
“Oh iya, pesan-pesan saya pastinya masuk ke dalam ponsel kamu? Kenapa kamu tidak membalas?”
Qyen tidak ingin menjawab, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menunduk. Ia sangat-sangat takut.
“Sampai jumpa, Qyen. Saya akan selalu menunggu kamu.” Fin tersenyum miring, ia pun menunjuk perut Qyen yang sudah terlihat besar. Qyen yang tadinya tidak ingin menunjukan perut itu, karena ia takut jika Fin akan berbuat sesuatu terhadap perutnya, ia pun memegang perutnya. “Ah … selamat atas kehamilan kamu.”
“Permisi, Tuan. Nona Qyen bersama saya.” Kender kini memasang badan dihadapan Qyen yang berdiri dengan wajah pucat pasi.
Mengerti dengan situasi yang tidak biasa, Alan pun memeluk Qyen dengan tangan kecilnya. Qyen merasakan pelukan dari Alan, ia kini memeluk anak kecil itu untuk menghilangkan rasa takut dan sakit di sekitar perutnya.
Kender sedikit mendorong tubuh Fin untuk menjauh dari Qyen. Jika Albra tahu, dirinya akan habis diceramahi. “Tuan?” ucap Kender yang tahu dirinya sedang berbicara dengan siapa.
Fin mengangkat tangannya, dan mundur dari hadapan Kender. Sedari tadi matanya tidak lepas dari Qyen yang kini tengah memeluk anak kecil. Tanpa mengucapkan satu patah katapun, Fin langsung menjauh dari sana, tak lupa dengan troli yang ia bawa tadi.
Melihat Fin yang sudah menjauh, Kender pun berbalik dan melihat kondisi Qyen yang sudah memucat sambil memeluk Alan sangat erat.
“Nona? Anda baik-baik saja? Maaf saya tidak tahu jika ada dia di sini,” ucap Kender yang merasa kecolongan.
“Hah? Tidak-tidak apa-apa, Kender.” Qyen mencoba mengatur napas dan fokusnya yang sudah pergi hilang. Ia pun tidak menyangka akan kembali bertemu dengan Fin. Ketika berhadapan dengan Fin tadi, Qyen bisa merasakan rasa takut, benci, marah, dan khawatir sekaligus. Sungguh ia tidak akan menyangka, pertemanannya dengan Fin akan hilang dengan kejadian yang terjadi, Qyen sungguh tidak menyangka.
“Nona, lebih baik kita pulang saat ini juga. Kita tidak bisa berlama-lama berada di luar,” ucap Kender yang kini sudah mengambil alih kedua troli yang mereka bawa.
Kender menyuruh seorang pegawai untuk mengambil alih belanjaan milik Qyen. Fokus Kender kini adalah Qyen dan Alan.
“Kender, belanjaannya bagaimana bayarnya?” tanya Qyen yang masih memikirkan jika belanjaan itu belum sempat ia bayar.
“Sudah saya bayar. Tenang saja, Nona.”
Qyen tidak tahu lagi harus menjawab apa, ia masih merasa shok dan kini hanya diam dan mengangguk. Rasa perutnya semakin menyerang sampai ia mengaduh kesakitan. “Aw … shhh …” setelah itu, pengelihatannya gelap dan Qyen kehilangan kesadarannya.
“Nona!” Kender panik saat melihat Qyen terjatuh dilantai, ia kini membopong tubuh Qyen yang kehilangan kesadaran ke dalam mobil.
“Om … Qyen kenapa? Hiks … Qyen kenapa, Om?” Alan ikut berlari bersama Kender disampingnya. Alan yang hanya tahu Qyen pingsan pun panik, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang selain mengikuti kemana perginya Kender.
“Tuan muda, anda bisa mengikuti saya.”
Sesampainya di dalam mobil, dengan hati-hati Kender menyandarkan Qyen di jok belakang mobil, memakaikan seat belt, dan begitu pun dengan Alan. “Tuan, anda tidak perlu menangis, Nona akan baik-baik saja,” ucap Kender sambil menenangkan Alan.
Alan mengangguk. “Anda bisa pegang tangan Nona, Tuan.” Ia pun mengikuti suruhan Kender, dan memegang tangan kanan Qyen yang melemah.
Kender langsung menyetir mobilnya, urusan belanjaan, sudah ia serahkan kepada pegawai untuk mengirim kealamat penthouse Albra.
Sambil menyetir, Kender pun menelpon Albra langsung dan memberikan kabar apa yang sudhah terjadi.
“Baik, Tuan. Saya akan membawa ke penthouse segera.”
“Om … Qyen tidak apa-apakan? Aku harus telpon Papa, tapi ponselku dibawa oleh Qyen …” suara Alan masih serak karena menahan tangisnya. Ia pun merasa takut dengan hal yang baru saja terjadi.
“Tidak apa-apa, Tuan muda. Kita akan pulang segera.”
…
Berbeda dengan Albra yang saat ini berlari keluar dari ruangan rapat yang baru saja ia hadiri.
“Tuan? Bagaimana Tuan? Tuan Albra!”
Orang yang hadir di dalam rapat tersebut menatap heran kepergian Albra yang tiba-tiba. Meta yang sudah tahu tentang kabar tersebut, ia pun menyuruh bawahannya untuk menyelesaikan rapat yang ada. Lalu, ia ikut berlari menyusul Albra yang terburu-buru.
“Tuan biar saya yang menyetir. Saya sudah menelpon dokter Zaid untuk segera pergi kesana. Anda tidak perlu terburu-buru.”
“Tidak perlu. Masuk cepat,” ucapnya kepada Meta.
Meta pun duduk di samping kemudi. Tangannya berpegang erat kepada seat belt yang ia pakai. Saat ini Albra menyetir mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Hanya perlu waktu kurang lebih 15 menit untuk akhirnya mereka sampai di parkiran.
“Tuan … saya ….”
“Bawa Alan, kita bicara di dalam,” ucap Albra yang kini sudah membopong tubuh Qyen dan membawanya kedalam penthouse dengan hati-hati.
Kender pun mengangguk, saat ini ia menggendong Alan, dan mengikuti kemana tuannya pergi. Berbeda dengan Meta yang sedang menunggu dokter Zaid di parkiran.
Albra meletakan tubuh Qyen dengan pelan dan hati-hati. Ia tidak bisa melihat Qyen yang terbaring lemah tak sadarkan diri seperti ini.
“Papa!” Alan berlari dan memeluk Albra. “Qyen kenapa, Pa? Waktu dia pegang tanganku, tiba-tiba dia terjatuh. Qyen seperti ini gara-gara aku memegang tangannya?” tanya anak kecil yang kini khawatir dengan orang tersayangnya.
Albra menggendong Alan dan membawanya kedalam pelukan hangatnya. “Qyen baik-baik saja. Ini bukan karena kamu, Qyen hanya kelelahan,” ucap Albra mencoba untuk menenangkan Alan.
Tak butuh waktu lama, Meta datang bersama dengan seorang dokter laki-laki muda yang bernama Zaid. Dokter itu sudah cukup berumur, dan Albra sangat mempercayakan dokter Zaid, karena dokter tersebut sudah merawat Alan sedari bayi.
“Permisi, Tuan. Biar saya periksa terlebih dahulu.” Dokter pun memeriksa denyut nadi Qyen dibeberapa titik ditubuhnya, tak lupa memeriksa janin yang ada di dalam perut pasiennya.
Meta membantu dokter tersebut untuk memasangkan infus. Menjadi kepercayaan Albra harus bisa pintar diselaga bidang. Kender datang dan membawa sebuah tabung oksigen yang berukuran cukup besar.
Albra dan Alan hanya menyaksikan dokter Zaid, Meta dan Kender yang bekerja sama menangani Qyen. Butuh waktu beberapa menit untuk akhirnya mereka bisa menyelesaikannya.
“Tuan, bisa saya berbicara sebentar dengan anda?” dokter Zaid menghampiri Albra.
Albra mengangguk dan menurunkan Alan dari pangkuannya. “Kamu temani Qyen bersama dengan Meta di sini.” Alan mengangguk, lalu berlari menghampiri Qyen yang masih belum sadarkan diri.
Albra mengajak dokter Zaid untuk pergi ke ruang tengah. “Qyen baik-baik saja, Dokter?”
Dokter Zaid tersenyum kecil. “Sepertinya Nona mengalami shok dan khawatir berlebih, serta tubuhnya yang terlalu lelah menjadi pemicu mengapa ia pingsan. Ada hal yang mengganggu Nona tadi?”
“Iya, ada sesuatu yang terjadi menimpa dia sebelum pingsan, apa karena hal itu?” kini Albra bertanya, ia sudah tahu mengapa Qyen bisa tidak sadarkan diri secara tiba-tiba.
“Kemungkinan besar iya, Tuan. Nona mengalami kram yang sangat hebat diperutnya dan kandungannya saat ini pun lemah. Anda perlu berhati-hati menjaga Nona, jangan sampai kelelahan atau resiko yang paling terparah, Nona bisa mengalami keguguran.”
Tangan Albra terkepal, beberapa jam yang lalu ketika ia pergi meninggalkan Qyen, Qyen masih dalam kondisi yang baik. Jika Fin memang benar-benar membuat Qyen shok seperti ini, ia tidak bisa diam. Fin sepertinya memberi ancaman yang besar untuk Qyen.
Setelah mengetahui prosedur yang harus ia lakukan saat ini, dokter Zaid pun pamit pergi dan kini tinggallah Albra, Kender, Meta, dan Alan yang menjaga Qyen.
“Nona akan sadar sebentar lagi, Tuan. Anda bisa mengajak Nona berbicara terlebih dahulu,” ucap Meta, yang lebih tahu tentang kondisi Qyen, karena ia pernah bersekolah di kedokteran selama 2 tahun saja, sebelum akhirnya ia berganti jurusan.
Albra mengangguk, Kender dan Meta pun pergi keluar dari kamar Albra. Mereka memberikan privasi kepada tuannya.
Kini Albra duduk disamping Qyen yang masih menutup matanya, memegang tangan Qyen yang lemah, begitupun dengan Alan yang sudah menaiki kasur dan memperhatikan wajah Qyen.
“Papa … sebenarnya ….”
Albra mendengar suara Alan yang memanggilnya, ia pun memperhatikan anaknya. “Kenapa, Alan? Apa ada sesuatu yang terjadi kepada Qyen?”
Dengan lemah, Alan pun mengangguk. “Sepertinya Qyen pingsan karena aku yang membuat masalah tadi pagi,” ucapnya yang masih menyalahkan diri sendiri. Alan masih ingat jika sebelum pergi ke supermarket, Qyen harus mengurus Alan dan kamar Alan yang penuh dengan coklat terlebih dahulu, dan karena hal itu ia merasa sangat bersalah.
“Pagi? Kamu membuat masalah apa? Cerita sama Papa.” Albra kini memegang tangan Alan.
“Aku tidak sengaja mengacaukan kamarku karena coklat, sepertinya Qyen kelelahan membersihkan kamarku bersama dedek bayi yang ada di perutnya. Maafkan aku, Papa …” cerita Alan berbarengan dengan air mata yang luntur begitu saja.
Albra tersenyum, sebenarnya ia sudah tahu kejadian apa yang terjadi tadi pagi di kamar Alan, ia tahu karena Kender memberitahunya, dan memfotokan hal yang sedang terjadi. Namun begitu ia tidak marah, ia ingin mengapresiasi Alan karena sudah bertanggung jawab dan jujur.
“Kalau itu, kamu harus meminta maaf langsung dengan Qyen. Kamu harus janji tidak boleh bohong dan menutupi sesuatu dari Papa ataupun Qyen. Iya, Alan?”
Alan mengangguk dengan lesu. “Aku salah, Pa. Tapi, dedek bayi yang ada di dalam tidak ikut pingsan jugakan? Kasihan dia masih kecil.”
Albra mengusap rambut anaknya yang sama-sama menantikan kehadiran bayi yang ada didalam kandungan Qyen. Bahkan janin itu masih belum berbentuk bayi, namun mereka terus membahasnya. “Tidak apa-apa, adik bayinya kuat seperti kamu. Coba kamu usap perut Qyen agar dedek bayi tidak sakit.”
Dengan tangan kecil yang sedikit bergetar, Alan pun mengusap perut Qyen dengan lembut. “Maafkan aku, aku tidak akan membuat masalah lagi.”