
Osaka saat ini berada di suhu -1 derajat celcius di pagi hari. Salju terus turun sejak kemarin sore, hadirnya rasa dingin pastinya membuat siapapun malas beranjak dari tempat tidurnya. Seperti Qyen, Albra dan Alan yang masih berleha-leha di atas kasur mereka, padahal mereka sudah bangun sejak satu jam yang lalu.
Jarum jam sudah menunjuk kearah angka 9, namun suasana di luar jendela yang mereka lihat, langit seperti menunjukan jika hari masih sangat-sangat pagi.
“Badan Qyen hangat sekali.” Alan membuka suaranya disaat ia sedang asik memeluk Qyen yang tengah tertidur di sampingnya.
Tidak ingin kalah dengan tingkah anaknya, Albra pun ikut memeluk Qyen, dan posisi mereka saat ini Albra dan Alan berada di sisi kiri dan kanan Qyen, otomatis Qyen berada di tengah mereka.
Sebenarnya Qyen sadar tentang kelakuan antara anak dan ayah itu, tapi ia hanya diam karena terlalu lelah, Qyen memutuskan untuk kembali tertidur karena perbedaan waktu antara Indonesia dan Jepang membuat ia sedikit
mabuk pasca terbang atau dikenal dengan jet lag.
“Kalian sarapan dulu sana,” gumam Qyen yang matanya masih tertutup.
Albra dan Alan sama-sama menggeleng.
“Sepertinya sudah disiapkan, Kak.”
“Kamu lelah, tidur saja lagi. Salju masih turun keluar pun sepertinya mobil tidak bisa lewat.”
Menganggukan kepalanya, Qyen kembali tertidur. Rasanya benar-benar lelah, padahal selama 10 jam kemarin Qyen hanya duduk saja di pesawat, mungkin bawaan bayi yang mmebuat dirinya seperti ini.
Asik dengan kegiatan peluk memeluk, Ian yang sudah lapar menunggu kedatangan mereka untuk sarapan, ia pun membuka pintu kamar utama yang tidak di kunci.
“Bagus … Bagus … Asik-asik pelukan anget-angetan di sini, Gue dibiarin kedinginan sendiri nungguin Lo pada gak keluar. Gue laper cepetan keluar. Okaasan udah nyiapain makanan tuh, kasian dari tadi.” Ian menghampiri ketiganya dan saat ini berkacak pinggang.
Okaasan (Panggilan Ibu dalam bahasa Jepang)
Hal yang membuat Ian lebih kesal ialah melihat ketiga orang itu malah berpura-pura menutup matanya. Ian menarik kaki Alan dari dalam selimut dan anak kecil itupun tergelak tertawa.
“Hahahaha … Ian geli tau jangan kelitikin aku …” Tidak hanya menarik kaki Alan saja, ia pun sambil menggelitiki kaki kecil itu.
“Yauda makanya bangun. Lo gak laper? Kitakan mau ke universal studio cepetan deh … Ini udah bagus tuh cuacanya.”
Qyen dan Albra akhirnya bangun membenahi diri mereka terlebih dahulu, sedangkan Alan dan Ian sudah terlebih dahulu pergi ke ruang makan yang masih terlihat tradisional.
Setelah kegiatan makan pagi mereka yang berlangsung cukup lama, Albra, Ian, dan Alan memutuskan untuk pergi ke Onsen yang ada di belakang vila tersebut, untuk merendam tubuh mereka dengan air hangat. Qyen yang tahu jika tempat itu untuk laki-laki, dan ia hanya perempuan sendiri di sini, Qyen pun memilih untuk tidak berendam dan hanya berganti baju saja.
…
Rencana liburan di hari pertama mereka adalah pergi ke Universal Studio Jepang, ini adalah alasan utama Alan yang ingin pergi ke Jepang, selain melihat salju tentunya. Alan bilang, jika Universal Studio di sini, lebih-lebih istimewa di banding negara lain. Qyen yang tidak tahu apapun, ia hanya mengikuti kemana orang-orang ini pergi.
Alan sudah berdandan seperti penguin besar saat ini, ia memakai 4 lapis celana dan baju, juga memakai celana luar berwarna hitam dan padding jacket berwarna biru tua, tak lupa dengan topi bulu berwarna biru tua dan earmuff berkarakter penguin. Sepatunya pun senada dengan padding yang ia gunakan.
Siapa yang mendandani Alan kali ini? Qyen? Bukan, Albra? Tentu saja bukan. Ya, jawabannya adalah Ian. Bahkan saat ini orang itu tak henti tertawa melihat wajah lucu Alan yang kesal karena terus diledek oleh Ian.
Alan benar-benar mirip penguin, dengan wajah putih bule yang kemerahan karena kedinginan ia pun hanya bisa memajukan bibirnya.
“Hahaha … Udah Gue bilang, cakep kok. Tanya aja Papa.” Ian memuji Alan, namun ia terus tertawa, bagaimana Alan bisa percaya jika penampilannya kali ini keren. Padahal ia ingin sekali tebar pesona dengan ketampanannya.
“Aish … Akukan udah bilang mau dipakaikan baju Qyen,” kesalnya yang terus merajuk.
Qyen dan Albra menanggapi hal itu tentu saja lucu. “Kok kamu marah? Warna birukan kesukaan kamu, sayang. Kamu tampan kok,” ujar Qyen agar Alan tidak terus kesal.
“Tapi Ian terus ledek aku. Aku dibilang mirip penguin. Padahal aku pengen mirip sama harry potter.”
Lagi-lagi mendengar penuturan itu Ian tertawa kencang di dalam mobil. “Harry potter udah makan donat lima box, baru Lo mirip Harry potter. Lagian mana ada sejarahnya Harry potter punya pipi tembem kaya Lo.” Karena gemas Ian pun mencubit pipi Alan, namun segera di tepis oleh anak itu.
“Sudah, Ian berbicara seperti itu karena dia iri,” lerai Albra.
Alan menjulurkan lidahnya karena sudah mendapat dukungan dari Albra.
Tak membutuhkan waktu lama mereka pun sampai di gerbang besar Universal Studio Jepang yang saat ini sudah dipenuhi banyak orang, apalagi saat ini adalah hari sabtu.
“Kamu sudah pernah ke sini, Kak?” tanya Qyen membuka obrolannya. Ia sangat takjub melihat banyak sekali bangunan-bangunan mewah seperti dalam film.
Albra mengangguk. “Ini sudah ke empat kalinya kalau tidak salah. Dulu waktu SMA saya sudah ke sini dengan teman-teman saya.”
“Orang kaya mainannya jauh ya,” gumam Qyen, dan Albra masih mendengar suara itu.
Albra terkekeh kecil. “Sepertinya dulu waktu saya SMA, kamu masih bayi deh. Gak mungkin juga saya cari keujung dunia buat ajak kamu jalan-jalan padahal kamu masih bayi.”
Qyen meringis pelan, ia tidak tahu harus bereaksi apa saat ini. “Gombalan Lo basi, Bro. Kaya bapak-bapak.” Ian menyerobot menggantikan Qyen untuk menjawab.
Hari indah dengan butiran salju lembut yang berterbangan membuat kenangan ini akan melekat dihati Qyen. Mereka terus berjalan-jalan karena Alan yang menjadi tokoh utama kali ini.
Tak lupa untuk mengingat semua momen yang ada, Qyen pun menyiapkan kamera ponselnya untuk memotret Alan dan Albra secara diam-diam.
“Papa, I want buy something for Qyen,” bisik Alan di telinga Albra.
“Ya, silahkan,” ucap Albra dan membiarkan Alan turun berlari sendiri ke dalam sebuah toko souvenir.
“Loh, Kak. Alan lari sendiri. Gimana kalau ilang.” Qyen terkejut dan hendak berlari menyusul Alan, namun Albra menahannya.
“Alan sudah besar, dia bisa berbahasa juga. Kita awasi di sini saja.” Akhirnya Qyen pun mengangguk dan menunggu Alan di luar toko.
Sedangkan Ian saat ini tengah mengobrol bersama seorang perempuan cantik di sebelah toko, Qyen dan Albra pun tidak tahu siapa wanita yang Ian ajak bicara.
“Kak, kalau Savana liat dia sakit hati deh.” Mata Qyen terus melihat kearah Ian dan wanita yang sepertinya berdarah Jepang itu.
“Biari, Ian memang playboy, dari dulu.”
Qyen pun mengangkat bahunya karena tidak ingin mencampuri urusan Ian yang sudah lebih dewasa darinya.
Tak lama, mereka lihat Alan keluar dari toko berjalan menghampiri mereka dengan tangan yang ia simpan di belakang. Alan pun langsung berjalan menghampiri Qyen, dan Albra sudah siap dengan kamera yang menggantung di lehernya.
Alan mengulurkan tangannya yang terdapat bando warna pink berbentuk mahkota di sana. “For you,” ucap Alan sambil tersenyum.
Qyen terkejut, namun dengan senang hati ia menerima hadiah itu dari Alan. “Terimakasih, sayang. Cantik sekali bandonya.” Qyen merendahkan tubuhnya agar Alan bisa memakaikan bando itu untuknya.
“Sudah aku bilang, ini sangat cantik kalau di pakai kamu.”
Albra, Qyen dan Alan tertawa. Qyen merasa terharu, Alan itu selalu memberikan kejutan dihidupnya, walaupun tentang hal yang sederhana.
“Papa, baguskan?” Alan meminta persetujuan kepada Albra, ia mengangguk, dan mengangkat jempolnya.
Ian bersama seorang perempuan pun datang. Qyen yang melihat itu memberi kode kepada Ian dan menanyakan ‘dia siapa?’ melalui gerak mulutnya.
“Qyen, Albra, Alan, kenalin dia Cani teman Gue sekolah dulu.” Ian memperkenalkan gadis Jepang itu kepada mereka.
“Hai, Cani desu.” Cani memperkenalkan dirinya sambil berbicara bahasa Jepang.
Albra mengangguk mengeluarkan senyum kecilnya, sedangkan Qyen mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan teman cantik yang Ian bawa. “Nice to meet you, Cani. I’m Qyen.”
“Cani punya rekomendasi makanan enak di sini, doi salah satu orang yang juga ngolah Universal Studio di sini, ayo kita makan siang.”
Dengan senang hati mereka pun mengikuti kemana Cani pergi mengajak mereka. Sebelum pergi, Alan meminta untuk mengunjungi wahana Jurassic Park. Albra tidak ingizinkan Qyen untuk pergi ke sana, karena suara-suara keras yang Albra takuti dapat mengganggu bayi yang ada di dalam kandungan Qyen.
Tentunya tahu hal itu, Qyen pun merasa tidak senang, padahal kondisinya baik-baik saja. Albra terlalu prosesif memang. Mau tak mau, ia pun hanya menunggu Alan pergi dengan Ian dan Cani, sedangkan Qyen hanya duduk berdua dengan Albra.
“Kenapa, sayang?”
“Aish … Kalau kamu ajak aku ke sini tapi aku gak boleh masuk ke wahana buat apa?” kesal Qyen.
“Karena kamu lagi hamil, sayang. Gak baik berkunjung ke wahana ekstrim.”
“Alan saja masuk, masa aku gak boleh.”
Albra memijat pelipisnya, menikah dengan wanita yang umurnya jauh darinya tentu saja bukan hal yang mudah, Albra pasti saja menemui perdebatan kecil seperti ini.
Tidak ingin membuat Qyen marah, Albra pun menggenggam tangan Qyen. “Dari pada bosen, ayo saya ajak kamu membeli sesuatu yang pastinya kamu tidak bisa menolak.”
Qyen mendengar tawaran menggiurkan itu pun akhirnya luluh dan mengangguk, membiarkan Albra menuntun tangannya mengajak Qyen kesebuah toko waffle yang banyak sekali dikunjungi orang.
“Waffle di toko ini enak sekali. Kamu harus coba.”
Membutuhkan waktu yang sedikit lama untuk akhirnya mereka bisa memakan waffle yang benar-benar enak itu. Bahkan kini mereka berdua asyik berjalan-jalan dan berpacaran tanpa memperdulikan waktu, bahkan Albra menyuruh Ian untuk mengajak anaknya makan terlebih dahulu. Ini kesempatan bagi Albra untuk menghabiskan waktu berdua dengan Qyen.
“Kak, Alan gimana?”
“Sudahlah, kita pacaran dulu saja.”
Kegiatan mereka pada hari itu tak berhenti sampai sana. Malam harinya mereka menaiki wahana bianglala yang tak jauh dari universal studio, melihat keindahan kota Osaka dari malam hari, bahkan waktu itu sangat romantis.