ALBRA

ALBRA
67. Alan dan Ibu kandungnya



Kabar Alan menghilang sudah terdengar sampai ke telinga Albra dan Ian, pada saat itu juga mereka tidak diam saja, mereka langsung bergerak mencari Alan dengan orang-orang mereka yang ada di negara ini. Qyen sejak tadi tak berhenti menangis, meruntuki kebodohannya karena tidak becus menjaga anaknya sendiri.


Sedangkan di suatu taman kecil yang tak jauh dari jalanan utama Shinjuku, ada seorang anak kecil yang tengah terduduk lesu ditemani oleh wanita cantik. Mereka sudah diam di taman itu sejak satu jam yang lalu, menikmati lampu-lampu cantik yang terhias di taman.


Anak kecil itu adalah Alan, entah bagaimana bisa ia tergiur dengan gupaian tangan seseorang yang pernah ia lihat, namun ia tidak tahu siapa yang memanggilnya. Alan hanya melihat sosok badan wanita itu seperti Meta, Alan kira itu adalah Meta, ternyata ketika Alan menghampirinya wanita itu adalah seseorang yang memperkenalkan diri kepadanya sebagai ibu.


Ya, sore tadi Alan bertemu dengan ibunya, Mey Becca Ghazi. Mey tahu tentang semua rencana Alan dan keluarganya yang pergi ke Jepang, tidak ingin diam saja, ia pun mengikutinya dan sampailah ia memiliki waktu yang pas untuk mengambil anaknya.


Alan kini merasa bersalah, dan ia sedikit ketakutan. “A—aku mau pulang,” ucapnya sambil menunduk. Mey tadi sudah mengajaknya pergi berjalan-jalan, dari keliling mall sampai membeli mainan, namun Alan tetap diam dan tak berbicara. Pikiran Alan saat ini hanya teringat tentang Qyen dan Papanya.


“Kamu tidak ingin tidur dengan Mama sekali saja?” Mey, melihat wajah lucu yang persis mirip wajahnya. Alan sangat tampan, bahkan anak itu pun sangat-sangat pintar.


Alan menggeleng. Ia merasa sudah dijebak oleh Mey karena Mey berpenampilan menyerupai Meta yang ia kenal. “Kamu sudah membohongi aku, kamu sengaja berpenampilan seperti Meta agar aku menghampiri kamukan? Kamu tidak perlu bertemu lagi dengan aku.”


Alan mencoba bangun dari duduknya, Alan ingin pergi, dengan modal tahu nama hotel yang ia tempati dan bisa berbahasa inggris, Alan akan mencoba untuk kabur, namun Mey dengan cepat mencegatnya.


“Sebentar, sayang. Berikan Mama waktu untuk bisa berdua dengan kamu.” Air mata Mey sudah memanas melihat sikap anak kandungnya seperti ini. Padahal ia berjuang mati-matian untuk mempertahankan Alan selama 9 bulan di dalam kandungannya dengan kesepian, rasa sakit, dan stress yang melanda.


“Lepas, aku mau bertemu Papa. Papa pasti cari aku.”


“Mama janji, sepuluh menit saja menggenggam tangan kamu, lalu kamu akan aku antar pulang.”


Hati Alan bergetar, air matanya turun. Ia tidak tahu harus bagaimana, mungkin hatinya merasa terkejut karena tiba-tiba saja ada orang asing yang mengaku sebagai mamanya. Padahal dulu, ketika teman-temannya mengejek Alan tidak memiliki ibu, kemana perginya Mey? Bahkan ia tidak pernah merasakan kehangatan sentuhan ibu selain dari Qyen yang merawatnya.


“Jangan menangis. Maafkan aku.” Rasa bersalah Mey membucah hatinya ketika melihat Alan menangis tanpa suara.


Anak kecil yang terbentuk atas keras hati dirinya sendiri membuat Alan menjadi anak yang sangat-sangat mandiri dan mulai bisa menutupi masalahnya sendiri, karena ia tahu, Alan tidak memiliki tempat pulang selain dirinya sendiri.


“Maafkan Mama, sayang.”


Mey sudah tidak tahan untuk membawa Alan ke dalam pelukannya. Ia menangis menyalahkan dirinya sendiri, kenapa sakit hati itu baru terasa, mengapa tidak sejak dulu saja dirinya mempertahankan Alan? Mengapa ia menerima janji itu? Dan mengapa ia harus menerima uang-uang yang Frans berikan kepadanya.


Mey tentunya tidak sendiri di sana, Fin ikut dalam perjalanan mereka. Fin sejak tadi mengawasi pergerakan adiknya dan memberitahu jika ada orang yang menyadar akan aksi mereka. Melihat adiknya yang menangis tersedu-sedu memeluk Alan, hati Fin pun sedikit tersentil. Apakah kini Mey sudah menganggap jika Alan benar-benar anaknya? Atau ada peran lain yang sedang Mey lakukan.


“Kamu bahagia hidup dengan Papa kamu?” tanya Mey sambil memegang pundak Alan.


Mey selalu bertanya tentang hal-hal yang terlalu dewasa untuk Alan, ia sampai kebingungan untuk menjawab sebelum akhirnya Alan mengangguk. Alan pastinya bahagia hidup dengan Albra, karena Albra bisa menerimanya.


“Aku mau pulang.” Lagi-lagi Alan berbicara jika ia ingin pulang.


Fin keluar dari persembunyiannya dan menghampiri kursi yang diduduki oleh Mey dan Alan.


“Kenapa kamu ke sini?” Padahal Mey sudah menyuruh Fin untuk tidak ikut bergabung bersamanya.


Fin serasa tidak asing di pengelihatannya, sampai ia tersadar jika Fin adalah teman dari Qyen yang dulu mengantarkan dirinya ke sekolah ketika Alan di culik. “Om temannya Qyen?”


Mey melihat reaksi keduanya. Fin dengan wajah datar mengangguk dan berjongkok di hadapan Alan. Ia mengulurkan tangannya. “Fin, saya pamanmu.”


Matanya melirik ke sana kemari untuk berpikir. Alan mengerutkan dahinya. Gurunya pernah bilang dan Ian pun pernah bilang ketika ia mengerjakan PR waktu itu, jika paman Alan hanya satu, yaitu Ian. “Tidak, pamanku hanya satu.”


Mey menggenggam tangan Alan. “Om ini kakakku, berarti dia pamanmu,” jelas Mey.


“Hm … Baiklah.”


Sikap dingin Alan sepertinya turun dari Albra, Mey bisa melihat jika Alan sangat bahagia jika di dekat Qyen kemarin. Namun kenapa jika didekatnya Alan tidak bereaksi apapun. Bahkan kini ia sudah tidak menangis.


“Mama punya sesuatu untuk kamu.”


Mey membuka tasnya dan mengambil sebuah kalung putih kecil yang ia pasangkan di leher Alan. “Aku bukan perempuan.”


“Iya, kalung ini bukan untuk perempuan. Pakai kalung ini setidaknya sebelum kamu pulang.”


“Antar pulang saja anak ini,” ucap Fin jika malam sudah semakin larut.


Menuntun Alan untuk membawa ke jalan utama dan mengantarkannya masuk ke dalam hotel. “Terimakasih sudah memberikan aku kesempatan buat bisa bermain dengan kamu.”


Alan hanya mengangguk, bahkan kini di tangan Fin sudah banyak sekali mainan yang dibelikan oleh Mey, bahkan baju-baju bermerk pun sudah mereka beli sore tadi.


Alan mengangkat bahunya. “Tidak tahu.”


Mereka terus berjalan melewati jalanan besar, sampai mereka pun sampai di depan hotel tempat Alan menginap. Fin menyuruh pelayan hotel untuk mengantarkan Alan dan membawakan belanjaan Alan ke dalam kamarnya.


“Sampai jumpa, sayang. Terimakasih ….”


Fin merangkul adiknya untuk menyudahi kesedihan yang sebenarnya tidak perlu ia sesali. Fin sudah mengatakan dan menjelaskan kepada Mey bahwa ia tidak perlu mengangap Alan, namun keras kepala adiknya itu tidak pernah usai ia akan terus memperjuangkan Alan dan Albra untuk hidupnya.



“Oke, tahan mereka. Saya ke sana dalam dua menit.” Albra mematikan sambungan di telponnya.


“Ke—kenapa, Kak? Alan baik-baik ajakan?” Albra mengangguk dan kini menuntun Qyen untuk pergi ke lobby hotel, karena sudah ada Ian dan pengawalnya yang menemukan Alan di sana.


Albra yang saat itu hendak mengantarkan Qyen pergi ke dalam kamar, kini ia harus kembali turun terburu-buru. Sampai, di lobby semua orang sudah berkumpul, ia melihat anaknya sudah berada di pangkuan Ian.


Namun bukan itu yang Albra tuju, ia berlari keluar hotel dan mencari kemana Mey dan Fin yang sudah pergi menculik anaknya.


Qyen mengikuti kemana Albra pergi, sampai ia melihat Albra menonjok wajah Fin dengan tangan kosongnya.


“Kak!” Qyen berteriak dan menarik tangan Albra untuk menyudahi pertengkarannya karena mereka sudah dilihat oleh banyak sekali orang.


“Albra! Berani-beraninya kamu!” Mey juga ikut berteriak karena kakaknya yang menjadi sasaran, ia mendorong dada Albra untuk menjauh dari Fin.


“Saya yang membawa Alan pergi. Bukan Fin.” Mey melindungi Fin di belakang tubuh tingginya.


Amarah Albra sudah terlihat jelas di mata Mey. Tangan Albra terkepal kuat, ia kesal dan marah bagaimana bisa anaknya jatuh di tangan Mey, bahkan ia sudah hampir membunuh Qyen. Jika bukan gara-gara ulah Mey, kejadian ini tidak akan terjadi.


“Sudah saya bilang untuk menjauh dari kehidupan saya.” Albra menekan semua kalimatnya di hadapan Mey, namun Fin yang tidak terima adiknya di bentak ia pun kini memasang badannya.


Mata Fin melihat dulu kearah Qyen yang saat ini ketakutan di belakang Albra. “Cih! Mey juga berhak atas kehidupan Alan.”


Tangan Albra sudah terkepal sangat kuat, namun Qyen segera menggenggam tangan itu dengan lembut. “Kamu itu gak jauh beda dari seorang bajingan, Albra. Memisahkan anaknya jauh dari ibu kandungnya! Hati-hati, kamu juga bisa berada di posisi saya.” Senyum devil Mey sambil menatap Qyen.


“Bukannya kamu yang memilih harta dibanding anak itu?”


Mey menggelengkan kepalanya. “Saya tidak memakai uang sepeserpun yang diberikan oleh Mr Frans kepada saya. Detik ini uang itu akan saya kembalikan namun dengan syarat, Alan harus berada di tangan saya.”


“Hidup Alan tidak sebanding dengan uangmu yang tidak seberapa!” Setelah mengucapkan itu, Alan merangkul Qyen untuk kembali masuk ke dalam hotel.


Namun sebelum itu teriakan Mey terdengar di telinganya. “Kalau bukan karena saya, kamu tidak akan pernah bisa bertemu dengan Alan! Kapan pun itu waktunya, saya tidak akan tinggal diam!”


“Kak …” Bisik Qyen yang sangat ketakutan.


Albra menghiraukan semuanya. Ia kini menghampiri Alan dan membawa Alan ke dalam pangkuannya. Lagi-lagi Albra tidak berbicara apapun.


“Albra, Lo gak bisa kaya gini.”


“Diam. Siapkan jet saat ini juga.”


Ia pun berjalan menuju lift tak lupa membawa Qyen di dalam genggaman tangannya. Pikirannya sangat berantakan hari ini. Albra tidak mau mengganggu hati Qyen dan Alan karena ucapannya, maka dari itu ia hanya bisa diam.


Air mata Qyen menetes satu persatu. Perkataan Mey terngiang di telinganya, ditambah lagi saat ini Albra tidak membuka suaranya sedikitpun berbicara kepadanya. Sampai di kamar, Albra menyuruh Alan untuk bersiap pulang, begitupun kepada Qyen.


“Papa, maafkan aku.”


Albra mengangguk. “Perlakuan kamu tidak baik. Seharusnya kamu tidak pergi dari sisi Qyen tadi.”


Di dalam kamar semuanya membisu, Qyen membereskan tasnya. Ia menghampiri Alan dan menggenggam tangan kecil itu, Qyen tersenyum. “Kamu baik-baik saja?”


“Iya … Maafkan aku, Qyen.”


Qyen sedikit kecewa dengan Alan, namun sepertinya Alan memiliki alasan tersendiri tentang kejadian sore tadi.