
Malam hari kembali menyapa, selesai makan malam, Alan sudah masuk ke dalam kamarnya, dan tinggalah Qyen yang tengah duduk di sofa yang menghadap kearah kaca besar. Malam ini seperti biasa, Qyen hanya makan berdua dengan Alan, karena Albra belum pulang dari kantornya. Entah apa yang sedang Albra urusi di kantornya sampai beberapa hari belakangan ini ia disibukan dengan pekerjannya.
Menikmati pemandangan langit malam yang indah, sambil mendengarkan music klasik yang menenangkan dirinya membuat Qyen menjadi releks dan santai. Ia mengistirahatkan tubuhnya yang semakin berat, sambil menunggu Albra yang sedang berada di perjalanan pulang.
“Sayang, ada apa di dalam perutku? Kok kamu tidak bisa diam sedari tadi?” Qyen mengusap kandungannya yang mulai hari esok memasuki bulan ke 5. Tidak terasa bagi Qyen yang 4 bulan kedepan akan memiliki anak pertamanya dengan Albra.
Sedari tadi, Qyen merasakan pergerakan didalam perutnya, tidak terlalu intents, tapi terasa. “Yang tenang sayang, kamu pasti kecapean ya? Maafkan ibu, nak.”
Qyen terus mengusap perutnya sampai merasakan pergerakan itu tidak terlalu terasa. “Andai aku diberi kesempatan buat bisa bertemu dengan ibu dan bapak, pasti aku enggak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Dimana pun ibu dan bapak berada, aku di sini baik-baik saja. Terimakasih untuk hadiah kecil nan indah ini. Padahal … kalian bisa memberikan aku secara langsung hadiah ini.”
Qyen melihat kearah tangan kanannya, ada satu cincin yang bertengger manis di sana, cincin mewah titipan dari Bu Desi, yang katanya itu adalah pemberian dari orang tuanya. Qyen selalu memakai cincin itu, bahkan ia tidak pernah melepasnya.
“Cincinnya mewah, sepertinya ini bukan barang murah,” gumam Qyen yang terus berbicara dengan cincinnya.
“Sayang?” Albra datang sambil memeluk Qyen dari belakang.
“Hai, bersihkan dulu badan kamu, lalu makan malam.”
Albra tidak mendengarkan ucapan Qyen, saat ini ia memilih untuk memeluk Qyen dengan erat. Pekerjaan kantornya yang menumpuk membuat pikiran Albra sesak, dan Qyen adalah obat semangatnya.
“Kak … ayo mandi dulu,” bujuk Qyen agar Albra bisa melepaskan pelukannya.
“Hah? Perut kamu bergerak,” ucap Albra terkejut dan menjauhkan tubuhnya dari Qyen. Ia sangat terkejut karena merasakan pergerakan tersebut.
Qyen terkekeh geli melihat wajah Albra yang terkejut dan polos. “Nih pegang, dedek bayinya aktif banget kalau malam. Pergerakan baru dikit, Kak. Nanti kalau sudah tujuh atau delapan bulan, kamu bisa lihat kakinya menyembul di perutku.” Jelas Qyen agar Albra mengerti.
“Benarkah? Saya baru tahu. Apakah rasanya sakit?” tanya Albra hati-hati sambil mengusap perut Qyen dengan lembut.
Qyen menggelengkan kepalanya. “Tidak ada kata sakit bagi seorang ibu, Kak,” ucap Qyen dengan senyum manisnya.
Melihat Qyen yang akan menjadi seornag ibu di umurnya yang masih muda, membuat Albra sedikit merasa bersalah. Albra kembali membawa Qyen kedalam pelukannya. “Kamu hebat, kamu selalu hebat.”
Pujian-pujian Albra seperti ini, yang membuat Qyen semangat disetiap harinya. Ia pun merasa beruntung, karena sesibuk apapun Albra, ia masih memperhatikan dirinya. Seperti sore hari tadi, Meta tiba-tiba datang ke penthousenya dan membawa dua paperbag besar yang berisi dua tas branded yang katanya itu adalah hadiah mingguan dari Albra. Menurut Qyen Albra sedikit memperhatikan, namun terlalu berlebihan. Padahal Qyen tidak butuh barang-barang seperti tadi.
“Kak, ada banyak hal yang mau aku obrolin sama kamu. Lebih baik kamu mandi dulu, dan setelah itu aku temenin kamu makan. Okay?”
Kali ini Albra mengangguk, sebelum pergi ia pun mencium dahi Qyen. “Sebentar, sayang.”
Butuh sekiranya 15 menit untuk Albra membersihkan tubuhnya, dan saat ini ia tengah berada di sofa, duduk berdua dengan Qyen, untuk memakan makan malamnya. Makan malam Albra kali ini hanya ayam bakar tanpa nasi, dan satu mangkuk besar salad sayur yang telah Qyen buat. Albra merequest makanannya karena ia sedang diet.
“Kamu kenyang cuma makan sayur?” tanya Qyen memperhatikan Albra yang lahap memakan makanannya sambil sesekali menonton siaran di televisi yang tengah menampilkan acara pertandingan sepak bola.
“He’em tentu saja kenyang.”
Tidak ingin mengganggu fokus Albra, ia pun menunggu Albra untuk menceritakan kejadian yang terjadi hari ini di sekolah Alan. Tentang wanita misterius yang ia temui, siapa tau Albra tahu sesuatu, dan ia tidak ingin menyembunyikan hal ini kepada Albra, karena ia takut terjadi sesuatu yang lebih besar nantinya.
Acara makan malam Albra sudah selesai, Qyen mengajak Albra untuk mengobrol di pinggir kolam renang karena ia masih ingin melihat pemandangan indah di malam hari, bintang-bintang dan bulan hari ini telihat sangat terang.
Keduanya duduk di sofa yang mengadap kearah jendela. Qyen bersandar di dada Albra dengan sangat nyaman, dan Albra yang terus memegang tangan lembut Qyen.
“Kamu mau bicara apa, sayang?”
“Kak, hari ini aku antar Alan ke sekolah karena ada perlombaan kamu taukan?” tanya Qyen membuka obrolannya.
Albra mengangguk, tentu saja ia tahu karena surat pemberitahuan itu datang lebih dulu kepadanya. “Iya, ada apa disekolah Alan? Terjadi sesuatu?”
Qyen mengangguk mengiyakan, mengetahui hal itu, tatapan Albra mulai serius. “Ceritanya waktu aku membuat video Alan disaat dia lomba memindahkan tepung. Ponselku gak sengaja di senggol orang dan jatuh … lalu ….”
Cerita itu terus berlanjut sampai Qyen bercerita jika wanita itu menaiki mobil sport mewah berwarna hitam. Qyen melihat beberapa kejanggalan yang ada di sana, tentang dari mana wanita itu tahu jika Qyen adalah ibu dari Alan, tentang wanita itu yang mengaku sedang melihat keponakannya tapi tidak ada seseorang yang ia tuju di sana, dan terakhir tentang wanita itu yang tiba-tiba pergi setelah menyentuh Alan.
Albra mendengarkan semua cerita Qyen, saat ini posisi mereka pun saling berhadapan. Albra bisa melihat kejujuran dan rasa takut dari Qyen, dan ia pun bingung dengan cerita yang baru saja Qyen sampaikan. Pikirannya saat ini ada pada ibu kandung Alan.
Albra memang belum memiliki waktu untuk menceritakan semua kisah hidupnya kepada Qyen, lagipun Qyen tidak menuntut dan menannyakan akan hal itu.
“Alan itu lebih pintar dari Diego, tapi tadi siang, Diego yang bicara denganku, kalau Alan terus saja diam ketika wanita misterius itu memegang wajahnya. Juga Diego yang bilang agar Alan tidak ikut dengan wanita itu.”
“Aku tidak yakin jika wanita itu penculik, Kak. Karena pakaian, tas, kacamata, sepatu, dan semua barang yang wanita itu pakai bermerk. Apalagi ketika aku melihat dia masuk ke dalam mobil mewahnya.”
“Kamu tahu sesuatu?”
Albra terdiam, ia tidak tahu untuk mulai bercerita dari mana. Tidak ada seorang pun yang menyampaikan berita tentang kedatangan wanita itu ke Indonesia, dan ia takut jika memang wanita itu datang menghampiri anaknya.
“Kamu tidak di ganggu?”
Qyen menggelengkan kepalanya, Qyen pun merasa ragu untuk meminta penjelasan lebih kepada Albra, karena ketika melihat matanya ia tahu jelas jika Albra sedang menutupi sesuatu.
“Emm … itu aja yang mau aku sampein ke kamu, Kak. Aku cuma takut terjadi sesuatu dengan Alan, dan aku gak bisa buat simpan cerita ini sendiri.” Qyen terdiam disaat Albra tidak mengeluarkan reaksi apapun. “Oh iya, buat besok-besok kamu gak perlu belikan aku barang-barang branded itu lagi, lemari tasku sudah penuh, Kak. Lagipun aku tidak pergi kemana-mana untuk memakai tas sebagus itu.”
Qyen mencairkan suasana untuk mencari topik yang lebih menyegarkan. Barulah Albra tersenyum kecil di sana. “Saya membelikan kamu itu karena paksaan Ian. Savana yang membuat desain tas itu.”
“Hah? Benarkah? Dia bekerja sama dengan brand terkenal?”
Albra mengangguk. “Tas limited edition, kata Ian Savana hanya membuat empat unit saja di dunia. Dan kamu punya salah satunya.”
Qyen tersenyum lebar saat ini. “Wah, memang bagus sih barang-barang buatan dia. Udah cantik, sopan, punya karakter, hebat juga ….”
Setelah itu keadaan diantara mereka menjadi canggung, Qyen menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal. Sepertinya Albra terdiam karena ada sesuatu yang ingin disampaikan namun ia ragu.
“Sudah malam, mending kita tidur saja,” ucap Qyen dan bangun dari duduknya, disaat Qyen ingin melangkahkan kakinya, tangannya dipegang lembut oleh Albra.
“Duduk sebentar, sayang. Ada yang harus saya ceritakan dengan kamu.”
Qyen yang ingin menghargai usaha Albra untuk cerita dengan dirinya pun mengangguk, dan kembali duduk di tempatnya.
“Kamu sudah tahukan jika Papa saya tidak suka dengan perempuan?” Qyen terdiam, sebelum akhirnya mengangguk.
“Kurang lebih enam tahun yang lalu, tepatnya sebelum Alan lahir ke dunia ini, saya di jebak oleh Papa saya sendiri untuk bisa tidur dengan seorang wanita. Pada hari itu, saya sedang mabuk, dan Papa saya yang sudah merencakan semuanya, termasuk wanita yang akan tidur dengan saya.”
Mata Albra terlihat datar dan sedikit bergetar di sana. Sepertinya sangat sulit bagi Albra untuk membuka rahasia terbesar dari dalam dirinya. Qyen menggenggam tangan suaminya dengan penuh kelembutan, ia tidak menyanggah ataupun memotong cerita yang disampaikan oleh Albra.
“Saya benar-benar mabuk, bahkan saya tidak tahu jika saya meniduri seorang wanita pada malam itu. Paginya saya terkejut karena bangun dalam keadaan yang sangat berantakan, dan saya melihat ada baju wanita yang tertinggal di sana. Saya kesal dengan diri saya pada hari itu.”
Albra melanjutkan ceritanya tentang kejadian yang terjadi dihidupnya, tentang Alan yang datang dan lahir ke dunia, dan semua itu sudah direncanakan oleh papanya sendiri, Frans.
“Sampai, satu tahun setelahnya, Papa saya datang dengan seorang bayi dan berbicara kepada saya jika bayi yang ia bawa adalah anak saya sendiri atas kejadian malam itu. Tentu saja pada saat itu saya depresi dan merasa tertekan, saya tidak tahu harus berbuat apa, karena tanpa hubungan apapun tiba-tiba saya harus mengurus bayi berumur dua bulan.”
Qyen menggigit bibirnya, ada perasaan campur aduk di dalam hatinya ketika mendengarkan cerita Albra yang sangat pilu menurutnya. Yang harus Qyen lakukan saat ini tentunya menerima laki-laki itu dengan sepenuh hati.
“Mungkin kejadian hari ini ada hubungannya dengan seseorang yang memang berhak bertemu dengan Alan,” ucap Albra yang mengakhiri ceritanya.
“Ka … kalau setelah kejadian malam itu kamu pergi dan hanya tahu jika kamu tidur dengan seorang wanita, lalu setahun setelahnya kamu bertemu dengan Alan, berarti … kamu belum sempat tahu siapa wanita yang menjadi ibu Alan?” tanya Qyen hati-hati.
Qyen tidak tahu jelas wajah wanita itu, karena wanita itu menggunakan kacamata hitam yang hampir menutupi sebagian wajahnya.
Albra mengangguk, tentu saja sebagai seorang penguasa untuk menemukan seseorang sangat mudah baginya, dan ia tahu siapa ibu dari Alan, dan siapa wanita yang sudah ia tiduri malam itu. “Ya, saya tahu siapa wanita itu. Namanya Mey Becca Ghazi.”
Qyen teridam, mencerna semua ucapan Albra dan mengeja nama wanita itu di dalam hatinya sebelum ia sadar akan sesuatu. “Ga—ghazi?”
....
Like komennya jangan lupaa :)