
Rasa dingin kini mulai menusuk kedalam kulit seorang perempuan yang tertidur didalam dekapan seorang pria disebelahnya. Kepalanya terasa sangat-sangat pusing, tenggorokannya bahkan kini terasa kering kerontang, dan seluruh badannya terasa kaku.
Ya, dia adalah Qyen yang saat ini tertidur didalam dekapan Albra. Perlahan matanya terbuka untuk memastikan hal apa yang terjadi kepada dirinya, sampai ia merasakan seluruh tubuhnya remuk dan terasa sakit. Tapi sebentar, kenapa ia merasakan ada seseorang yang memeluknya dari belakang?
“Hah!” otaknya mengolah dengan cepat tentang hal apa yang sudah terjadi kepada dirinya.
Qyen lagi-lagi terkejut disaat ia tersadar jika tidur tanpa menggunakan pakaian, bahkan kini ia bisa melihat, pakaian yang ia gunakan semalam tergeletak dilantai.
Dengan gerakan refleks, Qyen yang sadar jika ia tidak menggunakan pakaian pun langsung bangun dari tidurnya, berdiri dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal yang sedang ia gunakan.
“P—pak Al—bra?”
“Kenapa … hah? Kenapa bisa kaya gini?” Qyen kebingungan sendiri disaat ia melihat Albra yang tidur bertelanjang dada, dan hanya menyisakan kolor pendeknya saja disana.
Qyen yang sangat-sangat kebingungan dan tidak tahu harus bagaimana, akhirnya air matanya luruh begitu saja.
Albra yang terusik dengan suara bising tersebut, ia pun sama terkejutnya melihat Qyen yang sudah menangis didalam gulungan selimut dihadapannya. Tanpa basa-basi Albra menghampiri Qyen untuk menenangkannya.
“Are you okay?” tanya Albra sambil menghampiri Qyen, namun Qyen mundur perlahan sampai punggungnya terbentur sesuatu.
“Hiks … hiks … i—ini kenapa? A—aku takut ….”
Melihat Qyen yang menangis ketakutan dengan mata kosong, Albra kini hanya memiliki satu cara untuk menenangkannya, yaitu menceritakan kejadian malam panas yang sudah mereka lalui. Tapi, sebelum itu, Albra yang tetap memprioritaskan kesehatan Qyen, ia pun mengajak Qyen untuk duduk terlebih dahulu.
“Biar saya jelaskan semuanya, mungkin kamu butuh waktu untuk mengingat kejadian semalam. Minum terlebih dahulu.” Albra membuka suaranya sambil memberikan Qyen air mineral yang sudah tersedia disana.
Qyen menerima air pemberian Albra, dan meminumnya sampai habis. Qyen ingat kejadian waktu dirinya dipaksa melakukan hal yang tak senonoh oleh Fin, bahkan untuk mengingat itu tangis Qyen semakin menjadi.
“Hiks … aku takut … hiks … kenapa aku bisa ada disini … hiks ….”
Tangis Qyen yang begitu pilu membuat Albra ingin sekali mendekap perempuan kecil itu, perempuan yang sudah ia kuasai semalam. Stop Albra, bukan saatnya memikirkan hal kotor lagi, otaknya kembali berputar bagaimana cara Albra untuk menjelaskan semuanya kepada Qyen.
“Kamu mau mendengarkan saya?” Albra memegang lembut tangan kecil Qyen yang sedikit keluar dari balik selimut. Ini pertama kali dalam hidup Albra memegang tangan seorang perempuan atas perintah hatinya sendiri.
Qyen yang tidak tahu harus percaya kepada siapa lagi, akhirnya ia pun mengangguk. “Hiks … badanku sakit semua, hiks ….”
Tangan kiri Albra tengah sibuk menggenggam tangan Qyen, kini tangan kanannya pun mengusap air mata Qyen yang terus turun dari mata cantiknya. Ya, Albra saat ini mengakui jika Qyen sangat-sangat cantik.
“Semuanya akan baik-baik saja, lebih baik kamu bersihkan tubuh kamu terlebih dahulu, baru nanti kita berbicara.”
Qyen sepertinya tidak sanggup lagi untuk mengeluarkan suaranya, dengan memaksakan tubuhnya yang sudah remuk, ia pun bangun dengan keadaan tubuh yang masih tergulung selimut dan berjalan dengan langkah kecil, seperti boneka.
Albra tersenyum melihat tingkah lucu Qyen, lagipun untuk apa Qyen menutupi tubuhnya menggunakan selimut jika ia sudah melihat semuanya. Merasa kasihan, Albra yang tidak tega membiarkan Qyen seperti itu, ia pun membopong tubuh Qyen dengan lembut dan membawanya kedalam toilet.
“Pak Albra mau ngapain?” tanyanya terkejut.
“Syut, diam. Nanti kamu terjatuh.”
Albra membiarkan Qyen duduk disamping bathup, ia pun menyalakan kran air agar memudahkan Qyen untuk berendam nantinya.
“Kamu berendam dulu saja, jangan dulu keluar karena akan ada orang yang membersihkan rumah ini,” ucap Albra sambil mengecup dahi Qyen tanpa persetujuan sang pemilik.
‘Deg ….’
Jantung Qyen hampir berhenti, dan kini berdetak tak karuan. Ia terkejut dengan perlakuan Albra yang baru saja ia lihat.
“Sadar, Qyen … kamu lagi kena masalah saat ini.”
Melihat air bathup yang sudah terisi hampir penuh Qyen pun merendamkan tubuhnya yang sudah sangat lelah kedalam air hangat itu. Pikirannya mencoba mengingat kembali tentang apa yang terjadi semalam.
Bayangan-bayangan ketika Ian meraih tangannya kini sudah teringat jelas, bahkan perasaan Qyen saat itu. “Sadar … kamu harus sadar, ayo ingat-ingat lagi ….”
Qyen merenungi pikirannya untuk kembali mengingat tentang kejadian semalam. Sampai … ia menyadari jika ia mencium bibir Albra terlebih dahulu, dan setelah itu … Qyen ingat semua hal yang terjadi semalam antara dirinya dengan Albra.
“Kyaaaaaaaaa!!!!!!!!”
“Hiks … kok bisa … a—aku udah gak perawan dong?” tanyanya kepada diri sendiri.
Qyen kembali menangis merenungi dirinya yang sudah bodoh memberikan masa depannya kepada seseorang yang bahkan baru ia kenal. Mungkin setelah ini Qyen tidak akan menampakan dirinya kepada siapapun karena ia merasa malu dengan dirinya sendiri.
Sengsara, satu kata yang bisa Qyen gambarkan didalam hidupnya. Hidup berjuang sendiri selama 20 tahun tanpa orang tua dan keluarga, berjuang dari kecil, dan saat sudah dewasa seperti ini Qyen harus kembali menghadapi masa sulitnya. Tidak ada yang bisa Qyen banggakan lagi didalam dirinya, semua sudah hilang.
“Hiks … mama … papa … walaupun aku belum pernah liat kalian sampai saat ini, tapi setidaknya beri aku petunjuk agar bisa bertemu dengan kalian. Aku capek hidup seperti ini, hidupku tidak seperti gadis berumur 20 tahun lainnya ….”
Ditengah tangisannya, Qyen bisa mendengar suara ketukan yang berasal dari pintu. “Kamu bisa keluar, petugasnya sudah tidak ada.”
Qyen tidak merespon ucapan Albra, ia hanya diam dan ingin mengubur semua rasa malunya.
…
Cukup lama Qyen diam didalam toilet, saat ini ia hanya memakai bathrobe yang sepertinya milik Albra dan keluar dari dalam toilet dengan berjalan pelan.
“Sudah selesai?”
“Hah!” Qyen terkejut disaat tiba-tiba saja Albra keluar dari arah wardrobe dengan stelan kerjanya.
“Pakaian kamu sudah dibawa. Kamu bisa pakai ini, karena tidak ada pakaian perempuan disini.” Albra memberikan Qyen sebuah kameja miliknya yang berwarna abu muda.
Qyen yang tidak memiliki pilihan lagi, ia pun kembali masuk kedalam toilet untuk memakai baju, tanpa mengucapkan satu patah katapun kepada Albra.
“Malu … malu … malu. Qyen kamu bener-bener bodoh.” Kembali Qyen menyalahi dirinya sendiri.
“Sebentar …” gumam Qyen disaat merasakan daerah kewanitaannya yang terasa tak nyaman dan sakit, sebenarnya ia sudah merasakannya sejak bangun tadi, namun kali ini lebih terasa karena ia sudah sadar dengan apa yang terjadi. “Huft … tenang … kamu gak bisa terus kaya gini, kamu harus pergi dari sini sekarang juga.”
Disaat memakai pakaiannya sambil menghadap kaca, Qyen lagi dan lagi dibuat terkejut oleh dirinya sendiri karena ia bisa melihat bulatan-bulatan merah yang banyak sekali tercetak dilehernya.
“Qyen gila ....”
Setelah selesai, ia pun kembali keluar dan sudah ada Albra yang ternyata menunggunya didepan pintu toilet.
“Kamu suka dengan toilet saya? Sampai selalu menghabiskan berjam-jam didalam sana.”
‘Oh iya juga ya … kenapa aku suka banget diem didalam sana,’ jawab Qyen dalam hatinya.
Namun kini wajahnya hanya bisa menunjukan ekspresi datar dan ia pun berjalan terlebih dahulu untuk keluar dari kamar Albra. Albra tidak diam saja, ia pun menyusulnya dan kini menggengam tangan Qyen dan mengajak menuju meja makan.
“Syut … tidak ada penolakan,” ucap Albra ketika tahu Qyen ingin melepaskan gengaman tangannya.
“Masih sakit?” tanya Albra ketika sadar dengan cara berjalan Qyen.
Albra terus saja berbicara, dan ingin sekali rasanya Qyen berbicara sambil berteriak didepan wajah Albra dan megutarakan isi hatinya jika seluruh tubuhnya terasa sakit, bahkan hatinya. Namun ia tidak bisa.
“Hm … iya, sakit.” Qyen kembali berekspresi datar dan duduk dihadapan Albra.
“Selesai makan, saya jelaskan semuanya.”
Qyen mengangguk dan mulai memakan makanan yang sudah tersaji dihadapannya. Walaupun gengsinya memenuhi seluruh otaknya, tapi perut laparnya tidak bisa diabaikan.
Selesai dengan acara sarapan yang merangkap menjadi makan siang, karena saat ini jam sudah menunjukan pukul 11 siang, Albra mengajak Qyen untuk duduk disofa agar mereka bisa meluruskan semuanya.
Qyen sengaja duduk dihadapan Albra, namun Albra terus saja menepuk-nepuk sampingnya, tanda ia menyuruh Qyen untuk duduk disampingnya. Dengan napas lelah, Albra yang tidak ingin Qyen marah kini ia mengalah dan duduk disebelah Qyen.
“Apa yang mau kamu tanyakan?”
Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ada dikepala Qyen, namun ia tidak bisa mengungkapkannya.
“Untuk kejadian semalam tentang kita, itu bukan salah saya semuanya. Kalau kamu mau bukti kita bisa lihat C—“
“Syut … oke-oke, aku udah sadar dan aku udah tau apa yang terjadi semalam,” pungkas Qyen dengan cepat.
“Ka—kamu semalam sadar?”
Qyen menggelengkan kepalanya. “Aku baru ingat tadi pagi. Maaf jika aku tidak sopan, untuk emm … untuk masalah aku, biar aku—“
“Biar jadi tanggung jawab kita.”