ALBRA

ALBRA
65. Dimana keluarga Qyen?



Dinginnya suhu kota Osaka tersampaikan kedalam hati dua insan yang tengah meratapi nasib mereka. Beberapa bagian di dalam hati mereka terasa beku, sunyi, dan tak terisi. Bagian hati yang harusnya diberikan kepada orang tua mereka, kini menjadi beku, sama seperti jalanan yang sedang mereka lalui saat ini.


Kisah hidup Albra tentang kedua orang tuanya, tidak jauh berbeda dengan kisah kehidupan Qyen. Namun perbedaan mereka ialah, Albra sejak lahir sudah terjamin kehidupannya, sedangkan Qyen, ia hanya mencari-cari arah, menumpang hidup, dan menyeret kakinya sendiri untuk bisa bertahan di dunia yang sangat kejam.


Tidak ada definisi siapa yang paling tersakiti di sini, dua-duanya sama memiliki rasa kosong, hampa, dan tidak tahu arah karena kedua orang tuanya. Namun begitu, kedua orang itu menyatu, dan mencoba untuk berbagi kasih, dan mengisi kekosongan hati mereka dengan saling berbagi dan mengasihi.


“Lalu, setelah kamu mengetahui itu? Apa ekspresi kamu sama seperti Alan kemarin?” Qyen bertanya, sambil meragu. Mereka masih berjalan menelusuri jalanan yang sudah diisi penuh oleh salju, tujuan mereka masih sama, yaitu pergi kembali menuju vila.


Albra menggeleng kepalanya. “Usia saya remaja saat itu, pastinya emosi saya meledak-ledak, dan tidak terkendali. Ketika mendengar fakta itu dari Papa, saya langsung mencari dimana ibu saya.”


“Tapi ternyata, Papa bergerak lebih cepat dari saya. Papa yang sudah mengetahui hal itu, pastinya dia menyingkirkan wanita itu.”


Qyen masih melihat tatapan kosong dan datar Albra. Qyen merasa ingin mengasihani Albra, namun dirinya pun patut dikasihani.


“Tapi setelah itu, kamu berhasil bertemu dengan ibu?” tanya Qyen.


Albra menggelengkan kepalanya dengan lemah, senyumnya terlihat getir. Sekuat apapun usaha dan tenaga dia kemarin ketika mencari ibu kandungnya, dengan modal sebuah ingatan tentang wajah ibunya, tentu saja Albra kalah dan tidak akan bisa menemui ibunya.


Pada saat itu, Albra tentunya frustasi, ia menginginkan sosok ibu di dalam hidupnya, Frans tidak pernah memberikan kesempatan peran dari sosok ibu kepadanya.


“Saya tidak pernah kembali bertemu dengan wanita itu, dan tentang wajahnya, saya sudah lupa. Bahkan saat itu saya hanya sekilas menatap wajahnya, namun sentuhan tangan kecilnya, dan warna sepatu yang dia pakai, saya masih ingat.”


Albra tersenyum tulus menatap istrinya, ia baru sadar ketika berbicara mengenai orang tuanya kepada Qyen, padahal hati wanita itu lebih sakit karena tidak pernah bertemu dengan orang tuanya.


“Kamu kesal saya bercerita?”


Qyen pastinya menggelengkan kepalanya. Ia sangat suka mendengar Albra menceritakna kisah hidupnya, karena dari hal itu Qyen merasa sangat dihargai. “Aku suka banget dengar kamu cerita tentang hal apapun itu. By the way, kamu kuat banget menjalani hari-hari setelah bertemu dengan ibu kamu.”


“Iya, saya bisa sedikit melupakan setelah stress yang sangat berat. Pada saat itu Papa mengirim saya ke Finland, untuk melanjutkan SMA saya.”


Albra merangkul Qyen, dan jalan mereka pun menanjak untuk bisa sampai ke dalam vila. Mereka tidak memilih masuk, mereka memilih menghangatkan tubuh mereka disebuah ruangan perapian dan juga sudah disediakan berbagai macam kue di sana.


Duduk berdua menghadap kearah perapian, mereka pun merasa hangat. “Kak, kita harus buat janji untuk selalu jaga Alan agar tidak pernah kekurangan kasih sayang seperti kita.”


Keheningan melanda, sebelum akhirnya Albra menjawab. “Saya memilih kamu, karena kamu adalah orang yang tepat untuk mengisi kekosongan hati kita.”


Merasakan kehangatan di hatinya, setidaknya Qyen berpikir jika hidup di dunia ini sebatang kara, kini ia dihadirkan sosok Albra dan Alan di hidupnya. Mungkin ini adalah ketentuan Tuhan yang sudah memberikannya kesempatan untuk bisa hidup dan mengisi kembali kekosongan hatinya.


Bunga tidak akan layu jika ia memiliki penopang, mungkin definisi hidup bunga sama seperti Qyen. Qyen adalah sekuntum bunga yang hampir layu karena tidak memiliki penopang untuk hidup. Namun kini Albra hadir sebagai wadah dan tanahnya, dan Alan pun hadir sebagai air di hidupnya, setidaknya jika Qyen sudah bertemu dengan mereka, ia harus bisa kembali lebih mekar dengan cantik.


“Apa setiap orang memiliki masalah seperti ini, Kak?” Qyen bertanya, ia merasa jika hidupnya terlalu rumit untuk dihadapi oleh seorang manusia.


Albra mengangguk. “Semua orang pasti memiliki kesulitannya masing-masing, sayang. Mereka yang memiliki segalanya pun tak luput dari kata kesepian, kehampahan dan masih banyak lagi kelemahan yang mereka tutupi.”


Mendengar penuturan itu, Qyen menggenggam tangan besar Albra. “Terimakasih sudah memberikan aku kesempatan untuk hidup bahagia di sini.”


Senyum Qyen terlihat sangat indah di mata Albra, sebuah kecupan pun mendarat di dahi Qyen dengan sangat lama. Albra benar-benar mencintai wanita ini, sangat-sangat mencintai, ia berjanji dengan segenap raganya tidak akan pernah meninggalkan wanita rapuh ini.


“Kamu bahagia bertemu dengan saya?”


“Tentu saja, kamu kesempatan aku untuk bahagia hidup di dunia.”


Albra tersenyum dan mengusap tangan kanan Qyen, ia mengusap jari tengah Qyen yang terdapat cincin berlian di sana. “Kamu mengetahui sesuatu petunjuk tentang dimana orang tua kamu?”


Qyen menggelengkan kepalanya, sambil melihat juga kearah cincin yang tersemat itu. “Setidaknya, dengan cincin pemberian dari mereka, aku tidak kesepian, Kak.”


“Qyen, apakah kamu tahu cincin ini memiliki berlian yang sangat langka?”


Jangankan tahu bagaimana bentuk berlian yang sebenarnya, sejak kecil pun Qyen tidak pernah memakai perhiasan seperti cincin emas sekali pun, karena ia tidak mampu untuk membelinya.


“Aku enggak tahu, Kak. Jangankan berlian, memakai cincin perak atau emas saja aku tidak pernah.” Qyen terkekeh untuk mencairkan suasana.


“Maksudnya? Gak mungkin juga kalau orang tua aku orang punya. Kalau mereka orang punya, mereka gak akan tinggalkan aku sendiri di panti asuhan.” Qyen masih bisa memakai logika pikirnya.


“Sebenarnya saya sudah mencari tahu tentang cincin yang kamu pakai ini.”


Qyen terkejut, ia pun penasaran tentang cincinya. “Lalu, bagaimana hasilnya, Kak? Tidak ada yang menarikan?”


Albra terdiam, ia masih ragu untuk menjelaskan semuanya. Pasalnya cincin yang Qyen pakai, yang katanya itu berasal dari orang tuanya itu benar-benar cincin yang sangat langka.


“Cincin kamu hanya di buat dua di dunia ini. Salah satunya di pakai oleh istri mantan presiden di sebuah negara besar dan saat ini cincin itu sudah di museumkan, dan kemungkinan satu buahnya lagi, ialah cincin yang kamu pakai.”


Qyen terkejut dengan ekspresi menutup mulutnya. Benarkah cincin ini sehebat itu? Ia tidak mengharapkan lebih dari cincinnya, mengetahui cincin itu dikirim oleh orang tuanya pun membuat Qyen bahagia.


“Ka—kamu ngarang ya? Mana ada cincin kaya gini di museum.”


Wajah Albra terlihat serius, tanda jika ia sedang tidak bercanda. Ia pun awalnya terkejut, namun instingnya mengatakan jika Qyen berasal dari keluarga yang memang benar berada. Lihat saja bentuk badan dan wajahnya yang terlihat sangat proposional.


“Saya mencoba untuk mencari siapa pembeli lainnya yang memakai cincin itu, tapi tidak bisa, sayang. Identitas mereka sangat-sangat ketat.”


“Aish, Kak … Aku gak percaya, aku mencoba buat gak percaya ya. Karena aku gak mau kepikiran tentang hal yang seperti itu.”


“Aku sudah berusaha sekeras tenaga aku untuk hidup dan mencari makan bahkan disaat usia aku masih remaja. Jika kedua orang tuaku benar-benar kaya dan tahu aku hidup susah, mereka pasti sudah memberikan aku segalanya.”


Albra menyetujui logika yang Qyen sampaikan kepadanya, namun dari hal itu ia tahu jika orang berkuasa sedang memainkan taktiknya, mereka harus mengorbankan salah satu apa yang harus mereka korbankan.


“Memangnya sekarang kamu sudah dewasa?” tanya Albra dengan ekspresi yang menggodanya.


Qyen tergagap, karena saat ini usianya masih menginjak 20 tahun, dan itu terbilang masih sangat kecil. “Aku masih kecil, tapi kamu hamilin!” kesalnya, dan berhasil membuat Albra tertawa terbahak-bahak.


“Tapi kamu masih tetap cantik, sayang ….”


Topik pembicaraan mereka sudah berubah. Albra ingin mengalihkan pikiran Qyen agar ia tidak terlalu memikirkan hal itu. Biarlah ia dan orang-orangnya yang akan mengurusi keberadaan keluarga Qyen, yang pasti hal itu semoga saja menemukan titik terangnya.


“Terus, kalau aku udah lahiran, dan badan aku jadi besar gimana? Pasti kamu udah gak suka.” Qyen kini merasa mellow, dan takut jika setelah melihirkan dan memiliki anak nanti, Albra sudah tidak suka kepadanya.


“Kata siapa? Kamu belum lihatkan? Kita lihat nanti.”


Mendengar ucapan Albra yang sangat menyebalkan di telinganya, Qyen pun kesal dan melipat tangannya. “Tau gitu aku tuntut aja kamu kemarin waktu hamilin aku.”


Albra menampilkan wajahnya dihadapan Qyen. “Benar? Kamu mau tuntut saya? Saya bisa balik menuntut kamu loh, karena kamu yang duluan yang menggoda saya,” bisik Albra yang membuat Qyen semakin kesal.


Tapi Albra ada benarnya juga. Malam itu terjadi karena memang Qyen yang berada di bawah pengaruh obat, dan ia sendiri yang meminta Albra untuk memuaskan nafsunya.


“Gimana, sayang? Masih mau menuntut saya?”


Qyen mengerejapkan matanya berkali-kali. “Hehehe … Enggak jadi, Kak. kitakan udah nikah,” ucapnya sambil menunjukan jari manisnya.


Albra tertawa, dan setelah mengobrol mengisi malam mereka, kini Albra mengajak istrinya untuk tidur terlebih dahulu, karena ia masih memiliki urusan.


Setelah mengantarkan Qyen ke dalam kamarnya, Albra menelpon seseorang, ia adalah Kender. Albra menyuruh Kender untuk mencari informasi tentang cincin yang Qyen pakai, bahkan ia sudah mengirim fotonya.


“Bagaimana?” tanya Albra ketika telponya tersambung.


“Tuan, kita tidak memiliki akses untuk mengetahui siapa yang membeli cincin itu, karena cincin itu di jual berdasarkan hasil lelang yang terjadi pada tahun 2012, dan sudah sepuluh tahun yang lalu cincin itu dibeli.”


“Lalu, apa ada cara lain?”


“Tuan besar sepertinya memiliki akses untuk mengetahui siapa orang yang membeli itu. Karena tuan besar selalu mengikuti kegiatan lelang barang-barang berkelas.”


Telpon di tutup secara sepihak oleh Albra. Ia memang masih belum memiliki akses dan kuasa yang besar terhadap dunia ini, namun Frans bisa mengakses segalanya. Lalu, jika ia meminta pertolongan kepada Frans, apakah ayahnya itu akan menyanggupinya? Atau malah menyelidiki? Albra menjadi ragu.