
Keadaan ruang bioskop mini kini menjadi sunyi, karena Albra yang mematikan volume audio film yang Ian sedang ditayangkan. Sebelum meghampiri adik tirinya, Albra menutup pintu besar tersebut. Lalu ia pun duduk bersebelahan dengan Ian.
Dalam waktu beberapa menit saja, sepertinya Ian sudah menghabiskan beberapa botol minuman keras, ia bisa melihat jika wajah Ian lusuh dan mabuk.
“Kenapa di sini?” Albra membuka suaranya, ia berbicara sambil menatap Ian yang berada di sebelah kanannya.
Tak mendapat respon jawaban apapun dari Ian, kini Albra ikut menatap layar yang memperhatikan sebuah film action. Albra tidak tahu film apa itu, sebab jika di lihat sepertinya itu film lama.
“Lo tau, siapa dia?”
Tangan Ian menunjuk kearah layar ketika pemeran utama wanita sedang beraksi. Albra bisa melihat dengan jelas wajah khas orang luar yang mengidentitaskan wanita itu. Namun Albra tidak mengenali siapa dia.
Albra menggelengkan kepalanya, tentu saja ia tidak tahu siapa wanita yang ada di layar lebar tersebut.
“Dia ibu kandung Gue,” gumam Ian yang masih bisa Albra dengar.
Melihat cantiknya wajah aktris itu, Albra tidak menyangka jika Frans pernah memiliki hubungan dengannya. Apakah benar wanita itu adalah ibu kandung Ian? Albra memang tidak pernah tahu, karena ia berjumpa dengan Ian setelah mereka sama-sama tumbuh besar.
“Lo tau, Albra? Papa dari dulu pilih kasih sama Lo. Kalau Lo pikir Gue deket sama Papa, itu salah. Lo yang selalu jadi hal utama buat Papa.”
Ian memperhatikan wajah Albra dengan mata merahnya akibat minuman keras yang ia konsumsi. Bahkan bau alkohol pun tercium dari mulut Ian, padahal jarak mereka cukup jauh.
Merasa empati dengan kondisi Ian, Albra menuangkan alkohol kedalam gelasnya, dan meminumnya. Baru kali ini, Albra mendengarkan ucapan serius dari Ian yang membicarakan orang tuanya, karena selama ini Albra tutup mata tentang hal itu. Ia tidak mencari tahu bahkan tidak peduli.
Untung saja Qyen memberikan saran seperti ini kepada Albra, Albra jadi tahu tentang beberapa kisah keluarganya yang belum sempat ia ketahui.
Ian menuangkan kembali minuman beralkohol ke dalam gelas mereka masing-masing. “Stop, kamu mabuk,” ingat Albra.
Namun Ian menghempas tangan Albra, untuk tidak menghalangi dirinya meminum minuman keras tersebut. Ian mengangkat gelasnya, dan Albra menyambut akan hal itu, denting dari kedua gelas itu pun terdengar dan keduanya menikmati aliran minuman yang membakar tenggorokan mereka.
“Lo taukan? Gue gak akan bisa mabuk,” ucap Ian kepada Albra.
Albra mengaku jika Ian sangat kuat dengan minuman beralkohol, entah mengapa tapi dibanding dengan Ian, Albra bukan apa-apa.
“Gue masih sadar, Lo ngapain di sini?” Suara Ian berubah menjadi serius, bahkan aura kedewasaan Ian terpancar.
Ian yang kini Albra lihat bukanlah Ian yang selalu banyak berbicara dan bercanda, tapi kini ia bisa melihat keseriusan diwajah adik tirinya.
“Siapa nama ibu kamu? Kenapa kamu memilih tinggal di sini?”
Suara tawa mengejek terdengar di telinga Albra, siapa lagi pelakunya jika bukan Ian. “Frans punya segalanya. Papa udah beli Gue dari ibu Gue sendiri, dan hal itu terjadi di depan mata Gue.”
“Melyn, orang panggil wanita itu Melyn.”
Mereka sama-sama diam ketika melihat pemeran utama di film tersebut menari-nari dengan seorang laki-laki dan sangat lincah. Mereka menatap hal yang sama, namun pikiran mereka berbeda.
Ketika melihat hal itu, banyak sekali rasa yang bercampur aduk di relung hati Ian. Antara rindu, kesal, marah, rasa ingin berjumpa dan rasa itu membuncah ketika ia merasa kesepian seperti ini. Sedangkan Albra, berpikir tentang bagaimana caranya Frans bisa memilih Melyn untuk mengandung benihnya. Terlebih lagi, Albra merasa iri dengan Ian karena Ian bisa diberi kesempatan untuk hidup dengan ibunya, tapi tidak dengan dirinya.
Mereka diam sampai suara Ian kembali terdengar. “Kabarnya ibu Gue udah mati lima tahun lalu akibat kecelakaan pesawat.”
Albra terkejut mendengar hal itu, ia melihat ekspresi Ian yang datar-datar saja tak menunjukan kesedihan di sana. “Kenapa kamu tidak menemuinya?”
“Lo pikir lima tahun yang lalu Gue masih jadi apa?”
“Kamu bisa minta bantuan saya?”
“Bantuan Lo? Haha … Bahkan Gue masih inget, gimana rasa benci Lo terhadap Gue. Buat papasan dirumah aja, kayaknya Lo yang pilih buat gak pulang ke rumah.”
Terdiam, Albra tidak bisa menyalahkan Ian tentang hal itu. Semuanya memang benar, Albra memang sempat membenci Ian karena ketidaksukaannya terhadap kehadiran Ian di hidupnya yang tiba-tiba.
“Saya gak bisa berbohong jika saya memang benci kehdarian kamu pada saat itu. Papa yang tiba-tiba saja membawa seorang anak remaja laki-laki dan berbicara kepada saya bahwa kamu adalah adik saya. Kamu pikir saya tidak terkejut?”
“Udahlah, Lo pergi aja. Gue lagi mau sendiri.”
“Saya mau minta maaf.”
Wajah Albra berubah menjadi serius. “Saya serius, Ian. Saya juga minta maaf atas nama Papa.”
Ekspresi Ian kembali serius, ia hanya bisa menganggukan kepalanya. Begitu banyak rasa sakit yang ia tanggung sejak remaja, dan ketika menghadapi hal seperti ini, hatinya sudah mati rasa.
“Papa masih membutuhkan kita—“
“Yakin? Papa membutuhkan kita atau memperbudak kita? Albra denger, dari dulu Gue itu anak yang gak diharapkan oleh Papa. Gue lahir atas kesalahan mereka berdua malam itu, gak seperti Lo yang memang diharapkan kehadirannya.”
“Jadi, Lo gak perlu mengeluarkan kata-kata baik Lo buat nenangin Gue. Hati Gue udah mati.”
“Bahkan Papa hancurin hubungan Gue dengan Savana. Dia tau kalau Gue pacaran sama Savana, dan Papa hancurin karir Savana. Lo pasti tau betapa hancurnya Gue sekarang.”
Rasa itu menyebar dan membuat Albra merasakan perasaan yang sama. Ian sudah membantu dirinya menjaga Qyen dan Alan, Ian juga yang sudah membantunya menyatukan hubungan dirinya dengan Qyen, tapi mengapa Albra tidak bisa mmebantu Ian. Sungguh, Albra merasa jahat di sini.
“Lo gak taukan?”
Albra menggelengkan kepalanya. Jelas saja ia tidak tahu tentang perbuatan apa yang Frans lakukan.
“Lalu bagaimana dengan perempuan itu?”
“Udah Gue balikin ke semula, dan hubungan Gue kandas. Gue udah menaruh hati buat dia, tapi Papa yang jadi penghalang di hubungan Gue. Keadaan di dalam hidup Gue memang gak pernah adil.”
Albra menepuk bahu Ian, menyalurkan semua kekuatan yang ia punya. Bagaimana pun, Ian adalah adiknya, dan Albra yang berperan sebagai orang dewasa di sini, harus bisa menenangkan hal itu.
Bagaimana bisa Ian menutupi rasa sakit hatinya dengan wajah ceria yang ia tunjukan sehari-hari? Bahkan jika tau kejadian seperti ini menimpa Ian kemarin, Albra pasti akan membantunya.
“Saya akan membantu kamu untuk bertemu dengan Savana kembali.”
Ian menggelengkan kepalanya. Sudah terlambat jika ia harus kembali memiliki hubungan dengan wanita lain. Hatinya sudah tidak bisa dihidupkan kembali. Ian tidak butuh siapa-siapa, karena rumah yang ia punya adalah dirinya sendiri.
“Gak perlu, Savana udah terlalu hancur buat hidup sama Gue. Gue gak mau hancurin hidup orang lagi.”
“Tidak, saya bisa buat Savana kembali bersama kamu.” Albra membuat tekad di dalam dirinya untuk kembali membuat Ian merasa berharga, Albra akan membantu untuk menyatukan kembali hubungan mereka. Sepertinya Albra harus pergi ke Amerika dan bertemu dengan Savana.
“Lo tau, Albra? Kenapa hari ini Gue bisa ngomong selancang itu di depan Papa?”
“Karena Gue merasa hidup yang Gue jalani semakin hampa. Kekayaan yang Gue kuasai, gak menjamin buat Gue bahagia. Gue kecewa sama Papa, andai waktu bisa kembali, satu hal yang mau Gue perbaiki di dalam hidup Gue … Gue gak mau bertemu dengan Papa.”
Ian memutar-mutar gelasnya, kepalanya kini mulai merasakan pusing, sepertinya ia sudah mulai sedikit mabuk.
“Papa peduli dengan kamu. Papa bukan tidak menganggap kamu, melainkan Papa masih menganggap kamu sebagai anak kecil, maka dari itu Papa selalu berbicara hal serius kepada saya.”
“Anak kecil Lo bilang? Lo gak tau segede apa badan Gue?” Ian sedikit tersulut emosi.
“Umur Gue bulan depan udah dua puluh lima tahun. Anak kecil mata Lo. Bahkan diumur Gue yang sekarang Gue bisa bikin anak lima!” ucap Ian dengan kesal.
Sebenarnya Albra ingin tertawa mendengar hal itu, sudut bibirnya pun terangkat, membentuk sedikit senyum yang menahan tawa. “Kamu pernah mendengar kalimat seperti ini? ‘Sedewasa apapun anak, dimata orang tua mereka hanyalah anak kecil’ apalagi posisinya saya terlebih dahulu lahir dibanding kamu.”
“Iya, itu pendapat orang tua yang normal. Lo pikir Papa normal? Gak! Papa itu orang tua yang aneh. Gak mungkin dia berpikir sama dengan hal itu. Intinya dia memang gak pernah anggap Gue ada.”
“Kamu gak akan pernah tau apa isi hati Papa sebenarnya. Dulu ketika kamu jatuh dari motor Papa orang pertama yang khawatir pergi dari kantor dan membatalkan semua rapat penting di hari itu. Padahal kamu gak kenapa-napa.”
Pikiran Ian kembali memutar kejadian beberapa tahun yang lalu, ketika ia ingin sekali bisa mengendarai motor, dan memang benar, setelah kejadian itu Frans selalu possessive kepadanya. Jika berlatih motor, Ian selalu dijaga oleh beberapa bodyguard yang diperintahkan oleh Frans.
“Lalu, ketika helikopter yang kamu naiki hilang radar? Papa memarahi semua pegawai atas kelalaian hal itu, dan berakhir dia menangis dalam diam. Saya melihat dan menyaksikan semuanya.”
“Masih banyak kejadian tentang kamu, dan pedulinya Papa terhadap kamu.”
“Mulai sekarang, kamu gak perlu berpikir jika Papa tidak peduli dengan kamu. Papa memang orang jahat dan keras di mata orang lain. Tapi Papa di mata kita, dia hanyalah seorang ayah, Ian.”
Pembicaraan serius yang mengarah ke dalam curhatan hati itu berlanjut sampai pukul 2 dini hari. Ian dan Albra sama-sama mabuk, dan kembali ke kamar mereka masing-masing.
Banyak sekali hal yang sudah mereka obrolkan hari ini. Albra hanya memiliki satu harapan saat ini, semoga keluarganya menjadi keluarga harmonis dan hangat. Tidak ada lagi rasa dingin, dan kaku di dalamnya. Albra sangat mengharapkan hal itu.