
Sesampainya didalam kamar, Albra menyimpan tubuh Qyen dengan pelan diatas kasur. Erangan-erangan kecil masih keluar dari mulut Qyen. Albra sadar dan tahu persis jika Qyen butuh kepuasan agar efek obat yang ada didalam tubuh Qyen cepat hilang dan tidak mengganggunya seperti ini.
“Qyen … hey ….”
Albra masih berusaha untuk menyadarkan Qyen dengan cara menepuk-nepuk pipi gadis kecil itu. Melihat perawakan tubuh Qyen yang belum dewasa, Albra kini mengira jika umur Qyen masih dibawah 20 tahun. Ia tidak bisa bertindak gegabah kali ini, karena ia pernah berada diposisi seperti Qyen.
Terbius obat, berada dibawah alam sadar, dan setelahnya terjadi sesuatu yang Albra tidak inginkan. Bahkan dengan kejadian itu dulu, Alan pun hadir didalam hidupnya. Walaupun semua kejadian tidak selalu buruk, tapi Albra tidak ingin menolong Qyen dengan cara yang sama, seperti wanita bayaran ayahnya yang menangani dirinya pada malam itu.
Ditengah lamunannya mengingat kejadian kelam 5 tahun yang lalu, kini Albra yang tengah duduk disamping Qyen, merasakan jika tangannya diremas kuat oleh Qyen.
“Qyen?” panggil Albra ketika melihat gadis itu kini sudah membuka mata sayunya.
“Ka—kamu Pak Al—Albra kan? Bisa tolong aku? Kepalaku sangat pusing …” ucapnya dengan air mata yang keluar dari pelupuknya.
“Kamu harus bisa mengendalikan diri kamu sendiri.”
Melihat Qyen yang sangat tersiksa dihadapanya membuat Albra semakin geram dengan tingkah Fin yang sudah diluar batas. Albra tahu jika Fin tidak hanya memberi obat bius saja kepada Qyen, melainkan memberikan Qyen banyak sekali minuman beralkohol. Albra bisa mengetahui itu hanya dengan mencium bau alkohol dari tubuh Qyen.
“Argh!” kesal Albra yang kini memilih untuk bangun dari duduknya.
Ia memberikan Qyen minum air mineral dengan ph yang cukup tinggi, berharap agar Qyen cepat sadar. Kejadian seperti ini tidak pernah terbayangkan dalam hidupnya, andai saja Albra dengan cepat membawa Qyen pulang tadi, mungkin Qyen tidak akan tersiksa seperti ini.
“Saya harus bagaimana, Qyen …” gumam Albra yang merasa kebingungan. Jujur saja, melihat Qyen yang terus mengerang dan bergerak dengan gelisah diatas ranjangnya membuat hasrat Albra pun menjadi tinggi. Bahkan kini dahinya sudah berkeringat, namun ia tidak ingin melakukan itu tanpa izin dari Qyen.
Albra yang benar-benar kebingungan ia pun memilih untuk meninggalkan Qyen. Ia berjalan keluar dari kamarnya sambil melepas pakaian atasnya. Efek Qyen seperti itu, ternyata berefek juga kepada dirinya.
“A—albra Lo ….”
Ian yang masih ada didalam penthouse Albra terkejut karena melihat kakak tirinya keluar tanpa pakaian yang lengkap. Bahkan Meta pun memiliki ekspresi yang sama dengan Ian.
Albra menghiraukan orang-orang tersebut dan memilih untuk berjalan ke lemari es dan meminum air yang ada didalamnya.
Ian yang butuh penjelasan, ia pun dengan cepat menghampiri Albra. “L—lo udah gini?” tanyannya sambil menyatukan kedua tangannya.
Tutup botol yang sedang Albra pegang, kini melayang dan tepat mengenai dahi Ian. “Pikiranmu!” kesal Albra yang kini berjalan menuju sofa.
Meta yang sedang ada disofa pun bangun untuk menghargai bosnya. Rasa penasaran Ian masih belum terbayarkan, ia pun kini duduk dihadapan Albra.
“Ck! Udah Gue bilang jangan deketin Qyen. Lo sendiri yang kepancing.”
Albra diam sambil melihat kearah Ian dan Meta secara bergantian. “Kenapa masih disini?”
“Kami sedang berdiskusi menyelesaikan masalah yang sedang terjadi, Tuan. Keluarga Ghazi tidak semudah itu menyerah, bahkan setelah mereka mengalami kerugian yang besar sekalipun kemarin. Apalagi kini tuan besar bertanya, mengapa saya terus berurusan dengan keluarga itu,” jelas Meta yang kini duduk agak berjauhan dengan Ian.
Albra menarik napas sedalam-dalamnya. Cukup perjalanan hidupnya yang tidak mulus, kenapa bisnisnya menjadi ikut seperti ini. Bukan berarti ia takut dengan musuhnya, hanya saja Albra merasa bosan menghadapi masalah yang terus berdatangan.
“Pakai cara lain untuk menghancurkan bisnisnya. Bawa kasus ini kekantor polisi atas nama saya. Kender masih ada dilokasi?”
Meta mengangguk. “Kender sudah menanganinya dengan polisi, dan barang bukti sudah diamankan.”
“Fin memang sialan. Dosis obat yang Qyen konsumsi cukup tinggi, dan Gue rasa dia gak akan sadar bahkan sampai besok,” ucap Ian yang sudah mendapatkan laporan terlebih dahulu dari Kender.
“Saya harus menyelesaikan sa—“
“Syut … kalau Lo pergi sekarang, urusan gak akan pernah selesai, Albra. Bahkan kalau Papa sampai tau Lo kaya gini … bisa habis gigi Lo,” ingat Ian disaat Albra sudah beranjak pergi berjalan.
“Tuan, saya mohon untuk tidak gegabah kali ini. Fin sudah diamankan dikantor polisi, kita hanya perlu menunggu bagaimana hukum memproses dirinya. Lebih baik anda memperhatikan diri anda sendiri.” Meta berbicara seperti itu karena masih melihat noda darah yang berada di kedua tangan Albra dan juga sudut bibir Albra yang sedikit mengeluarkan darah.
Albra mengeluarkan napasnya lelah, ia pun menyuruh keduanya untuk keluar dari penthousenya ini, ia ingin beristirahat saat ini juga.
“Kalau Lo mau istirahat, biar Gue yang jaga Qyen,” ucap Ian yang mengajukan dirinya. Hendak berjalan pergi menuju kamar Albra, dengan tegas Albra pun melarang.
“Pergi, jaga Alan.”
Dengan lesu, ia pun memutar balik tubuhnya dan pergi keluar, namun sebelum itu, Ian yang masih ingin menggoda kakanya, ia pun membisikan sesuatu ditelinga Albra. “Mainnya pelan-pelan ya, hati-hati nanti Alan kaget kalau tiba-tiba dapet adik.”
“Ian!”
“Kaburrrrrrrrr!!” Ian berlari terbirit-birit menyusul Meta yang sudah berada didalam lift.
Albra memasang mata tajamnya, namun berbeda dengan Ian yang melambaikan tangannya sambil tersenyum puas, pintu pun tertutup dan Albra kini hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Albra berjalan menuju wardrobe-nya, saat ini ia ingin berganti pakaian karena hari sudah malam, dan juga tak mungkin ia terus menggunakan pakaian yang sejak pagi ia pakai. Namun sebelum itu, ia pun sudah membersihkan tangan yang sedikit terdapat noda darah, di wastafel.
Berjalan menuju sofa, ia berniat untuk tidur saat ini, namun Albra terkejut mendengar suara benda jauh yang berasal dari kamarnya. Sontak ia berlari untuk memastikan jika Qyen baik-baik saja.
“Qyen!”
Albra terkejut disaat melihat Qyen yang sudah mencopot semua pakaian atasnya, bahkan kini Qyen datang menghampiri Albra dengan berjalan sempoyongan, lalu memeluk tubuh Albra begitu saja. Albra tidak munafik jika ia tergoda dengan lekuk tubuh Qyen yang indah, dibalik badannya yang kecil ia pun bisa melihat keindahan disana.
Saat ini terdengar napas berat mereka berdua yang mengisi ruangan ini.
“Ba—bantu aku …” lagi-lagi Qyen terus berbicara agar Albra bisa membantu dirinya.
Albra yang belum sempat mengancingkan piyamanya, ia pun merasa pasrah disaat tangan Qyen bergerayang dibelakang punggungnya. Albra yang merasa terpancing, ia menyudutkan Qyen ke tembok.
“Saya tidak akan mengampuni kamu jika seperti ini, Qyen …” bisik Albra ditelinga Qyen.
Qyen yang sibuk mencari kepuasan pun hanya bisa menganggukan kepalanya.
Albra menundukan kepalanya, membiarkan Qyen menikmati bibir tebalnya saat itu juga. Merasa jika Qyen belum berpengalaman, ia pun kini membantu menyelaraskan gerakan Qyen.
Hal itu berlangsung dalam beberapa saat sampai mereka sama-sama tidak memakai pakian atas mereka. Albra merasa jika ini terlalu jauh, ia pun menghentikan kegiatannya dan kembali menyadarkan Qyen.
“Qyen … saya tidak ingin melakukannya jika kamu tidak mengizinkan saya,” ucap Albra kembali.
“Lakukan saja,” jawabnya.
Albra yang merasa tidak dapat menahan napsunya, ia pun kembali melanjutkan kegiatan mereka yang sempat tertunda tadi. Ia tidak bisa berpikir panjang saat ini, karena Qyen sudah membuat pikirannya melayang. Untuk urusan nanti, biarlah Albra menyelesaikannya.
Hari dimana mereka kembali bertemu setelah satu bulan lamanya, kini malah diisi dengan kejadian yang tak terduga diantara mereka.