ALBRA

ALBRA
21. Ketika Albra bercanda



Ditengah hujan badai yang mengguyur di pusat perkotaan Bali, mobil yang tengah dikendarai Albra melaju dengan kecepatan tinggi. Ia tidak peduli dengan kabut yang menghalangi pengelihatannya, untuk saat ini tujuan utamanya adalah melindungi Qyen dari gangguan ayahnya.


“P—Pak, kita mau kemana? Aku belum pernah melewati jalan ini,” kata Qyen sambil melihat sekitarnya.


Albra melirik sekilas kearah Qyen, ia bisa melihat wajah kepanikan Qyen saat ini. Mungkin wanita ini sedikit terguncang karena kejadian-kejadian yang terjadi hari ini.


“Saya akan membawa kamu ke tempat yang aman,” jawab Albra seadanya.


Qyen mengerutkan dahinya, tempat yang aman? Tempat aman apa yang Albra maksud, Qyen masih sedikit tidak mengerti dengan hal yang terjadi hari ini.


Hari-hari dirinya setelah bertemu dengan Albra dan Alan menjadi berubah drastis, yang tadinya Qyen hanya bangun tidur untuk berjualan buah sampai malam hari, tapi kini disetiap harinya Qyen harus selalu siap siaga menjalani kejadian yang tiba-tiba terjadi dihidupnya.


“Pak, aku masih belum ngerti. Terus, kemana 2 mobil yang berjaga di belakang?” tanya Qyen yang terus saja melihat situasi di sini tidak aman.


“Kamu tidak perlu banyak bicara, saya pusing mendengar suara kamu,” kata Albra, dan langsung membungkam mulut Qyen bergitu saja.


Mendengar itu, Qyen kini duduk pasrah ditempatnya, ia tidak lagi waspada, yang bisa ia lakukan saat ini adalah pasrah dengan semua hal yang akan terjadi kedepannya. Tidak Alan, tidak Albra dua-duanya selalu berbicara seenaknya dengan Qyen, Qyen merasa kesal dengan hal itu.


Tak butuh waktu lama, Qyen bisa melihat mobil Albra masuk ke dalam sebuah gedung yang sangat-sangat tinggi, bahkan selama tinggal dikotanya ini, Qyen belum pernah melihat gedung sangat tinggi seperti ini. Mobilnya menanjak curam, mungkin untuk bisa sampai tempat parkir? Qyen tidak tahu, dan yang pasti gedung ini bukan apartemen milik Albra yang pernah Qyen kunjungi kemarin.


Tepat seperti dugaan Qyen, mobil Albra berhenti disebuah lahan parkir yang sangat-sangat kosong, Qyen kini bisa memperhatikan sekitarnya dengan jelas karena didalam gedung tidak lagi terhalang oleh kabut.


Mesin mobil sudah dimatikan, keadaan didalam mobil menjadi gelap, suasana diantara mereka pun menjadi hening, yang terdengar kini hanyalah suara napas Albra yang cukup terdengar, dan juga suara detak jantung Qyen.


“Kamu marah?” tanya Albra tiba-tiba sambil melihat kearah Qyen.


Entah mengapa, Qyen merasa atmosfer ketengangan kini berubah menjadi sedikit lucu karena pertanyaan Albra dibarengi dengan wajah polos laki-laki dingin itu.


Qyen sebisa mungkin menahan tawanya, ia masih merasa sakit hati dengan ucapan Albra tadi. “Enggak, siapa juga yang marah,” jawab Qyen yang kini membuka seat beltnya dan bersiap untuk turun.


Ketika hendak membuka pintu mobil, dengan cepat Albra menahan tangan kananya, dan secara tidak langsung Albra memojokan tubuh Qyen ke sudut mobil dan bahkan kini tubuh mereka hampir menempel.


“Jangan mencari masalah, saya belum menyuruh kamu untuk turun dari mobil,” bisiknya ditelinga Qyen.


Qyen yang melihat wajah tampan Albra tepat didepan wajahnya, ia pun mencoba untuk menahan napasnya, ini sudah kesekian kalinya mereka berdekatan seperti ini, namun hari ini suasana sangat berbeda.


“Aw …” lirih Qyen karena merasa tangan kanannya sakit akibat ditahan oleh Albra.


Albra yang sadar, ia pun mencoba untuk menjauh dari Qyen. “Sorry,” katanya dan kini tangannya memegang erat stir.


Qyen yang tidak ingin berbicara, ia pun hanya mengangguk. Bahkan kini ia tidak tahu hal apa lagi yang harus dirinya lakukan.


“Kenapa diam saja?” tanya Albra cepat.


‘Tadi di suruh diem, sekarang nanya kenapa,’ kesal Qyen didalam hatinya.


“Saya gak mau ngomong, kamu bilang gak boleh ngomong tadi,” jawab Qyen dengan wajah datarnya.


“Saya?” tanya Albra kembali, ia sedikit aneh karena Qyen kembali berbicara formal kepadanya.


“Pak, Pak Albra sadar gak sih? Aku yang gak tau apa-apa tiba-tiba dibawa ketempat yang kaya gini. Bahkan waktu aku mau tanya kita kemana, kamu bilang buat gak perlu tanya-tanya, sekarang aku diem kamu sendiri yang tanya. Aku bingung banget, aku ngerasa mau nangis sekarang,” ucap Qyen yang berbicara panjang. Tidak peduli jika dirinya dipandang lebay dihadapan Albra.


Albra kini memperhatian Qyen sambil mengedip-ngedipkan matanya. Ia baru mendengar sebuah kalimat panjang yang diucapkan oleh wanita, bahkan kini ia dengar dengan telinganya sendiri.


“Ikut saja. Pakai,” jawabnya dengan singkat sambil memberikan sebuah kacamata hitam kepada Qyen.


Qyen membuka mulutnya, ia tidak habis pikir dengan sikap Albra saat ini. “Buat apa? Mau ngeliat orang mati?” tanya Qyen yang juga menerima kacamata hitam itu.


“Tidak ada yang mati, kamu hanya perlu berada disamping saya.” Setelah mengucapkan itu, Albra menarik ikatan rambut yang dipakai oleh Qyen, agar rambut panjang hitam itu terurai.


Jantung Qyen kini sedang tidak baik-baik saja setelah mendengar ucapan dan perlakuan Albra yang tiba-tiba seperti ini.


“Pak … Pak Albra …” gumam Qyen yang masih merasa syok.


Albra melihat kesekitar tempat, ditempat ini hanya ada satu pintu, dan pintu itu berada dibelakang mobil mereka.


“Syut, kamu tidak perlu khawatir dengan keadaan saat ini, ayo keluar,” ucapnya dan turun dari mobil.


Dengan menggunakan kacamata hitam dan rambut tergerai yang sedikit menutupi wajahnya, Qyen turun dari mobil dan berjalan mengikuti kemana perginya Albra.


Qyen tidak ingin banyak berbicara atau banyak bertanya, kini dirinya hanya fokus melihat kemana Albra pergi. Mereka berhenti didepan lift, sampai lift itu terbuka sebelum akhirnya mereka masuk dan Qyen bisa melihat Albra menekan tombol 20, yang berartikan lift tersebut akan membawa mereka menuju lantai 20.


Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai dan langsung berhadapan dengan pintu yang cukup besar. Mereka tidak berbicara apapun, Qyen melihat Albra mengeluarkan kartu akses untuk bisa membuka pintu besar tersebut.


Pintu terbuka dan Albra mempersilahkan Qyen untuk masuk terlebih dahulu. Qyen sangat-sangat terkejut ketika melihat ruangan ini, Qyen bisa menyebut jika ruangan ini adalah sebuah penthouse karena kemewahan yang terlihat didepan matanya. Ya, seperti dugaannya ini bukan apartemen Albra.


“Ini dimana?” tanya Qyen sambil melihat area sekitarnya, ia sangat kagum dengan kemewahan furniture yang ada di dalam penthouse ini.


“Ini rumah saya, kamu bisa bersembunyi disini untuk beberapa hari kedepan dari laki-laki tadi siang dan juga Papa saya,” jawab Albra sambil membuka jasnya.


Qyen jalan mendekati Albra yang saat ini berada disebuah pantry, ia butuh penjelasan lebih rinci tentang ‘bersembunyi’ yang baru Albra ucapkan tadi. Lagipun, jika ia diam disini, bagaimana dengan usaha buahnya, dan juga bagaimana dengan rumahnya yang sedang dihadang badai, bahkan memikirkan itu saja otak Qyen sudah merasa sangat penuh.


“Maksudnya apa, Pak? Aku masih belum ngerti kenapa aku ada disini. Laipun urusan kita sudah selesai, seharusnya aku gak perlu ada disini atau semua masalah akan memanjang,” ucap Qyen yang memberanikan diri,


Albra meletakan kedua tangannya diatas meja, dan mendekatkan wajahnya kepada Qyen. “Seperti yang sudah saya katakan. Kamu hanya perlu bersembunyi beberapa hari di sini,” jawabnya dan langsung pergi begitu saja.


Qyen yang tidak terima dengan jawaban tersebut, ia pun mengikuti kemana perginya Albra, bahkan kini Qyen tidak sadar jika ia memasuki kamar pribadi Albra, yang ia butuhkan saat ini adalah kejelasan dari Albra.


“Aku gak terima, aku mau pulang sekarang. Aku gak peduli mau siapapun yang ganggu aku, pokoknya aku mau pu …. AW!“


Ucapannya terhenti ketika dahinya menabrak sesuatu, Qyen sibuk berbicara sampai tidak tersadar ketika dahinya menabrak punggung Albra.


Albra pun berbalik dan menatap Qyen yang sedang mengusap dahinya dengan datar. “Mau ikut saya mandi?” tanya Albra dengan santai.


Qyen yang sadar dengan ucapan Albra dan juga sadar akan tempatnya sekarang, ia pun lari dengan cepat, keluar dari tempat ini.


“Pak Albra!!!” teriaknya sambil lari.