ALBRA

ALBRA
66. Alan menghilang



Hari ini adalah hari ke lima trip keluarga Max di Jepang. Di hari ke lima ini juga, mereka sudah menginjakan kaki mereka di Tokyo, setelah terbang dari Osaka selama kurang lebih satu setengah jam.


Kali ini tempat penginapan mereka bukan lagi vila, melainkan hotel. Tentu saja hotel yang Albra pesan sangat-sangatlah mewah, sudah mirip seperti penthouse-nya di Bali.


Seperti biasa, selesai dari perjalanan Qyen hanya bisa beristirahat. Berjalan-jalan dengan membawa nyawa lain di dalam tubuhnya membuat Qyen merasa cepat lelah.


Alan datang dari arah dapur, dan memberikan Qyen satu kotak susu kemasan. “Untuk Qyen,” ucapnya dan duduk di sebelah Qyen.


“Thank you, sir.”


“Kamu sudah lapar?”


Alan menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku sudah banyak makan coklat di pesawat tadi.” Bisik Alan sambil menyegir dengan memperlihatkan gigi ompongnya.


Di sebrang mereka, ada Albra dan Ian yang tengah sibuk dengan laptop mereka masing-masing, wajah dari mereka tampak sangat serius. Qyen tidak tahu ada hal apa yang terjadi, biasanya Albra akan memeriksa pekerjaannya hanya melalui tab, tapi kali ini ia menyuruh Ian untuk juga membuka laptopnya.


“Qyen, Papa sama Ian serius banget sih. Aku selalu kesal melihat mereka.”


Benar memang kata Alan, jika Albra dan Ian sudah mengurusi pekerjaan, matanya tidak akan beralih untuk melirik hal lain, bahkan sepertinya jika ada gempa pun mereka pantang bangkit, jika pekerjaan pentingnya belum terselesaikan.


“Biarlah mereka sibuk dengan dunia mereka, bagaimana kalau kita lihat pemandangan di dalam kamar?”


Alan mengangguk, mereka pun bergandengan tangan untuk pergi ke kamar utama karena ada kaca yang sangat-sangat besar di sana, dan memperhatikan pemandangan jalanan di daerah Shinjuku yang ramai, juga terlihat salju yang tipis-tipis berterbangan.


Mereka duduk di sebuah sofa, melihat orang-orang kecil bagai miniatur sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Sepertinya mayoritas dari mereka baru selesai pulang bekerja.


“Kenapa kamu ingin pergi berlibur ke Jepang?” tanya Qyen memulai obrolan mereka.


“Karena aku suka, banyak mainan,” jawab anak kecil polos itu.


Qyen terkekeh mendengar jawaban Alan. “Qyen, sepertinya toko donat itu sangat enak.” Alan menunjuk sebuah toko donat yang saat ini dikunjungi banyak sekali orang yang mengantri. “Gimana kalau kita turun dan membeli donat? Aku ingin sekali …” Keinginan Alan berubah menjadi sebuah rengekan saat ini.


“Kamu mau? Kita tunggu Papa terlebih dahulu ya, kamu bisa turun dengan Papa.” Bukannya Qyen menolak ajakan dari Alan, hanya saja ia tidak mau terjadi apa-apa dengan mereka nanti. Negara ini baru pertama kali Qyen kunjungi, udara di luar sudah minus derajat, dan ditambah banyak sekali orang berlalu lalang, Qyen tidak ingin mengambil resiko yang sangat besar nantinya.


“Qyen … Ayolah, aku ingin sekali donat itu sekarang.”


“Hm … Bagaimana kalau kita memesannya di hotel?”


Alan menggeleng dan menunduk lesu, sepertinya usahanya sia-sia membujuk Qyen untuk membeli donat bersamanya.


Hatinya tidak tega melihat Alan yang kini lesu, dan terus memperhatikan toko donat itu, akhirnya Qyen pun mengiyakan dan mengajak Alan untuk keluar membeli donat.


Mereka sudah siap dengan padding jacket-nya masing-masing, tak lupa sepatu boots juga. “Kak, Alan ngajak keluar. Boleh?”


Albra melirik sekilas kearah Qyen, ia tidak sadar jika istrinya memakai jaket padding. “Iya, tidak lama-lama. Hati-hati.”


Qyen mengangguk, dan menuntun Alan untuk keluar dari kamar mereka.



Menyatu dalam keramaian di jalanan Shinjuku, kaki mereka pun melangkah menuju toko donat yang saat ini antriannya semakin banyak. Mereka perlu menyebrangi setidaknya dua jalan raya.


“Wow, aku suka sekali suasana di sini,” ucap Alan yang mulutnya sedikit tertutup oleh padding-nya.


“Kamu suka? Tapi sepertinya jika kita keluar dengan Papa lebih seru.” Qyen masih merasakan takut jika pergi hanya berdua dengan Alan. Walaupun ia bisa sedikit berbahasa inggris, dan Alan pun sama, tapi hal itu tidak bisa menjamin apapun nanti, apalagi kini perasaannya mulai tidak enak.


Lampu hijau bergambar manusia pun terlihat, mereka mulai berjalan menyebrangi jalanan bersama dengan beratus-ratus orang yang sedang menyebrangi jalanan juga.


“Qyen, kamu tidak membawa ponsel?”


“Ah! Ponsel, aku lupa. Aku hanya membawa kartu saja. Kenapa memangnya?”


“Hm, aku ingin di foto.” Jiwa narsis Alan masih membuncah.


“Maaf, sayang. Aku lupa membawanya.”


Alan mengayunkan tangan Qyen yang menggenggamnya. “Tidak apa-apa, terimakasih sudah mau menemaniku membeli donat.”


Sesampainya di depan toko tersebut, mereka mengantri untuk bisa memesan pesanan mereka. Namun karena antriannya yang sangat panjang, satu orang pelayan menghampiri Qyen, dan menanyakan donat apa yang mereka beli.


“Kamu mau yang mana?”


“Em, pesan menu box ini dan ini.” Dengan tunjukan tangan Alan, pelayan itupun mengangguk, dan kini tugas mereka hanya menunggu donat itu datang ditangan mereka.


Tidak ada yang berbicara di sini, Qyen sibuk menggoyangkan kakinya karena merasa kedinginan, matanya pun memperhatikan sekitar memikirkan jalanan mana yang harus membawa pulang mereka nanti dan tangannya kini terlepas dari tangan Alan, untuk membuka hot packnya.


Kegiatan yang Qyen lakukan itu berangsur 5 menit lamanya, sampai seorang pelayan memberikan pesanan kepada Qyen, dan Qyen terima setelah pembayaran yang ia lakukan.


“Sayang donatnya sudah ….”


“Alan?” Qyen memutar tubuhnya untuk mencari keberadaan Alan.


“Alan?” Panggil Qyen lagi. Sungguh Qyen saat ini benar-benar ketakutan.


“Ini gak lucu, Alan. Keluar, sayang. Jangan bersembunyi.” Qyen berbicara cukup kerasa sampai orang-orang yang ada di sekitar mereka memperhatikan.


Qyen sangat bodoh melepaskan tangannya dari genggaman Alan tadi, bahkan ia kira Alan menunggu donatnya yang tak butuh waktu lama untuk sampai. Tapi kemana anak itu? Di jalanan dengan hiruk pikuk manusia berkelana, Qyen mencari cara untuk bisa melihat Alan dan menemukan anak kecil itu di sana.


“Excuse me, do you see my child?” Qyen tidak ingin merasa ketakutan sendiri, ia mencari dan bertanya-tanya kepada orang yang ada di sebelahnya apakah ia melihat anaknya tadi. Namun memang pada dasarnya orang-orang di sana tidak peduli, mereka pun tidak menjawab bahkan tidak meladeni pertanyaan Qyen itu.


“Argh, Alan …”


Qyen pergi kearah kiri toko, yang di sana juga terdapat persimpangan yang sangat ramai orang. Qyen takut, sangat-sangat takut kali ini. Ia meraba-raba jaketnya untuk mencari ponselnya dan menghubungi Albra. “Bodoh, Qyen bodoh! Kamu gak bawa hp!” kesalnya kepada diri sendiri.


Qyen berjalan cepat, dan masih membawa paper bag yang berisi donat di tangan kanannya, dengan wajah kebingungan ia pun mencoba mencari Alan diantara ratusan bahkan ribuan orang yang melewatinya.


Mata Qyen sudah memanas dan kebingungan, bahkan kini ia sudah jauh dari hotelnya.


Qyen kembali ketoko tadi, memutari mencari Alan ke sebalah kanan jalan, namun nihil, Alan masih tetap tidak ada. Langit sudah berganti menjadi hitam, padahal saat ini jam masih menunjukan pukul 5 sore.


Qyen yang ketakutan dan kehilangan arah, ia hanya bisa bersandar di sebuah tiang listrik yang berada di sebuah gang kecil mendudukan dirinya karena tidak tahu harus berbuat apa.


“Alan … Kamu ingin donatkan? Ini sudah aku belikan …” Air matanya pun luruh, Qyen menangis di tengah-tengah ketakutannya. Bahkan ia tidak tahu jika dirinya sekarang berada di mana.


….


Sedangkan di sisi lain, Albra yang baru saja selesai menyelesaikan kendala data bocor yang ada di perusahaannya, ia pun menghela napasnya panjang. Hal itu sama seperti yang ia lakukan. Keduanya bahkan tidak sadar jika langit sudah menghitam.


“Jam setengah enam. Bukannya tadi Qyen pamit dua jam lalu? Kok gak balik lagi?” Ian sadar akan hal itu karena ia mendengar dan melihat Qyen juga Alan keluar dari kamar hotel menggunakan padding mereka masing-masing.


Albra baru tersadar, dengan santai ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Qyen. Namun ini sudah telpon ke lima dan Qyen tidak menjawabnya.


“Qyen gak angkat telpon,” ucap Albra.


Ian yang sedang berada di dapur mengambil minum pun berbicara, “hp Qyen di sini. Dia gak bawa hp.”


Ian menunjukan ponsel Qyen. Melihat hal itu hatinya sangat tak karuan, kemana perginya Qyen dan tidak membawa ponselnya. Albra mengambil outernya, dan berlari keluar.


“Qyen pergi kemana? Bukannya dia cuma ke restoran bawah?”


Ian ikut menyusul. “Kalau cuma ke restoran hotel, dia gak akan pakai padding dan sepatu boots.”


“Shit!” Albra tidak menyadari akan hal itu.


Albra dan Ian berlari setelah keluar dari lift, mereka bersatu dengan jalanan yang dipenuhi manusia. Bagaimana mereka bisa menemukan Qyen jika seperti ini caranya.


“Qyen dan Alan sepertinya menghilang. Mereka pergi sekitar pukul tiga tadi, tapi mengapa mereka belum juga kembali?”  Ian terkadang kesal dengan Albra yang selalu menyepelekan tentang hal seperti ini. Ia pun sama khawatirnya, apalagi suhu di sini sedang sangat dingin-dinginnya.


“Albra, Lo cari di sekitar jalanan ini. Gue cari di jalanan depan sana. Hp Lo stand by. Gue udah lapor polisi.”


Albra mengangguk. Ia menuruti perintah Ian, yang sudah terbiasa mengurusi hal ini. Ian punya sedikit kuasa di daerah ini karena memiliki beberapa bisnisnya di sini.


Albra berlari mencari Qyen dan juga anaknya yang sepertinya kehilangan arah untuk pulang. “Qyen, Alan … Kenapa saya selalu kecolongan dengan hal sepele seperti ini.” Albra terus berlari, bahkan ia tidak menghiraukan berapa banyak ornag yang tertabrak oleh bahunya.


Sedangkan Ian yang berada di sebrang jalan sana, itu pun ikut berlari, mencari kakak iparnya dan juga keponakannya. Walaupun Alan menyebalkan, jika ia tahu Alan hilang seperti ini, Ian pun tidak akan tinggal diam saja.


“Alan! Nyebelin banget sih Lo jadi bocah! Kemana lagi perginya.” Kesal Ian.


Setelah pencarian kurang lebih 30 menit oleh Albra dan Ian, kini mereka sudah kembali bersama untuk mencari Qyen dan Alan. Ponsel Ian berdering, dan polisi menelponya.


Ian mengangkat telpon itu menggunakan bahasa Jepang dan Albra mengerti tentang apa yang dibicarakna oleh Ian.


“Qyen! Ada di gang dekat toko itu,” ucapnya dan mereka pun berlari sekuat tenaga.


“Qyen …” Ia merasa sangat ingin marah saat ini, namun sepertinya tidak bisa. Ia harus mencari istri dan anaknya terlebih dahulu.


Sampai mereka berhenti, dan sudah melihat ada mobil ambulan di sana. “Qyen!” Albra berteriak, dan langsung menghampiri mobil ambulan itu.


Napasnya melega ketika Qyen sedang duduk sambil menangis dan memeluk sebuah paper bag. Albra sangat lega melihat istrinya masih bernapas. Namun, kemana Alan? Kemana perginya anak itu?


“Kak …”


“Sayang.” Albra masuk ke dalam ambulan dan memeluk Qyen yang badannya sangat dingin dengan wajah pucat pasi.


“A—alan … Hiks … Alan hilang, Kak ….”