
Kota London yang tengah dihadang badai salju membuat Mey Becca Ghazi hanya bisa bermalas-malasan di dalam selimutnya. Jam menunjukan pukul 12 siang, namun karena salju lebat yang turun dari semalam, saat ini ia tidak pernah mengecek waktu, apakah ini siang pagi atau malam. Mey membiarkan hari ini adalah hari liburnya, karena bagaimana pun perusahaan yang ia olah akan terus berjalan walaupun tanpa dirinya.
Getaran di ponselnya berbunyi, Mey melihat malas kearah ponselnya, ada sebuah nomer asing yang mengirim pesan kepadanya. Mey yang pensaran dengan pesan tersebut pun segera membuka, ia terkejut ketika melihat foto seorang laki-laki dewasa dan seorang anak laki-laki tengah tersenyum dihadapan kamera. Namun bukan hanya itu saja, fokusnya saat ini beralih kepada seorang wanita yang menggunakan gaun pernikahan, namun sayangnya Mey tidak bisa melihat wajah wanita tersebut karena gambar itu terpotong.
“****! Siapa yang ngirimin Gue foto kaya gini,” geramnya dan segera duduk dari posisi tidurnya.
Mey jelas tahu siapa yang ada di dalam foto itu, ia adalah Albra dan Alan, anak kandungnya. Mey selalu mendapatkan kabar Alan dari orang suruhannya, namun ia baru melihat hal ini bahkan bukan dari orang suruhannya.
“Albra … Alan …” gumam Mey sambil melihat foto tersebut. Tangannya terkepal, ia masih memiliki banyak sekali dendam dengan keluarga Max.
Rasa ikhlas ingin membantu Frans yang merupakan guru besarnya, kini Mey pun menyesal karena ia menaruh hati kepada Albra. Setelah melahirkan Alan, Mey merasa tidak ikhlas ketika Frans memisahkan dirinya dengan Albra dan juga anaknya.
“Argh! Kenapa ada foto ini.” Kesalnya lagi.
Mey terdiam, ia bangun dan berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, hatinya merasa resah karena perasaannya terhadap Albra tetap ada. Ia pergi keluar negri dan tidak menampakan dirinya di hadapan Albra karena ia butuh waktu untuk mengungkap identitasnya.
“Gue harus pergi ke Indonesia secepat mungkin,” gumamnya yang kini tidak memikirkan resiko apapun yang akan terjadi, karena satu hal yang ia mau yaitu Albra dan Alan.
“Gue berhak buat ambil Alan dan terntunya Albra. Gue berhak karena dia darah daging Gue sendiri.” Mey terus meyakinkan dirinya jika ia berhak bersanding dengan Albra.
Kembali Mey duduk dan melihat foto-foto anaknya yang sudah tumbuh menjadi anak yang tampan dan pintar. Mey baru tersadar ada beberapa foto yang menampilkan Alan bersama seorang wanita, namun wanita itu hanya terlihat punggung, tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya saja, Mey tidak pernah melihat wajah wanita yang selalu bersama anaknya.
“Mommy akan mengambil kamu kembali, Nak. Kamu adalah anak Mommy,” gumam Mey dengan senyum andalannya.
Mey meletakan ponselnya di telinga, ia harus menelpon seseornag untuk mengetahui berita terkini yang ada di Indonesia. Ia berjanji, jika badai salju sudah reda, Mey akan pergi ke Indonesia secepatnya.
“Cari informasi tentang Alan dan keluarganya. Tidak ada yang terlewat sedikitpun, dan saya akan pulang ke Indonesia sebentar lagi.”
Setelah mengucapkan satu kalimat penuh makna melalui telpon, kini Mey tersenyum puas sambil menatap jendela besar dari apartemennya. Ia tidak sabar ingin memberi kejutan kepada keluarganya dan tentu saja kepada keluarga Max. Ia tidak ingin terus bersembunyi, Mey harus menunjukan siapa dirinya.
…
Pagi sudah menyapa, Qyen yang masih terlelap dalam tidurnya pun perlahan mengerejapkan matanya. Qyen merasakan suhu udara disekitarnya sangatlah dingin. Pantas saja, ia baru teringat jika ia tertidur hanya menggunakan pakaian dalam saja.
Mengingat malam panasnya semalam membuat Qyen tersenyum kecil, dan kini ia melihat Albra yang masih setia memeluk dirinya, matanya masih terpejam tanda Albra masih tertidur dengan damai.
“Gak nyangka banget aku bisa hidup sama kamu, Pak …” gumam Qyen yang kini kembali menyebut Albra dengan panggilan ‘Pak’.
Qyen mengusap wajah Albra dengan tangan kecilnya, mengusap alis tebal Albra, hidung yang sangat mancung, dan bibir tebal yang selalu membuatnya melayang. Qyen terus mengusap wajah Albra sampai si pemilik wajah itupun terusik dan mulai membuka sedikit matanya.
“Hem … Good morning my wife …” sapa Albra dengan senyum tipisnya. Sapaan itu dibarengi dengan suara rendah Albra, dan meninggalkan kesan seksi ditelinga Qyen.
Qyen tersenyum. “Good morning, my husband,” jawab Qyen sambil ikut tersenyum dan terkekeh geli.
“kamu baru tahu kalau suamimu ini tampan, hem?” Albra masih ingin memejamkan matanya, namun ia tetap mengeratkan pelukannya kepada Qyen.
“Aish … gak usah kepedean, ayo bangun sudah siang.”
“Sebentar, sayang … sepuluh menit lagi,” ucapnya dan hal itu membuat Qyen gemas dan mencium ujung hidung Albra.
“Kenapa gak cium bawahnya, sayang?”
“Kamu ya, pagi-pagi mesum banget!”
Albra terkekeh, ia pun semakin mengeratkan pelukannya. “Terimakasih untuk semalam, sayang. Kamu hebat. Perutmu tidak sakit?”
Ditanya seperti itu membuat Qyen malu, tanpa menjawab, Qyen pun hanya menggelengkan kepalanya.
Qyen mencoba menjauh dari Albra untuk membersihkan dirinya karena ini sudah pukul 9 pagi. Ia harus bersiap untuk menyiapkan sarapan suami dan anaknya. Ah … mengingat kini Albra sudah menjadi suaminya, dan Alan sudah menjadi anaknya membuat Qyen terus bersemangat menjalani hidupnya.
“Sebentar, Kak … aku harus mandi,” ucap Qyen kembali kepada Albra. Akhirnya Albra mengangguk dan melepaskan Qyenn untuk pergi membersihkan dirinya.
Butuh waktu 40 menit untuk Qyen menyelesaikan kegiatan mandinya, saat ini ia pun sudah rapi dengan dress bunga-bunga selututnya. Qyen sudah mengurangi dirinya untuk memakai celana jeans atau apapun itu, karena jika memakai celana, Qyen akan merasakan sesak di perutnya, oleh karena itu dress lebih nyaman untuk Qyen pakai.
Melihat isi kamar yang berantakan membuat Qyen menghela napasnya, ini adalah hasil kekacauan yang ia buat bersama dengan Albra semalam, terlalu ganas memang.
Bel berbunyi, Qyen rasa ada seseorang yang mengunjunginya.
“Kak, bajunya sudah aku siapkan, aku kedepan.” Qyen berbicara kepada Albra yang kini sedang berada di dalam kamar mandi.
Qyen hanya bisa tersenyum mendengar keluhan Alan, berbeda dengan Ian dan Savana yang menahan tawanya.
“Lo harus ngasih hadiah ke Gue karena Gue udah menjaga Alan semalam. Okay, Gue pamit dulu mau anter ayang.” Ian melambaikan tangannya sambil meniggalkan Qyen.
Savana pun tersenyum untuk menyapa Qyen dan keduanya pun pergi.
“Hati-hati Ian, Savana, sampai jumpa,” ucap Qyen sambil melambaikan tangannya.
“Ian itu nyebelin, dia terus pacaran sama tante Sava, dan aku terus dibiarin sendiri. Bahkan aku ngomong aja gak ditanggepin.” Alan berjalan menuju sofa sambil melipat tangannya dengan kesal.
“Oh ya? Selalam tante Sava tidur dengan Ian?” tanya Qyen yang penasaran.
Alan menggelengkan kepalanya. “Aku tidur dengan Ian, dan tante Sava tidur di sebelah kamar kita.”
“Ada apa jagoan Papa, kenapa mukanya murung pagi-pagi?” tanya Albra yang kini sudah rapi dengan pakaian santainya, ia pun membawa Alan kepangkuannya.
“Alan bilang, dia kesel sama Ian karena Ian terus pacaran sama Savana,” jawab Qyen dan duduk dihadapan keduanya.
“Benarkah?”
“Iya! Dan aku malas banget tidur berdua dengan Ian. Rambut Ian itu bau, Pa, dan dia selalu ngorok. Iwh … aku mending tidur dengan Om Kender karena Om Kender wangi seperti Papa,” ucapnya yang menjelek-jelekan Ian. Ian dan Alan memang memliki darah yang sama, namun pada dasarnya memang mereka berdua adalah musuh, mau sebaik apapun perlakukan mereka, mereka tetaplah musuh. Apalagi Ian yang selalu menggoda Alan, dan Alan yang kesabarannya sangatlah tipis.
Qyen tidak bisa menahan tawanya kali ini, suara tawanya pun pecah menertawai ucapan Alan yang sangat-sangat jujur dan polos.
“Nanti Papa kasih Ian shampoo baru bisar dia keramas dengan benar.”
“Ian itu selalu pamer jika uangnya banyak, tapi dia tidak pernah keramas, makanya rambut dia bau. Aku gak mau lagi tidur berdua dengan Ian. Pokoknya malam ini aku mau tidur dengan Papa dan Qyen.”
Albra dan Qyen mengangguk, mereka pun sedikit merasa bersalah karena sudah menyerahkan Alan kepada Ian.
“Kamu sudah sarapan, sayang?” tanya Qyen kepada Alan.
Alan menggelengkan kepalanya. “Aku lapar, makanya aku ke sini.”
“Yasudah, tunggu sebentar biar aku—“
“Kamu istirahat saja, biar saya yang pesankan kepetugas hotel.” Albra bangun dari duduknya untuk memesan sarapan.
Albra dan Qyen memutuskan untuk tinggal dihotel lebih lama karena masing-masing tubuh mereka merasakan lelah yang luar biasa.
Makanan pesanan mereka datang. Mereka pun makan dengan santai sambil ditemani obrolan riangan.
“Qyen aku ingin kamu membuatkan aku bekal lagi buat besok. Bekal buatan kamu lebih bagus dibanding bekal buatan teman-temanku,” ucap Alan disaat makanannya sudah habis.
Qyen hendak menjawab, tapi Albra berbicara terlebih dahulu. “Qyen sudah menjadi ibu kamu, Alan. Tidak sopan memanggilnya seperti itu. Kamu ingin panggil Qyen dengan sebutan apa?”
Qyen terdiam, jantungnya gugup karena ia terkejut dengan ucapan Albra. Qyen merasa sudah nyaman ketika Alan hanya memanggil namanya, namun ketika Albra menyuruh Alan untuk memanggilnya dengan sebutan lain, Qyen pun merasa pensaran.
“Mami? Mommy? Ibu? Bunda? Aish … aku tidak suka memanggil seperti itu, karena teman-temanku yang memanggil mamanya seperti itu berarti mamanya sudah tua. Sedangkan Qyen masih muda.”
Albra ingin sekali menenggelamkan wajahnya di samudra saat itu juga karena lelah mendengar ocehan Alan yang selalu berbicara diluar kendalinya. Sedangkan Qyen yang mendengar itu hanya tertawa kecil.
Qyen memegang lengan Albra yang ada di sampingnya. “Biar aja, Kak. Alan butuh proses untuk hal itu. Lagipun aku tidak masalah Alan memanggilku seperti itu. Karena akupun sudah nyaman.”
“Kamu suka Qyen menjadi ibumu?” Albra kini bertanya untuk memastikan perasaan Alan.
Alan mengangguk dengan cepat. “Tentu aku suka, sangat suka sekali. Aku sayang Qyen, dan aku sangat nyaman dengan Qyen.”
Albra tersenyum dan mengusap rambut anaknya. “Biasakan panggil Qyen dengan sebutan Mama, dan itu akan menghargai Qyen sebagai Mama kamu, paham, Alan?”
Lagi dan lagi Qyen hanya bisa diam. Ia pun melihat reaksi Alan dan ia mengangguk. “Aku akan membiasakan diriku memanggil Qyen dengan sebutan Kema.”
“Kema?” tanya Albra dan Qyen bersamaan.
Alan pun mengangguk dengan antusias. “He’em, Qyen mama. Disingkat Kema.”
Mendengar itu Albra dan Qyen tertawa. Biarlah Alan ingin memanggilnya dengan sebutan appaun yang penting Qyen senang bisa dihargai di dalam keluarga kecilnya yang baru. Semoga, harinya menjadi seorang istri Albra akan terus bahagia. Ya, Qyen selalu berharap akan hal itu.