ALBRA

ALBRA
19. Sedikit Perhatian Albra



Ketengangan di dalam rumah Frans masih berlangsung. Setelah Alan ditemukan oleh Qyen di dalam kamar mandi, kini urusan Qyen dengan Frans belum selesai. Bukan ini yang Frans mau atas kedatangan Qyen, ia masih menyimpan dendam yang sangat besar kepada Qyen.


“Keluar, biarkan Alan bersama dengan dokternya,” ucap Frans.


Beberapa orang yang berjaga di dalam kamar Alan keluar dari tempat tersebut, dan kini tinggalah Albra, Frans, Qyen dan juga seorang dokter laki-laki yang tengah menangani Alan yang tidak sadarkan diri.


Qyen yang merasa urusannya sudah selesai, ia pun berjalan mundur dengan perlahan sebelum akhirnya pergi dari kamar Alan. Namun, belum saja Qyen menginjakkan kaki keluar, suara Albra terdengar menggema di ruangan ini.


“Mau kemana kamu, Qyen?” tanyanya dan langsung menghampiri Qyen.


“Aku harus pergi …” ucapnya.


Albra menggelengkan kepalanya. “Kamu bisa pergi kalau Alan sudah sadarkan diri,” jawab Albra.


“Ta—tapi,” ucap Qyen yang tak sengaja melihat tatapan Frans yang hampir membunuh dirinya.


Albra yang tahu situasi, tanpa melihat kearah ayahnya ia pun berbicara. “Bisa Papa tinggalkan kami? Biar saya yang mengurus semuanya.”


“Temui Papa nanti,” ucap Frans yang langsung pergi dari kamar Alan. Tak ingin membiarkan Albra hanya berdua dengan Qyen, Frans menyuruh Brian untuk selalu mengawasi mereka di dalam kamar Alan. Ia mempunyai rencana lain untuk bisa menyingkirkan Qyen, untuk saat ini keselamatan Alan lebih utama.


Setelah Frans pergi, dokter pun ikut dengan perginya Frans. Lalu tak lama Brian datang dan berdiam di dekat pintu masuk.


“Duduk, bagaimana bisa tangan kamu mengeluarkan darah seperti ini?” tanya Albra dan memberikan kotak obat kepada Qyen.


Qyen mengerutkan dahinya, apakah tangannya berdarah? Ia tidak sadar sama sekali. “Hm? Kok bisa?” tanyanya yang melihat kaus di lengan kirinya sudah ternodai oleh darah segar.


“Duduk, saya tidak mengulang ucapan saya lagi.”


Qyen yang diperintahkan dengan tegas seperti itu, ia pun langsung duduk di sebuah kursi yang Albra sediakan. Ia menggulung kaus tangannya yang panjang, dan melihat ada luka goresan yang tercetak cukup panjang di lengannya.


“Shhh …” ringis Qyen yang sekarang baru merasakan sakit yang perih di tangan kirinya itu.


“Panggil dokter,” ucap Albra yang langsung diangguki oleh Brian.


Dokter yang selalu berjaga di depan kamar, kini masuk kembali ke kamar Alan dan mengobati luka Qyen yang cukup dalam itu.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Albra yang tersadar dengan luka Qyen.


“Hm? Aku enggak sadar,” jawab Qyen, kini ia sedang menahan rasa sakit yang ada di tanganya.


“Pecicilan,” ucap Albra dengan singkat.


Qyen yang mendengar itu menatap sinis kearah Albra. Bagaimana bisa Albra mengatai Qyen dengan kata ‘pecicilan’ bahkan ia tidak tahu luka ini datang dari mana.


“Sepertinya luka ini berasal dari goresan besi, Tuan,” ucap dokter tersebut yang kini sudah selesai mengobati luka Qyen.


“Besi? Papa melakukan sesuatu kepada kamu?” tanya Albra yang kini menghampiri Qyen lebih dekat.


Qyen mengerutkan dahinya, mencoba berpikir tentang hal apa saja yang ia lakukan di rumah ini. ia pun menggelengkan kepalanya, Frans tidak menyakiti fisiknya, bahkan berjabat tangan pun mereka tidak.


“Bukan, Tuan enggak membuat sesuatu apapun. Mungkin tergores sesuatu, sudah tidak perlu dipikirkan, Pak Albra,” ingat Qyen.


Albra menggeleng. “Cek seluruh tempat, bagaimana bisa Qyen terluka seperti ini,” ucapnya kepada Brian dan diangguki olehnya.


Dokter sudah pergi, dua orang penjaga masuk dan memeriksa semua ruangan yang sudah di lewati oleh Qyen tadi, tak lupa mereka pun mengecek toilet.


“Pak, aku baik-baik aja, kamu enggak perlu berlebihan seperti—“


“Syut, saya tidak butuh komentar kamu,” jawab Albra yang kini duduk di pinggir tempat tidur Alan dan menghadap kearah Qyen.


“Tuan, sepertinya luka itu berasal dari goresan saluran air di sekitar bath up, karena tertinggal noda darah di sana,” ucap Brian yang mengakhiri misinya.


Mendengar itu, Albra menatap tajam kearah Qyen. “Kamu tidak merasa ketika menggendong Alan tadi?” tanyanya.


Qyen menggeleng. Jangankan merasakan tangannya terluka, Qyen pun tidak merasakan dirinya bernapas tadi karena refleks tubuhnya yang mengharuskan menyelamatkan Alan di sana.


“Aku merasa baik-baik aja, ketika menggendong Alan. Gimana bisa kamu ngeliat anak kecil yang sudah pucat di dalam bath up, kamu diamkan?”


Albra mengangguk. “Terimakasih sudah menyelamatkan Alan kembali.”


Qyen menundukkan wajahnya. “Aku tulus untuk membantu Alan. Bapak tidak perlu salah sangka jika menganggap aku menginginkan imbalan dari Bapak,” ucap Qyen dengan memberanikan diri.


Albra yang tidak mengerti maksud Qyen ia pun mengerutkan dahinya. “Maksud kamu?”


“Tidak, yang penting kamu sudah tau niat tulus aku membantu Alan.”


“Terimakasih, Qyen ….”


Sontak keduanya melihat kearah sumber suara, di sana Alan sudah membuka matanya sambil tersenyum lebar kepada Qyen.


Albra menghampiri Alan, dan memberikan kecupan hangat di dahi anaknya. “Anak Papa baik-baik saja?” tanyanya dengan lembut.


Alan mengangguk, ia  menyuruh Albra untuk mendekatkan wajahnya dan  membalas kecupan di pipi Albra dengan hangat. “Thank you, Papa,” kata Alan yang juga terseyum manis.


Albra tersenyum tulus sambil mengusap rambut anak kecil berusia 4 tahun itu. “Kalau sakit bilang Papa, Papa selalu ada di sini.”


Percakapan hangat antara ayah tunggal dan anak kecil itu terdengar merdu di telinga Qyen, bahkan Qyen tidak sadar tersenyum  melihat kehangatan mereka berdua. Qyen bisa melihat jika Albra mencoba untuk menjadi ayah sekaligus seorang ibu untuk Alan. Albra yang memiliki sifat datar dan dingin, kini semua itu luluh ketika berhadapan dengan anak sematawayangnya.


“Qyen? Bagaimana bisa kamu ada di sini?” tanya Alan yang kembali tersadar dengan kehadiran Qyen.


Qyen tersenyum.”Aku tidak sengaja ke sini, Alan. Keadaan kamu sudah membaik?”


Alan mengangguk sambil tersenyum. “Ya, aku baik-baik saja, Qyen.”


“Kamu suka berdiam di dalam bath up?” tanya Qyen dengan lembut kepada Alan.


“Yah … Qyen, ketauan deh …” jawab Alan dengan lesu.


Qyen tersenyum, ia berdiri dari duduknya dan sedikit mendekat kearah Alan, Albra pun memberikan sedikit ruang untuk Qyen dan Alan.


“Lain kali, kalau kamu mau bersembunyi, kasih tau aku ya, biar aku bisa cari kamu. Okey?” ucap Qyen dengan nada ceria andalannya.


Alan yang merasa ada seseorang yang memihaknya, ia pun mengangguk dengan senang. “Okay, Qyen!”


Mereka pun tertawa bersamaan, Brian yang melihat aksi kedekatan antara Qyen dengan Alan pun ia rekam dengan menggunakan ponselnya. Ini semua akan menjadi bukti untuk bisa ia sampaikan kepada Frans.


Ketukan di pintu kamar Alan berbunyi, kini datang seorang laki-laki menggunakan jas hitam dan juga kacamata hitam datang langsung menghampiri Albra tanpa memberikan hormat kepada Brian.


“Tuan, anda tidak bisa berlama-lama dengan wanita itu. Tuan besar sudah memiliki rencana besar untuk menyingkirkannya,” ucap laki-laki tersebut sambil berbisik.


Albra sudah mengerti ia pun memberikan kode untuk sekertarisnya bisa berjaga di sini dan mengawasi kegiatan Qyen dan Alan, Albra sedikit tidak percaya dengan Brian yang menemani mereka di sini.


Tanpa mengucapkan apapun, Albra pergi dari kamar Alan dan ketika bertemu dengan Brian, ia pun mengucapkan sesuatu di sana. “Ponselmu sebentar lagi akan meledak,” ucap Albra sambil tersenyum misterius kepada Brian, sebelum akhirnya ia pergi dari sana.


“Papamu pergi kemana, Alan?” tanya Qyen yang melihat punggung tengap Albra menghilang dibalik pintu.


Alan mengangkat bahunya. “Papa memang suka tiba-tiba hilang, and I don’t care,” ucapnya sambil tertawa.