ALBRA

ALBRA
33. Flashback



Jeruji besi kini menjadi rumah bagi Fin yang sedang terdiam sendiri dengan tatapan datar yang membunuh. Banyak sekali dendam yang ada dihatinya saat ini. Tentang kabar perusahaan Max Company yang membeli hampir 70 persen sahamnya, dan tentang hilangnya Qyen semalam yang hampir saja menjadi miliknya.


“Arghhhh!!!”


Jeruji besi itu juga kini menjadi sasaran amukannya ketika semua hal yang ia inginkan tidak dapat tercapai. “Lihat saja nanti, Qyen wanita lama yang sudah saya incar, gak akan bisa jatuh ketangan dia,” gumamnya dengan tangan terkepal.


Fin saat ini masih berada dikantor polisi atas penangkapan semalam. Fin bisa saja keluar dari kantor polisi dengan mudah, namun untuk hal ini prosesnya dipersulit karena Albra yang mengatur semua ini. Rasa kesal, marah dan sakit masih menggerogoti dirinya, untuk saat ini dendam hatinya kepada Qyen dan Albra semakin besar.


“Tuan, maafkan saya tidak bisa membawa ….”


“Stop! Cepat keluarkan saya dengan cara apapun saat ini juga!” teriak Fin kepada sekertaris perempuannya yang tengah menunduk.


“Satu-satunya jalan agar anda bisa keluar dari tempat ini adalah Tuan Ghazi.”


Fin terdiam, mendengar nama ayahnya disebutkan ia pun berdecih. Sudah lama hubungannya tidak dekat dengan sang ayah, hampir 5 tahun karena kejadian yang menimpa adik tersayangnya, Mey Becca Ghazi.


“Nona Mey saat ini sedang berada di London, Nona sudah berpindah sejak dua bulan yang lalu dari Swiss,” lapornya.


“Ya, jangan sampai Mey pulang.”


“Tidak tahu saja dia, dia pun melakukan hal yang sama kepada adikku, sampai menghasilkan darah dagingnya sendiri!”



Flashback


5 tahun yang lalu ….


Disebuah resort mewah, Mey Becca Ghazi tengah terduduk anggun, menunggu seseorang yang katanya akan bertemu dirinya, seorang pengusaha yang sekaligus musuh dari ayahnya, Adule Frans Max. Tidak ada maksud apapun dirinya untuk bertemu Frans, hanya saja ia memiliki satu janji yang tidak bisa ia ingkari karena kebaikan Frans dulu, yang sudah menjadikan dirinya pengusaha hebat, karena Frans dulu adalah seorang pengajar bisnis yang terkenal dikalangan pebisnis.


Frans berhasil mengajarkan Mey sampai sukses, dan Mey yang merasa dirinya berhutang budi kepada Frans, ia pun menjanjikan sesuatu kepada Frans satu permintaan apapun yang bisa Mey lakukan. Tentunya, tanpa sepengetahuan Ghazi dan Fin tentunya.


“Mey Becca, apa kabar?” sapa seorang lelaki yang sudah berumur namun masih terlihat muda karena hidupnya bergelimang harta.


Dengan senyum ramah dan berwibawa, Mey bangun dari duduknya dan menyambut jabatan tangan Frans. “I’m Fine, Mr. Bagaimana bisa kamu selalu terlihat tampan setiap harinya,” puji Mey yang membuat keduanya tertawa bersama.


Mereka mengobrol, menghabiskan waktu berpuluh-puluh menit hanya untuk membahas bisnis mereka. Sampai tiba waktunya Frans meminta satu permintaan kepada Mey. “Saya ingin menggunakan kesempatan tentang janji kamu yang lalu …”


“Sure, apapun akan saya coba kabulkan.”


“Jadilah ibu kandung dari cucu saya. Saya ingin memiliki cucu dengan kualitas keturunan yang baik seperti kamu. Apakah kamu bersedia?”


Mey terdiam sejenak, bukan karena apa. Ia sangat kenal dengan Albra, anak dari gurunya tersebut. Namun Albra pastinya tidak kenal dengan dirinya, mereka pun tidak pernah bertemu bahkan saling sapa. “Se—sebentar … maksudnya bagaimana, Mr? Apa yang harus saya lakukan? Seperti yang anda tahu, saya hanya seorang janda bahkan baru beberapa bulan yang lalu.”


“Hm … tugasmu hanya mengandung cucu saya, setelah itu tugas yang menjadi bagian janji kamu selesai.”


Melihat wajah Frans yang berwibawa dan serius, membuat Mey harus menghormati laki-laki ini. Ia tidak bisa menolak, dan ia tidak bisa memiliki pilihan lain karena itu adalah hutang dan itu adalah janjinya.


“Sepertinya saya harus mendiskusikan ini de ….”


“Tidak perlu, setelah saya berhasil membuat kamu tidur bersama dengan anak saya, kamu akan pergi kesebuah pulau yang sudah saya persiapkan. Hanya butuh waktu Sembilan bulan untuk kamu bersembunyi dengan keadaan hamil. Tunjangan untukmu dalam jumlah uang berpuluh-puluh milyar sudah saya siapkan. Untuk sisanya, biar saya yang urus ….”


Mey shok bukan main mendengar penjelasan gila dari guru yang sangat ia hormati tersebut. “Tapi, Mr.”


“Saya tidak akan memaksa, kamu cukup tolak pem ….”


“Oke, saya akan terima. Kapan saya bisa bertemu dengan anak anda?”


Suaranya yang bergetar bisa ia tutupi dengan senyum palsu yang ia buat.


“Malam ini, tempatnya sudah saya kirimkan. Saya pergi dulu, untuk urusan sisanya, sekertaris saya akan datang dan kamu bisa menandatangani kontrak yang ada.”


Selepas mengucapkan kalimat yang sedikit menyesakkan hati Mey, Frans pergi dan menjauh dari pandangan Mey yang sudah kosong. Sampai ….


“Hey! Adik cantik kok diem aja?” Fin tiba-tiba datang dan langsung merangkul bahu adiknya dengan mesra.


“Hai, Kak … kamu kok tiba-tiba ada disini?” tanya Mey sambil melihat laki-laki yang lebih tua 2 tahun darinya.


“Hm … aku ngawasin kamu sejak tadi. Ada apa dengan Frans?”


“Hm? Tidak ada apa-apa.”


“Yakin?”


Keduanya bermanja dan saling tertawa, padahal dibalik itu semua Fin tahu tentang obrolan apa yang sudah adiknya bicarakan dengan Frans. Fin menyangka jika itu adalah ulah dari sang ayah yang selalu menjodohkan Mey dengan laki-laki yang bahkan Mey tidak kenali. Hal itulah yang membuat Fin marah dan membenci Ghazi. Fin tidak menyadari jika dirinya salah, namun ia sudah terlanjur membenci ayahnya.


Malam tiba-tiba datang, Mey kini sedang melayani Albra yang sedang berada dibawah pengaruh alkohol dan obat perangsang. Mereka pun menyatu dimalam itu, dan setelahnya Mey pun mengandung anak Albra, atau yang bisa kita kenal dengan anak pintar dan jago berbicara, siapalagi kalau bukan Alan.


Bukan hal mudah bagi Mey melahirkan Alan kedunia ini, masih banyak konflik yang terjadi, yang belum terselesaikan antara dirinya, Albra, ayahnya, Fin dan tentunya Frans.


Flashback off



Senja terlihat sangat cantik dari jendela besar kantor Albra. Saat ini dirinya sedang memeriksa proyek baru tentang pembuatan pabrik furniture yang akan dibangun dibeberapa kota. Baru kali ini Albra ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya dan pulang kerumah karena ia memiliki alasan untuk pulang selain Alan, siapalagi kalau bukan Qyen. Jatuh cinta memang cukup membutakan.


Pikirannya tidak bisa fokus karena kerinduannya kepada Qyen kini sangat membuncah dihatinya, entah mengapa, tapi Albra merasakan jantungnya berdebar dan darahnya berdesir ketika ingat nama Qyen, dan juga tentang kegiatannya semalam dengan Qyen gadis yang kini sudah berada dibawah kekuasaannya.


Albra terus saja tersenyum sampai Kender yang juga tengah sibuk disofa mempersiapkan sesuatu untuk Albra pun bingung dengan tingkah tuannya yang tidak berhenti tersenyum, karena itu tidak biasa.


Senyum Albra tiba-tiba berhenti, dan tangannya yang sedang menuliskan sesuatupun ikut berhenti disaat ia tahu kenyataan jika ia adalah anak dari Frans, seseorang yang sangat benci dengan wanita.


“Tuan? Ada yang salah?” tanya Kender yang saat ini malah melihat wajah kesal Albra.


“Hm? Tidak ada,” jawabnya singkat.


‘Biarlah itu menjadi urusan nanti. Untuk saat ini, hanya Qyen ….’


Tangan dan hatinya yang tidak sabar ingin bertemu Qyen, dengan refleksnya Albra mengambil ponselnya dan menelpon Qyen, ia hanya penasaran kegiatan apa saja yang sedang Qyen lakukan saat ini.


“Halo? Kenapa, Pak? Tumben banget telpon,” suara Qyen terdengar disana.


“Hm … tidak apa-apa.”


“Terus kalau tidak apa-apa kenapa kamu telpon? Oh iya tadi ada beberapa orang yang datang sama Bu Meta juga datang, dan tiba-tiba mereka nyiapin sesuatu dipinggir kolam renang dan ternyata mereka spa aku. Apasi, kok aku bingung? Tapi enak juga sih, badan aku sakit semua sekarang rasanya fresh banget ….”


Tak sadar Albra tersenyum mendengar cara bicara Qyen yang unik dan selalu berbicara panjang lebar. Dari sini saja Albra tahu jika mood Qyen sudah kembali.


“Loh, Pak? Kok diem? Terus juga aku aneh banget Bu Meta tiba-tiba bawa banyak kantong belanjaan pakaian wanita terus banyak kantong lainnya yang belum aku buka. Aku capek banget buat bukain semuanya.”


“Istirahat saja, tidak perlu banyak bergerak jika lelah.”


“Hm … kamu mau bicara sesuatu? Kok tumben telpon? Oh iya, aku sepi banget disini, kamu bisa bawa Alan? Aku masih rindu Alan ….”


Ketika Qyen berbicara seperti itu, tak lama Alan datang berlari bersama Ian yang juga ikut berlari dibelakangnya.


“Saya pulang sebentar lagi bersama Alan. Saya matikan.”


Albra menyimpan ponselnya dan menghampiri Alan untuk memeluk anaknya. “Hai, bagaimana disekolah hari ini?”


“Papa, kenapa Ian selalu menjemput aku. Ian itu buat aku malas banget,” curhatnya tanpa menjawab pertanyaan sang ayah.


Sedangkan objek yang menjadi pembicaraan, Ian, kini sedang merebahkan tubuhnya disamping Kender. Tenaganya terkuras habis hanya untuk mengantar dan menjemput Alan. “Albra please … mending Gue jadi office boy dari pada ngikutin anak Lo.” Ian masih mengatur napasnya dan menatap tajam Alan.


“Kamu sendiri yang salah, buat apa buang mainan aku!”


“Ian buang mainan kamu?” tanya Albra.


“Iya! Satu kardus mainan mahalku dibuang!” kesalnya.


“Kalau bukan Lo anak Albra, udah Gue kubur didalem pasir pantai Lo!”


Alan yang tidak ingin kalah dengan ucapan Ian, ia pun menjulurkan lidahnya tanda meledek sang paman. Keduanya terus berdebat sampai Albra meleraikan keduanya. Kini Alan tengah sibuk memakan sesuatu disamping Kender dengan tabletnya, sedangkan Ian sedang berbicara sesuatu dengan Albra di depan ruangan.


“Sesuai dengan yang Lo suruh, Max Company membeli tujuh puluh persen saham perusahaan Fin.”


“Atas nama?”


“Atas nama Gue. Lambat laun Papa pasti tau, dan Gue minta tolong sama Lo. Kalau Lo mau pertahanin hubungan Lo sama Qyen, Lo harus bisa menangin hati Papa dulu.”


Albra terdiam, tahu dari mana Ian tentang hubungannya dengan Qyen.


“Lo gak perlu aneh Gue tau dari mana hubungan Lo. Yang pasti, Lo semalem udah iya-iyakan sama Qyen?”


Belum sempat Albra mengeluarkan tinju pedasnya, Ian sudah terlebih dahulu kabur dan masuk kedalam ruangan sekertaris dan tertawa terbahak-bahak disana.