bau-bau enak disini, Gue gak bisa pergi begitu aja dari sini,” ucapnya dan duduk disebelah Alan.
Qyen tersenyum. “Tau banget kamu kalau ada makanan disini.”
“Tau dong, kitakan punya ikatan batin,” ucap Ian sambil menaik turunkan alisnya.
Albra yang melihat aksi adik tirinya itu langsung menatap Ian sambil memegang pisau makannya. “Iya-iya … Qyen udah dikasih label kok sama Lo, gak mungkin Gue embat.”
Qyen hanya bisa menggeleng melihat perdebatan keduanya, ia pun menuangkan nasi goreng seafood buatannya keatas piring Albra dan Ian, juga piringnya.
“Aku hanya memasak ini karena ini simple. Ada yang perlu aku buat lagi?” tanya Qyen.
“Tidak perlu, ini lebih dari cukup.” Albra berbicara seperti itu agar Qyen merasa nyaman dan tidak lelah.
“Ini udah enak dan mewah. Lo juga makan nanti keburu dingin.”
Mereka pun makan bersama-sama dengan obrolan yang didominasi oleh Ian, Alan dan Qyen sedangkan Albra sedari tadi hanya bisa memperhatikan Qyen sambil terus tersenyum. Didalam pikirannya kini sedang ribut, apakah ia bisa menjaga Qyen sampai akhir? Apakah ia bisa mempertahankan Qyen sampai akhir? Atau nanti ia harus kehilangan Qyen karena ketauan Frans? Pikiran Albra berkecamuk tentang semua pertanyaan itu.
Makan malam sudah selesai, Ian sudah pulang kerumahnya dan Alan kini sudah tertidur dikamar Albra, satu-satunya kamar yang ada di penthouse ini. Malam semakin larut, Albra mengajak Qyen untuk mengobrol ditepi kolam renang diruangan indoor namun masih dengan pemandangan bintang yang indah.
Albra duduk bersebelahan dengan Qyen, juga ditemani oleh winenya, dan Qyen yang setia duduk disamping Albra karena Albra sedari tadi terus memegang tangannya.
“Qyen Fayre, namamu sangat cantik bahkan seperti orangnya.” Keheningan itu diisi oleh sedikit ucapan gombal dari Albra.
Qyen tertawa mendengar itu. “Dari mana kamu tau nama aku, Pak? Hm … sepertinya mencari informasi tentang orang sangat mundah buat kamu.”
“Seharusnya saya sudah kenal dengan kamu sejak dulu, kenapa kamu baru datang kekehidupan saya sekarang?”