ALBRA

ALBRA
78. Satu langkah lebih maju



Malam hari kembali menyambut, suasana malam ini terasa sangat hangat, padahal di luar sedang ada badai hujan beserta petir yang saling menyahut.


Malam ini, Qyen rasa berbeda dengan malam-malam lainnya sebab perlakuan Albra yang semakin manis di setiap harinya. Lihat saja kali ini, tiba-tiba saja Albra datang menemuinya dan memberikan satu buket bunga yang sangat-sangat besar ke hadapan Qyen. Melihat perlakuan manis suaminya, tentu saja Qyen bahagia. Malam hangat yang tercipta karena paduan kasih mereka.


“Sayang, kamu suka?” tanya Albra yang kini masih setia memeluk Qyen dari belakang.


Wanita mana yang tidak suka jika diberi keromantisan seperti ini? Tentu saja Qyen sangat suka. “Tentu, terimakasih. Bunganya cantik sekali, Kak.”


“Cantik, sama seperti pemiliknya.”


Mereka berdua terkekeh. Ternyata umur tidak pandang buluh pada siapa mereka memiliki rasa cinta. Lihat saja Albra dan Qyen ini, walaupun umur mereka terpaut 12 tahun, tapi hal itu tidak menjadi penghalang rasa cinta mereka. Walaupun perdebatan, perbedaan pendapat antara bedanya generasi mereka, namun hal itu menjadikan sebuah pelajaran yang cukup besar untuk hidup mereka.


“Tapi, tumben banget kamu bisa romantis kaya gini. Akutu tau kamu, Kak. Dingin, datar, gak ada romantis-romantisnya sama sekali.”


Albra menahan senyumnya, lalu mengusap rambut Qyen dengan lembut. “Makanya itu, saya mau belajar romantis,” jawabnya yang membuat Qyen merinding.


“Kok gitu sayang?”


“Hahaha … Lagian kamu aneh banget. Kak … Tetep jadi diri kamu ya, kamu udah punya sisi romantis dengan cara kamu sendiri,” ucap Qyen sambil melihat kearah wajah suaminya.


Albra kini mengerutkan bibirnya. Aish, padahal Ian bilang ini cara ampuh buat memanjakan istri, apalagi Qyen yang umurnya terbilang sangat muda. Qyen pasti suka. Namun ketika Albra melihat reaksinya, kenapa Qyen beda? Apakah Ian membohonginya?


“Kamu gak suka, sayang? Ian bilang kalau saya gak pernah romantis. Yauda saya tanya gimana caranya. Dia bilang mau bantu, lalu kemarin saya diajak ke toko bunga sama dia.”


Qyen yang merasa gemas melihat ekspresi Albra, ia pun mencubit pipi suaminya dengan gemas. “Aku suka, Kak … Tapi, kamu gak perlu maksain sesuatu yang gak bisa kamu lakuin.”


“Saya mau coba.”


Qyen mengangguk sambil mengusap tangan Albra. “Baiklah, aku mau lihat nanti.” Mereka kembali terkekeh dengan kekonyolan mereka.


Obrolan santai di setiap malam pun terlantun di dalam dekapan hangat mereka.



Suara gelak tawa Ian dan Parell terdengar di kamar Alan. Kini kamar anak kecil itu sudah menjadi seperti markas bujang, karena Ian, Parell dan Alan suka mengobrol bersama di dalam kamar itu, bahkan sudah ada tempat khusus untuk permainan setiap hari mereka.


Seperti di hari senin sore ini, Ian sudah pulang dari kantornya, dan mengajak Parell serta Alan untuk bermain voli kaki, namun karena ada hal yang terjadi diluar dugaan mereka, suara gelak tawa itupun terdengar sampai ke lantai satu.


“Hahahaha … Gila ini kerjaan siapa?” tanya Ian ketika melihat rambut Alan sudah terpotong dengan bentuk tak beraturan.


Parell yang baru datang dari arah kamarnya pun terkejut karena hal itu tiba-tiba saja terjadi, bahkan ia tidak bisa menahan rasa yang menggelitik perutnya. Parell pun ikut tertawa.


“Alan! Apa-apaan Lo? Lo liat rambut Lo jadi gini.” Ian dengan tawanya kini membantu Alan untuk menyimpan alat cukur rambut yang entah dari mana asalnya.


“Tuan, bagaimana bisa seperti ini?” tanya Parell yang menyudahi tawanya.


Alan hanya bisa duduk dan merenungi kesalahannya, rambut yang dulu gondrong, menghiasi wajah bulenya yang tampan, kini rambut itu terpotong menjadi dua belah bagian. Alan ingin marah, namun ini adalah kesalahannya sendiri.


“Ada apa ribut-ribut?” tanya Qyen dan Albra yang baru saja datang ke kamar Alan.


Melihat rambut Alan yang sudah berserakan di lantai, apalagi bentuk rambutnya yang tidak teratur, Albra pun terkejut. “Alan, kamu kenapa?”


“Maaf, Tuan, Nyonya. Saya tidak tahu jika Tuan kecil memegang alat pencukur rambut.” Parell menunduk untuk meminta maaf lalu mengajak Alan untuk membenahkan dirinya.


“Hahaha … Bocil satu ini emang ada-ada aja kelakuannya, sampe sakit perut Gue dibuatnya.” Ian masih saja tertawa sampai perutnya terasa sakit.


Dengan senyum lebarnya yang bertujuan untuk menahan tawa, Albra pun membawa anaknya ke dalam pangkuan. Ia tidak peduli jika kamejanya akan terkena potongan rambut Alan yang menempel banyak di bajunya.


“Kenapa sayang? Inikan untuk orang dewasa,” ucap Qyen sambil mengusap tangan Alan.


“Aku mau potong rambut depan saja. Tapi tanganku terpeleset sampai ke atas,” jawabnya dan dihadiahi banyak tawa di sana.


“Yasudah, jika sudah seperti ini, lebih baik potong habis saja ya? Karena tidak bisa diselamatkan lagi, Alan.” Albra kini mengingatkan anaknya agar mau dicukur habis rambut yang sudah tidak beraturan itu.


Alan menganggukan kepalanya. “Hiks, nanti aku diledek teman gimana?”


“Tidak, kamu tampan bagaimana pun juga, sayang. Kalau ke sekolah pakai topi saja, okay?”  Qyen menennagi anak itu, dan akhirnya rambut Alan di pangkas habis tak tersisa oleh Parell.


Ian tak hentinya meledek Alan yang sudah menjadi musuhnya itu. Gelak tawa pun tidak pernah selesai di sekitar mereka. Bagaimana bisa mereka tahan tertawa jika sosok Alan kini menjadi seperti sesosok tuyul. Dengan kepala plontos dan kulit sangat-sangat putih menjadikan sebuah humor di sore ini.


Tapi untungnya momen itu tak terjadi terlalu lama, karena permainan voli kaki mereka kini berlangsung. Alan tentunya ikut bergabung dalam permainan voli itu, bahkan ia satu tim dengan Parell, dan Ian bermain dengan tim salah satu penjaga yang ada di rumahnya. Permainan itu berlangsung di lapangan basket indoor yang ada di belakang rumah mereka.


Albra dan Qyen tentunya turut  hadir menyaksikan permainan itu.


“Sayang, tunggu sebentar ada telpon dari Papa,” ucap Albra sambil menunjukan ponselnya.


Qyen mengangguk. “Iya, aku tunggu di sini. Permainannya seru.” Mata Qyen tak beralih dari permainan voli kaki yang sangat seru itu. Bahkan suara gelak tawa terdengar jika terjadi sesuatu yang lucu. Kesedihan Alan tentang rambutnya pun kini sudah sedikit dilupakan.


Untuk menerima telpon dari Frans, Albra pun sedikit menjauh dari keramaian, dan sampailah ia diluar lapangan dan mengangkat telpon itu.


“Iya, Pa.”


“Tentang cincin Qyen tiga bulan lalu. Saya baru menemui petunjuk jika ada nama perusahaan yang membelinya.”


“Nama perusahaan?”


“Iya, acara lelang kalung yang mirip dengan cincin itu akan di laksanakan minggu depan. Kamu mau Papa membelinya untuk mengetahui siapa yang membeli cincin itu?”


Albra terdiam sebentar, ia ingin mencari solusi tentang pencarian keluarga Qyen yang masih belum juga menemukan titik terang. Padahal sudah berbulan-bulan lamanya. “Papa tahu jika kalung itu mirip dengan cincin yang dipakai Qyen?”


“Iya, kalung itu dibuat oleh pengerajin yang sama. Bahkan warna berlian dan jumlah banyaknya pun sama. Papa kirimkan fotonya.”


Albra melihat gambar itu, ternyata kalung yang ia lihat sangat mirip dengan cincin yang dipakai Qyen. “Papa ikut saja acara itu. Biar saya yang biayai semua.”


“Papa akan hadir setelah urusan di sini selesai.”


“Dimana tempatnya, Pa?”


“Di salah satu resort di Barcelona.”


“Perjalanan yang jauh, biar saya saja yang pergi.”


“Tidak perlu, kamu pasti tidak tahu bagaimana cara mengetahui informasinya. Sudah, biar saya saja. Saya tutup.”


Telpon tertutup setelah Frans mematikannya. Albra menatap ponselnya yang memperlihatkan gambar kalung tersebut. Kalung mewah ini, pastinya akan dilelang dengan harga yang sangat-sangat fantastis. Untuk mempersiapkan hal itu, Albra menghubungi kender untuk mencairkan uangnya yang akan dipakai membeli barang tersebut.


Semoga saja, caranya ini bisa membantu Qyen mengetahui siapa orang tuanya. Kalaupun bukan dengan orang tuanya, setidaknya ia tahu siapa keluarga istrinya.