
Setelah menyapa Frans, Alan dan Qyen memutuskan untuk kembali ke kamar mereka karena hari sudah mulai petang.
Ketika kaki keduanya hendak menaiki tangga, suara teriakan Brian pun terdengar memanggil Frans.
“Tuan!”
Qyen dan Alan langsung menghampiri suara teriakan tersebut dan betapa terkejutnya mereka melihat Frans yang tergeletak dan mengeluarkan busa di mulutnya.
“Grapa!” Alan lari sambil menangis menghampiri Frans yang akan dibopong ke dalam kamarnya.
“Pak Brian, Tuan kenapa?” tanya Qyen yang juga ikut panik.
Parell menggendong Alan agar tidak ikut campur dalam urusan dewasa, ia pun merasa terkejut karena melihat secara langsung Frans yang tergeletak secara tiba-tiba.
Qyen merasa ada yang tidak beres, sepertinya Frans keracunan makanan. Ia pernah menghadapi situasi seperti ini disaat ia mengasuh salah satu anak panti dan keracunan tumbuhan liar yang anak itu konsumsi.
“Pak Brian, lebih baik cepat bawa Tuan besar ke dalam kamarnya. Kita tidak memiliki waktu untuk memanggil ambulance saat ini,” ucap Qyen dan diangguki oleh Brian.
Qyen, beserta Alan yang dipangku oleh Parell ikut masuk ke dalam kamar pribadi Frans, dan ini baru pertama kalinya ia memasuki kamar mewah ini. Biarlah jika nanti Frans memarahinya karena memasuki kamar ini, yang pasti tujuanya adalah membantu Frans.
“Tuan, Tuan Frans,” panggil Brian disaat ia masih bisa melihat Frans yang membuka matanya.
“Saya akan berikan Tuan air mineral dengan PH tinggi. Ini bisa menetralisir racun yang ia makan. Semoga saja Tuan memuntahkan semua isi perutnya.”
Brian mengizinkan itu, lagipun ia tidak memiliki pengalaman di bidang medis. Dan kebetulan dokter yang suka berjaga di rumah ini, sedang cuti. Sementara Qyen memberikan minum kepada Tuannya, kini Brian menelpon dokter lain untuk datang.
Dengan penuh kelembutan, Qyen mengangkat kepala Frans yang sepertinya masih sadar namun ia tidak bisa membuka mulutnya.
“Maaf, Tuan. Anda harus merespon saya berbicara,” ucap Qyen. Tiga sendok air mineral pun masuk ke dalam tubuh Frans, dan Qyen terus memberi air mineral tersebut, karena air mineral adalah obat penawar utama ketika sedang keracunan makanan.
“Nyonya, Tuan Albra bilang beri Tuan besar kedua obat ini.”
Qyen meremukan dua obat yang sudah diberikan oleh Parell yang masih memangku Alan. Setelah obat itu larut, ia pun kembali memberikan kepada Frans.
Satu menit obat yang diberikan oleh Qyen bereaksi, dan Frans memuntahkan semua isi perutnya, sampai mengenai pakaian Qyen karena sedang berdiri di sebelahnya. Untung saja, Qyen tidak merasa jijik akan hal itu, ia merasa lega karena Frans sudah mengeluarkan isi makanan tersebut.
Tak lama, Albra dan Ian datang berlari. “Papa!” panggil keduanya.
Mereka berdua bisa melihat jika Qyen sedang membersihkan sekitar mulut Fras yang kotor akibat kejadian tadi. Mereka semua yang melihat aksi Qyen merasa kagum, karena dengan telaten, sabar, dan lembut juga tanpa rasa jijik Qyen membersihkan tubuh Frans, yang saat ini sudah tertidur.
“Pak Brian, tolong ganti pakaian Tuan. Sepertinya Tuan sudah memuntahkan isi perutnya. Kita tunggu dokter saja untuk menangani lebih lanjut.”
Qyen kini menghampiri Albra yang tak jauh darinya, ia melihat jika pakaian Qyen penuh dengan noda makanan. “Terimakasih, sayang.”
Qyen hanya bisa tersenyum. “Tuan besar sepertinya keracunan, tadi kami sempat berbicara tapi tak lama Tuan besar pingsan.”
“Sepertinya Papa lupa meminum obatnya dan memakan makanan yang salah.”
“Qyen, Hiks … Grapa tidak apa-apakan?” Alan ternyata masih menangis, ia masih shok melihat kakeknya yang tiba-tiba saja jatuh pingsan dan mengeluarkan busa di mulutnya.
“Tidak apa-apa, sayang. Kamu tunggu di sini, Grapa akan segera bangun,” ucap Qyen sambil mengusap kaki Alan.
Ian menghela napasnya lega, ia menatap kearah Frans yang tengah berbaring sambil menutup matanya. Tidak biasanya Frans terlihat lemah seperti ini. “Papa punya masalah apa?” tanya Ian kepada Albra dengan suara pelan.
Ian bertanya seperti itu karena Frans lebih dekat dengan Albra dibanding dirinya. Ian pun tidak berharap lebih hidup dengan Frans, namun bagaimana pun Ian masih menganggap Frans adalah ayahnya.
“Saya juga tidak tahu, Papa tidak berbicara.”
Dokter datang dengan seorang pelayan laki-laki. Beberapa penjaga sudah dikeluarkan oleh Brian agar kamar mewah ini tidak sesak dengan orang. Tinggalah di kamar ini keluarga kecil Albra, Ian, Parell, Brian dan dokter yang sekarang tengah menangani Frans.
Jarum infus, dan selang oksigen terpasang. “Tuan,” dokter laki-laki menyapa Albra sambil menunduk.
“Syukurnya Tuan Frans sudah diberikan pertolongan pertama. Jika tidak Tuan akan terkena komplikasi karena penyakit jantungnya.”
Mendengar penuturan dokter itu, Albra menggeggam erat tangan Qyen untuk menyalurkan rasa terimakasihnya. “Tuan sudah saya larang untuk memakan jamur. Saya hanya menyarankan Tuan Frans untuk memakan sayuran organik saja. Tapi sepertinya Tuan sudah memakan sesuatu dari olahan jamur.”
“Brian!” tegur Albra kepada tangan kanan yang selalu dipercaya oleh Frans.
“Iya, Tuan.”
“Kamu ingin membunuh Papa saya?” tanya Albra dengan alis kanannya yang terangkat.
Sedangkan Ian, Qyen dan yang lain hanya memperhatikan percakapan mereka. “Maafkan saya Tuan. Tadi pagi saya hanya mengantarkan Tuan ke kantor, lalu setelah itu saya pergi karena itu perintah Tuan, dan baru kembali bertemu sekarang. Saya tidak tahu makanan apa saja yang Tuan besar konsumsi.”
“Tidak biasanya anda seperti ini, Brian. Anda pasti akan menyiapkan semua makanan Papa melalui chef yang ada di rumah ini.” Kini Ian ikut berbicara.
“Saya akan mencari tahu tentang makanan apa yang dikonsumsi Tuan sore tadi.”
Matahari sudah terbenam, saat ini Qyen tengah membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian karena kejadian tadi. Albra menunggu di kamar Frans dengan setia karena ia tidak ingin kembali terjadi sesuatu dengan Frans.
“Qyen?” Alan menyembulkan kepalanya dari arah pintu kamar mandi, sepertinya anak kecil itu datang melalui pintu kamar mandi.
“Kenapa, sayang?”
“Aku hanya mencarimu,” katanya dan kini menggenggam tangan Qyen.
“Kamu tidak ikut berolahraga dengan Parell hari ini?”
Alan menggelengkan kepalanya. “Grapa belum sadar, aku takut makanya aku tidak mood melakukan sesuatu,” jawabnya.
“Grapa sudah sadar, sayang. Kita lihat sama-sama?”
Dengan ekspresi senangnya Alan mengangguk dan berjalan bersama dengan Qyen menuruni tangga. Parell yang berjaga di depan kamar pun mengikuti kemana perginya Alan.
Secara tak sengaja, mereka berpapasan dengan Ian yang tengah membawa satu keranjang sayuran organik. Kemana para pelayan? Mengapa Ian yang membawa bahan seperti ini? Pikir Qyen.
“Ian, kamu mau kemana?” tanya Qyen, wajah Ian yang tertutup oleh box besar ia pun tidak bisa melihat di mana letak Qyen yang sedang menyapanya.
“Ini sayuran, Qyen. Chef sudah dipecat oleh Albra dan tidak ada yang mengurus ini. Papa harus makan,” ucap Ian sambil berjalan.
Mengetahui situasi yang tengah genting seperti ini, Qyen menyuruh Alan untuk pergi terlebih dahulu dengan Parell ke kamar Frans karena ia ingin membantu Ian saat ini.
“Kenapa Lo gak istirahat? Ini udah malem,” ucap Ian sambil membongkar isi box sayuran tersebut.
“Sini aku bantu. Kenapa chef di pecat? Bukannya chef di sini banyak?”
“Albra pecat semuanya. Salah satu chef ngasih Papa soup jamur, dan Albra tadi dia marah besar. Lo belum liatkan Albra kalau marah kaya gimana?”
Qyen diam mematung. Setahunya jika Albra marah itu hanya diam dan tak bicara, marahnya seperti itupun sudah membuat Qyen takut, apalagi jika Albra marah sambil berteriak.
“Lalu mau kamu apakan sayuran ini?”
“Nah. Makanya itu, Gue juga bingung.”
Melihat bahan-bahan sayuran organik tersebut, dan tahu jika Frans meminta makan malam, Qyen pun berinisiatif untuk membuat bubur dan soup jagung. Masakan simple dan aman tentunya.
“Yasudah, aku bantu Tuan untuk membuat bubur dan soup jagung saja ya? Tuan tidak alergikan?”
“Oke, terimakasih banyak, Qyen. Lo emang terbaik.” Ian mengangkat dua jempol tangannya. “Papa alergi dengan jamur dan sayuran yang ditanam secara liar.”
Qyen paham tentang hal yang disampaikan. Dengan keterampilan dan skill memasak yang sedikit Qyen punya ia pun beraksi untuk membuat makan malam Frans yang tengah sakit.
Ian mengamati Qyen dari jauh, jujur saja Qyen adalah tipe kesukaannya. Baik, pintar, cantik, jago memasak, sayangnya Qyen saat ini sudah menjadi kakak iparnya apalagi sudah berbadan dua. Jika tidak, sepertinya Ian akan menikahi Qyen, karena umur mereka lebih cocok dan tidak terlalu jauh, bagaimana pun Ian lebih tua dibanding Qyen.
“Ian, sudah selesai.”
Ian bisa melihat ada dua mangkuk yang tersaji di sana, satu mangkuk putih berisi bubur polos, dan satu mangkuk lagi berisi soup jagung yang terlihat sepertinya enak.
“Ini masih ada Qyen?” tanya Ian yang merasa tergiur melihat makanan orang sakit.
“Masih, satu mangkuk lagi, aku simpan di sini ya, kalau kamu mau makan.”
“Saya kira kemana ternyata lagi berbincang-bincang berdua. Hati-hati yang ketiga setan.” Albra datang sambil melipat tangannya di dada.
“Yeu, Lo yang tiba-tiba datang jadi Lo setannya,” ucap Ian sambil melotot lalu pergi dengan membawa nampan berisi makanan menuju kamar Frans.
Ingin sekali rasanya Albra menghajar belakang kepala Ian, namun senyum Qyen mengalihkan perhatiannya.
“Aku di sini, Kak. Ian tadi kebingungan sambil bawa sayuran, yasudah aku bantu dia buat masak.”
Albra merangkul pinggang Qyen, ia mengecup sekilas bibir istrinya. “Kamu tau Ian itu bisa cinta sama kamu. Makanya kamu jangan dekat-dekat dengan dia.”
Qyen mengerutkan dahinya. “Loh, mana mau Ian sama ibu hamil kaya aku.”
“Dengar, Qyen. Kamu tidak boleh tertawa dan berbicara panjang lebar kepada laki-laki lain. Selain kepadaku.”