ALBRA

ALBRA
43. Keanehan keluarga Max



Butuh waktu kurang lebih 3 jam untuk akhirnya Qyen sadar dari pingsannya. Sejak 3 jam itu juga, Albra sangat khawatir tentang kesehatan Qyen, apalagi Qyen sedang mengandung buah hatinya. Mengetahui cerita Qyen yang bertemu dengan Fin tadi, membuat Albra geram setengah mati mendengar nama itu. ia berniat melakukan sesuatu terhadap Fin, namun Kender dan Meta menahannya, karena mereka tidak ingin gegabah dengan keadaan.


Saat ini Qyen tengah beristirahat di dalam pelukan Albra, Tangannya masih terinfus, hidungnya pun masih dipasangkan selang oksigen, kini Qyen duduk dan dada Albra menjadi sandarannya.


“Kamu baik-baik saja? Apa perlu kita berangkat ke rumah sakit?” tanya Albra yang belum tenang dengan kondisi Qyen yang masih mengkhawatirkan.


“Aku baik-baik saja, Kak. Maaf ya, aku selalu membuat masalah.”


Albra menggelengkan kepalanya, tangannya ia gunakan untuk mengusap rambut Qyen. “Saya tidak menyalahkan kamu. Peristiwa ini yang saya takutkan jika kamu keluar tanpa penjagaan yang aman.”


“Hm … aku enggak tau kejadiannya bakal kaya gini. Ternyata sekarang udah jam dua siang? Aku tidur berapa lama? Oh iya, belanjaan aku gimana? Siapa yang bayar? Kender masih ada di sini gak, Kak? Aku lupa gak ngasih uang ke dia, dan … Alan aku lupa buat beliin sesuatu.”


Albra tersenyum, jika seperti ini berarti Qyen sudah sembuh. “Kamu tidak usah khawatir, Kender sudah membayar belanjaan kamu. Alan baik-baik aja dia ada di kamarnya bersama Ian.”


“Di bayar Kender? Aku harus ganti dong?” tanyanya dengan wajah bingung.


Albra terkekeh pelan melihat kekonyolan Qyen. Padahal Qyen tidak perlu khawatir tentang hal kecil seperti ini. “Tidak apa-apa, biar saya yang urus.”


“Hmm … aku harus minta maaf sama Kender.”


Suara orang berlari terdengar di telinga mereka, Alan datang bersamaan dengan Ian yang penampilannya sudah sangat tak karuan. Wajahnya penuh dengan coretan spidol, bahkan kamejanya pun sudah terlumuri oleh berbagai warna. Dengan wajah marahnya, ia mengejar Alan yang tertawa menghampiri Qyen dan Albra.


“Sini Lo, kutu! Bisa-bisanya Lo giniin Gue! Albraaaaa …” Ian memarahi Alan sekaligus merengek kepada Albra dengan manja.


“Hahaha … suruh siapa, wlee ….”


Alan terus berlari menghindari kejaran Ian yang semakin cepat mengejar kearahnya. Mereka berputar ke ujung kamar sampai Qyen dan Albra pun ikut tertawa melihat kekonyolan mereka berdua.


“Sini Lo! Gue jadiin sate lilit lama-lama. Sini bocah!”


“Hahaha … kok bisa gitu sih?” tanya Qyen yang ikut tertawa. “Aduh …” tak lama Qyen juga mengaduh karena perutnya sakit jika terus tertawa.


Alan yang mendengar Qyen mengaduh pun menyudahi candannya dan menghampiri Qyen. Ian kini mulai mendekati anak itu. “Stop, Ian. Aku mau melihat keadaan Qyen terlebih dahulu.”


Ian menghela napasnya. “Bahasa Lo terlalu formal, Bro. Serasa ngobrol sama komandan Gue.”


Albra hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ian memiliki sifat yang jauh berbeda dengannya. Jika Albra pendiam, sebaliknya dengan Ian yang memiliki sifat ceria. Kini Ian duduk di lantai dengan wajah frustasi karena kebingungan bagaimana cara menghapus coretan-coretan diwajahnya.


“Kamu baik-baik saja, Qyen?” tanya Alan dengan wajah seriusnya sambil memegang tangan kiri Qyen dengan lembut.


Qyen mengangguk. “Aku baik-baik saja, Alan … kenapa Ian bisa kaya gitu?” tanya Qyen sambil menunjuk Ian yang sudah terduduk dengan lemas.


“Ian membuat salah?” Albra bertanya karena ia pun penasaran bagaimana bisa Ian menjadi sekacau itu.


“Anak Lo, tuh. Harus dimasukin ke sekolah seni!” alih-alih mengumpat, ia kini malah mengusulkan saran.


“Alan, minta maaf sama Ian,” ucap Qyen mencoba untuk melerai.


“Gak mau! Dia duluan yang coret muka aku jadi kaya gini.” Alan menunjukan wajahnya yang juga memiliki coretan berwarna biru.


“Dih … heh Lo duluan yang minta Gue buatin gambar awan di jidat Lo, Alan!” Ian masih sangat kesal dengan serangan Alan yang tiba-tiba terjadi di wajahnya.


“Tuhkan! Ian itu gak sopan, Pa. aku minta gambar awan itu di pipi dan kecil, tapi dia menggambar sangat besar di jidat aku. Apalagi dia salah pakai spidol.” Alan mencoba untuk membela dirinya sendiri.


“Memangnya Lo bilang kalau mau gambar di pipi? Lo … bener-bener ya Alan …” geram Ian yang ingin sekali menggigit Alan saat ini juga. Dengan cepat ia mengejar Alan namun sia-sia, Alan kini sudah ada di dalam pelukan Qyen, dan jika seperti itu, ia tidak bisa apa-apa.


“Berani gak kamu sini ….”


“Lo …” Ian menunjuk Alan, kata-katanya sudah habis, dan kembali terduduk lesu di lantai.


“Syut … Alan minta maaf sama Ian.” Alan masih menggelengkan kepalanya. “Dia yang salah, Qyen. Aku hanya membalas.”


“Alan, kamu juga salah. Minta maaf dengan Ian.” Kini Albra berbicara dengan wajah serius. Alan yang ditatap seperti itu oleh ayahnya, nyalinya pun ciut dan kini berangsur turun dari atas kasur dan menghampiri Ian, lalu mengulurkan tangannya. “I’m sorry, just kidding.”


“Gak. Gak mau maafin Lo, sebelum semua warna ini ilang di muka Gue.”


“Tuh, lihatkan, Pa? Ian duluan yang seperti itu,” kesalnya.


“Ini gak bisa dibersihkan pakai sabun, Alan. Gue harus gimana …” rengek Ian yang kini sudah tiduran diatas lantai seperti seorang bayi. Alan yang melihat itu pun menahan tawanya.


“Aaaaaa … nyebelin banget sih Lo!”


Ian mengangguk dan mengambil barang yang Qyen suruh.


“Kak, tolong bantuin aku bangun,” pinta Qyen kepada Albra.


Albra kini membantu Qyen untuk bangun dan bersandar di kasur. Ian datang dan memberikan satu botol minyak kayu putih dan beberapa kapas. “Kamu duduk sini,” ucap Qyen yang menyuruh Ian duduk di dekatnya.


Tentu saja hal itu membuat Ian senang, berdekatan dengan perempuan cantik adalah kesenangannya juga. Albra yang melihat ekspresi wajah adik triinya itupun mendengus kesal.


Qyen memasukan sedikit minyak ke dalam kapas, dan mengusapkan kapas itu ke wajah Ian yang terlumuri oleh spidol permanen. “Ini sedikit panas, tapi spidolnya cepat ilang,” ucap Qyen sambil mengusap wajah Ian dengan kapasnya.


“Gak usah deket-deket mukanya …” tangan Albra menahan dahi Ian agar tidak dekat-dekat dengan wajah Qyen. “Dasar buaya,” gumam Albra dengan pelan.


“Yeu … ganggu aja.”


Alan yang kesal karena Qyen memilih Ian, ia pun merajuk sambil melipat tangannya di dekat meja. Alan kesal, Ian salah, lalu mengapa Ian yang dibela di sini? Padahal dirinya pun terkena coretan sangat banyak sekali diwajahnya.


“Setelah ini, kamu bilas lagi pakai air hangat. Minyak ini agak panas di kulit, tapi sedikit kok.”


“Iya, Qyen … makasih ya …” ucap Ian sambil tersenyum.


Qyen pun ikut tersenyum dan mengangguk. “Ck! Gak usah senyum-senyum.” Albra terus saja memantau tingkah Ian dan Qyen yang juga membuatnya kesal.


“Iya-iya … Gue tau Qyen lagi hamil hasil dari Lo. Gak akan Gue goda.”


“Qyen, lebih ganteng Gue atau Albra?” tanya Ian sambil tersenyum manis.


Ditanya seperti itu membuat Qyen diam sambil  menyunggingkan sedikit senyumnya, membandingkan ketampanan Ian dan Albra tidak akan habis. Mereka benar-benar tampan dengan kelebihan masing-masing.


“Kok kamu diem?” tanya Albra.


“Hahah … itu tandanya Gue lebih ganteng, Albra …” ucap Ian dengan percaya diri.


“Bu—bukan, kalian punya kelebihan masing-masing.” Mendengar itu, Ian meras puas, dan Albra sedikit merajuk. Bagaimana bisa Qyen tidak memilih dirinya.


“Ian sudah selesai kamu tinggal mandi.”


“Gak mau sekalian mandiin Gue, Qyen?”


“Ngelunjak ya!”


“Hahaha ….” Tidak mau Albra semakin membentaknya, Ian pun pergi sambil tertawa.


“Alan sayang … sini aku bantu bersihkan wajah kamu. Sedikit panas tidak apa-apa?” tanya Qyen dengan lembut, ia kini merasa bersalah karena tidak memilih Alan terlebih dahulu.


“Alan cemburu liat kamu,” ucap Albra yang kini turun dari kasur dan menghampiri Alan yang masih diam melipat tangannya.


“Ayo, bersihkan dulu wajahnya.” Alan diam tidak menjawab.


“Qyen sedang sakit, kamu tidak boleh seperti ini,” ucap Albra mencoba agar Alan mengerti.


Akhirnya Alan mengangguk dan menghampiri Qyen dengan wajah tanpa ekspresi. “Kamu marah?” tanya Qyen sambil membersihkan wajah Alan.


Alan hanya menjawab dengan gelengan.


“Kamu mau sesuatu?”


Alan kembali menggeleng.


Melihat tingkah anaknya yang tidak biasa, Albra pun ikut berbicara. “Tadi kamu janji tidak ingin membuat masalah kepada Qyen. Tidak boleh seperti ini, okay Alan?”


Alan dengan lesu mengangguk. “Aku gak mau kamu pilih Ian. Harusnya kamu pilih aku.”


‘Ucapan yang sudah terwakili oleh Alan.’ Albra tersenyum dengan senang.


‘Gak bapak, gak anak. Cemburuan!’ Qyen sedikit kesal.


..


Happy reading ... Jangan lupa like, komen, sahrenya ....